Iklan
Artikel

Indikator Sempurnanya Seorang Mukmin

surah-al-sajdah-4-324x160-5853155

 Hadist dari Abu Huroiroh RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Sempurnanya iman seseorang yaitu dengan akhlaknya yang paling baik. Dan yang terpilih diantara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya dalam memperlakukan seorang perempuan.” Jadi berdasarkan hadist ini hierarki (tingkatan) orang beriman itu indikatornya adalah akhlaknya. Paling baik diantara yang baik ialah baik dalam bagaimana ia memperlakukan perempuan. Lagi, hadist kedua dari Abi Hurairah RA berkata, pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW, maka bertanya laki-laki tersebut kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku temani (perlakukan) dengan sebaik-baiknya? Maka Rasulullah menjawab: Ibumu, kemudian siapa lagi ya Rasul? Rasulullah menjawab, Ibumu. Siapa lagi ya Rasul? Rasulullah menjawab lagi, Ibumu. Siapa lagi wahai Rasul, Rasulullah menjawab, lalu kemudian ayahmu.” (HR.Imam Muslim)

Hadist ini menjelaskan bagaimana kemuliaan seorang Ibu. Sehingga ia harus dihormati dengan sebaik-baiknya, sampai Rasulullah menyebutnya hingga tiga kali baru kemudian ayah. Nah, tentang berbuat baik kepada Ibu, sudah tentu tidak diperdebatkan lagi. Tapi kita masih perlu refleksi apakah penghormatan kepada ibu sudah tepat atau belum. Terkadang pemahaman kita tidak sama dengan apa yang kita praktekkan. Lebih-lebih jika pemahaman kita sempit. Pengertian ibu dalam hal ini bisa kita perluas maknanya, bukan hanya sebatas pada ibu kita secara biologis melainkankepada ibu-ibu yang lain pula.

Iklan

Mereka berhak untuk dihargai dan dihormati serta dipenuhi hak-haknya sebagai manusia. Pertanyaannya mengapa Rasulullah mengulangi sampai tiga kali dalam hal memuliakan seorang ibu? Jawabannya karena peran yang dijalani seorang ibu/perempuan itu sangat berat, lebih berat daripada laki-laki. Ketika ibu/perempuan sedang menjalankan fungsi biologis/kodratinya (menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui) yang terkena dampaknya bukan hanya fisik yang merasa kesakitan, tapi juga psikisnya. Karena setiap perempuan pasti mengalami hal yang berbeda ketika sedang menjalani peran tersebut.

Memang ada yang merasa biasa saja, tapi untuk yang lain ada yang merasakan kesakitan. Misal saja ketika menstruasi, ada beberapa bahkan banyak perempuan yang sampai-sampai tidak bisa banyak gerak sebab merasakan sakit yang luar biasa. Contoh lain ketika sedang melahirkan, seorang ibu/perempuan bertaruh antara hidup dan mati untuk kehadiran sang calon buah hati. Ibu itu menjalankan peran regenerasi kemanusiaan. Bagaimana jika tidak ada ibu, tidak akan ada keberlanjutan kehidupan manusia. Hadist ini juga mengundang laki-laki untuk mendukung peran ibu/perempuan agar menjalankan fungsi biologis (kodratnya) secara aman, nyaman,dan selamat agar bisa tetap berbahagia tentunya dari dukungan dan support pasangan dan keluarga.

Selanjutnya hadist dari Sayyidah Aisyah RA bercerita, “Rasulullah SAW setiap putrinya Sayyidah Fatimah datang beliau akan selalu menyambut dengan suka cita (ucapan selamat datang). Dan dari umi hani pun bercerita, ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, Rasulullah SAW pun menyambut dengan suka cita. Umi Hani adalah putri dari paman Rasulullah SAW Abu Thalib.” Kesaksian tersebut tidak hanya datang dari Sayyidah Aisyah tetapi juga dari umi hani. Secara umum hadist ini memberikan tuntutan kepada kita agar menyambut kedatangan seseorang (tamu) yang datang kerumah kita dengan suka cita (perasaan gembira) sebagai bentuk penghormatan. Mengapa Rasulullah melakukan hal demikian? Karena pada masa pra Islam dulu keberadaan seorang perempuan sangat tidak dianggap bahkan diperlakukan sangat tidak manusiawi.

