Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » SANTRI, GENERASI EMAS, DAN TRANSFORMASI BANGSA

SANTRI, GENERASI EMAS, DAN TRANSFORMASI BANGSA

  • account_circle admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 20.468
  • comment 0 komentar
Oleh: Jamal Ma’mur Asmani
Wakil Ketua PCNU Pati, Dosen IPMAFA Pati
Kontribusi santri untuk kebangkitan bangsa tak terhitung nilainya. Partisipasi aktifnya dalam mencerdaskan masyarakat menjadi sumber nilai dan elan vital transformasi bangsa dalam ranah pendidikan, budaya, sosial, dan politik. Konsolidasi nasional tidak lepas dari konsolidasi kaum santri. Keberhasilan perjuangan kaum santri lahir dari kharisma besar kiai, pemimpin kaum santri, di tengah-tengah masyarakat. Kiai adalah pemimpin kultural masyarakat yang menjadi rujukan dalam merespons segala persoalan sosial. Ketulusan, kesungguhan, dan konsistensi kiai dalam membimbing umat menjadi starting point pengaruh kiai yang besar di tengah masyarakat. Kiai menjadi teladan masyarakat dalam bertutur, bersikap, dan mengambil keputusan.
Santri-santri zaman dulu berhasil tampil sebagai lokomotif gerakan pemikiran dan transformasi sosial politik sekaligus. Sebagai gerakan pemikiran, santri terlibat dalam wacana pemikiran dan diskusi keagamaan dan kebangsaan yang berlangsung secara intens. Menurut KH. A. Mustafa Bisri, salah satu kunci keunggulan santri adalah budaya self study (belajar mandiri). Santri tidak mengaji seluruh kitab. Hanya sebagian kitab yang dipelajari santri kepada kiai. Selebihnya, santri belajar secara otodidak sehingga mampu menguasai banyak kitab dan membandingkannya dengan khazamah pemikiran lain sehingga tercipta bangunan pemikiran yang kokoh. Prof. Dr. Nurcholis Madjid menyatakan bahwa keunggulan santri adalah menggabungkan otentisitas (ashalah) dan modernitas (hadatsah) sehingga mampu melahirkan pemikiran cemerlang dan genuine.
KH. A. Wahid Hasyim, KH. Idam Chalid, KH. Saifuddin Zuhri, KH. Mahfudh Salam, dan KH. Bisri Mustafa adalah sebagian santri yang tampil dalam kancah kepemimpinan politik yang mewarnai perjalanan bangsa ini dengan pemikiran dan aksi yang hebat yang dikuai elemen bangsa lintas sektoral.
Eksemplar sejarah ini menjadi refleksi mendalam bagi para santri era now dan bagi bangsa ini pada umumnya. Pada santri era now, jejak perjuangan santri terdahulu harus menjadi pelecut semangat untuk mempersiapkan bekal yang matang dalam menghadapi tantangan zaman ke depan. Totalitas belajar untuk menguasai ilmu mutlak dilakukan. Tanpa pondasi keilmuan yang matang, sulit bagi santri berkiprah secara lebih luas. Ilmu adalah kunci aktualisasi. Setelah menguasai ilmu, santri harus tergugah jiwa nasionalismenya untuk membangun masyarakat dan bangsa sebagai manifestasi dari jihad membumikan Islam yang rahmatan lil-‘alamin.
Generasi Emas Santri
Indonesia mencanangkan tahun 2045 sebagai tahun emas. Tentu yang diharapkan adalah tampilnya Indonesia sebagai Negara maju yang dibanggakan, baik aspek religuisitasnya, moralitasnya, pengetahuannya, teknologinya, ekonominya, seni dan budayanya, sosialnya, pendidikannya, dan politiknya. Untuk mencapai cita-cita besar ini, harapan terbesarnya ada pada generasi muda. Tersisa kurang lebih 19 tahun lagi bagi bangsa ini untuk membangun generasi emas yang diharapkan mampu menjadi dinamisator, fasilitator, dan inspirator kebangkitan bangsa. Santri sebagai bagian dari kader-kader muda diharapkan mampu memenuhi ekspektasi besar bangsa sebagai generasi emas yang mampu menjadi lokomotif kemajuan bangsa.
Menurut Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A (2026), generasi emas bangsa harus menggabungkan tiga kompetensi. Pertama, penguasaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Generasi muda dipersilahkan memilih disiplin ilmu sesuai dengan potensi terbesarnya. Ilmu keagamaan, sosial humaniora, alam, dan lain-lain. Untuk menguasai ilmu yang mendalam ini dibutuhkan kecerdasan (dzaka’), semangat tinggi dalam memburu ilmu (hirsh), kesabaran dalam menghadapi segala rintangan tanpa punya mental putus asa (ishtibar), bekal yang cukup (bulghah), bimbingan guru (irsyadzu ustadz) dan waktu yang panjang (thuulu zaman). Dalam konteks santri, tentu saja, keilmuan keagamaan yang dipresentasikan dalam kitab kuning harus dikaji, dikuasai, dan dikembangkan secara optimal sehingga selalu relevan dengan dinamika zaman.
