Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ini Puasa dari Scroll

Ini Puasa dari Scroll

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Feb 2026
  • visibility 9.252
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Coba Anda Googling. Khususnya di Google Terjemah. Kata Scroll artinya menggulir. Scrolling berarti “bergulir”. Scroll Down bermakna “gulir ke bawah”. Scroll Up adalah “gulir ke atas.

Mengapa harus mencari dan memastikan? Ya, jelas agar ada pengalaman empiris tentang mengapa kita harus puasa dari scroll, baik itu media sosial (Facebook, Tiktok, Instagram), maupun menggulir mesin penelurusan, game, e-commerce, dan kecerdasan buatan. Betapa banyak godaan berseliweran di saat puasa Ramadan melalui teknologi tersebut.

Penting atau Tidak?

Mengapa puasa dari scroll penting? Bagi saya sih penting sekali. Sebab, hampir semua masyarakat muslim di Indonesia kini menggunakan gawai. Ya, secara umum, Ramadan datang sebagai momentum pengendalian diri. Dari segala bentuk yang membatalkan, menggoda, membujuk, bahkan menjerumuskan. Kita tak sekadar menahan lapar, dahaga, dan syahwat sejak fajar hingga waktu magrib tiba. Akan tetapi, di era digital hari ini, banyak sekali muncul satu tantangan baru yang kerap luput dari kesadaran kita.

Apa itu? Ya jelas, itu adalah kebergantungan pada kebiasaan scroll tanpa henti. Jari terus bergerak, layar terus menyala, sementara hati perlahan kehilangan ruang hening untuk merenung. Dalam makna substantifnya, puasa tidak sekadar ritual biologis, melainkan latihan spiritual dan etis. Ia mengajarkan pengendalian, kesadaran, dan kepekaan. Maka dari itu, di tengah banjir notifikasi, algoritma media sosial, dan budaya fear of missing out (FOMO), Ramadan seharusnya menjadi puasa dari scroll, yaitu puasa dari konsumsi digital yang berlebihan dan tidak bermakna. Kira-kira demikian!

Berpuasa dari kebiasaans croll sangat urgen. Sebab, era digital saat ini perhatian manusia adalah sumber daya paling berharga sekaligus paling rentan terkuras tanpa disadari. Scroll tanpa henti menjauhkan muslim dari kehadiran diri, melemahkan fokus ibadah, dan menumpulkan kepekaan spiritual yang justru ingin diasah oleh Ramadan.

Puasa dari scroll, setidaknya menjadikan muslim dapat belajar mengendalikan relasinya dengan teknologi digital, medsos, game, AI, bahkan jual beli online, memilah informasi secara bijak, serta mengembalikan ruang hening untuk refleksi, zikir, dan kontemplasi. Hehehe Ya, inilah wujud puasa kontemporer yang relevan dengan tantangan zaman, yaitu menahan bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga hasrat untuk terus terhubung tanpa makna. Begitu!

Fenomena Doomscrolling

Johann Hari (2022), dalam buku Stolen Focus: Why You Can’t Pay Attention menyebut bahwa doomscrolling merupakan tindakan, perilaku, atau kebiasaan yang secara terus-menerus menelusuri atau menggulir layar media sosial dan situs berita untuk membaca berita negatif, menyedihkan, atau menakutkan secara berlebihan. Tradisi ini sering didorong oleh rasa cemas atau rasa butuh informasi, namun justru meningkatkan stres, kelelahan mental, dan paranoia.

Kita harus jujur, bahwa kebiasaan menggulir konten medsos secara kontinu tanpa tujuan dan arah yang jelas telah menjadi “kebiasaan” harian masyarakat muslim modern, termasuk kaum cendekiawan, intelektual, bahkan gus dan kiai. Medsos didesain untuk mempertahankan atensi selama mungkin. Algoritma bekerja bukan untuk menenangkan jiwa, tetapi untuk mengikat perhatian.

Sherry Turkle (2011) melalui buku Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less menyebutkan teknologi digital menjadikan manusia selalu terkoneksi. Namun, mereka semakin kehilangan kehadiran diri. Ironis bukan? Manusia hadir secara fisik, namun pikiran melayang di ruang virtual. Parah sekali! Dalam konteks Ramadan 1447 H ini, kondisi ini berbahaya sekali, pasalnya ibadah kehilangan kekhusyukan, zikir berubah menjadi rutinitas mekanis, dan refleksi diri tergeser oleh arus informasi instan. Padahal, puasa hakikatnya yaitu praktik mindfulness dalam perspektif Islam, kesadaran penuh atas diri, Tuhan, dan sesama.

