Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 10 Apr 2022
  • visibility 323
  • comment 0 komentar

(Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta)

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang. Hal inilah yang menjadi kunci dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa ada paksaan dan intimidasi.

Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad juga bertugas untuk mengubah manusia dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dari perilaku tidak etis menjadi etis, dan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan.

Oleh sebab itu, Islam datang dengan membawa ajaran kebaikan bagi umat manusia di semesta alam. Islam juga dalam menyampaikan risalahnya dengan penuh kebijaksanaan  dan kasih sayang. Begitulah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk memberikan kedamaian dan keteduhan kepada umat manusia di seluruh alam semesta.

Sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah perkara yang mudah di tengah-tengah bangsa Arab yang pada waktu itu menyembah berhala, memiliki sukuisme yang tinggi, dan prostitusi di mana-mana. Sehingga beberapa kali Nabi Muhammad saat melakukan dakwah disiksa, dilecehkan, dilempari batu, dan bahkan akan dibunuh.

Akan tetapi dengan kerendahan hati dan ketulusannya dalam membawa risalah, beliau tidak melawan, justru beliau mendoakan agar mereka diberikan hidayah dan bahkan mendoakan agar anak cucunya kelak bisa masuk Islam. Inilah contoh dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad dengan rasa penuh kasih sayang dan bijaksana (berakhlakul karimah).

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa barometer dakwah dalam ragam bentuknya adalah berbingkai akhlak karimah untuk memanusiakan manusia dan menghormati orang lain, sekalipun ia ingkar kepada Allah Swt.

Hal ini juga dipraktekkan oleh  Wali Songo dalam menyebarkan agama Allah dengan cara penuh kasih sayang dan kedamaian. Sehingga, Islam bisa masuk ke Nusantara tidak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat, melainkan Wali Songo mendakwahkan Islam dengan menggunakan strategi kebudayaan. Melalui  strategi kebudayaan  itulah Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah.

Dari wayang kulit di atas, ia memasukkan syahadat dalam dunia pewayangan. Ritual doa-doa, jampi-jampi, dan mantera-mantera yang biasa diucapkan oleh masyarakat Jawa kala itu, pelan-pelan diganti oleh Sunan Kalijaga dengan bentuk kalimah syahadat. Melalui kalimah syahadat tersebut, pelan-pelan masyarakat Jawa masuk Islam tanpa ada paksaan, dan pelan-pelan kalimah syahadat menjelma menjadi mantera keseharian masyarakat saat melakukan ritual.

Dengan demikian, dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif dalam mengubah mindset masyarakat adalah dengan cara kebudayaan masyarakat yang di dalamnya dikemas dan disisipkan nilai-nilai Islam dalam suatu budaya.

Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, budaya yang baik akan dipertahankan, sedangkan budaya yang tidak baik akan diganti dengan budaya yang bermanfaat dan dibenarkan.

Maka dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna mengamalkan firman Allah, ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmah wal maw’idhatil hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Artinya:Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik.” Dengan cara dan startegi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang. Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13. Tetapi, benar-benar dianut dan dipilih oleh warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali Songo. Sehingga dari itu, Jawa bisa diislamkan tanpa ada pertumpahan darah dan masyarakat memeluk agama Islam tanpa ada paksaan, kekerasan, dan intimidasi. (Siswanto)

Wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil alamin

(Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta)

Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi kepada semua manusia tanpa membeda-bedakan latar belakang. Hal inilah yang menjadi kunci dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin tanpa ada paksaan dan intimidasi.

Nabi Muhammad diutus di muka bumi sebagai bukti kasih sayang Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad juga bertugas untuk mengubah manusia dari ketidakberdayaan menjadi berdaya, dari perilaku tidak etis menjadi etis, dan dari keterpurukan menjadi kesejahteraan.

Oleh sebab itu, Islam datang dengan membawa ajaran kebaikan bagi umat manusia di semesta alam. Islam juga dalam menyampaikan risalahnya dengan penuh kebijaksanaan  dan kasih sayang. Begitulah ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk memberikan kedamaian dan keteduhan kepada umat manusia di seluruh alam semesta.

Sedangkan dakwah yang dibawa oleh Nabi Muhammad bukanlah perkara yang mudah di tengah-tengah bangsa Arab yang pada waktu itu menyembah berhala, memiliki sukuisme yang tinggi, dan prostitusi di mana-mana. Sehingga beberapa kali Nabi Muhammad saat melakukan dakwah disiksa, dilecehkan, dilempari batu, dan bahkan akan dibunuh.

Akan tetapi dengan kerendahan hati dan ketulusannya dalam membawa risalah, beliau tidak melawan, justru beliau mendoakan agar mereka diberikan hidayah dan bahkan mendoakan agar anak cucunya kelak bisa masuk Islam. Inilah contoh dakwah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad dengan rasa penuh kasih sayang dan bijaksana (berakhlakul karimah).

Oleh karena itu, sangat jelas bahwa barometer dakwah dalam ragam bentuknya adalah berbingkai akhlak karimah untuk memanusiakan manusia dan menghormati orang lain, sekalipun ia ingkar kepada Allah Swt.