Kedua, mampu melakukan integrasi isi, metodologi, dan etis. Dalam konteks santri, integrasi isi dilakukan dengan mengkaji dan menguasai ilmu klasik yang menjadi kebangggaan pesantren yang dikenal dengan kitab kuning dan sekaligus membaca dan menguasai ilmu-ilmu modern. Dalam bahasa pesantren, adagium populernya adalah al-muhafadhatu ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah, konsisten melestarikan khazanah pemikiran terdahulu yang masih relevan dan aktif mengakomodir khazanah pemikiran kontemporer yang lebih dinamis dan transformatif. Dalam konteks integrasi metodologi dilakukan dengan menggabungkan pendekatan tekstual-kontekstual, qouli-manhaji, bayani-qiyasi-istishlahi dengan pendekatan sosiologis-antropologis-historis sehingga ditemukan bangunan pemikiran yang kokoh. Sedangkan integrasi etis dilakukan dengan mempelajari sumber nilai etika dari agama, budaya, dan dunia untuk dijadikan nilai universal yang menjadi panduan kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh.
Ketiga, mempunyai karakter yang unggul. Keunggulan para santri tentu saja karakter religius-nasionalis. Karakter religius bersumber dari kajian kitab kuning yang selalu menekankan keimanan dan ketakwaan tinggi. Sedangkan karakter nasionalis bersumber dari jejak perjuangan para kiai yang selalu membimbing dan memberdayakan masyarakat dengan tulus tanpa pamrih.
Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, KH. Raden Asnawi Kudus, KH. Abdul Wahab Hazbullah, KH. Bisri Syansuri, KH. Abbas Buntet Cirebon, KH. Mahfudh Salam Kajen Pati, KH. Abdullah Zain Salam Kajen Pati, KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Ahmad Fayumi Munji dan KH. Maimoen Zubair adalah oase yang tidak pernah kering dikaji dan diteladani sepanjang hayat. Mereka adalah para pahlawan santri yang mendarmabaktikan ilmu, jiwa dan raganya untuk tegaknya Islam dan demi berkibarnya Indonesia sebagai Negara yang merdeka dan berdaulat.
Transformasi Bangsa
Bangsa ini sedang bergerak menuju Negara yang adil, makmur, dan maju. Keadilan ditegakkan dengan cara memberdayakan masyarakat bawah dengan program jangka pendek, menengah dan panjang. Kemakmuran diwujudkan dengan swasembada pangan dan energi. Sedangkan kemajuan digerakkan lewat pendidikan yang berkualitas tinggi. Transformasi bangsa menuju cita-cita besar ini menjadi momentum yang menyadarkan seluruh elemen bangsa untuk berpartipasi secara maksimal.
Santri sebagai salah satu elemen bangsa harus tergerak untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses transformasi bangsa dengan aksi-aksi riil yang strategis dan produktif. Peningkatan kualitas pendidikan pesantren menjadi pekerjaan mendesak yang harus dilakukan. Peningkatan ini membutuhkan kualitas guru yang memadai, sarana prasarana yang lengkap, serta himmah ‘aliyyah (cita-cita tinggi) dan ijtihad (totalitas daya juang) para santri. Baru kemudian merambah agenda pemberdayaan ekonomi dan penguatan nasionalisme dengan terlibat langsung dalam program kemasyarakatan dan kebangsaan.
Penutup
Santri adalah generasi muda bangsa Indonesia yang diharapkan tampil sebagai generasi emas yang unggul dalam bidang keilmuan dan nasionalisme. Santri diharapkan mampu berkiprah sebagai dinamisator dan inspirator kebangkitan bangsa. Santri identik dengan moralitas luhur, semangat mencari dan memburu ilmu yang tinggi, dan selalu mengedepankan ketulusan dalam berjuang di tengah masyarakat. Maka sangat wajar, jika bangsa ini mempunyai harapan besar kepada santri supaya menjadi inspirator dan dinamisator kebangkitan bangsa.
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Santri Salafiyah Kajen Juara Pencak Silat Nasional

