Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan Produktif Berliterasi

Ramadan Produktif Berliterasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 25 Feb 2026
  • visibility 9.191
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Pada Kolom Ramadan 2024, saya telah menulis di Pcnupati.or.id sebuah tulisan sederhana berjudul Ramadan: Bulan Literasi dan Numerasi” pada 30 Maret 2024.

Pada 5 Maret 2025, saya menulis Puasa dan Produktivitas Kerja. Pada 19 Maret 2025, saya menulis kolom berjudul Ramadan itu Bulan Produktif!. Selama Ramadan 2025 kemarin, saya menginisiasi GLM Ramadan 1446 H bertema “Gerakan Murid Ma’arif Menulis Kreatif Selama Ramadan (GEMUKKAN).”

Intinya, Ramadan memang bulan literasi lah. Rinciannya, baca semua tulisan-tulisan saya di atas. Kesuwen nek diulang-ulang. Namun dalam kolom kali ini, judul saya tulis menjadi “Ramadan Produktif Berliterasi”. Sama atau beda isinya? Ya beda lah!

Ramadan: Awal Mulai Literasi Dunia

Bagi saya, Ramadan menjadi titik awal kekuatan atau lahirnya literasi dunia. Makanya, banyak pendapat dalam artikel menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan literasi. Mengapa demikian? Salah satunya alasannya adalah bahwa wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca: Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq yang bermakna “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!” (QS. Al-‘Alaq: 1).

Maksudnya, membaca dalam ayat di atas tidak sekadar aktivitas tekstual saja, namun hakikatnya adalah perintah peradaban yang literat. Bangsa yang berperadaban dipastikan literasinya kuat. Ia menjadi tanda bahwa Islam dibangun di atas fondasi literasi. Jelas ya!

Dalam konteks inilah, saya menyebut bahwa Ramadan adalah bulan produktif, tidak sekadar memperbanyak rakaat salat, menambah waktu iktikaf di masjid, menambah jumlah sedakah dan infak, namun juga memperkaya wawasan dan pengetahuan. Literasi menjadi bagian dari ibadah intelektual yang harus dihidupkan selama Ramadan.

Literasi: Jalan Takwa

Allah Swt berpesan dalam Al-Qur’an QS. Az-Zumar: 9 yang artinya “(Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?” Sesungguhnya hanya ululalbab (orang yang berakal sehat) yang dapat menerima pelajaran.

Ayat 9 Surat Az-Zumar di atas, hakikatnya menempatkan ilmu pengetahuan sebagai pembeda kualitas manusia di dunia. Maksudnya, dalam konteks Ramadan, bulan suci ini menjadi media, wahana, dan momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas diri melalui literasi selama sebulan penuh.

Budaya membaca dan menulis dalam tradisi Islam klasik menjadi ciri utama seorang syekh atau ulama, kalua sekarang ya kiai lah. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin berpesan bahwa ilmu menjadi cahaya hati. Ketika manusia tidak berimul, atau tanpa ilmu, ibadah manusia dapat atau bisa kering dari makna. Maka dari itu literasi menjadikan puasa Ramadan tidak sekadar menahan lapar dan dahaga saja, namun juga memperdalam kesadaran spiritual.

Literasi di zaman modern ini bukan sekadar “membaca kitab atau buku cetak”. Akan tetapi, literasi di era kontemporer ini dimaknai meluas ke literasi digital, literasi media, dan literasi informasi yang dalam. Tantangan umat Islam saat ini tidak kekurangan informasi, namun justru kelebihan informasi.

Ramadan Produktif Berliterasi

Ahli internet Howard Rheingold (2012), dalam karnya berjudul Net Smart: How to Thrive Online, berpesan penting, yaitu literasi digital yang paling utama tidaklah sebuah keterampilan teknis, akan tetapi justru literasi atensi. Artinya, di tengah informasi yang membanjiri umat Islam, perhatian kita harusnya adalah aset yang paling dijadikan “royokan”.