Oleh karena itu perbuatan Rasulullah ini sangat revolusioner karena melawan arus yang sudah tercipta bahwa menganggap perempuan tidak memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Hal yang selalu ditekankan Rasulullah adalah soal akhlak. Bahkan indikator keimanan seseorang dilihat dari akhlaknya. Nah ini Rasul memberikan contoh pada hal-hal yg spesifik. Selain itu Rasul juga memberi teladan bahwa kita harus menghargai dan menghormati siapapun termasuk kepada perempuan.

Hadist selanjutnya dari Abu Thufail RA berkata, “Saya melihat Rasulullah SAW sedang membagi daging lalu datanglah seorang perempuan kepada Nabi. Maka Nabi menggelar sorban untuk perempuan itu lalu perempuan itu duduk diatasnya. Kemudian Abu Thufail bertanya: siapa dia? Maka para sahabat menjawab: dia adalah ibu yang telah menyusui Rasulullah SAW.”(HR.Abu Dawud) Dari hadist ini menggambarkan sebuah kisah Rasulullah SAW yang begitu menghormati seorang perempuan. Ternyata perempuan ini adalah ibu susuan yang telah menyusui Rasulullah SAW pada saat beliau masih kecil. Perempuan ini bernama Halimah Assa’diyah dari Bani Saad.

Zaman dahulu masyarakat Arab biasa membiarkan seorang bayi disusukan kepada perempuan lain yang bukan ibu kandungnya, yang kemudian diberi upah atas jasa tersebut. Dari hadist diatas ceritanya ibunda Halimah pada saat itu sedang keluar untuk mencari anak yang bisa disusui dalam rangka mencari penghasilan karena saat itu sedang masa paceklik. Akhirnya beliau bertemu Rasulullah dan memberikan asi untuk Rasulullah kecil dan merawat beliau. Rasulullah tidak begitu saja melupakan ibu Halimah yang telah menyusui beliau sehingga ketika sampai dewasa pun Rasulullah tetap hormat pada Ibu Halimah. Meskipun hal itu sudah menjadi masa lalu, tetapi Rasulullah tidak melupakan jasa ibu Halimah, sehingga ketika bertemu pun beliau masih senantiasa menghormati dengan menggelarkan sorban beliau untuknya. Oleh karena demikian, sesungguhnya Rasulullah telah memberikan pengajaran kepada kita untuk senantiasa menghormati orang lain, meskipun kebaikan itu terjadi di masa lalu.

Hadist selanjutnya dari Anas RA berkata, “Rasulullah SAW melihat perempuan dan anak-anak datang menuju kepada Rasulullah. Dan berkata anas: saya mengira bahwa mereka pulang dari pesta pernikahan, maka Rasulullah berdiri dan menghadapkan badan dan wajah Rasul kepada mereka: ya Allah, kalian semua adalah orang yang paling aku cintai, dan Nabi mengatakan itu sampai tiga kali.” (HR.imam Bukhori) Didalam hadist tersebut Nabi memberi contoh bagaimana rasul sangat antusias (sangat menghormati) pada keberadaan perempuan dan anak-anak, yang mana pada zaman dahulu masyarakat tidak berempati pada perempuan. Begitu juga terhadap seorang anak pun kita harusnya memandang dengan penuh kasih sayang. Selain itu, nabi memberi contoh tersebut karena mereka adalah bagian dari kita. Kita harus menghormatinya dalam hal kemanusiaan.

