Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pesantren sebagai Lembaga Tafaqquh fi Ad-din

Pesantren sebagai Lembaga Tafaqquh fi Ad-din

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 17 Feb 2024
  • visibility 674
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Secara historis pesantren sudah ada semenjak proses adanya bangsa Indonesia, bahkan pesantren ikut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Pesantren memiliki usia setua bangsa Indonesia. Dan bahkan jauh lebih tua jika bangsa Indonesia ini diasumsikan lahir sesudah proklamasi.

Lebih dari dengan fakta historis diatas, pesantren dapat dikalim pula sebagai sistem pendidikan asli Indonesia. Dalam hal ini karena sistem pendidikan pesantren juga tidak dapat dibuktikan sebagai sistem pendidikan yang diadopsi dari masyarakat lain. Garis besar yang dapat ditarik dari fakta tersebut adalah bahwa sistem pendidikan pesantren merupakan satu-satunya sistem yang dirancang dengan meletakan masyarakat Indonesia sebagai pertimbangan sasaran didiknya.

Sedangkan fungsi utama pesantren menurt Kiai Sahal adalah terletak pada eksistensinya sebagai lembaga pendidikan atau sebagai lembaga tafaqquh fi Ad-din. Yaitu lembaga yang mentransfer pengetahuan sebagaimana dikehendaki oleh fungsi tafaqquh (pendalam pemahaman).

Adapun perbedaaan mendasarnya dengan lembaga-lembaga pendidikan yang lain adalah target yang ditentukan oleh pendidikan pesantren. Jika lembaga lain merasa cukup dengan memberikan pengetahuan, maka masih dianggap gagal jika transfer pengetahuan itu tidak mampu mengasilkan perilaku sesuai tingkat pemahaman peserta didiknya. Ini berarti lebih dari sekedar lembaga transfer pengetahuan, aktifitas pendidikan pesantren harus difahami sebagai lembaga pembentukan mental karakter peserta didiknya dalam kehidupan beragamanya.

Dengan demikian setidaknya ada beberapa faktor yang membentuk wawasan dan praktek keagamaan pesantren. Sedangkan faktor utamanya adalah karakter Islam yang memasuki Indonesia. Jika pada saat lahirnya Islam lebih banyak bergulat dengan masalah aqidah, kemudian berkembanag pesat sebagai seperangkat lengkap syariah (yang mengurus semua hal mulai ibadah ritual hingga pengaturan politik), maka yang sampai ke Indonesia adalah Islam yang lebih kental dengan tasawwuf-nya.

Fundamen aqidah dan bangunan syariah Islam ini hanya menyentuh masalah-masalah yang mendasar, pokok dan sederhana tetapi ornamen tasawwuf-nya sangat kaya dan sangat terbuka untuk dieksplorasi secara luas. Misalnya saja munculnya istilah manunggaling kawula gusti atau serat dewa ruci.

Faktor kedua,  adalah muatan kurikulum pesantren. Sesuai fungsinya sebagai lembaga tafaqquh fi ad-din, pesantren mengambil jalan pendidikan sebagai kegiatan utamanya. Dengan asumsi dasar bahwa bangunan dasar agama adalah aqidah dan syariah maka pesantren memfokuskan kegiatan pendidikannya pada materi tauhid dan fikih yang merupakan terjemahan langsung aqidah dan syariah.

Dan faktor ketiga adalah interaksi terus menerus antara pesantren dengan masyarakat. Menurut Kiai Sahal, pesantren bukanlah menara gading ilmiah dimana ilmu agama diteliti, diperdebatkan, diuji, dan dirumuskan jauh dari situasi, kondisi dan kenyataan riil yang melingkupi matinya .

 

Selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren pada umunya berfungsi pula sebagai lembaga da’wah yang ingin mewarnai masyarakat dengan nilai-nilai agama. Dengan kepentingan itu maka pesantren menempuh segala cara untuk mempengaruhi masyarakat agar menempuh jalan yang dianggapnya benar. Karena masyarakat juga memiliki kepentingan dan pertimbangannya sendiri, maka mau tidak mau harus diupayakan pendekatan dialogis terus-menerus agar nilai-nilai pesantren dapat diteriam oleh masyarakat. Sejauh pertimbangan dan kepentingan masyarakat tidak bertentangn dengan prinsip dasar agama, maka penyesuaian dan kebijakan lokal akan selalu diakomodasi justru untuk menjadi kuda tunggangan bagi nilai-nilai pesantren.

Faktor-faktor itulah yang pada ahirnya membentuk karakter Islam di pesantren yang pada umunya dianut masyarakat. Adapun dalam hal ini meliputi, teguh dalam aspek aqidah dasar dan sysri’ah, toleran dalam hal syari’ah atau tuntunan sosial, memiliki dan dapat menerima cara atau sudut pandang yang beragam terhadap suatu permasalahan sosial, enjaga dan mengedepankan moralitas sebagai panduan sikap dan perilaku keseharian.

