Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan itu Bulan Macul Langit

Ramadan itu Bulan Macul Langit

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 20 Mar 2025
  • visibility 307
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda*

 

Pacul itu cangkul. Tapi dalam bahasa Jawa, macul  berarti mencangkul. Lalu, bagaimana jika macul langit? Langit kok dipacul.

 

Sebenarnya, macul itu bermakna luas. Dalam bulan Ramadan, ibaratnya kita “banjir” pahala karena Ramadan menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam ini membawa keberkahan, kedamaian, dan peluang bagi setiap hamba untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dalam keheningan malam yang suci, doa-doa dipanjatkan, zikir terus dilantunkan, dan harapan-harapan baru ditanamkan dalam sanubari setiap insan yang beriman.

 

Ramadan bukan sekadar bulan puasa, melainkan juga bulan “macul langit”—bulan untuk menggali dan memanjatkan doa setinggi-tingginya, menumbuhkan benih spiritualitas, dan merajut hubungan lebih erat dengan Sang Pencipta.

 

Momentum berdoa di bulan Ramadan memiliki keistimewaan yang luar biasa. Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga bulan di mana doa-doa lebih mudah dikabulkan. Setiap detik di bulan ini penuh dengan keberkahan, dan setiap doa yang dipanjatkan memiliki peluang besar untuk diijabah oleh Allah Swt. Momentum Ramadan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak doa. Jangan sia-siakan waktu-waktu mustajab ini karena setiap doa yang tulus akan mengalir ke langit, membawa harapan dan keberkahan bagi kehidupan kita.

 

Bulan Macul Langit

Ungkapan bulan macul langit bukanlah istilah yang lazim ditemui dalam khazanah keagamaan Islam, utamnya bagi orang yang bukan dari Jawa. Namun, jika “macul langit” diinterpretasikan sebagai kiasan untuk “memanjatkan doa kepada Allah SWT”, terdapat penjelasan yang relevan. Pertama, Ramadan sebagai bulan doa. Bulan Ramadan adalah waktu yang sangat istimewa di mana umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, termasuk doa. Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi setiap amal kebajikan yang dilakukan di bulan ini.

Waktu-waktu tertentu di bulan Ramadan, seperti saat berbuka puasa, sepertiga malam terakhir, dan Lailatulqadar, adalah waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa.

 

Kedua, makna macul langit secara harfiah berarti “mencangkul langit”. Dalam konteks ini, “macul langit” dapat diartikan sebagai upaya sungguh-sungguh untuk mencapai rida Allah SWT melalui doa. Ungkapan ini mengandung makna bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan dan kesungguhan akan dikabulkan oleh Allah SWT.

 

Ketiga, pentingnya doa di bulan Ramadan. Doa adalah senjata orang mukmin. Melalui doa, umat Islam memohon ampunan, rahmat, dan petunjuk dari Allah SWT. Di bulan Ramadan, doa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meraih keberkahan. Apabila diartikan prinsip tersebut sebagai berikut, siang bekerja atau mencari rezeki, malam berdoa, berzikir, atau memanjatkan doa kepada Allah Swt.

 

Kelebihan Berdoa di Bulan Ramadan

Selain bulan-bulan umum, Ramadan memang sangat istimewa dibandingkan bulan lainnya. Pertama, dikabulkannya doa orang yang berpuasa. Rasulullah Saw. bersabda: “Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (HR. Tirmidzi, No. 2526). Hal ini menunjukkan bahwa doa saat berpuasa, terutama menjelang berbuka, memiliki keistimewaan tersendiri.

Kedua, lailatulqadar (malam seribu bulan). Di sepuluh malam terakhir Ramadan, terdapat malam Lailatulqadar, di mana doa yang dipanjatkan pada malam ini lebih bernilai dibanding seribu bulan. Malam ini adalah kesempatan emas untuk memohon ampunan, keberkahan, dan segala kebaikan dunia maupun akhirat.

