Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Membumikan Green Ramadan

Membumikan Green Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 15 Mar 2025
  • visibility 704
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Kemarin, saya menulis Ramadan Ramah Lingkungan. Tulisan ini sebenarnya lanjutan dari ide pokoknya. Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah, di mana umat Islam berpuasa sebagai bentuk ibadah, refleksi diri, dan peningkatan spiritualitas harus diwujudkan serratus persen. Namun, di balik ibadah yang mulia, ada tantangan besar yang harus dihadapi, yaitu bagaimana menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan praktik konsumsi selama bulan Ramadan.

Dalam beberapa tahun terakhir, masalah polusi, sampah, dan kerusakan alam semakin mengkhawatirkan, bahkan terjadi peningkatan yang signifikan pada bulan Ramadan. Oleh karena itu, penting untuk membumikan konsep “Green Ramadan” agar ibadah ini bisa lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 24 Juli 2024, jumlah timbunan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton (BRIN, 2024). Dari jumlah tersebut, 20,2 juta ton (65,24%) di antaranya berstatus terkelola dan 10,77 juta ton (34,76%) tidak terkelola. Data ini tentu bikin kita geleng-geleng, bahwa Indonesia ini aslinya “negera kotor”. Betul nggak?

Kerusakan Alam dan Polusi Selama Ramadan

Data yang ada menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan, volume sampah dan polusi meningkat secara signifikan. Beberapa fakta dapat kita kaji untuk menunjukkan dampak lingkungan negatif selama bulan puasa. Pertama, peningkatan sampah makanan. Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menyebut saat bulan Ramadhan terjadi peningkatan 5%-20 % sampah di sejumlah daerah itu. Komposisi terbesar adalah sampah makanan. Data Jakstranas 2022, total timbulan sampah nasional yakni sebesar 69,2 juta ton per tahun. Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), komposisi sampah terbesar didominasi sisa makanan atau sampah organik sebesar 41,2 %, plastik sebesar 18,2 % serta kayu atau ranting sebesar 13,5 %. Komposisi sampah berdasarkan sumber sampahnya terbesar berasal dari sektor rumah tangga yakni sebesar 39,2 %, lalu pusat perniagaan sebesar 21,2 % dan pasar tradisional sebesar 16,1 %.

Kedua, peningkatan penggunaan plastik. Setiap tahun, konsumsi plastik sekali pakai meningkat secara signifikan selama bulan Ramadan. Sejumlah besar kantong plastik, pembungkus makanan, dan gelas plastik digunakan dalam acara berbuka puasa di masjid, restoran, dan rumah tangga. Menurut data Greenpeace, setiap tahun sekitar 8 juta ton plastik berakhir di lautan, mencemari ekosistem laut. Kebanyakan plastik ini berasal dari produk sekali pakai yang tidak terkelola dengan baik. Dari sini, saya setuju artikel Yuana (2025) yang menyebut bahwa selama Ramadan, kita harus memakai plastik sekali pakai.

Ketiga, polusi udara akibat pembakaran. Selama Ramadan, banyak kegiatan sosial yang melibatkan penggunaan api, seperti pembakaran sampah atau masakan di luar ruangan. Selain itu, polusi dari kendaraan yang meningkat selama perjalanan untuk berbuka puasa juga turut memperburuk kualitas udara. Peningkatan penggunaan energi listrik di rumah-rumah juga berkontribusi pada meningkatnya emisi karbon.

Keempat, peningkatan listrik dan energi. Selama Ramadan, banyak rumah tangga yang menggunakan lebih banyak energi listrik untuk kegiatan berbuka puasa, sahur, dan beribadah. Lampu-lampu yang lebih banyak menyala sepanjang malam, penggunaan alat pendingin udara, serta memasak dalam jumlah besar membutuhkan energi yang lebih banyak. Ini berkontribusi pada peningkatan konsumsi energi yang berdampak pada emisi karbon.

 

Urgensi Green Ramadan

Untuk menciptakan “Green Ramadan” yang ramah lingkungan, umat Islam dapat mengikuti beberapa strategi yang dapat mengurangi dampak lingkungan negatif selama bulan suci ini. Pertama, mengurangi pemborosan makanan. Salah satu langkah penting dalam menciptakan Green Ramadan adalah dengan mengurangi pemborosan makanan. Selama bulan Ramadan, penting untuk mengatur takaran makanan yang akan dimakan saat berbuka puasa dan sahur. Memasak dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan keluarga atau tamu dapat membantu mengurangi sampah makanan. Selain itu, jika ada sisa makanan, usahakan untuk mengolahnya kembali menjadi masakan lain atau memberikannya kepada yang membutuhkan.

