Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kapan Ekonomi Warga NU Mandiri ?

Kapan Ekonomi Warga NU Mandiri ?

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 16 Jan 2018
  • visibility 371
  • comment 0 komentar

Pertanyaan tersebut menggelitik seluruh elemen NU, khususnya pengurus dan kader-kader mudanya.
Jangan sampai NU menjadi al-kabiiru bilaa nidlaamin yaghlibuhus shaghiiru bi nidlaamin, organisasi besar tidak terorganisir yang dikalahkan oleh organisasi kecil yang terorganisir. NU harus menjadi al-kabiiru bi nidzaamin, organisasi besar yang terorganisir. Dengan organisasi yg baik, NU akan berkembang pesat, baik secara jamaah (komunitas) maupun Jam’iyyah (organisasi).
Potret Kemiskinan
Angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi, sekitar 27.7 juta jiwa (BPS, 2015). Mayoritas adalah umat Islam, dan warga NU adalah representasi mayoritas umat Islam di Indonesia.

Maka, jihad ekonomi harus diprioritaskan untuk mengentaskan kemiskinan warga NU supaya mereka mandiri dan sejahtera, mampu mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi, pendidikan, teknologi, dan politik.
Jihad ekonomi menjadi tema strategis dibanding jihad fisik yang justru menodai kesucian agama karena menghalalkan segala cara dan membawa trauma psikologis yang panjang.
Galakkan Infak dan Sedekah
Sejak NU berdiri, foundhing fathers NU, khususnya KH M Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hazbullah, KH Bisri Syamsuri, KH Mahfudh Shiddiq, dan KH Abdul Wahid Hasyim serius memikirkan dan berjuang untuk kemandirian ekonomi warga NU.
Koperasi Syirkanul Inan dirintis untuk menggerakkan kemandirian ekonomi warga.
Para kiai tidak apatis dan pasif melihat ketimpangan ekonomi warga NU. Melihat aktif melakukan terobosan terobosan baru demi memberantas kemiskinan dan keterbelakangan umat. Gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dibangkitkan foundhing fathers dengan semangat berbagi kepada sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.
KH Masyhuri Malik, mantan Ketua PP Lazisnu PBNU 2010-2015, Hasil Muktamar Makasar 2010, dan Mas Amir Ma’ruf, mantan Direktur Lazisnu PBNU 2010-2015, menyatakan, ada langkah langkah yang harus dilakukan untuk menggapai kemandirian ekonomi warga NU.
Pertama, galakkan Infak dan Sedekah dari seluruh lapisan warga NU, pengurus, warga NU, yg kaya, setengah kaya, dan miskin. Budaya Infak dan Sedekah harus menjadi budaya yang dilestarikan dan dijunjung tinggi. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selagi mau menolong saudaranya.
Di Cirucuk Sukabumi Jawa Barat, Lazisnu Ranting NU berhasil Menggalakkan budaya bersedekah “sehari lima ratus rupiah” dengan anggota 1500 warga. Hasilnya luar biasa, mereka bisa mendirikan Klinik sehat, menerangi tempat ibadah dan jalan, membantu proses kematian sampai 7 hari, menghijaukan lingkungan, membantu keluarga yang tidak mampu, dan merintis ekonomi produktif, seperti ternak sapi atau kambing.
Di Sragen Jawa Tengah, koin NU berhasil menghimpun miliaran rupiah untuk membangkitkan semangat kemandirian warga untuk menghidupkan organisasi dan mendorong kewirausahaan warga NU.
Di Magetan Jawa Timur, uang recehan warga NU juga berhasil menggerakkan roda organisasi dan mendorong lahirnya benih-benih kemandirian ekonomi warga.
Galakkan Zakat
Langkah kedua, galakkan Zakat sebagai proyek Allah untuk mengentaskan kemiskinan umat. Zakat dgn potensi 280 trilyun pertahun adalah potensi dahsyat untuk menggerakkan potensi ekonomi umat. Sayang dan ironis. Potensi tersebut hanya mampu dihimpun 5 trilyun saja.
Ada banyak problem, mulai rendahnya profesionalitas Amil Zakat, rendahnya kesadaran berzakat umat, dan regulasi negara yang mempersulit pengelolaan zakat.
Membangunkan lembaga zakat (Lazisnu) dari tidurnya yang panjang membutuhkan kader kader muda yang militan, profesional, dan inovatif dalam menggerakkan zakat. Prinsip profesionalitas, totalitas, akuntabilitas, sinergitas, dan legalitas harus menjadi ruh pengelolaan lembaga zakat yg mendapat kepercayaan umat.
Tim yang solid mutlak dibutuhkan untuk menggerakkan potensi ekonomi warga NU sebagai persiapan menghadapi 1 abad NU pada tahun 2026 yang akan datang. (Dr. Jamal Makmur Asmani, Pati, 29-31 Desember 17)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.202
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda Tema tulisan seperti ini sudah banyak diketik banyak penulis. Diunggah banyak website. Dijelaskan pada Influecer dan Youtuber. Didakwahkan para pendakwah. Saya beberapa kali juga menulisnya di website resmi PCNU Pati. Namun, perlu ditegaskan lagi, mengapa etika bermedia sosial di bulan Ramadan menjadi penting untuk ditulis ulang di Pcnupati.or.id ini? Ya, jawab […]

