Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
  • visibility 652
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Setiap memasuki bulan Sya’ban masyarakat desa pada umumnya melanggengkan tradisi kirim doa yang ditujukan kepada para leluruh dan kerabat yang sudah meninggal. Tradisi ini sudah berjalan dari dulu sampai sekarang. Tradisi ruwahan ini juga biasanya dilakukan baik di masjid, mushola dan makam. Hal ini dilakukan masyarakat tidak lain adalah karena adanya nilai sakral, selain itu juga diyakini doanya bisa tersampaikan kepada para leluhurnya.

Pada umumnya tradisi ruwahan atau nyadran di bulan Sya’ban dilakukan setiap mendekati bulan Ramadan. Dimana pada tradisi ruwahan ini, selain masyarakat memanjatkan doa dan kirim doa pada leluruhnya yang sudah meninggal dunia. Mereka juga ikut nyadong berkah dengan adanya tradisi tersebut.

Tradisi ruwahan ini juga dapat diartikan sebagai sarana untuk menjaga sifat gotong-royong masyarakat sekaligus sebagai upaya masyarakat dalam menjaga keharmonisasian masyarakat melalui kegiatan kumpul bersama dalam satu majlis. Dan bersama-sama ikut makan bersama setelah ritual ruwahan selesai. Di sinilah pentingnya sifat kebersamaan dan saling menghormati satu sama lain dalam satu majlis yang dikemas dalam tradisi ruwahan.

Selain sebagai sarana untuk merajut kebersamaan, tradisi ini juga sebagai wahana untuk meningatkan kita kepada Sang Khaliq, bahwa hidup di dunia ini pada saatnya juga ada akhirnya. Maka, media ritual ruwahan ini bisa diartikan banyak hal sebagai bentuk cara kita mengekspresikan diri kita di bulan tersebut. Dan tentunya ritual ini dari pelbagai daerah berbeda-beda implementasinya serta cara masyarakat mengekspresinya juga berbeda-beda. Ada juga yang melakukannya melalui kirab, melakukan besik (kerja bakti desa), kirim doa, zikir, khataman Alquran, dan tasyakuran.

Ini semua dilakukan masyarakat tujuannya adalah untuk menjaga bentuk kearifan lokal (local wisdom) juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat diekspresikan dalam bentuk syukuran maupun sedekah kepada tetangga maupun masyarakat pada umumnya.

Karena Islam hadir bukan di tengah masyarakat yang tidak berbudaya, tetapi bersinggungan dengan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Sehingga apabila ada budaya yang tidak tepat dan menyimpang dari ajaran agama Islam, maka agama akan meluruskan bentuk-bentuk kebudayaan yang menyimpang menjadi benar dan lurus dengan menyesuaikan aspek budaya lokal sekiranya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Demikian juga kehadiran Islam di Indonesia yang sangat mudah diterima oleh masyarakat secara luas. Karena disampaikan secara harmonis dan dinamis, sehingga masyarakat merasa nyaman dan menerima Islam sebagai agamanya.

Budaya ruwahan sebagai salah satu budaya masyarakat bukan hanya dipahami sebagai ritual keagamaan, tetapi juga dipahami sebagai budaya keagamaan dan bukan sebagai ajaran mendasar agama itu sendiri. Demikian pula sebaliknya, jika budaya tersebut tidak dilakukan oleh masyarakat juga tidak mengapa, kalau toh dilaksanakan dan dapat mewarnai budaya tersebut secara Islam justru bisa menambahkan syiar. Sikap yang bijaksana perlu dilakukan untuk menghadapi hal tersebut.

Kehidupan keberagamaan tidak bisa berjalan dengan harmoni di masyarakat jika tidak menampung berbagai budaya yang baik di masyarakat. Dalam kaidah ushul ada istilah al-muhafadhatu ‘ala qadimis shalih wa al-akhdzu bil jadidil ashlah yakni memelihara khazanah lama yang baik dan mengambil pembaharuan yang baik.

Selain itu, juga memberlakukan kaidah ‘al ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah yakni melakukan perbaikan umat pada kondisi yang lebih baik, agar semakin baik dan semakin baik lagi. Kaidah ini lebih bersifat mendorong adanya kreatifitas dan inovasi terhadap apa yang ada. Karena selalu berusaha untuk mencari dan menemukan sesuatu yang ada menjadi lebih baik dan terus disempurnakan menjadi lebih baik.