Kedua, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama Ramadan adalah langkah besar menuju Green Ramadan. Salah satu cara mudah untuk melakukannya adalah dengan membawa wadah makan sendiri ketika berbuka puasa di luar rumah, atau menggunakan bahan-bahan yang dapat terurai dengan mudah, seperti kertas atau daun sebagai pembungkus makanan. Selain itu, mengurangi penggunaan plastik di masjid atau tempat umum dengan menyediakan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan non-organik juga dapat membantu mengurangi dampak polusi plastik.

Ketiga, menggunakan energi secara bijak. Mengatur konsumsi energi di rumah selama Ramadan sangat penting. Menggunakan lampu hemat energi, mematikan peralatan elektronik yang tidak digunakan, serta memanfaatkan energi matahari untuk penerangan atau kegiatan lainnya adalah cara-cara efektif untuk mengurangi jejak karbon. Selain itu, jika memungkinkan, memilih perangkat dengan label ramah lingkungan atau efisien dalam penggunaan energi akan membantu mengurangi dampak dari konsumsi energi yang tinggi.

Keempat, pembersihan lingkungan secara bersama. Mengajak komunitas untuk membersihkan masjid, tempat umum, atau lingkungan sekitar secara rutin, khususnya setelah acara berbuka puasa, dapat menjadi langkah konkret yang membawa manfaat lingkungan. Menyediakan tempat sampah yang cukup dan mudah dijangkau, serta memberikan edukasi kepada masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Kelima, mengoptimalkan transportasi ramah lingkungan. Selama Ramadan, perjalanan ke masjid atau tempat berbuka puasa sering kali menggunakan kendaraan pribadi. Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki adalah alternatif yang lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi polusi udara. Selain itu, berbagi kendaraan (carpooling) dengan teman-teman atau keluarga untuk pergi ke masjid juga bisa mengurangi jejak karbon yang ditinggalkan.

Keenam, edukasi dan sosialisasi. Salah satu aspek penting dalam menciptakan Green Ramadan adalah dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Kampanye untuk mengurangi pemborosan makanan, penggunaan plastik, dan energi berlebih dapat dilakukan di masjid, komunitas, atau media sosial. Dengan demikian, umat Islam dapat lebih memahami bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab mereka sebagai khalifah di bumi.

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, tetapi dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemborosan makanan, penggunaan plastik, dan peningkatan konsumsi energi tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, menciptakan Green Ramadan adalah sebuah keharusan untuk menjaga keseimbangan antara beribadah dan merawat bumi yang menjadi amanah dari Allah. Dengan mengurangi sampah, menggunakan energi dengan bijak, dan menerapkan kebiasaan ramah lingkungan selama bulan puasa, umat Islam dapat memastikan bahwa Ramadan tetap membawa keberkahan tidak hanya untuk diri

Ramadan sebagai bulan suci yang penuh berkah, seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Sayangnya, tradisi Ramadan sering kali diiringi dengan peningkatan produksi sampah dan polusi udara. Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai “Green Ramadan”, yaitu Ramadan yang bersih dari sampah dan polusi udara.

Green Ramadan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga komitmen kita untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dengan melakukan tindakan nyata, kita dapat menciptakan Ramadan yang lebih bersih, sehat, dan bermakna. Mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk memulai gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Semoga Ramadan kali ini membawa berkah bagi kita semua dan bagi lingkungan kita. Amin.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Takmir dan Irmas Masjid Jami’ Baitussalam Desa Godo Gelar Reorganisasi Pengurus

    Takmir dan Irmas Masjid Jami’ Baitussalam Desa Godo Gelar Reorganisasi Pengurus

    • calendar_month Sab, 3 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    WINONG, Setelah Sholat Selesai, Pengurus Takmir dan IRMAS Masjid Jami’ Baitussalam Desa Godo Kecamatan Winong Meggelar Musyawarah untuk memilih pengurus baru periode 2019-2024 yang dihadiri oleh pemerintah desa dan perangkat serta seluruh jamaah dan tokoh masyarakat, pemuda, pengurus musholla se-Desa Godo. Dalam sambutannya, Suwondo, kepala Desa Godo menyampaikan bahwa sekarang ini takmir masjid dan musholla […]

