Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Cerita Tabatabaei House

Cerita Tabatabaei House

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 19 Sep 2022
  • visibility 389
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Di Iran ada sebuah rumah yang sangat megah. Sebuah rumah yang mengandung nilai sejarah dan dibangun dengan keringat cinta dan kasih sayang. Afifah Ahmad, penulis asal Indonesia yang tinggal di Iran, suatu ketika mengunjungi rumah tersebut. Dia bercerita bahwa di balik kemegahan rumah itu, tersimpan cerita menarik. Konon, rumah tersebut dibangun sebagai prasyarat untuk bisa menikahi seorang putri bangsawan. Siang-malam calon pengantin pria bekerja keras untuk dapat menyelesaikannya.[1]

Begitulah barangkali wujud cinta. Orang dapat melakukan apa saja demi cinta. Orang yang jatuh cinta tiba-tiba dirinya menjadi puitis. Dia bisa menulis puisi, menulis surat, dan membuat sesuatu yang tadinya mustahil bisa dilakukannya. Bahkan dalam sebuah lelucon dikatakan untuk lari tengah malam saja orang akan berani melakukannya demi meraih cinta seseorang. Kalau tidak gila itu bukan cinta. Itu barangkali gambaran orang yang sedang dilanda cinta.

Dengan pengorbanan itu pula kita dapat melengkapi kebutuhan orang yang kita cintai. Seorang suami mencintai istrinya, dia akan berkorban demi kebutuhan istri (dan anaknya). Begitu juga sebaliknya, sang istri akan berkorban demi kebutuhan sang suami (dan anaknya). Itulah pengorbanan atas nama cinta. Sebuah pengorbanan yang sangat indah karena disertai kesadaran, panggilan, dan bukan keterpaksaan. Ada orang mengibaratkan dua orang saling mencintai itu ibarat dua orang saing berjauhan dalam kegalapan. Seorang laki-laki membawa lilin menuju yang dikasihinya, namun lilin itu makin pendek karena jarak yang cukup jauh. Satu-satunya cara adalah orang yang dicintainya itu harus pula bergerak mendekatinya. Mereka akan bertemu di tengah-tengah lilin yang mulai habis dan mati apinya. 

Pengorbanan dalam mencinta begitu kompleks. Ada yang mengorbankan ego, emosi, harta, waktu, pikiran, tenaga, dan yang lainnya. Bahkan keselamatan jiwanya. Kalau tidak “gila” itu bukan cinta. Kalau tidak ada pengorbananan itu bukan sang pencinta. Berkorban dalam cinta adalah keniscayaan. Tentu saja ini berlaku bagi siapa saja yang merasa mencintai, entah itu orangtua, kekasih, sahabat, bahkan kesenangan terhadap sesuatu pun membutuhkan pengorbanan.

Saya kira contoh konkrit cinta yang membutuhkan pengorbanan adalah cinta kedua orangtua terhadap anaknya. Semuanya mereka akan korbankan demi cinta sang buah hati. Bukan cuma harta, tenaga, dan waktu saja yang mereka korbankan, tetapi nyawapun akan suka rela mereka korbankan. Jadi, jika tidak ada pengorbanan maka bukan dikatakan cinta, melainkan hanya permainan belaka.

Yang namanya berkorban tentu ia akan mengutamakan orang yang dicintainya. Kebahagiaan yang dicintainya adalah kebahagiaan dirinya, dan kesedihan yang dicintainya adalah kesedihan dirinya juga. Untuk itu, dengan ada orang yang rela berkorban untuk dirinya, maka orang yang dicintainya akan merasa bahagia, ada yang memerhatikan, dan melindunginya. Dengan begitu dia pula akan berkorban kepada yang mencintainya. Intinya, pengorbanan akan membuat mereka kuat dan berdaya.

 Ada yang mengatakan bahwa cinta dan pengorbanan itu ibarat dua sahabat yang tak pernah terpisahkan. Selalu berjalan bersama. Bagaikan dua sisi mata uang. Tamsil itu seperti hendak mengatakan  tak ada cinta tanpa pengorbanan. Jadi, jangan pernah mengaku cinta tapi tak pernah berkorban untuk sesuatu atau seseorang yang kita cintai. Pengorbanan adalah bukti nyata adanya cinta. Dengan pengorbanan akan terlihat kesungguhannya. Ada sebuahaa usaha dan ikhtiar yang besar demi yang dicintainya.  

Pengorbanan juga menjadi ukuran seberapa besar cinta seseorang terhadap yang dicintainya. Tentu sulit kita mengukur kadar cinta, tapi dengan pengorbanan setidaknya kita bisa melihatnya, semakin besar pengorbanannya maka semakin besar juga cintanya. Seorang ibu, misalnya, tampak jelas pengorbanan terhadap anaknya yang begitu besar. Sejak dalam kandungan hingga besar anaknya terus diperhatikan dan dirawat dengan baik. Penderitaan anak adalah penderitaan dirinya juga. Cinta yang besar terdapat pengorbanan yang begitu besar.