Hal ini juga dipraktekkan oleh  Wali Songo dalam menyebarkan agama Allah dengan cara penuh kasih sayang dan kedamaian. Sehingga, Islam bisa masuk ke Nusantara tidak menghancurkan seluruh kebudayaan masyarakat, melainkan Wali Songo mendakwahkan Islam dengan menggunakan strategi kebudayaan. Melalui  strategi kebudayaan  itulah Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah.

Dari wayang kulit di atas, ia memasukkan syahadat dalam dunia pewayangan. Ritual doa-doa, jampi-jampi, dan mantera-mantera yang biasa diucapkan oleh masyarakat Jawa kala itu, pelan-pelan diganti oleh Sunan Kalijaga dengan bentuk kalimah syahadat. Melalui kalimah syahadat tersebut, pelan-pelan masyarakat Jawa masuk Islam tanpa ada paksaan, dan pelan-pelan kalimah syahadat menjelma menjadi mantera keseharian masyarakat saat melakukan ritual.

Dengan demikian, dakwah yang ditempuh para ulama Nusantara yang ternyata efektif dalam mengubah mindset masyarakat adalah dengan cara kebudayaan masyarakat yang di dalamnya dikemas dan disisipkan nilai-nilai Islam dalam suatu budaya.

Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, budaya yang baik akan dipertahankan, sedangkan budaya yang tidak baik akan diganti dengan budaya yang bermanfaat dan dibenarkan.

Maka dalam berdakwah, para ulama Nusantara sempurna mengamalkan firman Allah, ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmah wal maw’idhatil hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Artinya:Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan baik.” Dengan cara dan startegi dakwah yang demikian, Islam dianut banyak orang. Islam memang masuk ke Indonesia sejak abad ke 13. Tetapi, benar-benar dianut dan dipilih oleh warga Nusantara secara luas baru pada periode Wali Songo. Sehingga dari itu, Jawa bisa diislamkan tanpa ada pertumpahan darah dan masyarakat memeluk agama Islam tanpa ada paksaan, kekerasan, dan intimidasi. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Photo by Mufid Majnun

    NU dalam Menjaga Politik Kebangsaan

    • calendar_month Sab, 13 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Seringkali orang berseloroh bahwa politik itu kotor, hanya untuk memperjuangkan perolehan suara. Selain itu juga, politik sering melanggar asa kepatutan dan kebenaran. Sehingga stigma semacam ini menjadikan sebagian warga masyarakat merasa alergi dengan segala sesuatu yang berbau politik. Dalam perspektif Islam, panggung politik telah lama ada dan bahkan Rasul sendiri adalah […]

  • Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.137
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (18/4) malam kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang tak malu memamerkan kekejaman secara telanjang. Dengan mengangkat tema “Manusia, O Manusia”, kita diajak mengritisi proses de-humanisasi yang sedang berlangsung. Salah satunya seperti yang ditunjukkan dalam peperangan yang saat […]

  • PCNU-PATI

    MWCNU Trangkil Bakal Gelar Bazar, Berikut Jadwal dan Lokasinya

    • calendar_month Sel, 14 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 376
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id- TRANGKIL – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Trangkil bakal menggelar bazar menjelang bulan suci Ramadhan. Manajer Bazar, Ahmad Mufid menyampakan kegiatan diprakarsai oleh Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Trangkil bekerja sama dengan PAC Fatayat NU Trangkil. “Kegiatan ini sebagai langkah awal memfasilitasi dan memasarkan produk dari anggota, serta sarana memperoleh dana pemasukan […]

  • Rakerdin, Ketua PWNU Gus Rozin Sebut SDM Guru Ma’arif Harus Berkualitas

    Rakerdin, Ketua PWNU Gus Rozin Sebut SDM Guru Ma’arif Harus Berkualitas

    • calendar_month Sen, 20 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Kudus – Lembaga Pendidikan Ma`arif NU PWNU Jawa Tengah pada Minggu (19/1/2025) menggelar kegiatan Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Zona 1 di Kabupaten Kudus. Rakerdin dihadiri 557 Kepala satuan pendidikan Ma`arif NU dari Cabang Kudus dan Jepara. Hadir dalam kegiatan tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Abu Rohmad, Wakil Sekretaris LP Ma’arif NU PBNU, […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Merayakan Kemiskinan Dengan Bahagia’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (21/6).

    Ngaji NgAllah Suluk Maleman Menyoal Merayakan Kemiskinan dengan Bahagia

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 460
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Universitas Harvard pada Mei lalu, berdasar penelitiannya, menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia. Anugerah itu memiliki keterkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Kajian inilah yang kemudian dijadikan salah satu topik pembahasan dalam Suluk Maleman edisi ke 162 pada Sabtu (21/6) malam. Budayawan yang juga penggagas Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin menyebut hal itu […]

  • PCNU-PATI

    Mahasiswa Prodi PMI Studi Kunjungan di Perintis Mesin Tetas Telur

    • calendar_month Sab, 18 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Pati, (senin, 14/10/2023) Segenap mahasiswa program studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) angkatan 2020, melakukan studi kunjungan kepada salah satu perintis mesin tetas telur otomatis yang terletak di Desa Bancak Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati. Dengan didampingi dosen pembimbing lapangan bapak Siswanto, kegiatan ini merupakan bagian dari bentuk belajar di lapangan dari […]

expand_less