Buku itu juga menuliskan lima literasi, yang paling relevan di tulisan ini adalah crap detection. Apa itu? Crap detection ini merupakan salah satu dari lima literasi digital dasar yang harus dimiliki manusia modern agar tidak “tenggelam” dalam arus informasi.

Apa saja kelima literasi itu menurutu Rheingold (2012) ? Kelima literasi itu terdiri atas (1) attention (atensi atau perhatian), (2) crap detection (deteksi sampah/informasi palsu), (3) participation (partisipasi), (4) collaboration (kolaborasi), dan (5) network awareness (kesadaran berjaringan).

Konsep crap detection atau pendeteksian sampah ini relevan dalam konteks Ramadan. Artinya, di bulan suci yang penuh berkah ini, kita harus melakukan tabayun modern atau klarifikasi digital. Literasi dalam konteks ini tidak sekadar kemampuan membaca apa yang muncul di timeline atau beranda medsos kita, namun juga sebuah keberanian untuk menyaring mana informasi yang berisi “nutrisi” dan mana yang “sampah” alias spam.

Ramadan sejak dahulu yang selalu diisi dengan tadarus Al-Qur’an secara fisik di masjid, musala atau langgar, dalam konteks ini maknanya meluas dan melebar. Sebagai wujud implementasi produktif berliterasi, maka kita melakukan crap detection berupa membaca dengan kritis dan cognitive surplus atau membuat konten berfaedah. Semua itu merupakan bentuk ibadah intelektual yang nyata dan jelas.

Dalam literatur Islam, telah banyak magnum opus alias mahakarya/karya besar lahir dari tradisi kesungguhan membaca dan menulis. Ibnu Khaldun dalam Kitab Muqaddimah (1377), menegaskan bahwa pentingnya ilmu dalam membangun sebuah peradaban besar. Artinya, peradaban kuat sangat ditopang atau ditentukan oleh tradisi literasi yang kokoh. Maka saya pernah menulis sebuah opini di Koran Wawasan yang terbit pada Jumat Pahing, 12 Mei 2017 yang berisi satir berjudul Toko Buku Vs Toko Obat Kuat. Coba saja baca!

Strategi Ramadan Produktif Berliterasi

Ramadan 1447 H kali ini harus benar-benar produktif dalam literasi. Kita bisa melakukan sejumlah gerakan, dengan beberapa tawaran dari saya. Pertama, rajin membaca Al-Quran dengan membuat membuat target bacaan. Kedua, membaca buku dan artikel selama Ramadan. Intinya, membaca, membaca, membaca, dan membaca sampek kesel.

Ketiga, menyaring informasi digital. Dengan cara apa? Ya, setidaknya dengan strategi mengurangi konsumsi konten sensasional dan memperbanyak konten edukatif. Keempat, menulis refleksi harian. Lewat apa? Melalui sebuah catatan singkat tentang hikmah puasa atau pelajaran hidup. Kelima, diskusi ilmiah ringan. Tujuannya, agar menghidupkan tradisi musyawarah dan kajian keluarga. Keenam, ngaji online. Ketujuh, sharing session akademis dengan rekan kerja, istri atau suami. Ini saya lakukan terus dengan istri saya. Maklum, saya dan istri sudah S3 semua. Diskusinya pun ilmiah. Hahaha guyon, Bro.

Kedelapan, menjadikan Ramadan sebagai ruang kontemplasi. Ketika weteng kosong, pikiran justru lebih jernih. Bahkan, murni. Kondisi ini menjadikan aktivitas membaca kita tidak sekadar aktivitas kognitif, namun juga spiritual. Kesembilan, memperbaiki kualitas bacaan. Dari sisi kuantitas, jenis bacaan, hingga menjadikan apa yang kita baca sebagai bahan diskusi.