 

Ketiga, momen berdoa di sepertiga malam. Pada bulan Ramadan, kebiasaan bangun untuk sahur juga membuka kesempatan bagi umat Islam untuk berdoa di waktu yang mustajab, yaitu sepertiga malam terakhir. Ini adalah saat di mana Allah turun ke langit dunia dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

 

Keempat, keberkahan dalam doa saat tarawih dan witir. Shalat tarawih dan witir juga menjadi waktu terbaik untuk bermunajat. Saat bersujud dalam shalat, itulah saat terdekat antara hamba dan Tuhannya. Inilah waktu terbaik untuk berbisik kepada Allah, menyampaikan segala harapan dan permohonan.

 

Kelima, keutamaan sedekah dan doa orang yang bersedekah. Ramadan juga bulan berbagi. Doa orang yang bersedekah untuk orang lain akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah. Berbagi dengan sesama adalah salah satu cara agar doa kita semakin diijabah.

 

Konsisten Berdoa dan Berusaha

Intinya, kita harus rajin berdoa. Sebab, sejak fajar menyingsing, umat Islam memulai hari dengan niat suci untuk berpuasa. Lapar dan dahaga yang dirasakan sepanjang hari bukanlah sekadar ujian fisik, melainkan jalan menuju kesadaran spiritual yang lebih dalam. Dalam perjalanan ini, setiap individu diajak untuk merenungi hidup, menakar kembali kebiasaan, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Dengan hati yang bersih, setiap kata yang terucap menjadi doa yang melesat ke langit, menembus batas-batas duniawi menuju ridha Ilahi.

 

Di sepanjang malam Ramadan, langit menjadi saksi dari ribuan doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan. Sujud panjang di sepertiga malam, lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema, dan air mata yang menetes dalam doa adalah bentuk penghambaan yang sejati. Orang-orang beriman percaya bahwa di bulan ini, doa lebih mudah dikabulkan, pintu ampunan terbuka lebar, dan rahmat Allah turun melimpah. Tidak ada yang sia-sia dalam doa yang diucapkan dengan tulus, karena setiap harapan yang terpatri dalam sanubari adalah bagian dari komunikasi mesra antara hamba dan Tuhannya.

 

Di desa-desa, suasana Ramadan terasa lebih syahdu. Tradisi tadarus Al-Qur’an selepas tarawih menjadi momentum kebersamaan, menghidupkan malam dengan cahaya keimanan. Di sudut-sudut masjid, anak-anak dan orang tua duduk bersimpuh, mengaji dengan suara bergetar, mencoba menyerap hikmah dalam setiap ayat. Tak hanya itu, Ramadan juga menjadi bulan kepedulian sosial. Saling berbagi takjil, memberikan santunan kepada yatim piatu, serta mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan, adalah cara manusia mendekatkan diri kepada Allah melalui kepedulian terhadap sesama.

 

Sejatinya, Ramadan mengajarkan bahwa “macul langit” bukan hanya sekadar memanjatkan doa, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan keikhlasan akan berbuah kebaikan. Doa-doa yang dihaturkan bukan sekadar untaian kata, melainkan ikhtiar spiritual yang mengantarkan jiwa semakin dekat dengan Ilahi. Dalam kebeningan hati, Ramadan mengajarkan bahwa tidak ada doa yang sia-sia, tidak ada usaha yang percuma, dan tidak ada harapan yang terlalu tinggi untuk Allah kabulkan.

 

Maka, mari manfaatkan bulan ini sebaik mungkin. Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa kita menggali keberkahan dari setiap detiknya. Mari memacul langit dengan doa dan usaha yang sungguh-sungguh, karena di sinilah kesempatan terbaik untuk merajut harapan, memperbaiki diri, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.