Memuasakan Jari

Dalam kolom kali ini, saya menyebut bahwa puasa menjadi media, metode, wahana, atau ruang untuk melatih diri agar disiplin dalam menegakkan etika umat Islam di ruang digital. Utamanya, kita harus bisa memuasakan “jari” kita sendiri. Sebab, Islam tidak pernah menolak teknologi. Artinya, dalam hal ini yang ditolak adalah ketiadaan kendali moral. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menyebutkan anggota tubuh manusia termasuk mata dan lisan haruslah ikut berpuasa. Intinya begitu. Dalam konteks hari ini, jari dan layar pun seharusnya turut “berpuasa”.

Secara sederhana, siyam dari scroll bukan berarti menjadikan umat Islam antimedsosi. Akan tetapi, ini menjadi ikthiar mendisiplinkan relasi kita dengan teknologi, atau lebih khusus “memuasakan jari”. Masalahnya, apa yang kita konsumsi? Untuk apa kita membagikan sesuatu? Apakah konten yang kita lihat dan sebarkan mendekatkan diri pada nilai takwa atau justru menjauhkan? Bukankah lebih baik membagikan Kolom Ramadan di pcnupati.or.id ini? Hehehe Karena sejak 2024 alhamdulillah saya konsisten menulis tiap Ramadan sampai Ramadan 2026 ini.

Dalam buku Convergence Culture: Where Old and New Media Collide, Henry Jenkins (2008) berpendapat budaya digital bersifat partisipatoris. Artinya, tiap pengguna (user) menjadi produsen makna. Artinya, tiap status (story), like, share, dan komentar memiliki implikasi etis yang sangat mendalam. Maka, dalam momentum Ramadan ini pastinya mengajarkan bahwa tidak semua yang bisa dilakukan perlu dilakukan.

Konsumsi Menuju Kontemplasi

Budaya konsumtif saat Ramadan biasanya meningkat. Biasanya sih. Namun bisa kita analisis, bahwa salah satu hikmah puasa adalah “melambat”. Apa maksudnya? Tubuh jadi melambat, ritme hidup berubah, dan ruang kontemplasi terbuka. Namun scroll tanpa kendali justru mempercepat segalanya: yaitu bisa berupa emosi, penilaian, bahkan kemarahan.

Dalam konteks ini, sebuah buku berjudul The Burnout Society yang ditulis Byung-Chul Han (2015) mencoba mengkritik pedas bahwa saat ini banyak masyarakat modern yang terjebak dalam budaya kelelahan akibat stimulasi berlebih. Dalam konteks kolom ini, Ramadan hakikatnya hadir sebagai koreksi peradaban, yaitu manusia tidak diciptakan untuk terus aktif, tetapi juga untuk hening dan berpikir. Apakah Ramadan sudah menjadikan kita berpiking, hening, dan menjadikannya sebagai kontemplasi? Kayaknya berat deh!

Ruang kontemplasi akan terbuka lebar ketika kita bisa merealisasikan puasa dari scroll. Lewat apa? Ya bisa melalui membaca Al-Qur’an tanpa tergesa, berdoa tanpa distraksi, dan berpikir tanpa gangguan notifikasi. Bagi saya, inilah spiritualitas yang tidak bisa diwakilkan oleh teknologi.

Selain itu, literasi digital umat Islam juga perlu ditingkatkan. Apalagi, kita dibekali dengan kepemilikan beragam produk teknologi, baik itu gawai, laptop, peralatan dapur, televisi, dan ratusan aplikasi. Artinya apa? Puasa dari scroll tak sekadar berhenti pada pengurangan, namun juga pengalihan ke aktivitas digital yang bermakna. Hal ini menjadi titik temu antara puasa dan literasi digital.

Paul Gilster dalam buku Digital Literacy (1997) menyebut literasi digital merupakan kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak. Ingat ya: bijak. Dalam konteks Ramadan, literasi digital bisa menjadi amal sosial ketika kita bisa menyaring hoaks, menyebarkan pesan damai, dan menghadirkan narasi keislaman yang ramah.

Bagi sivitas akademika, utamanya Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung, termasuk di lingkungan aktivis Ormas Islam, Ramadan menjadi momentum tepat untuk menjadikan ruang digital sebagai ladang dakwah intelektual, bukan arena kegaduhan. Kita harus ingat, bahwa tujuan akhir puasa adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 183). Dalam hal ini, takwa bukan sekadar urusan relasi vertikal, namun juga cara kita hidup di ruang sosial termasuk ruang digital.