  • PCNU-PATI

    Tradisi Buka Puasa Bersama

    • calendar_month Ming, 31 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 363
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Baru-baru ini ditetapkan, tradisi buka puasa bersama ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda. Menarik memang. UNESCO mencatat bahwa budaya berbuka puasa bersama menjadi daftar warisan budaya tak benda yang secara resmi diakui sejak 2023 lalu dan diklaim sebagai budaya warisan milik seluruh umat muslim di dunia. Menurut UNESCO, berbuka puasa diartikan […]

  • PCNU-PATI

    Menumbuhkan Ghirah Akademik Mahasiswa Melalui Diskusi

    • calendar_month Kam, 16 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- MARGOYOSO – Dalam rangka menumbuhkan iklim akademik mahasiswa yang dirasa mengalami kemunduruan, para mahasiswa Program Studi Pengembengan Masyarakat Islam (PMI) Isntitut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati mengadakan diskusi bertempat di kantin IPMAFA, Rabu (15/030/23). Diskusi ini dilakukan tidak lain untuk menumbuhkan ghirah mahasiswa agar tidak pudar dan kembali pada jalur yang benar, yakni mahasiswa […]

  • PATI - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Pati gelar  Rapat Kordinasi Cabang (Rakorcab), belum lama ini. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan solidaritas, profesionalisme, serta Loyalitas dalam Ber-Khidmah dalam Ansor.  Adapun kegiatan itu dihadiri oleh Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab), Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) se-kabupaten Pati, dan Ketua Cabang Ansor Pati.  Tema yang diangkat pada acara tersebut juga sejalan dengan salah satu misi dari Ansor Pati, yaitu mengatasi intoleransi dan isu perpecahan menjelang pemilu yang jamak terjadi. Seperti diketahui, bahwa isu intoleransi memang selalu muncul, terlebih ketika adanya suatu momentum tertentu, seperti pada saat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu). Di sana, Ansor dan Banser akan terus bersiap menjadi garda terdepan dalam menjaga kesatuan NKRI. "Memiliki massa 5000 anggota lebih, Ansor dan Banser Pati akan selalu konsisten untuk menjaga kebhinekaan dan kesatuan NKRI," ungkap Ketua Cabang Ansor Pati H. Abdullah Syafiq. Sementara itu Kasatkorcab Banser Kabupaten Pati, H Moh Soetomo, menuturkan bahwa Banser akan lebih sigap dalam menjaga keutuhan NKRI. "Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh ketua cabang Ansor, Banser sebagai ujung tombak Nahdlatul Ulama dalam menjaga nilai-nilai persatuan, akan menindak tegas adanya intoleransi dan isu perpecahan," tutur dia. (Angga/Ltn)

    Banser Pati Siap Jadi Garda Terdepan Cegah Intoleransi 

    • calendar_month Sab, 10 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 373
    • 0Komentar

    PATI – Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Pati gelar  Rapat Kordinasi Cabang (Rakorcab), belum lama ini. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan solidaritas, profesionalisme, serta Loyalitas dalam Ber-Khidmah dalam Ansor.  Adapun kegiatan itu dihadiri oleh Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatkorcab), Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Kasatkoryon) se-kabupaten Pati, dan Ketua Cabang Ansor Pati.  Tema yang diangkat pada […]

  • Hadirkan pakar psikologi pendidikan dan keluarga GPAIN Kecamatan Temanggung gelar Capality Building

    Hadirkan pakar psikologi pendidikan dan keluarga GPAIN Kecamatan Temanggung gelar Capality Building

    • calendar_month Sel, 2 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.955
    • 0Komentar

      Temanggung, 2 Desember 2025. KKG PAI kecamatan Temanggung baru saja menggelar Capality Building dengan tema ” Mendidik dengan hati menyentuh jiwa Transformasi Guru PAI sebagai orang tua kedua disekolah”. Acara ini diikuti oleh 58 guru PAI dan dihadiri oleh Mahalia Putik S. Psi., M. Psi pakar Psikologi Pendidikan dan Keluarga, sebagai pembicara. Dalam sambutan […]

  • PAC PERGUNU Gembong Gelar Konferancab

    PAC PERGUNU Gembong Gelar Konferancab

    • calendar_month Rab, 24 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 373
    • 0Komentar

    GEMBONG – PAC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) KEcmaatan Gembong Kabupaten Pati Kemarin menggelar konferensi Anak Cabang (Konferancab) yang dihadiri oleh MWC NU, PC Pergunu Pati, Guru semua jenjang pendidikan Serta Ustadz dan Ustadzah Perwakilan dari Badko TPQ, FKDT Madin dan beberapa tamu undangan lainnya.   Kegiatan yang berlangsung di pondok pesantren Shofa Az Zahro […]

expand_less