Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa dari Misuh-misuh

Puasa dari Misuh-misuh

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 18 Mar 2024
  • visibility 126
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Tahun 2019, saya menulis artikel ilmiah berjudul “Penggunaan Umpatan Thelo, Jidor, Sikem, Sikak sebagai Wujud Marah dan Ekspresi Budaya Warga Temanggung” yang terbit di Ranah Jurnal Kajian Bahasa 8 (2) 2019. Dalam artikel itu, ada temuan yang saya ungkap bahwa orang misuh (mengumpat) itu boleh, karena bentuk ekspresi budaya. Namun jika sudah misuh-misuh, itu jelas tidak boleh, apalagi dalam konteks tulisan ini adalah di bulan Ramadan, saatnya orang berpuasa dan meningkatkan kadar ibadah, atau setidaknya harus puasa dari misuh-misuh. Bukan sekadar puasa dari makan dan minum saja.

Puasa menjadi kewajiban agama bagi umat Islam yang dijalankan selama bulan Ramadan. Selain menahan diri dari makan, minum, dan hubungan intim dari terbit fajar hingga terbenam matahari, puasa juga mengajarkan nilai-nilai moral seperti sabar, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap sesame termasuk “misuh-misuh”. Namun, dalam praktiknya, seringkali masih ditemukan pelanggaran terhadap nilai-nilai moral tersebut, salah satunya adalah perilaku mengumpat, nesu, misuh-misuh dengan mengeluarkan bahasa “kebun binatang”.

Mengumpat, ghibah, ngece, omon-omon dalam Islam, merupakan tindakan merendahkan atau menghina orang lain di belakang mereka, baik itu tentang perilaku, penampilan, maupun hal lain yang bisa merugikan atau menyakiti perasaan mereka. Dalam konteks puasa, mengumpat menjadi tantangan moral yang serius karena bertentangan dengan esensi puasa itu sendiri.

Allah SWT telah menegaskan pentingnya menjauhi perbuatan mengumpat dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi, “Dan janganlah sebagian dari kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

 

Puasa dari Misuh-misuh

Hakikatnya, puasa tidak sekadar berhenti dari makan-minum dan hal-hal fisik lain yang membatalkan puasa dari terbit matahari sampai terbenamnya matahari. Lebih dari itu, puasa harusnya membatasi pribadi yang sudah misuh-misuh untuk berhenti sejenak bahkan kalau biasa selamanya. Entah hanya sekadar unsur kedekatan, marah, ekspresi budaya, jengkel, misuh kalau bisa dihindari, apalagi sampai misuh-misuh. Ada sejumlah alasan mengapa kita harus puasa dari misuh-misuh. Pertama, pelecehan, pencemaran, dan merendahkan orang lain. Jika sudah terbiasa dan dekat memang tidak ada masalah, namun yang berbahaya ketika dengan orang yang “peka hatinya” tentu sangat berbahaya.

Kedua, pelanggaran terhadap kedamaian batin. Puasa tidak hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang memurnikan jiwa dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Mengumpat hanya akan mengotori kedamaian batin dan menjauhkan diri dari tujuan spiritual puasa. Ketiga, ketidakpedulian terhadap orang lain. Mengumpat mencerminkan sikap tidak menghargai orang lain. Ketika seseorang terlibat dalam ghibah, mereka melupakan nilai-nilai kasih sayang, penghargaan, dan toleransi yang seharusnya ditanamkan dalam diri selama bulan Ramadan.

Keempat, penghambatan potensi keberkahan. Puasa adalah kesempatan untuk mendapatkan keberkahan dan pahala besar dari Allah SWT. Namun, tindakan mengumpat dapat menghambat potensi keberkahan ini, bahkan bisa membatalkan pahala puasa tersebut jika tidak dihindari. Kelima, pemborosan energi dan waktu. Mengumpat tidak hanya merugikan targetnya, tetapi juga memboroskan energi dan waktu yang seharusnya digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat dan produktif.