Ada pendapat lain agar kita lebih produktif berliterasi?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yayasan Assalam Pasucen Berikan Bansos kepada Masyarakat Kurang Mampu di Acara Kemah Bhakti

    Yayasan Assalam Pasucen Berikan Bansos kepada Masyarakat Kurang Mampu di Acara Kemah Bhakti

    • calendar_month Sen, 4 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 396
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Yayasan Assalam, Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, mengadakan kemah wisata bhakti di Bumi Perkemahan Regaloh. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, yakni mulai Jumat (1/11/2024) hingga Minggu (3/11/2024). Sebanyak 375 siswa madrasah yang berada di naungan Yayasan Assalam, mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. ”Kami dari keluarga besar Yayasan Assalam Pati, Madrasah […]

  • PCNU-PATI

    Membaca Nurcholis Majid

    • calendar_month Kam, 1 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Namun, Cak Nur juga memberikan pertanyaan tentang sampai manakah mahasiswa di dalam mempertahankan idealisme nya tersebut? Apakah hanya sampai pada saat menjadi mahasiswa aktif? Atau bahkan sampai pada saat mereka sudah menjadi bagian daripada pemerintah itu sendiri? Cak Nur mulai mengkhawatirkan pertanyaan tersebut akan terjawab dengan kenyataan bahwa mahasiswa akan berhenti idealis apabila sudah menjadi bagian daripada pemimpin […]

  • Teliti Kurikulum Merdeka, Fakhruddin Karmani Minta Kemendikbud dan Kemenag Rumuskan Tujuan Pendidikan Bersama

    Teliti Kurikulum Merdeka, Fakhruddin Karmani Minta Kemendikbud dan Kemenag Rumuskan Tujuan Pendidikan Bersama

    • calendar_month Kam, 26 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.232
    • 0Komentar

      Semarang – Penelitian disertasi Fakhruddin Karmani tidak hanya menawarkan model integrasi nilai, tetapi juga memberikan pesan strategis kepada pembuat kebijakan pendidikan nasional. Dalam temuannya, integrasi nilai Islam Nusantara menjadi jembatan yang menghubungkan ajaran Islam dengan Pancasila dan kebhinekaan Indonesia tanpa menciptakan dikotomi antara agama dan negara. Hal ini menunjukkan pentingnya sinergi antara sistem pendidikan […]

  • 172.971 Siswa Daftar PTKIN 2022 lewat Jalur Prestasi

    172.971 Siswa Daftar PTKIN 2022 lewat Jalur Prestasi

    • calendar_month Rab, 13 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Proses pendaftaran Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2022 sudah selesai. Panitia telah melakukan proses verifikasi dan hasilnya segera dibahas pada sidang yudisium atau rapat penentuan kelulusan. “Setelah dilakukan proses vinalisasi, total ada 172.971 pendaftar yang mengikuti proses seleksi SPAN PTKIN 2022,” terang Kepala Sekretariat SPAN UM PTKIN 2022 Mukhsin […]

  • Menabung Rp10 Ribu per hari, Perajin Tempe asal Soneyan Akhirnya Berangkat Haji

    Menabung Rp10 Ribu per hari, Perajin Tempe asal Soneyan Akhirnya Berangkat Haji

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.373
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Aroma kedelai fermentasi dari sebuah dapur sederhana di Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, bukan sekadar penanda dimulainya produksi tempe. Bagi Siti Nafiah (58), aroma itu adalah saksi bisu perjuangan selama puluhan tahun demi menggapai impian ke Tanah Suci. ​Setelah menanti belasan tahun, Siti Nafiah dijadwalkan berangkat haji pada […]

  • Fidyah Aneh (2

    Fidyah Aneh (2

    • calendar_month Kam, 2 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

    Bolehkah membayar fidyah setiap tahun pada bulan wafatnya orang yang difidyahi, dan dapatkah menggugurkan / meringankan tuntutan meninggalkan sholat / puasa mayat yang ketika hidupnya sudah biasa meninggalkannya ?   Jawaban : Boleh karena tidak ada kewajiban fauron (seketika) dalam mengkafarohi mayit, dan tidak dapat menggugurkan tuntutan meninggalkan sholat/puasa akan tetapi dapat sedikit meringankan dosanya. […]

expand_less