Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ngaji Cloud Vs Ibadah Real Life

Ngaji Cloud Vs Ibadah Real Life

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 21 Feb 2026
  • visibility 8.880
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Saya adalah di antara banyak orang yang percaya dan meyakini bahwa ngaji (belajar) itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan siapa termasuk melalui sistem maya, digital, atau dalam awam (cloud). Hal ini juga sesuai pesan Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yang menegaskan bahwa “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Artinya, media digital hanya sekadar alatnya, medianya saja, namun substansi tetap ngaji, tetap belajar, dan tetap tersampaikan. Meski keduanya memiliki plus-minus, kekurangan-kelebihan, namun metode dakwah Islam harus kontekstual dan berkompromi dengan perkembangan zaman.

Lalu, bagaimana dengan Ramadan? Sudah lazim. Ramadan era digital, era cloud, tak sekadar menghadirkan aroma kolak dan lantunan tadarus di masjid, tongtongklek membangunkan sahur, namun juga notifikasi tiada henti dari layar gadget. Pengajian atau kajian Islam saat ini dapat diikuti sambil rebahan, nyambi kerjaan, zikir cukup lewat live streaming, dan pengajian hadir dalam format cloud yang tersimpan, bisa direplay, dan dibagikan kapan saja.

Pemandangan ngaji dengan sistem cloud tersebut menandai kemudahan luar biasa dalam beragama di era digital. Akan tetapi, di tengah kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah ibadah yang sepenuhnya dimediasi layar masih mampu menggantikan kehadiran fisik, keheningan saf masjid, dan getaran spiritual dalam ibadah real life? Mari kita renungkan! Sebagai bulan pendidikan ruhani, Ramadan justru menjadi momentum paling jujur untuk menimbang ulang relasi kita antara iman yang diklik dan iman yang dijalani.

Cloud sebagai Sarana

Eksistensi ngaji dengan sistem cloud dan deretan aplikasi ibadah di layar ponsel hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Teknologi memang berhasil memangkas jarak antara santri dan kiai, serta memudahkan akses terhadap literasi keagamaan dalam satu ketukan jari. Namun, perlu diingat bahwa spiritualitas tidak bisa sepenuhnya didigitalisasi. Getaran batin saat bersujud secara fisik dan interaksi sosial yang nyata tetap memiliki dimensi kedalaman yang tidak bisa digantikan oleh algoritma secanggih apa pun.

Ramadan bulan istimewa, yang diharapkan menjadi momentum untuk menyeimbangkan dua dunia ini. Selazimnya, kita tak usah mempertentangkan antara efisiensi dunia digital dengan kekhusyukan dunia nyata. Justru, ilmu yang kita serap melalui awan (cloud) harus menjadi bahan bakar bagi tindakan konkret di lapangan. Kesalehan ritual yang diasah lewat kajian daring lewat Youtube, TikTok, Instagram, atau saluran medsos lain barulah teruji validitasnya ketika ia bertransformasi menjadi kesalehan sosial dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat secara luas tanpa batas.

Euforia kesalehan simbolis di medsos jangan sampai menjebak umat Islam. Akan tetapi, mereka abai pada realitas di sekitar meja makan atau di depan pintu rumah kita sendiri. Ibadah yang bersifat real life menuntut kehadiran raga, jiwa, empati, dan pengorbanan waktu yang nyata, sesuatu yang sering kali terdistraksi oleh notifikasi gaawai. Spiritualitas yang sehat merupakan yang dapat membawa pencerahan dari layar gawai menuju praktik hidup penuh kasih dan kemaslahatan bagi sesama masyarakat.

Kesalehan Digital

Sejatinya, kesalehan digital tidak hanya rajin mengakses konten keagamaan di medsos, akan tetapi kemampuan memasukkan nilai-nilai ibadah ke dalam praktik hidup nyata. Konsep ini selaras dengan penekanan pada kehadiran hati (ḥuḍur al-qalb). Dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam Al-Ghazali menjelaskan ibadah tanpa kesadaran batin hanya menghasilkan kelelahan fisik, tidak pencerahan ruhani.

Kita tak bisa tutup mata dan memungkiri, bahwa produk teknologi digital dapat memperluas akses ilmu pengetahuan, sains, seni, dan budaya, namun kesalehan tetap menuntut kehadiran tubuh, hati, dan amal riil. Ngaji dengan sistem cloud harusnya diturunkan menjadi ibadah real life, yaitu seperti salat lebih khusyuk, puasa lebih jujur, dan akhlak yang lebih sosial, zakat lebih berdampak, dan bentuk lain.

Dalam perspektif teori mediasi agama (religious mediation), teknologi hanyalah
wasilah (perantara/media), bukan ghayah (tujuan). Ini clear ya! Dalam buku Digital Religion: Understanding Religious Practice in New Media Worlds (2012), Heidi A. Campbell berpendapat ruang digital tak pernah netral. Artinya, ruang digital membentuk cara berpikir, beriman, dan beribadah umat manusia. Maka kesalehan digital harus diuji, apakah ia melahirkan kedalaman spiritual, atau justru berhenti pada konsumsi simbol agama tertentu.