  • PCNU PATI - Dari Jari; Cermin Diri. Photo by Laurenz Kleinheider on Unsplash.

    Dari Jari; Cermin Diri

    • calendar_month Jum, 17 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    Media sosial kini menjadi virus yang begitu pesat menyebar di seluruh lini masyarakat kita. Virus ini membuat saya prihatin karena media sosial kini sengaja dikemas menjadi semacam diary book oleh kebanyakan pengguna. Bahkan ada yang mengatakan apabila media sosial ibaratnya sebuah lautan sehingga semua bisa dimasukkan dan ditumpahkan tanpa terkecuali. Nyaris ironis bukan? Dari detik […]

  • Cegah Terorisme, FKPT Jateng Libatkan Pemuda Lewat Karakter ID

    Cegah Terorisme, FKPT Jateng Libatkan Pemuda Lewat Karakter ID

    • calendar_month Rab, 22 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 374
    • 0Komentar

      Semarang – Hotel Aston Inn Pandanaran Semarang menjadi pusat perhatian dalam rangkaian kegiatan KARAKTER ID “Kampus Rakyat Terpilih Indonesia” yang diselenggarakan oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. Acara berlangsung selama dua hari, Rabu hingga Kamis, 22-23 November 2023, dan memfokuskan pada pelibatan pemuda dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme. Narasumber utama pada […]

  • bgunn-jpeg-3

    Buruh Pembangunan Gereja

    • calendar_month Sab, 26 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 433
    • 0Komentar

      1.       Ada orang bekerja membangun tempat ibadah orang kristen (gereja) dan yang melakukan pekerjaan itu orang Islam.   Pertanyaan : a.      Bagaimana hukumnya melakukan pekerjaan itu ?   Jawaban :Hukumnya diharamkan,karena termasuk muharromah.   Referensi : &  Qulyûbi, vol. 3 hal. 70  

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dan KH. A. Nawawi Cholil dalam NgAllah Suluk Maleman “Kita, Agama, Kuasa” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (23/5).

    Suluk Maleman, Menyoal Kita, Agama dan Kuasa

    • calendar_month Ming, 24 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.238
    • 0Komentar

    Penyalahgunaan relasi kuasa patut menjadi bahan perenungan yang serius. Keberadaan ilmu tentu menjadi penting untuk mencegah persoalan itu terjadi di tengah carut marut saat ini. Persoalan itu menjadi bahasan dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (23/5) malam. Anis Sholeh Ba’asyin menyebut kasus dugaan pelecehan santriwati di Pati […]

  • MWC-NU Gembong Dukung Pemerintah Desa Gembong Melestarikan Sejarah

    MWC-NU Gembong Dukung Pemerintah Desa Gembong Melestarikan Sejarah

    • calendar_month Jum, 19 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 576
    • 0Komentar

    GEMBONG-Pelaksanaan kegiatan sedekah bumi Desa Gembong dibuka dengan khotmil qur’an bin nadhor Jumat (19/7) malam. Agenda tersebut dipimpin langsung oleh ketua MWC-NU Gembong K. Sholikhin dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Ust. Shofyan Noor al Hafidz. Seperti kebiasaan yang sudah berjalan, peringatan sedekah bumi ini dipysatkan di Balai Desa Gembong dan Masjid As Sholah […]

expand_less