Namun, ada yang harus diwaspadai dalam soal ini, bahwa pengorbanan tidak selalu berarti cinta. Ada kepalsuan-kepalsuan yang harus diwaspadai. Ada penumpang-penumpang gelap yang menggelayut dalam nama “pengorbanan”. Tak lain itu berupa kepentingan yang mengatasnamakan cinta. Kepentingan itu bisa berupa motif ekonomi, hasrat kekuasaan, nafsu, dan lain-lain. Cinta mereka palsu. Lain di bibir lain di hati. Tindakan mereka hanyalah kepura-puraan saja.       

Dalam literatur keislaman diceritakan, suatu ketika ada serombongan orang mengunjungi seorang sahabat bernama Asy-Syubali ra. Dia berkata, “Siapa kalian semua?”

“Kami adalah orang-orang yang mencintaimu.”

Asy-Syubali mendekati mereka sambil membawa batu. Dia bermaksud hendak melempari mereka. Melihat Asy-Syubali melakukan demikian, merekapun lari.

Asy-Syubali berkata, “Mengapa kamu lari dariku? Andai kamu betul-betul mencintai aku, pasti tidak lari dari percobaanku. Orang-orang yang punya rasa cinta terhadap Allah akan mereguk minuman dari gelas cintanya, dan bagi mereka bumi amatlah sempit. Mereka minum dan tenggelam dalam tautan rindu kepada-Nya, dan mereka merasakan kenikmatan bermunajat kepada-Nya.”[]


                [1] Cerita lebih detailnya bisa dibaca dalam buku Afifah Ahmad berjudul The Road to Persia; Menelusuri Keindahan Iran yang Belum Terungkap (Yogyakarta: Bunyan), 2013.  

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    Menggalakkan Tradisi Menulis di Kalangan Pesantren Pati

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Peradaban Islam adalah “peradaban buku”. Tidaklah berlebihan dengan pernyataan itu, mengingat Al-Qur’an—sebagai kitab suci—dapat disebut sebagai teks sentral dalam sejarah peradaban Islam. Hal itu bisa dibuktikan lewat sejarah. Penanda pertama ditandai dengan turunnya ayat Al-Qur’an yang pertama kali, berbunyi: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan […]

  • Langkah Baru Lulusan Ma'arif NU Jateng Menuju Negeri Sakura Pasca Seleknas 2025

    Langkah Baru Lulusan Ma’arif NU Jateng Menuju Negeri Sakura Pasca Seleknas 2025

    • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.113
    • 0Komentar

      Pekalongan (27/1). Setelah melalui perjuangan ketat dalam Seleksi Nasional yang diselenggarakan oleh LP Ma’arif NU PWNU Jateng bekerja sama dengan Kemenaker RI dan IM Japan, kini para Kader NU Jateng memasuki gerbang selanjutnya yaitu Tahapan Tes Bahasa Jepang (Tes Level Dasar). Sementara, Pelatihan Pra-Pemberangkatan Tahap I (2 Bulan) dilaksanakan di daerah dengan pengawasan ketat […]

  • PCNU-PATI

    Sarbumusi Sebut Sejumlah Perusahaan Tak Bayar Penuh UMK

    • calendar_month Rab, 30 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Pati Husaini menyebut masih ada sejumlah perusahaan di Pati yang belum penuhi Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) para buruh. Ia menyebutkan ada 5 hingga 10 perusahaan di Pati yang belum memenuhi tanggung jawab tersebut. Namun, ia tidak menyebutkan secara detail nama perusahaan yang dimaksud. Pernyataan […]

  • PCNU PATI - Terima Kasih Tak Membawa Apa Apa, Doakan Saja. Photo by Andrew Neel on Unsplash.

    Terima Kasih Tak Membawa Apa Apa, Doakan Saja

    • calendar_month Rab, 8 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Jika minggu lalu saya bercerita perihal orang yang suka menyia- nyiakan rejeki saat musim hajatan, atau menghadiri undangan nikahan dan resepsinan. Dengan cara tak menghabiskan menu makannya yang diambil sendiri. Di pilih sendiri, begitulah manusia dengan segala ke unikannya, dan segala kesempurnaannya yang tak disempurnakan sendiri. Bulan ini adalah dimana banyak orang yang telah di […]

  • Bangun Karakter dan Harumkan Bangsa

    Bangun Karakter dan Harumkan Bangsa

    • calendar_month Jum, 3 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 449
    • 0Komentar

    Pati. Madrasah Aliyah NU Luthful Ulum melaksanakan harlah ke-34 serta Wisuda Kelas XII MA NU Luthful Ulum Wonokerto Pasucen Trangkil Pati,29/5 kemarin. Bupati Pati, H. Haryanto, SH., MM., M.S.I dalam sambutannya, menekankan kepada kader-kader muda Indonesia untuk menguatkan pendidikan karakter supaya tidak jatuh dalam godaan-godaan amoral yang berhembus kencang di era liberalisasi informasi sekarang ini, […]

  • PCNU-PATI

    Bangun Kader Jurnalis, Lembaga Pers IPNU IPPNU Pati Bentuk Tim Instuktur

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 411
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id- PATI – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPNU IPPNU) melalui Lembaga Pers dan Jurnalistik menginisiasi pembentukan Tim Instruktur dan Pelatih. Direktur Lembaga Pers dan Jurnalistik PC IPNU Pati Abdul Ghofur mengatakan, pembentukan tim instruktur ini sebagai upaya meningkatkan pengkaderan pelajar NU di bidang jurnalistik. “Terkait teknis dan […]

expand_less