Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU dalam Menjaga Politik Kebangsaan

NU dalam Menjaga Politik Kebangsaan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 13 Jan 2024
  • visibility 314
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Seringkali orang berseloroh bahwa politik itu kotor, hanya untuk memperjuangkan perolehan suara. Selain itu juga, politik sering melanggar asa kepatutan dan kebenaran. Sehingga stigma semacam ini menjadikan sebagian warga masyarakat merasa alergi dengan segala sesuatu yang berbau politik.

Dalam perspektif Islam, panggung politik telah lama ada dan bahkan Rasul sendiri adalah seorang pemimpin negara Madinah yang kemudian dilanjutkan oleh sahabatnya dalam sebuah tatanan politik kekhalifahan. Dalam sejarahnya banyak sekali kitab-kitab yang berisi tata cara penalaran negara (Nidham al-hukm) sarat dengan nuansa politik muai dari al-Mawardi dengan al-Ahkam al-Sulthaniyah hingga Ali Abdurraziq dengan al-Islam wa Ushil al-Hukm.

Sedangkan dalam konteks di Indonesia memang ada banyak partai politik yang bernuansa keislaman yang dalam garis perjuangannya berusaha diwarnai dengan corak keislaman. Masing-masing memiliki warna yang tak selalu sama dan bahkan seringkali memiliki pebedaan tajam dalam mensikapi satu masalah yang memiliki implikasi serius di bidang agama.

Oleh karena itu, agar tidak terjerumus dalam politik praktis. Maka sudah sayogjanya agama menjalankan perannya sesuai dengan tujuannya yakni memberikan keteduhan, kedamaian, dan petunjuk kea rah yang benar terhadap masyarakat. Selain itu juga memberikan nasehat-nasehat baik untuk mencerahkan masyarakat dari hal-hal yang dinilai salah menjadi benar.

Maka, Langkah Nahdlatul Ulama untuk Kembali ke Khittah menurut hemat penulis sangat tepat. Karena sebagai organisasi masyarakat sosial agama terbesar di dunia sudah sayogjanya menerapkan nilai-nilai yang penuh dengan tawassuth wal-I’tidak,tasamuh, tawazun,dan beramar ma’ruf nahi munkar.

Dengan pokok-pokok pikiran tentang Khittah NU yang telah ditetapkan oleh Muktamar NU. Sekarang menjadi jelas bahwa keputusan kembali ke Khittah 1926 ini adalah keputusan yang disiapkan secara konsepsional serta dengan proses yang cukup matang. Sehingga NU masih teguh pada pendiriannya yakni menerapkan model politik kebangsaan.

Sedangkan dalam hal ini NU memiliki ciri khas tersendiri dalam pendekatannya terhadap politik. Meskipun secara umum mendukung prinsip-prinsip demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia, NU juga sangat menekankan pada nilai-nilai Islam dan pendekatan keagamaan dalam keterlibatannya dalam dunia politik.

Secara politik, NU tidak secara resmi terafiliasi dengan partai politik tertentu tetapi memiliki pengaruh besar dalam berbagai partai politik di Indonesia. Sejumlah tokoh NU telah terlibat dalam pemerintahan dan politik nasional, bahkan sejak masa kemerdekaan.

Pada intinya, politik kebangsaan NU sering kali berkaitan dengan upaya menjaga nilai-nilai Islam dalam kerangka negara demokratis Indonesia, sekaligus berupaya memastikan kepentingan umat Islam diakomodasi dalam kebijakan pemerintah. NU juga aktif dalam mempromosikan toleransi antaragama dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Dengan demikian,Kembali ke Khittah 1926, berarti kita harus melakukan renungan ulang mengingat dan mengenang Kembali terhadap semangat ukhuwah Islamiyah Islamiyah nahdliyah tebalnya rasa senasib dan seperjuangan di antara para ulama pendiri NU.

Menurut KH Ahmad Shiddiq dalamkarya tulisnya yang berjudul Khittah Nahdliyah disebutkan pada halam 19 menyatakan sebagai berikut:

Dengan tidak memonopoli predikat sebagai satu-satunya golongan Ahlussunnah wal-Jamaah, Jam’iyah nahdlatul Ulama semenjak pertama berdirinya menegaskan diri sebagaipenganut yang mengemban dan mengembangkan Islam ala Madzhab Ahlussunnah wal-Jamaah. Dengan sekuat tenaga,NU menempatkan diri sebagai pengamat setia dan mengajak seluruh kaum Muslimin, terutama para warganya untuk menggolongkan diri pada Ahlussunnah wal-Jamaah.”