 

Tips Menghindari Mengumpat saat Puasa

Menghindari mengumpat saat berpuasa merupakan bagian penting dari menjalankan ibadah puasa dengan baik. Berikut terdapat sejumlah tips yang dapat membantu Anda menghindari mengumpat selama bulan puasa. Pertama, kontrol diri. Puasa tidak hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang mengendalikan diri dari perilaku negatif, termasuk mengumpat. Puasa merupakan latihan pengendalian diri yang luar biasa. Dengan mengendalikan hawa nafsu untuk mengumpat, seseorang dapat mengasah kemampuan pengendalian dirinya dan mendapatkan manfaat spiritual yang lebih besar. Kedua, berpeganglah pada nilai-nilai agama. Ingatlah ajaran agama Anda yang menekankan pentingnya berbicara dengan baik dan menghindari kata-kata yang menyakiti orang lain. Ketiga, hindari situasi-situasi yang menyulut emosi. Jauhi lingkungan atau situasi yang mungkin membuat Anda rentan untuk mengumpat. Hindari gosip dan perdebatan yang tidak bermanfaat.

Keempat, jaga lingkungan yang positif. Lingkungan yang positif dapat membantu mencegah Anda tergelincir ke dalam kebiasaan negatif seperti mengumpat. Bergaul dengan orang-orang yang mendukung nilai-nilai baik dan menjauhi mereka yang cenderung berbicara negatif. Kelima, bersyukur. Berlatihlah untuk selalu bersyukur atas segala hal yang Anda miliki. Dengan memusatkan perhatian pada hal-hal positif dalam hidup Anda, Anda akan lebih cenderung untuk menahan diri dari mengumpat. Keenam, berlatih kesabaran. Ketika Anda merasa frustrasi atau marah terhadap seseorang, berlatihlah untuk tetap tenang dan bersabar. Ini akan membantu Anda menghindari bereaksi dengan mengumpat.

Ketujuh, menjaga lidah. Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya untuk menjaga lidah dan menghindari perkataan yang tidak bermanfaat. Selama bulan Ramadan, penting untuk berhati-hati dengan apa yang kita katakan dan bagaimana kita menyampaikannya. Kedelapan, meningkatkan kesadaran diri. Setiap muslim harus lebih sadar akan perilaku dan perkataannya selama bulan Ramadan. Meningkatkan kesadaran diri akan membantu menghindari godaan untuk terlibat dalam ghibah atau mengumpat. Kesembilan, berdoa. Mintalah pertolongan dan bimbingan dari Tuhan untuk membantu Anda mengendalikan lidah dan perilaku Anda selama bulan puasa. Kesepuluh, evaluasi diri. Lakukan introspeksi secara teratur untuk mengevaluasi perilaku Anda. Jika Anda menemukan bahwa Anda mengumpat, mintalah maaf kepada Allah dan berkomitmen untuk memperbaiki diri. Kesebelas, menggantikan mengumpat dengan doa. Daripada menghabiskan waktu dan energi untuk mengumpat, lebih baik digunakan untuk berdoa bagi kebaikan orang yang mungkin menjadi sasaran mengumpat tersebut.

Ingatlah bahwa puasa adalah kesempatan untuk membersihkan jiwa dan meningkatkan kesadaran spiritual. Dengan menghindari mengumpat dan mengendalikan diri dari perilaku negatif lainnya, Anda dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh manfaat spiritual yang lebih besar selama bulan suci Ramadan. Simpulannya, puasa bukanlah hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang menjaga kesucian hati dan perilaku. Mengumpat adalah salah satu perilaku yang harus dihindari selama bulan Ramadan karena bertentangan dengan nilai-nilai moral Islam. Dengan menjaga lidah, meningkatkan kesadaran diri, berlatih pengendalian diri, dan menggantikan mengumpat dengan doa, seseorang dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan manfaat spiritual yang sebenarnya dari ibadah puasa. Semoga!

*Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., penulis lahir di Pati, 17 Juni. Saat ini menjadi dosen Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2018-2023, Kabid Media, Hukum, dan Humas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2020-sekarang, aktif menjadi reviewer 18 jurnal internasional terindeks Scopus, reviewer 9 jurnal internasional, editor dan reviewer 25 jurnal nasional.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Generasi Horeg, Bikin Cemas Untuk Indonesia Emas

    Generasi Horeg, Bikin Cemas Untuk Indonesia Emas

    • calendar_month Jum, 7 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 192
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Ditengah perkembangan teknologi yang berujung pada modernisasi, seharusnya jadi era yang baik bagi kehidupan suatu bangsa. Merespon perubahan yang kian pesat pun semestinya jadi momen perkembangan ke arah maju bagi negara. Hal tersebut, semestinya juga selaras dengan tujuan negara Indonesia menjadi Indonesia Emas di tahun 2025 mendatang. Menengok pergaulan remaja yang bahkan […]

  • Salafiyah Kajen Pati Diproseksi Jadi Model Nasional Green Madrasah

    Salafiyah Kajen Pati Diproseksi Jadi Model Nasional Green Madrasah

    • calendar_month Sab, 1 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.660
    • 0Komentar

      Pati – Kementerian Agama (Kemenag) mulai memperluas implementasi Green Madrasah sebagai bagian dari transformasi pendidikan Islam berbasis ekoteologi di Indonesia. Madrasah Salafiyah Kajen, Kabupaten Pati, dijajaki menjadi salah satu model percontohan nasional untuk penguatan pendidikan ramah lingkungan. Hal ini diungkapkan Kasubdit Fasilitasi Profesi Guru, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kemenag Fakhurrozi dalam pelatihan […]

  • KH. MUSLIH, KEMBALI MEMIMPIN MWC.NU MARGOYOSO

    KH. MUSLIH, KEMBALI MEMIMPIN MWC.NU MARGOYOSO

    • calendar_month Sen, 24 Nov 2014
    • account_circle admin
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Pcnupati.online. Konferensi MWC NU Kec. Margoyoso Kab. Pati periode 2008-2013 baru saja dilaksanakan Hari Jum’at, 21 Nopember 2014 bertempat di Pondok Pesantren Darunnajah Margoyoso Pati. Acara konferensi MWC NU Margoyoso yang rencana awalnya akan dilaksanakan di Gedung MWC.NU Margoyoso yang baru jadi, tetapi mengingat masih terbatasnya fasilitas, maka dipindahkan ke pondok pesantren Darunnajah (Rumah KH. […]

  • Rakor MWC-NU Gunungwungkal Hasilkan Tiga Poin Penting

    Rakor MWC-NU Gunungwungkal Hasilkan Tiga Poin Penting

    • calendar_month Sel, 17 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 126
    • 0Komentar

    GUNUNGWUNGKAL-Koordinasi selalu diperlukan dalam setiap organisasi. Terlebih untuk sebuah organisasai gemuk seperti NU. Pengurus antar tingkatan harus selalu membangun komunikasi yang baik demi terlaksananya program-program kerja yang telah susun bersama. Pertemuan Pengurus MWC NU Gunungwungkal di Musholla Darul Inayah, Dukuh Bemban, Selasa (17/9). Hal semacam ini disadari sepenuhnya oleh MWCNU Gunungwungkal. Hasilnya, pada hari ini, […]

  • LAZISNU Pati Luncurkan Program Berzakat untuk Mengurangi Penghasilan Wajib Pajak

    LAZISNU Pati Luncurkan Program Berzakat untuk Mengurangi Penghasilan Wajib Pajak

    • calendar_month Ming, 4 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 156
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Ketua Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah (Lazisnu) Pati, Edi Kiswanto, mengumumkan peluncuran Program Berzakat di LAZISNU Kabupaten Pati yang dapat mengurangi penghasilan wajib pajak. Menurut Edi, program ini dapat memberikan solusi bagi masyarakat yang memiliki kewajiban zakat dan pajak. “Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memberikan fasilitas pengurangan pajak dari sumbangan […]

  • Pelantikan Bersama PAC Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Sukolilo Pati

    Pelantikan Bersama PAC Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Sukolilo Pati

    • calendar_month Kam, 14 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Setelah beberapa bulan kemarin telah di adakan konferensi bersama antara MWCNU, Fatayat NU. Muslimat NU, dan IPNU IPNNU. Berapa waktu kemarin telah berlangsung Pelantikan Pengurus Anak Cabang Muslimat NU dan PAC Fatayat NU Kec Sukolilo. “Saya mengajakan para pengurus setelah di lantik ini akan semakin giat dalam berdakwah dan mengabdi kepada masyarakat dengan ikhlas, selain […]

expand_less