Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU dalam Membendung Radikalisme

NU dalam Membendung Radikalisme

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 26 Agu 2023
  • visibility 758
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Berbicara mengenai radikalisme tentunya tidak lepas dari unsur kekerasan. Karena radikalisme sendiri berasal dari kata radikal dan isme. Sedangkan radikal sendiri adalah akar dan isme adalah paham. Maka, pengertian radikalisme pada awalnya merupakan paham yang sampai ke akar-akarnya.

Sedangkan radikalisme dalam Islam dipahami sebagai paham yang dianut oleh kelompok Islam yang mendasarkan pada akar ajaran Islam. Pengertian ini adalah pengertian yang positif dimana radikalisme Islam berorientasi pada ajaran Islam.

Dalam perkembangannya, seiring dengan maraknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah kelompok Islam di dunia Islam, maka radikalisme sering dipahami sebagai paham yang dianut oleh kelompok-kelompok Islam yang diperjuangkan  dengan cara-cara kekerasan dan pemaksaan.

Selain itu juga, mereka biasanya menolak system sosial dan politik yang berlaku di Masyarakat dan negara yang dianggap tidak berasal dari Islam yang mereka pahami. Pada tahap selanjutnya, mereka berusaha mengubah system sosial dan politik itu ke system yang mereka anut. Cara-cara mengubah system itu biasanya dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kelompok-kelompok radikal tidak segan-segan melakukan kekerasan demi menuntaskan pejuangannya.

Apa yang Menyebabkan Mereka Radikal

Perlu kita ketahui, kenapa mereka melakukan militansi perjuangan Islam dengan cara-cara kekerasan? Dalam hal ini, merujuk dari buku membentengi sekolahn dari radikalisme yang diterbitkan oleh Kemenag setidaknya ada tiga penyebab  radikalisme Islam.

Pertama, mereka melakukan aksi radikalisme dikarenakan adanya pemahaman bahwa untuk mengubah Masyarakat sampai ke akar-akarnya menjadi kebih Islami seperti yang mereka pahami harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Mereka percaya bahwa mandat Alquran untuk ‘amar ma’ruf nahi munkar’ harus diterapkan secara harfiah, ketat, tanpa syarat atau pengecualian. Dengan merejuk dari konsep ini, mereka berpandangan bahwa seluruh kemaksiatan harus diubah oleh umat Islam dengan fisik, tidak hanya diserahkan kepada penguasa.

Dengan begitu, melalui pemahaman inilah mereka melakukan aksi kekerasan untuk mengubah kemaksiatan. Bagi mereka, penghancuran tempat-tempat maksiat adalah bagian dari Upaya untuk mengubah kemungkaran yang telah diajarkan oleh ajaran Islam.

Kedua, aksi kekerasan yang dilakukan kelompok Islam didasarkan akan adanya anggapan dan penilaian sepihak bahwa kondisi umat Islam sekaranmg telah menjadi sekuler, tidak mempraktekkan ajaran Islam yang murni, amoral, dan penguasa yang thaghut. Dalam pandangan mereka kondisi ini diperparah dengan tidak terpeliharanya akhlak Islam sehingga perbuatan tercela semakin marak. Penyakit moral sudah semakin merajalela di Masyarakat. Akibatnya mereka ingin Kembali ke ajaran Islam yang paling mendasar dengan cara dan keyakinan yang dipahaminya.

Oleh karena itu, menurut mereka, semua ini harus diubah dengan cara-cara kekerasan, bukan lagi dengan cara-cara moderat yang cenderung lemah dan tidak berdaya.

Ketiga, aksi radikalisme dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam sebagai reaksi dari kebijakan politik barat yang cenderung meminggirkan dan menghancurkan dunia Islam. Mereka juga memiliki hubungan solidaritas yang kuat terhadap perjuangan dunia Islam, seperti Palestina. Itu sebabnya, fasilitas-fasilitas Barat, seringkali menjadi sasaran empuk dari aksi radikalisme.

Oleh karena itu, pemberantasan dan pencegahan radikalisme adalah tantangan yang kompleks dan memerlukan pendekatan multidimensi. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai lembaga sosial kemasyarakat terbesar di dunia memiliki peran penting dalam membendung gerakan radikalisme. Melalui instansi pendidikannya NU memiliki langkah-langkah strategis antara lain yaitu;

Pertama, melakukan pendidikan yang berbasis nilai-nilai moderat untuk memastikan bahwa kurikulum dan pendekatan pendidikannya mendorong nilai-nilai toleransi, moderat, dan menghormati keberagaman.

Kedua, mengadakan pelatihan guru dan dosen artinya adalah melatih para guru dan dosen untuk mengenali tanda-tanda radikalisme serta memberikan mereka alat untuk menghadapinya bisa menjadi langkah penting. Mereka dapat menjadi agen perubahan yang efektif dengan mendidik dan membimbing para siswa untuk mengembangkan pandangan yang inklusif dan rasional.

