Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pendidikan Perdamaian dalam Perspektif Abdurrahman Wahid

Pendidikan Perdamaian dalam Perspektif Abdurrahman Wahid

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Mei 2022
  • visibility 115
  • comment 0 komentar

KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang kental dengan pendidikan keislaman. Sejak kanak-kanak Gus Dur mendapatkan bimbingan dari orang tuanya. Sehingga dari keluarga pesantren dan tumbuh kembang dari pendidikan pesantren kelak akan memberikan warna bagi perkembangan intelektualitasnya hingga tumbuh dewasa.


Sejak menuntut ilmu di berbagai pesantren baik dari lingkungan keluarganya, maupun nyantri di Krapyak Yogyakarta dan di Tegalrejo Magelang. Gus Dur menghabiskan banyak waktunya dengan membaca buku-buku Barat, seperti Das Kapital, Filsafat Plato, Thales, novel-novel Willem Bochner, serta Romantisme Revolusioner. Sehingga membuat Gus Dur semakin dewasa dalam berfikir dan semakin lihai dalam diplomasi.


Selain itu, Gus Dur memiliki kelebihan dalam menggunakan bahasa asing yang bagus, sehingga membuatnya sangat mudah dalam memahami pemikiran ilmuan kelas dunia, seperti Karl Marx, Lenin, Gramsci, Mao Zedong, dan karya-karya pemikiran Islam progresif. Hal inilah yang berpengaruh pada pemikiran dan kiprahnya kelak.


Dari situlah Gus Dur tumbuh kembang menjadi manusia yang multitalenta. Dalam hal ini misalnya Gus Dur melakukan pembelaan terhadap jemaah Ahmadiyah, ketika itu banyak kelompok mengecam dan menghujat, serta berusaha menyingkirkan kelompok lain yang dianggap sesat dengan cara-cara kekerasan dan penistaan sebagaimana yang kerap dialami jemahaan Ahmadiyah. Gus Dur selalu tampil sebagai pembelanya. Adapun yang dibela Gus Dur bukan keyakinan mereka, tetapi keberadaan mereka sebagai manusia. Bukan pula berarti Gus Dur setuju dengan keyakinan Ahmadiyah. Namun, ia sangat menghormati keyakinan seseorang. Penghormatan inilah sebagai landasan penting bagi terciptanya kerukunan dan perdamaian antarumat beragama.


Dalam kasus Ahmadiyah di atas, pendirian Gus Dur sangat jelas dan tuntas. “Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah. Ngerti, nggak ngerti terserah” (Detik.com,9/6/2008). Pertanyaan itulah yang dilontarkannya ketika kelompok pengikut Mirza Ghulam ini diserang Front Pembela Islam dan muncul desakan agar Ahmadiyah dibubarkan. Pada kesempatan lain, Gus Dur menawarkan kepada kelompok Ahmadiyah berlindung di Ciganjur, lingkungan kediamannya, jika pemerintah dianggap tak lagi bisa melindungi mereka. Di hadapan ratusan anggota Anshor, sayap kepemudaaan NU, Gus Dur juga sempat berpesan untuk melindungi kelompok minoritas seperti Ahmadiyah.


Sedangkan dalam mengimplementasikan pendidikan perdamaian, Gus Dur tak sekedar berhenti pada tataran wacana. Justru, Gus Dur secara konsisten menerapkannya dalam kehidupan nyata, meski kadang-kadang langkah-langkah yang dilakukannya banyak mengandung kontroversi. Secara garis besar, gagasan pendidikan perdamaian Gus Dur diimplementasikan dalam dua ranah utama, yaitu: dimensi wacana dan praktik nyata di tengah masyarakat.


Dalam poin pertama, Gus Dur merupakan pegiat perdamaian yang tak pernah berhenti mewacanakan gagasan dan mengomunikasikannya secara terbuka, baik melalui tulisan-tulisan di media massa maupun melalui diskusi-diskusi baik formal maupun nonformal. Ini yang menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan perdamaian bagi Gus Dur tak cukup hanya sekedar digagas sendirian, tetapi harus dikomunikasikan di ruang publik, agar mendapatkan respon balik dan pengayaan gagasan dari individu-individu lain yang memiliki perhatian yang sama.