Berdasarkan catatan KH Ahmad Siddiq ini sangat jelas, para ulama mendirikan NU pada tahun 1926 mendasarkan amal dan perjuangan NU itu pada acaran Ahlussunnah wal-Jamaah. Sehingga NU berkomitmen dalam semangat nasionalisme dan cinta tanah air.

 

 

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ​Perkuat Tata Kelola, RMI PCNU Pati Ajak Pesantren Bangun Sistem Administrasi Tertib

    ​Perkuat Tata Kelola, RMI PCNU Pati Ajak Pesantren Bangun Sistem Administrasi Tertib

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.196
    • 0Komentar

      ​PATI – Semangat kolaborasi dan penguatan tata kelola pesantren menjadi sorotan utama dalam acara Halalbihalal dan Rapat Koordinasi yang diselenggarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Pati bersama Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Pati. ​Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (24/04/2026) di Komplek II Pondok Pesantren Mansajul Ulum, Cebolek Kidul, Margoyoso ini dihadiri oleh […]

  • Mendahulukan Umroh atau Haji?

    Mendahulukan Umroh atau Haji?

    • calendar_month Rab, 23 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 320
    • 0Komentar

      Pak karyo adalah seorang petani dan beliau sudah di anggap cukup atau mampu secara finansial untuk melaksanakan rukun islam yang ke lima yaitu haji. Pak karyo sudah tahu mengenai haji yang hanya di wajibkan bagi mereka yang telah mampu melaksanakannya yakni mereka yang yelah memiliki cukup bekal dan ongkos menuju tanah suci, serta kemampuan […]

  • Semua Sekolah/Madrasah Ma`arif NU Jawa Tengah Diwajibkan Inklusif

    Semua Sekolah/Madrasah Ma`arif NU Jawa Tengah Diwajibkan Inklusif

    • calendar_month Sen, 4 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 315
    • 0Komentar

    Semarang – Lembaga Pendidikan Maarif NU Jawa Tengah melalui Pengawas Penggerak Maarif NU ingin mematikan bahwa semua Lembaga Pendidikan dibawah naungan Maarif baik Sekolah dan Madrasah tidak boleh menolak calon Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Hal itu disampaikan oleh Ketua LP Maarif NU Jawa Tengah, R Andi Irawan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pengawas Penggerak Maarif […]

  • Ini Wejangan Ketua PCNU Pati untuk Warga Nahdliyyin

    Ini Wejangan Ketua PCNU Pati untuk Warga Nahdliyyin

    • calendar_month Rab, 17 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 279
    • 0Komentar

    GUNUNGWUNGKAL-Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Gunungwungkal Senin (15/6) malam masih hangat. Warga Nahdliyyin Gunungwungkal kini memiliki ketua baru. Terpilihnya KH. M. Faishol sebagai pimpinan tanfidziyah (pelaksana) NU Gunungwungkal merupakan angin segar bagi pergerakan NU kedepan. Pasalnya tokoh muda energik seperti KH. M. Faishol memang sangat dinantikan gebrakannya di masyarakat. Momentum ini salah satunya […]

  • 500 Vaksin Booster Tersedia di PCNU sampai Besok

    500 Vaksin Booster Tersedia di PCNU sampai Besok

    • calendar_month Kam, 21 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 338
    • 0Komentar

    PATI – Penyaluran 1 juta vaksin booster oleh PCNU Pati telah di mulai Kamis (21/4) pagi tadi. Program ini merupakan buah kerja sama antar tiga komponen, yaitu PBNU, Kementerian Agama dan Polri. Seperti di rilis pcnupati.or.id sebelumnya, Kabupaten Pati memperoleh kuota sebanyak 5000 paket vaksin booster. Pelaksanaan vaksinasi booster Covid-19 yang yang dilaksanakan di halaman […]

  • Lestarikan Tradisi Ke-NU-an, INISNU Temanggung Lakukan Ziarah ke Pendiri NU

    Lestarikan Tradisi Ke-NU-an, INISNU Temanggung Lakukan Ziarah ke Pendiri NU

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.185
    • 0Komentar

    ‎ ‎Sidoarjo – Selain agenda akademik, rombongan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung juga melaksanakan ziarah ke makam para tokoh pendiri dan ulama besar Nahdlatul Ulama sebagai bagian dari pelestarian tradisi dan penguatan spiritualitas. ‎ ‎Ziarah dilakukan ke makam Makam Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Surabaya, Makam Mbah Shonhaji (Mbah Bolong), dan Makam Mbah Soleh […]

expand_less