Dengan demikian menurut Kiai Sahal pendidikan yang memanusiakan itu adalah pendidikan yang selalu berupaya menyempurnakan potensi psikologis dan potensi intelektual, bukannya membentuk dengan pola pendidikan yang bersifat doktrinal yang kaku. seperti kesan yang selama ini muncul di dunia pesantren meskipun Kiai Sahal sendiri dalam hal ini meyakini bahwa tidak banyak pesanten yang berpola pendidikan demikian. Kesemuanya itu diarahkan agar para murid menjadi manusia-manusia penerus kehidupan yang dapat mengaktualisasikan sembilan dimensi tersebut, sehingga ia menjadi bermanfaat, sebagai manifestasi nyata dari konsep “memanusiakan manusia” .

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI Ilustrasi (freepik.com)

    Rabiah al-Adawiyah Sang Sufi Pecinta Sejati

    • calendar_month Sab, 30 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 704
    • 0Komentar

    Oleh: Siswanto Rabiah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang terkenal dengan kesucian dan kecintaannya kepada Allah. Ia dikenal sebagai seorang sufi yang zuhud dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah. Sehingga tidak mengherankan apabila di kemudian hari, ia tumbuh menjadi seorang sufi yang begitu dikenal, disegani, dan dihormati pada masanya. Rabiah al-Adawiyah […]

  • Bergerak Masif, Fatayat Agendakan Dua Kali Audiensi dalam Sehari

    Bergerak Masif, Fatayat Agendakan Dua Kali Audiensi dalam Sehari

    • calendar_month Rab, 21 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    PATI-Pengurus Cabang Fatayat NU Pati masa khidmat 2019-2024 terus bergerak untuk merealisasikan program kerjanya. Bukan hanya membangun aspek internal, PC Fatayat juga mengagendakan beragam kerjasama dengan lembaga dan instansi eksternal bahkan diluar NU. Seperti lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga swasta lainnya. Selasa (20/8) Fatayat mengadendakan dua pertemuan sekaligus. Dua pertemuan tersebut di antaranya mensosialisasikan program kerja […]

  • 20 Guru Ma`arif dan Ustadz Ikuti Program English Capacity Building for Educators di Pare

    20 Guru Ma`arif dan Ustadz Ikuti Program English Capacity Building for Educators di Pare

    • calendar_month Rab, 20 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 661
    • 0Komentar

    Semarang – Program English Capacity Building for Nahdliyin Educators resmi diluncurkan dan pada 15 November 2024 oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU dan RMI NU Jawa Tengah. Program dan mengirimkan 20 guru untuk mendapatkan pembimbingan di Pare di Camp Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang. Semua Peserta sudah […]

  • NU Peduli Kabupaten Pati Dirikan Posko Kesehatan untuk Warga Terdampak Banjir

    NU Peduli Kabupaten Pati Dirikan Posko Kesehatan untuk Warga Terdampak Banjir

    • calendar_month Jum, 23 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.849
    • 0Komentar

      PATI – NU Peduli Kabupaten Pati terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat terdampak banjir di wilayah Kabupaten Pati. Salah satu upaya nyata yang dilakukan adalah dengan mendirikan Posko Kesehatan guna memberikan layanan dan pendampingan kesehatan bagi warga terdampak. Posko Kesehatan NU Peduli secara resmi mulai beroperasi pada Kamis, 22 Januari 2026, bertempat di Posko […]

  • PCNU-PATI Photo by Ferhat Deniz Fors

    Kecerdikan Penyair Qaba’sara Melawan Hajjaj bin Yusuf

    • calendar_month Sen, 14 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 822
    • 0Komentar

    Oleh :  Muhammad Rofiq Siapa yang tak kenal dengan Hajjaj bin Yusuf. Seorang gubernur Irak yang terkenal tegas dan kejam dimasa pemerintah Khalifah Abdul Malik bin marwan, apapun yang menjadi rintangan bagi Hajjaj bin yusuf akan dilibas olehnya tanpa pandang bulu. Namun dibalik kisahnya itu, ia pernah kalah cerdik oleh seorang penyair bernama Qaba’sara. Qaba’sara […]

  • Sujudnya Orang yang Tidak Menampelkan Jari Kaki

    Sujudnya Orang yang Tidak Menampelkan Jari Kaki

    • calendar_month Ming, 18 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 876
    • 0Komentar

      Pertanyaan : Apa hukumnya sholatnya seseorang yang ketika sujud tidak menempelkan jari-jari kakinya pada lantai ? Jawaban :Salah satu rukun sholat adalah sujud,dan sujud itu sendiri mempunyai syarat-syarat  yang harus dipenuhi agar sujud itu bisa sah,bila sujud tidak sah maka sholatnya juga tidak sah,oleh karena itu menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk mengetahui tata […]

expand_less