Sedangkan dalam poin kedua, Gus Dur tak mau berhenti pada tataran wacana yang melangit. Dia ingin mengimplementasikannya dalam ranah kehidupan masyarakat yang bergerak secara dinamis. Oleh karena itu, bagi Gus Dur, konsep dan implementasi dilaksanakan secara beriringan, bahkan kerap dilakukan secara bersamaan.


Dengan demikian, melalui pendidikan perdamaian kita dapat memandang pluralitas, multikultur dalam berbagai aspek social, ekonomi, politik, dan agama sebagai kekayaan spiritual bangsa yang harus dijaga keberadaannya. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menyoal Corona, PCNU : Jangan Sebar Hoax

    Menyoal Corona, PCNU : Jangan Sebar Hoax

    • calendar_month Kam, 2 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 123
    • 0Komentar

    K. Yusuf Hasyim, Ketua Tanfidziyah PCNU Pati PATI-Merebaknya Virus Corona atau Covid 19, membuat sebagaian warga panik. Kepanikan ini terjadi akibat beredarnya berita-berita hoax atau bohong di sekeliling masyarakat. Dengan adanya respon masyarakat yang berlebih, PCNU Pati merasa perlu melakukan tindakan. Bagaimanapun mayoritas masyarakat Kabupaten Pati beragama islam dan sebagian besar lagi berhaluan NU. “Kami […]

  • Khitan Gratis, Program LAZISNU Kec Pucakwangi

    Khitan Gratis, Program LAZISNU Kec Pucakwangi

    • calendar_month Sen, 28 Jun 2021
    • account_circle admin
    • visibility 139
    • 0Komentar

      Pati. Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, melalui NU Care meluncurkan program khitan gratis.   Program ini diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu.   Khitan gratis ini terealisasi berkat kerja sama Lazisnu Pucakwangi dengan Rumah Khitan As-Syifa Tegalwero, Pucakwangi.    Semenjak diluncurkan pada awal tahun ini, program tersebut […]

  • Launchig & Bedah Buku Infografis Masjid Kajen

    Launchig & Bedah Buku Infografis Masjid Kajen

    • calendar_month Sen, 16 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Pati. Perpustakaan Mutamakkin Kajen Pati mengadakan bedah buku Buku Infografis Masjid Kajen karya M. Zuli Rizal acara bertempat di gedung perputakaan Mutamakkin Kajen Pati, 10/10 kemarin. Dalam kesempatan ini penulis bercerita tentang mengenai latar belakang dan tujuan penciptaan karya Buku Infografis Masjid Kajen bersama para santri dan pelajar Kajen. “ Melalui buku ini, kami mewedar […]

  • Ramadan: Saatnya Pindah Rumah

    Ramadan: Saatnya Pindah Rumah

    • calendar_month Jum, 21 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 174
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Pada Ahad Pahing 16 Maret 2025 kemarin, saya mewiwiti (memulai) pindahan rumah dari rumah lama di Sampangan ke Gunungpati, Kota Semarang. Meski rencana saya tempati full usai Lebaran Idulfitri, namun di hari itu secara rukun dan syarat sudah saya bancaki dengan manaqiban yang dibacakan Mbah Niam.   Awalnya ya saya […]

  • Potensi Zakat di Pati 20 Milyar

    Potensi Zakat di Pati 20 Milyar

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 145
    • 0Komentar

    IPMAFA mengadakan diskusi bersama tentang potensi zakat di negara Indonesia. Zakat adalah proyek Tuhan yang diperuntukkan untuk mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan umat. Oleh sebab itu, potensi zakat harus digali secara maksimal. Zakat harus setara dengan rukun Islam yang lain, khususnya shalat, puasa, dan lebih-lebih haji. Untuk menggerakkan potensi zakat yang sangat besar tersebut, para tokoh […]

  • PCNU-PATI

    Melihat Proses Kreatif Penyair Nuyang Jaimee

    • calendar_month Sel, 5 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jakarta, Minggu, 3/12/2023,- Ketika memilih ruang puisi, sepenuhnya ia sadar bahwa dirinya telah masuk ke dalam ruang yang begitu sunyi. “Puisi yang telah saya pilih, yang telah anda pilih, yang telah teman-teman semua pilih, yang telah kita semua pilih, adalah sebuah keniscayaan dari hati paling sepi, langkah paling sunyi dan kata tanpa suara paling […]

expand_less