Dalam perspektif teori praksis sosial, melalui buku Outline of a Theory of Practice (1972), Pierre Bourdieu memberi pesan bahwa kesalehan sejati tercermin dalam habitus – kebiasaan yang membumi dan berulang. Artinya, ketika umat Islam ngaji daring hanya sekadar menambah daftar tontonan tanpa mengubah akhlak, disiplin ibadah, dan kepekaan sosial, maka kesalehan digital itu belum turun ke bumi. Dalam konteks bulan suci Ramadan, seharusnya dijadikan “laboratorium praksis” dari mendengar ceramah tentang sabar menjadi praktik sabar, dari menonton kajian zakat, menjadi aksi berbagi makanan takjil, dari ajakan tawakkal menjadi praktik nyata tawakkal kepada Allah Swt.

Ketika umat Islam dapat “membumikan kesalehan digital”, artinya bisa i menempatkan teknologi sebagai jembatan, bukan pengganti antara ilmu dan amal. Ketika kita mengukur, maka indikatornya sederhana, yaitu makin sering kita mengakses konten agama melalui jaringan atau daring, semestinya makin rendah suara ego, makin ringan tangan memberi, dan makin bersih laku hidup. Ketika tidak bisa terlaksana, barangkali yang bertambah hanyalah data keagamaan, bukan kedewasaan iman. Begitu! Adakah pendapat lain?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menata Kebudayaan Sebagai Landasan Politik

    Menata Kebudayaan Sebagai Landasan Politik

    • calendar_month Sen, 28 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

      Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke -154 yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia kembali mengangkat isu yang menarik, “Menata Budaya, Menyemai Harapan”. Tema ini diambil untuk kembali mengingatkan pentingnya menata ulang kebudayaan sebagai landasan bagi semua sisi kegiatan masyarakat, termasuk politik. Tema ini dianggap penting, bukan hanya karena permintaan Bawaslu Jawa Tengah agar […]

  • Potret Toleransi di Pati, Sarasehan Paseduluran GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin

    Potret Toleransi di Pati, Sarasehan Paseduluran GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin

    • calendar_month Sen, 29 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.720
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Di tengah hiruk-pikuk perayaan akhir tahun, sebuah gang di Desa Winong, Kecamatan Pati, menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan jiwa. Di Jalan Kolonel Sunandar Gang 6, berdiri dua rumah ibadah yang tidak hanya saling berhadapan, tetapi juga “bergandengan tangan” melalui sebuah kanopi permanen yang membentang di atas jalan. ​Pada Minggu (28/12/2025) malam, suasana di […]

  • Sudah Saatnya MWCNU Batangan  Lebih Maju

    Sudah Saatnya MWCNU Batangan Lebih Maju

    • calendar_month Sen, 7 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Sabtu, (28/11/15) kemarin MWNU Kec Batangan mengadakan konferensi yang bertempat di MA Tarbiyatul Islamiyah Lengkong Batangan, turut hadir dalam acara tersebut para Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama, Muslimat, Fatayat, Muspika, Polsek, Dandim serta para tamu undangan. “Sudah waktunya reorganisasi ini di lakukan dan di gantikan yang muda, lebih berwawasan luas dan lebih semangat dalam memimpin, saya […]

  • Terpilih Kembali, Ini 3 Misi Ketua GP Ansor Gembong

    Terpilih Kembali, Ini 3 Misi Ketua GP Ansor Gembong

    • calendar_month Sab, 18 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 599
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Imam Shomali Wicaksana ketua PAC GP Ansor Kecamatan Gembong masa khidmat 2023-2025 terpilih kembali sebagai ketua organisasi sayap muda NU tersebut. Pemilihan ini dilakukan melalui Konferensi Anak Cabang (Konferancab) PAC GP Ansor Gembong, Jumat (17/1) kemarin. Dirinya memenangkan suara dengan tanpa pesaing alias calon tunggal. Jika tidak ada halangan, sesuai dengan PD/PRT, […]

  • Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

    Bahasan Suluk Maleman Kali ini Sujud di Tengah Guncangan Zaman

    • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.119
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id Sujud secara semantik bermakna ketundukan mutlak, kepatuhan dan merendahkan diri baik secara jasadi mau pun ruhani. Bila Islam dimaknai penyerahan mutlak kepada Allah, maka sujud adalah manifestasi puncaknya. Bila Islam dimaknai kedamaian, maka sujud adalah bentuk paling sempurna untuk meraihnya. Ini diungkapkan Anis Sholeh Ba’asyin sebagai simpul penjelasannya dalam Suluk Maleman bertajuk “Sujud, Semesta […]

  • Forum Diskusi Santri : Santri Bisa Jadi Apa Saja

    Forum Diskusi Santri : Santri Bisa Jadi Apa Saja

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 533
    • 0Komentar

    WEDARUJAKSA-Momen Hari Santri Nasional yang berdekatan dengan Hari Sumpah Pemuda dimanfaatkan oleh para peserta didik Yayasan Pendidikan Bustanul Ulum, Pagerharjo, Wedarijaksa. Peserta didik yang tergabung dalam Himpunan Siswa Bustanul Ulum ini menggelar diskusi publik pada Senin (28/10) kemarin. Acara bertajuk Forum Diskusi Santri (Santri Indonesia untuk Perdamaian Bangsa) tersebut menghadirkan para praktisi dari berbagai latar […]

expand_less