Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ngaji Cloud Vs Ibadah Real Life

Ngaji Cloud Vs Ibadah Real Life

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 21 Feb 2026
  • visibility 8.953
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Saya adalah di antara banyak orang yang percaya dan meyakini bahwa ngaji (belajar) itu bisa di mana saja, kapan saja, dengan siapa termasuk melalui sistem maya, digital, atau dalam awam (cloud). Hal ini juga sesuai pesan Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yang menegaskan bahwa “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Artinya, media digital hanya sekadar alatnya, medianya saja, namun substansi tetap ngaji, tetap belajar, dan tetap tersampaikan. Meski keduanya memiliki plus-minus, kekurangan-kelebihan, namun metode dakwah Islam harus kontekstual dan berkompromi dengan perkembangan zaman.

Lalu, bagaimana dengan Ramadan? Sudah lazim. Ramadan era digital, era cloud, tak sekadar menghadirkan aroma kolak dan lantunan tadarus di masjid, tongtongklek membangunkan sahur, namun juga notifikasi tiada henti dari layar gadget. Pengajian atau kajian Islam saat ini dapat diikuti sambil rebahan, nyambi kerjaan, zikir cukup lewat live streaming, dan pengajian hadir dalam format cloud yang tersimpan, bisa direplay, dan dibagikan kapan saja.

Pemandangan ngaji dengan sistem cloud tersebut menandai kemudahan luar biasa dalam beragama di era digital. Akan tetapi, di tengah kemudahan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah ibadah yang sepenuhnya dimediasi layar masih mampu menggantikan kehadiran fisik, keheningan saf masjid, dan getaran spiritual dalam ibadah real life? Mari kita renungkan! Sebagai bulan pendidikan ruhani, Ramadan justru menjadi momentum paling jujur untuk menimbang ulang relasi kita antara iman yang diklik dan iman yang dijalani.

Cloud sebagai Sarana

Eksistensi ngaji dengan sistem cloud dan deretan aplikasi ibadah di layar ponsel hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Teknologi memang berhasil memangkas jarak antara santri dan kiai, serta memudahkan akses terhadap literasi keagamaan dalam satu ketukan jari. Namun, perlu diingat bahwa spiritualitas tidak bisa sepenuhnya didigitalisasi. Getaran batin saat bersujud secara fisik dan interaksi sosial yang nyata tetap memiliki dimensi kedalaman yang tidak bisa digantikan oleh algoritma secanggih apa pun.

Ramadan bulan istimewa, yang diharapkan menjadi momentum untuk menyeimbangkan dua dunia ini. Selazimnya, kita tak usah mempertentangkan antara efisiensi dunia digital dengan kekhusyukan dunia nyata. Justru, ilmu yang kita serap melalui awan (cloud) harus menjadi bahan bakar bagi tindakan konkret di lapangan. Kesalehan ritual yang diasah lewat kajian daring lewat Youtube, TikTok, Instagram, atau saluran medsos lain barulah teruji validitasnya ketika ia bertransformasi menjadi kesalehan sosial dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat secara luas tanpa batas.

Euforia kesalehan simbolis di medsos jangan sampai menjebak umat Islam. Akan tetapi, mereka abai pada realitas di sekitar meja makan atau di depan pintu rumah kita sendiri. Ibadah yang bersifat real life menuntut kehadiran raga, jiwa, empati, dan pengorbanan waktu yang nyata, sesuatu yang sering kali terdistraksi oleh notifikasi gaawai. Spiritualitas yang sehat merupakan yang dapat membawa pencerahan dari layar gawai menuju praktik hidup penuh kasih dan kemaslahatan bagi sesama masyarakat.

Kesalehan Digital

Sejatinya, kesalehan digital tidak hanya rajin mengakses konten keagamaan di medsos, akan tetapi kemampuan memasukkan nilai-nilai ibadah ke dalam praktik hidup nyata. Konsep ini selaras dengan penekanan pada kehadiran hati (ḥuḍur al-qalb). Dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, Imam Al-Ghazali menjelaskan ibadah tanpa kesadaran batin hanya menghasilkan kelelahan fisik, tidak pencerahan ruhani.

Kita tak bisa tutup mata dan memungkiri, bahwa produk teknologi digital dapat memperluas akses ilmu pengetahuan, sains, seni, dan budaya, namun kesalehan tetap menuntut kehadiran tubuh, hati, dan amal riil. Ngaji dengan sistem cloud harusnya diturunkan menjadi ibadah real life, yaitu seperti salat lebih khusyuk, puasa lebih jujur, dan akhlak yang lebih sosial, zakat lebih berdampak, dan bentuk lain.

Dalam perspektif teori mediasi agama (religious mediation), teknologi hanyalah
wasilah (perantara/media), bukan ghayah (tujuan). Ini clear ya! Dalam buku Digital Religion: Understanding Religious Practice in New Media Worlds (2012), Heidi A. Campbell berpendapat ruang digital tak pernah netral. Artinya, ruang digital membentuk cara berpikir, beriman, dan beribadah umat manusia. Maka kesalehan digital harus diuji, apakah ia melahirkan kedalaman spiritual, atau justru berhenti pada konsumsi simbol agama tertentu.