 

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jajaran Pengurus ISHARI NU Pati Resmi Dilantik, Siap Kembangkan Seni Hadrah Bersanad

    Jajaran Pengurus ISHARI NU Pati Resmi Dilantik, Siap Kembangkan Seni Hadrah Bersanad

    • calendar_month Sen, 14 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Jajaran Pengurus ISHARI NU Pati Resmi Dilantik, Siap Kembangkan Seni Hadrah Bersanad PCNUPATI.or.id – Jajaran pengurus Ikatan Seni Hadrah Indonesia Nahdlatul Ulama (ISHARI NU) Pati resmi dilantik. Pelantikan berlangsung saar Rapat Pleno PCNU Kabupaten Pati di Aula SMKNU Pati, Ahad (13/7/2025). Anwar Mahroni didapuk sebagai ketua pada periode 2025 -2030. Jajarannya dilantik langsung oleh Pengurus […]

  • Semua Sekolah/Madrasah Ma`arif NU Jawa Tengah Diwajibkan Inklusif

    Semua Sekolah/Madrasah Ma`arif NU Jawa Tengah Diwajibkan Inklusif

    • calendar_month Sen, 4 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Semarang – Lembaga Pendidikan Maarif NU Jawa Tengah melalui Pengawas Penggerak Maarif NU ingin mematikan bahwa semua Lembaga Pendidikan dibawah naungan Maarif baik Sekolah dan Madrasah tidak boleh menolak calon Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Hal itu disampaikan oleh Ketua LP Maarif NU Jawa Tengah, R Andi Irawan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Pengawas Penggerak Maarif […]

  • Peradaban Minus Manusia

    Peradaban Minus Manusia

    • calendar_month Sel, 19 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 234
    • 0Komentar

    Pati. Genosida di Palestina adalah bukti terang-benderang betapa manusia tak lagi punya malu untuk memamerkan kebiadabannya. “Tidak hanya kehilangan rasa malu, tapi malah aktif mengembangkan beragam narasi untuk membendung empati publik internasional terhadap korban mereka. Mulai dari narasi tentang hak mempertahankan diri sampai anti-semitisme,” demikian ujar Anis Sholeh Ba’asyin dalam acara Ngaji NgAllah Suluk Maleman […]

  • 234 Mahasiswa Ipmafa Pati Diwisuda

    234 Mahasiswa Ipmafa Pati Diwisuda

    • calendar_month Sab, 26 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 181
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Margoyoso Pati, menggelar wisuda ke-13, Sabtu (26/10/2024) pagi. Sebanyak 234 mahasiswa yang diwisuda, diharapkan bisa menerapkan ilmu serta nilai-nilai pesantren yang telah mereka peroleh selama menempuh pendidikan di kampus. Ratusan mahasiswa yang diwisuda itu berasal dari tujuh program studi. Antara lain Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Islam […]

  • Santri Salafiyah Kajen Juara Pencak Silat Nasional

    Santri Salafiyah Kajen Juara Pencak Silat Nasional

    • calendar_month Sen, 16 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 147
    • 0Komentar

    SEMARANG-Ikatan Pencak Silat NU yang dikenal dengan Pagar Nusa, dalam perkembangannya telah banyak mengalami perkembangan. Dari yang semula berfungsi sebagai pelindung para ulama, sekarang juga mengarah ke arah prestasi. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pelatih pencak silat Pagar Nusa di Madrasah Salafiyah, Zaenal Abidin. “Dulu para santri-santri jawara silat bertugas untuk menjaga ulama saja, […]

  • UPZIS MWCNU Tayu Lakukan Turba dan Galakkan Program NU Care Damai

    UPZIS MWCNU Tayu Lakukan Turba dan Galakkan Program NU Care Damai

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.645
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id- Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tayu, Kabupaten Pati, rutin melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (Turba). Kegiatan ini merupakan program sosialisasi dan konsolidasi yang dilakukan oleh pengurus UPZIS MWC untuk mendorong aktivasi dan kinerja UPZIS di tingkat ranting. Ketua UPZIS MWCNU Tayu, Moh Fatchurrohman, menyatakan bahwa […]

expand_less