Selanjutnya ada hadist dari Abi Huroiroh RA, “Ada seorang perempuan yang hitam kulitnya sering datang ke masjid (merawat masjid) lalu kemudian perempuan itu meninggal. Suatu ketika Nabi mencari perempuan tersebut karena biasanya Nabi melihat perempuan tersebut (Ummu Mahjan) di masjid. Maka nabi bertanya kepada para sahabatnya. Kata para sahabat bahwa Ummu Mahjan telah meninggal. Nabi merasa kecewa karena tidak ada yang memberi tahu beliau soal meninggalnya Ummu Mahjan.

 Lalu kemudian Nabi minta diantarkan untuk mendatangi kuburannya dan kemudian Nabi sholat serta mendoakan Ummu Mahjan diatas makamnya.” Hadist ini sangat luar biasa bahwa Rasulullah memberikan teladan bagaimana beliau menghormati seorang perempuan dengan tidak memandang warna kulit, dan pekerjaannya. Ketika Ummu Mahjan meninggal Rasulullah menanyakan keberadaan beliau kepada para sahabatnya, oleh karena para sahabatnya tidak memberi tahu, setelah itu Nabi meminta diantarkan ke makam Ummu Mahjan untuk mendoakan. Dari perbuatan Nabi tersebut, kita bisa mencontoh bahwa untuk menghormati orang lain tidak boleh hanya memandang dari jenis kelamin, status sosial, pekerjaan, warna kulit atau yang lainnya. Satu hal yang pasti bahwa kita semua itu sama dihadapan Allah, jadi sudah sepantasnya untuk saling menghormati dan menghargai antar sesama. Bahkan kepada seorang perempuan yang memilih bekerja di sektor publik, kita tidak boleh menstigma bahwa apa yang dilakukan adalah hal negatif.

Ada banyak faktor yang pastinya melatarbelakangi seorang perempuan memilih bekerja di sektor publik layaknya seorang laki-laki.

Hadist selanjutnya dari Saad bin Abi Waqqas RA berkata, “Suatu saat umar bin Khattab meminta izin kepada Rasul untuk masuk ke dalam rumahnya yang pada saat itu sedang ada banyak para perempuan dari bani Quraisy yang sedang berdialog/bertanya kepada Nabi menanyakan banyak hal. Para perempuan ini bertanya dengan suara sangat keras dan tinggi daripada suara nabi. Lalu ketika Umar meminta izin untuk masuk, mereka (para perempuan) segera masuk ke dalam hijab (tirai/satir/penghalang). Nabi mengizinkan umar untuk masuk, dan ketika umar masuk Nabi tertawa. Umar bertanya, kenapa engkau tertawa ya Rasul? Maka Nabi menjawab, saya terheran dengan mereka (para perempuan) yang tadi ada disekitar saya.

Ketika mereka mendengar suaramu wahai umar mereka tergesa-gesa segera masuk kedalam hijab. Umar menimpali, sesungguhnya engkau yang lebih berhak untuk dihormati atau disegani ya Rasul. Lalu umar menemui para perempuan tersebut dan bertanya kepada mereka, kenapa kalian lebih menghormatiku daripada hormat kepada Nabi? Maka mereka menjawab, sesungguhnya anda itu lebih galak dan kasar dibandingkan Rasulullah. Itulah kenapa kami tergesa-gesa masuk ke dalam hijab.”(HR.Bukhori) Jadi ini merupakan kisah yang sangat menarik. Betapa mulianya akhlak Rasulullah dalam menghargai siapapun yang ingin berdialog dengan beliau. Tidak hanya bersama sahabat laki-laki, tetapi juga para perempuan seperti yang diterangkan pada hadist tersebut. Dan kita juga bisa melihat bahwa siapa saja yang berada di dekat Nabi ia akan merasa nyaman dan damai karena kelembutan sikapnya. (Inayatun Najikhah)

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Konten Terkait

Back to top button