    Santri Salafiyah Kajen Juara Pencak Silat Nasional

    • calendar_month Sen, 16 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 494
    • 0Komentar

    SEMARANG-Ikatan Pencak Silat NU yang dikenal dengan Pagar Nusa, dalam perkembangannya telah banyak mengalami perkembangan. Dari yang semula berfungsi sebagai pelindung para ulama, sekarang juga mengarah ke arah prestasi. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pelatih pencak silat Pagar Nusa di Madrasah Salafiyah, Zaenal Abidin. “Dulu para santri-santri jawara silat bertugas untuk menjaga ulama saja, […]

  • Peringati Maulid Nabi, PR IPNU Blingjati Gelar Safari Maulid

    Peringati Maulid Nabi, PR IPNU Blingjati Gelar Safari Maulid

    • calendar_month Jum, 15 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 565
    • 0Komentar

      WINONG – Pimpinan Ranting IPNU Blingjati menyelenggarakan acara Safari Maulid dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.  Acara digelar selama selama 11 hari mulai dari tanggal 7 – 18 Oktober yang bertepatan dengan 1-12 Rabi’ul Awwal 1443 H.  Lokasi acara berpindah – pindah, menggunakan sistem ganjil – genap. Pada malam ganjil lokasi acara di […]

  • Buka Diklat Kamad Ma'arif Jateng, Prof. Ali Ramdhani Analogikan Pemimpin Sebagai Jantung

    Buka Diklat Kamad Ma’arif Jateng, Prof. Ali Ramdhani Analogikan Pemimpin Sebagai Jantung

    • calendar_month Sel, 11 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang* – Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenag RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T. menganalogikan pemimpin sebagai organ jantung dalam tubuh, hal tersebut ia sampaikan saat membuka Diklat Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah Tahap 1 Tahun 2025 di Balai Diklat Keagamaan Semarang, Banyumanik, Senin (10/3/2025). Menurutnya, organ […]

  • kh-bisri-mustofa-scaled-jpg-2

    Resep Ampuh Mbah Bisri Untuk Menjadi Penulis Produktif

    • calendar_month Sab, 26 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

      Menulis merupakan salah satu bentuk ketrampilan dengan cara mengungkapkan gagasan, ide, perasaan melalui bentuk tulisan. Sedangkan aktivitas menulis bisa terbentuk apabila diimbangi dengan memperbanyak membaca dan terus berlatih untuk menulis. Karena esensi menulis pada dasarnya merupakan sebuah bentuk komunikasi yang harus dituangkan dalam bentuk tulisan. Maka dengan begitu, tradisi menulis baik di sekolah, pesantren, […]

  • Ketua PCNU Sebut INISNU Harus Jadi Tempat Perkaderan Intelektual NU

    Ketua PCNU Sebut INISNU Harus Jadi Tempat Perkaderan Intelektual NU

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.565
    • 0Komentar

      Temanggung – Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung KH. Muchamad Nurul Yaqin (Gus Nurul Yaqin) berharap agar Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menjadi tempat perkaderan intelektual Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu diungkapkan dalam Pembinaan Ke-NU-an dan Ke-INISNU-an kepada para pejabat INISNU Temanggung masa khidmat 2025-2029 di aula lantai 3 kampus setempat […]

  • PCNU-PATI

    Unforgattable

    • calendar_month Jum, 12 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Ini kisah dari sang waktu tentang mereka yang menunggu. Cerita seorang perempuan yang bersembunyi di balik halaman buku dan seorang lelaki yang siluetnya membentuk mimpi di liku tidur sang perempuan. Ditemani krat-krat berisi botol vintage wine yang berdebu, aroma rasa yang menguar dari cairan anggur di dalam gelas, derit kayu di rumah usang, dan lembar […]

expand_less