Dalam perspektif teori praksis sosial, melalui buku Outline of a Theory of Practice (1972), Pierre Bourdieu memberi pesan bahwa kesalehan sejati tercermin dalam habitus – kebiasaan yang membumi dan berulang. Artinya, ketika umat Islam ngaji daring hanya sekadar menambah daftar tontonan tanpa mengubah akhlak, disiplin ibadah, dan kepekaan sosial, maka kesalehan digital itu belum turun ke bumi. Dalam konteks bulan suci Ramadan, seharusnya dijadikan “laboratorium praksis” dari mendengar ceramah tentang sabar menjadi praktik sabar, dari menonton kajian zakat, menjadi aksi berbagi makanan takjil, dari ajakan tawakkal menjadi praktik nyata tawakkal kepada Allah Swt.

Ketika umat Islam dapat “membumikan kesalehan digital”, artinya bisa i menempatkan teknologi sebagai jembatan, bukan pengganti antara ilmu dan amal. Ketika kita mengukur, maka indikatornya sederhana, yaitu makin sering kita mengakses konten agama melalui jaringan atau daring, semestinya makin rendah suara ego, makin ringan tangan memberi, dan makin bersih laku hidup. Ketika tidak bisa terlaksana, barangkali yang bertambah hanyalah data keagamaan, bukan kedewasaan iman. Begitu! Adakah pendapat lain?

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Revitalisasi Nahdlatut Tujjar, Agenda Muktamar NU ke-35 di Jombang

    Revitalisasi Nahdlatut Tujjar, Agenda Muktamar NU ke-35 di Jombang

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 18.080
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Wakil Ketua PCNU Pati Muktamar NU ke-35 di Jombang yang akan terlaksana besok pada 27 sampai 31 Agustus 2026 yang akan datang menjadi momentum strategis untuk melakukan revitalisasi nahdlatut tujjar atau bidang ekonomi, baik yang memperkuat jam’iyyah maupun jama’ah NU. Selama ini, momentum Muktamar NU hanya disibukkan tentang figur calon pemimpin, […]

  • PCNU-PATI

    Wasiat Imam Ghazali

    • calendar_month Sen, 28 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 668
    • 0Komentar

    Buku surat Wasiat untuk Generasi Muda yang merupakan terjemah dari kitab  Ayyuhā  al-Walad  adalah  tulisan ringkas  semacam  pesan-pesan Imam Al-Ghazali sebagai guru kepada murid pada pelepasan akhir tahun (wisuda). Sehingga pembahasan yang tertuang dalam kitab   ini   tidak   tersusun   dalam   kerangka khusus  yang  berbentuk  buku  seperti  Iḥyā’ atau karya lainnya. Salah  satu  kelemahan  Ayyuhā  al-Walad yang   sudah   ditambal   sendiri   oleh   Imam Al-Ghazālī   

  • Desember 2021 hingga Februari 2022, Bulan Kaderisasi IPNU – IPPNU

    Desember 2021 hingga Februari 2022, Bulan Kaderisasi IPNU – IPPNU

    • calendar_month Sab, 5 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 638
    • 0Komentar

    Seorang peserta kaderisasi IPNU dengan penuh hikmat mencium bendera kebanggaannya dialnjutkan dengan mencium bendera Indonesia, sebagai simbol kesetiaan pada organisasi dan NKRI PATI – Bulan Desember 2021 hingga Februari 2022 merupakan bulan kaderisasi PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati. Sejumlah pimpinan, dari mulai Ranting hingga Anak Cabang serentak mengadakan agenda kaderisasi. Dalam kesempatan ini, M. Imamul […]

  • PC IPNU IPPNU Pati Gelar Orientasi Pengurus Harian

    PC IPNU IPPNU Pati Gelar Orientasi Pengurus Harian

    • calendar_month Ming, 3 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Suasana orientasi pengurus harian PC IPNU IPPNU Pati PATI – PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati menggelar orientasi bagi pengurus harian di Sendang Sani, Kecamatan Tlogowungu, Sabtu-Minggu (2-3/10). Kegiatan ini dalam rangka merumuskan dan menata strategi organisasi selama satu periode. Ahmad Khoirul Anam Ketua Panitia Orientasi menuturkan, dalam kegiatan ini mengundang sejumlah alumni untuk memberikan pandangannya […]

  • Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

    Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

    • calendar_month Rab, 1 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 510
    • 0Komentar

    Kedalaman ilmu, kebeningan hati, keagungan moral, dan kearifan hidup tidak lahir tiba-tiba. Ia membutuhkan asupan ilmu, bimbingan rohani, dan pancaran cahaya Ilahi dari orang-orang di sekitarnya. Peran keluarga dan lingkungan sangat vital untuk membentuk pribadi agung di atas. Salah pribadi agung tersebut adalah KH. Ahmad Nafi’ Abdillah. Beliau lahir dari lingkungan keluarga yang sangat religius, […]

  • Pantik Nalar Kritis Kader, IPNU IPPNU Pati Bedah Film "Pesta Babi"

    Pantik Nalar Kritis Kader, IPNU IPPNU Pati Bedah Film “Pesta Babi”

    • calendar_month Ming, 17 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 14.323
    • 0Komentar

      ​pcnupati.or.id – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pati menggelar acara nonton bareng (nobar) film dokumenter di halaman Gedung PCNU Pati, Sabtu (16/5/2026) malam. ​Film yang diputar adalah karya terbaru dari sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”. […]

expand_less