Ketiga, mengadakan ruang dialog dan diskusi terbuka untuk semua instansi dan lembaga, seperthalnya mengadakan forum diskusi, seminar, dan lokakarya yang mendorong berbagai pandangan bisa membantu mencegah penyatuan pemikiran di dalam kelompok-kelompok yang mungkin rentan terhadap radikalisme.

Oleh karena itu dari pelbagai cara yang dicanangkan oleh NU yang perlu diingat dan dicatat bahwa pencegahan radikalisme adalah tanggung jawab bersama dan memerlukan kerja sama dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, pemerintah, agama, dan masyarakat sipil. Tujuannya tidak lain adalah agar paham radikalisme tidak merajarela dan keberadaannya bisa diredam dengan adanya Kerjasama antar-lintas agama dan instansi.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Komeng hingga Ustaz Subki Meriahkan Puncak Haul ke-104 Mbah KH. Abdurrahman dan HUT ke-94 YAPIM

    Komeng hingga Ustaz Subki Meriahkan Puncak Haul ke-104 Mbah KH. Abdurrahman dan HUT ke-94 YAPIM

    • calendar_month Kam, 2 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 187
    • 0Komentar

      PATI – Puncak peringatan Haul ke-104 Simbah KH. Abdurrahman bin Yahya yang dirangkai dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-94 Yayasan Pendidikan Islam Manahijul Huda (YAPIM) berlangsung khidmat. Ribuan jemaah tampak memadati kompleks Masjid Baiturrahman, Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati, pada Rabu (1/7/2026) malam. ​Ketua Panitia Haul, Ahmad Habib, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam […]

  • TISARISTRA di SMA Negeri Tayu

    TISARISTRA di SMA Negeri Tayu

    • calendar_month Sen, 9 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 699
    • 0Komentar

    Tayu. Bertempat di SMA Negeri 1 Tayu kegiatan LDKR ( Latihan Dasar Kepemimpinan Rohis) yang diberi nama TISARISTRA (Latihan Dasar Rohis Trayutama) dilaksanakan pada tanggal 6 dan 7 Desember 2024 Kegiatan tersebut mengambil tema “Membangun dan Mewujudkan Generasi Islami yang Berakhlak Mulia serta Berwawasan Global”. Tema tersebut diambil untuk mempersiapkan generasi muda yang beakhlak mulia […]

  • PCNU-PATI

    Literasi Fiqih Ibadah & Launching Buku “Fiqih Nelayan” Berlangsung Sukses

    • calendar_month Sab, 7 Sep 2024
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Bendar, 7 September 2024 – Acara literasi fiqih ibadah dan launching buku berjudul “Fiqih Nelayan” berhasil dilaksanakan di Balai Desa Bendar dengan dihadiri oleh 30 peserta dari anggota paguyuban tradisional, JTB, Porse Seine, asosiasi nelayan dan beberapa Nahkoda di desa Bendar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada masyarakat nelayan tentang fiqih ibadah yang […]

  • Anjuran dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

    Anjuran dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

    • calendar_month Jum, 9 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 567
    • 0Komentar

    Jumat, 8 Dzulhijjah (9/8) dan Sabtu, 9 Dzulhijjah (10/8) umat islam di dunia diisunnahkan untuk berpuasa tarwiyah dan arofah. Dua puasa sunah Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan bagi umat muslim agar dapat turut merasakan nikmatnya seperti yang dirasakan oleh para jama’ah haji. Di bulan terakhir penanggalan Hijriyyah ini, umat muslim melaksanakan agenda besar yaitu ibadah […]

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Keputusan Bahtsul Masail Maudhu’iyah

    • calendar_month Sab, 8 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 792
    • 0Komentar

    Di bumi Nusantara (Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI) terdapat tradisi danbudaya dalam sistem pengimplementasian ajaran agama, sehingga hal itu menjadi ciri khasIslam di Nusantara yang tidak dimililiki dan tidak ada di negeri lain. Perbedaan tersebutsangat tampak dan dapat dilihat secara riil dalam beberapa hal, antara lain:

  • PCNU PATI - Ilustrasi Menghitung Kredit. Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash.

    Kredit

    • calendar_month Rab, 25 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 483
    • 0Komentar

    Karena untuk menjadi istiqomah itu amat berat. Selalu tepat waktu dalam kondisi apa saja, dimana saja, dengan siapa dan berbuat apa. Jika sudah mengiyakan sepekan sekali harus ada tulisan ya harus di sempatkan. Seperti halnya kemarin-kemarin jika hari kemenangan tinggal kenangan. Setelah sebulan fuul kita terkekang, menahan lapar, menahan dahaga. Tapi belum mampu menahan rasan-rasan […]

expand_less