Simpulannya, puasa dari scroll bagi saya menjadi ikhtiar atau gerakan kecil menuju takwa digital, yaitu sebuah kesadaran bahwa tak semua informasi layak dikonsumsi, tidak semua opini perlu direspons, dan tidak semua momen harus diunggah. Pada bulan Ramadan 1447 H ini, mungkin kita tidak perlu bertanya: apa yang sedang viral? Tetapi lebih penting bertanya: apa yang sedang bernilai? Atau apa yang lebih bermakna?

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Guru; SMA Negeri 1 Tayu di Meriahkan dengan Ragam Kegiatan Kreatif

    Hari Guru; SMA Negeri 1 Tayu di Meriahkan dengan Ragam Kegiatan Kreatif

    • calendar_month Sel, 26 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 521
    • 0Komentar

    Tayu,  SMA Negeri 1 Tayu memperingati Hari Guru Nasional dengan penuh semangat melalui rangkaian acara menarik yang melibatkan seluruh warga sekolah. Acara yang diadakan pada hari Jumat pagi dimulai pukul 07.00 WIB 22 November 2024 kemarin Pada kegiatan kali ini mengusung tema kebersamaan dan penghormatan terhadap guru, dengan acara pembuka berupa menghias tumpeng hasil bumi […]

  • LTMNU Touring ke MWC Adakan Pelatihan Manajemen dan Fiqih Masjid

    LTMNU Touring ke MWC Adakan Pelatihan Manajemen dan Fiqih Masjid

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 584
    • 0Komentar

    KAYEN, LTMNU. Selasa, 10 September 2019 pengurus LTMNU MWC Kayen menyelenggarakan Pelatihan Manajemen dan Fiqh Masjid se-Kecamatan Kayen bertempat di Masjid Baiturrakhim Desa Pasuruhan Kec. Kayen Kab. Pati. Pelatihan ini merupakan  yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh LTMNU setelah sebelumnya juga diselenggarakan di MWCNU Kec. Gabus dan MWCNU Kec. Wedarijaksa. Pelatihan Manajemen dan Fiqih Masjid ini diikuti […]

  • PCNU-PATI

    Berbukalah yang Manis, Bukan Janji Manis

    • calendar_month Ming, 17 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    Berbukalah yang Manis, Bukan Janji Manis Oleh Hamidulloh Ibda   Kita bikin kue lapis//bikin puding yang manis//sambil menunggu buka//nyalakan api//air direbus//berbukalah yang manis//bukan janji manis//sambil bikin cemilan//mari siapkan//gorengan tahu.   Lagu parodi “Kita Bikin Romantis” yang dibawakan Teuku Mail dari lagu “Kita Bikin Romantis” (2024) karya MALIQ & D’Essentials ini viral di TikTok, Youtube, dan […]

  • Apakah Mobil dan Tanah Wajib Dizakati?

    Apakah Mobil dan Tanah Wajib Dizakati?

    • calendar_month Ming, 15 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 498
    • 0Komentar

    Pak Ahmad adalah seorang pengusaha atau pemproduksi saos dan kecap yang sukses. Sejak mulai usaha sampai sekarang (7 tahun) Pak Ahmad sudah bisa membeli tanah dan sekarang di tanah tersebut sudah dibangun perusahaan dan juga bisa membeli 2 Mobil, 3 Motor dan barang-barang lainnya. Seperti biasanya setiap akan hari raya Idul Fitri, para produsen saos dan […]

  • PCNU - PATI

    Pengurus PAC IPNU IPPNU Resmi Dilantik

    • calendar_month Sel, 5 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 410
    • 0Komentar

    KAYEN – Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU Tlogowungu Periode 2022–2024 telah resmi dilantik pada Ahad (3/7/2022), di Gedung Serbaguna Balai Desa Trimulyo Kecamatan Kayen. Sebanyak 80 Pengurus telah berikrar pada kesempatan tersebut, 34 IPNU dan 46 IPPNU. Acara tersebut dihadiri oleh MWC NU Kayen, Camat, Anggota Polsek Tlogowungu, Fatayat dan Muslimat sekitar. Tema […]

  • a couple of people walking down a dirty street

    Islam, Perang dan Perdamaian

    • calendar_month Sab, 18 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.455
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Perang di Timur Tengah sejak Ramadlan 1447 H. menyita perhatian publik, baik di dunia nyata maupun online. Perang terjadi secara offline dan digital. Isu agama mencuat tajam. Pihak Iran menyebut ini ada perang agama sehingga umat Islam dunia harus mendukung Iran. Sedangkan Amerika lewat Menteri Pertahanan menyatakan bahwa ini adalah perang […]

expand_less