Dengan demikian, adanya tradisi ruwahan merupakan sebuah akulturasi budaya yang sudah ada sejak era zaman wali songo yang dikemas melalui ritual adat-istiadat masyarakat setempat dan disisipi dengan kajian keislaman yang membuat masyarakat mudah menerima dan berjalan hingga sekarang ini.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Kamil Sarang Tutup Usia

    Gus Kamil Sarang Tutup Usia

    • calendar_month Ming, 12 Jul 2020
    • account_circle admin
    • visibility 364
    • 0Komentar

    REMBANG-Kabar duka muncul dari keluarga besar Ponpes Al Anwar Sarang, Rembang. Putra ke tiga KH. Maimoen Zubair, KH. Majid Kamil Maimoen atau Gus Kamil dikabarkan meninggal dunia Minggu (12/7) pukul 19.55 WIB malam ini. Foto Gus Kamil (kiri) disejajarkan dengan sang ayah, KH. Maimoen Zubair Kakak kandung Wakil Gubernur Jawa Tengah, Gus Taj Yasin ini […]

  • Berkat Koin NU, Ratusan Warga Purwokerto Tayu Dapatkan Kartu Sehat dan Pengobatan Gratis

    Berkat Koin NU, Ratusan Warga Purwokerto Tayu Dapatkan Kartu Sehat dan Pengobatan Gratis

    • calendar_month Rab, 9 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19.187
    • 0Komentar

    PATI — Pengurus Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Purwokerto Timur, Kecamatan Tayu, Pati, menyediakan program khusus pelayanan kesehatan gratis bagi warga setempat. ​Bekerja sama dengan Klinik Pusat Perawatan Luka dan Sunat Modern Anak Sholeh, program tersebut diwujudkan dalam bentuk Kartu Sehat yang praktis. Hingga saat ini, lebih dari 300 warga telah […]

  • RMI NU Gandeng AWS Gelar Kompetisi Santri Berhadiah Rp 40 Juta

    RMI NU Gandeng AWS Gelar Kompetisi Santri Berhadiah Rp 40 Juta

    • calendar_month Rab, 14 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Pamflet Kompetisi Santri 4.0  buah Kerja sama RMI NU dan Amazon Web Service. JAKARTA- Robithoh Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) merupakan lembaga di bawah payung NU yang menaungi pesantren-pesantren NU di Indonesia. Baru-baru ini, RMI NU menyelenggarakan program yang cukup mengesankan.  Dengan menggandeng Amazon Web Service (AWS) anak perusahaan teknologi multinasional asal Amerika, Amazon Inc., […]

  • LP Ma’arif Jawa Tengah Inisiasi Training Program for Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Teachers

    LP Ma’arif Jawa Tengah Inisiasi Training Program for Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Teachers

    • calendar_month Rab, 22 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.429
    • 0Komentar

      Wuhan – Upaya peningkatan kualitas pendidikan sains di Indonesia terus diperkuat melalui kerja sama internasional. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah bersama Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah menginisiasi kegiatan Training Program for Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) Teachers yang diselenggarakan di Central China Normal University (CCNU), Wuhan, Tiongkok. Program pelatihan ini […]

  • 12 Ranting Fatayat NU Kecamatan Winong Dilantik

    12 Ranting Fatayat NU Kecamatan Winong Dilantik

    • calendar_month Sab, 29 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 547
    • 0Komentar

    WINONG – 12 Pimpinan Ranting Fatayat NU se-Kecamatan Winong baru saja dilantik tepat pada Hari Sumpah Pemuda, Jumat (28/10). Berlokasi di Desa Pagendisan, Kecamatan Winong, agenda pelantikan ini juga sekaligus dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Menurut Ana Nailul Rohmah, ketua PAC Fatayat NU Winong, 12 Pimpinan Ranting tersebut di antaranya, Pagendisan, Padangan, Kudur, […]

  • Fatayat NU Winong Gelar Gebyar Muharrom

    Fatayat NU Winong Gelar Gebyar Muharrom

    • calendar_month Sab, 7 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 435
    • 0Komentar

    WINONG-Ratusan anggota Fatayat se-Kecamatan Winong tumplek blek di halaman Masjid Baitussalam, Desa Kudur, Jumat (6/8). Menurut Ani Agustyani, S.Ag., M.Si., selaku ketua PAC Fatayat Winong, kehafiran mereka adalah untuk memeriahkan peringatan tahun baru hijriyah. 34 anak yatim menerima dantunan dari PAC Fatayat NU Winong dalam acara Gebyar Muharrom yang digelar untuk memperingati tahun baru hijriyah […]

expand_less