Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Membumikan Green Ramadan

Membumikan Green Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 15 Mar 2025
  • visibility 734
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Kemarin, saya menulis Ramadan Ramah Lingkungan. Tulisan ini sebenarnya lanjutan dari ide pokoknya. Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah, di mana umat Islam berpuasa sebagai bentuk ibadah, refleksi diri, dan peningkatan spiritualitas harus diwujudkan serratus persen. Namun, di balik ibadah yang mulia, ada tantangan besar yang harus dihadapi, yaitu bagaimana menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan praktik konsumsi selama bulan Ramadan.

Dalam beberapa tahun terakhir, masalah polusi, sampah, dan kerusakan alam semakin mengkhawatirkan, bahkan terjadi peningkatan yang signifikan pada bulan Ramadan. Oleh karena itu, penting untuk membumikan konsep “Green Ramadan” agar ibadah ini bisa lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 24 Juli 2024, jumlah timbunan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton (BRIN, 2024). Dari jumlah tersebut, 20,2 juta ton (65,24%) di antaranya berstatus terkelola dan 10,77 juta ton (34,76%) tidak terkelola. Data ini tentu bikin kita geleng-geleng, bahwa Indonesia ini aslinya “negera kotor”. Betul nggak?

Kerusakan Alam dan Polusi Selama Ramadan

Data yang ada menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan, volume sampah dan polusi meningkat secara signifikan. Beberapa fakta dapat kita kaji untuk menunjukkan dampak lingkungan negatif selama bulan puasa. Pertama, peningkatan sampah makanan. Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menyebut saat bulan Ramadhan terjadi peningkatan 5%-20 % sampah di sejumlah daerah itu. Komposisi terbesar adalah sampah makanan. Data Jakstranas 2022, total timbulan sampah nasional yakni sebesar 69,2 juta ton per tahun. Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), komposisi sampah terbesar didominasi sisa makanan atau sampah organik sebesar 41,2 %, plastik sebesar 18,2 % serta kayu atau ranting sebesar 13,5 %. Komposisi sampah berdasarkan sumber sampahnya terbesar berasal dari sektor rumah tangga yakni sebesar 39,2 %, lalu pusat perniagaan sebesar 21,2 % dan pasar tradisional sebesar 16,1 %.

Kedua, peningkatan penggunaan plastik. Setiap tahun, konsumsi plastik sekali pakai meningkat secara signifikan selama bulan Ramadan. Sejumlah besar kantong plastik, pembungkus makanan, dan gelas plastik digunakan dalam acara berbuka puasa di masjid, restoran, dan rumah tangga. Menurut data Greenpeace, setiap tahun sekitar 8 juta ton plastik berakhir di lautan, mencemari ekosistem laut. Kebanyakan plastik ini berasal dari produk sekali pakai yang tidak terkelola dengan baik. Dari sini, saya setuju artikel Yuana (2025) yang menyebut bahwa selama Ramadan, kita harus memakai plastik sekali pakai.

Ketiga, polusi udara akibat pembakaran. Selama Ramadan, banyak kegiatan sosial yang melibatkan penggunaan api, seperti pembakaran sampah atau masakan di luar ruangan. Selain itu, polusi dari kendaraan yang meningkat selama perjalanan untuk berbuka puasa juga turut memperburuk kualitas udara. Peningkatan penggunaan energi listrik di rumah-rumah juga berkontribusi pada meningkatnya emisi karbon.

Keempat, peningkatan listrik dan energi. Selama Ramadan, banyak rumah tangga yang menggunakan lebih banyak energi listrik untuk kegiatan berbuka puasa, sahur, dan beribadah. Lampu-lampu yang lebih banyak menyala sepanjang malam, penggunaan alat pendingin udara, serta memasak dalam jumlah besar membutuhkan energi yang lebih banyak. Ini berkontribusi pada peningkatan konsumsi energi yang berdampak pada emisi karbon.

 

Urgensi Green Ramadan

Untuk menciptakan “Green Ramadan” yang ramah lingkungan, umat Islam dapat mengikuti beberapa strategi yang dapat mengurangi dampak lingkungan negatif selama bulan suci ini. Pertama, mengurangi pemborosan makanan. Salah satu langkah penting dalam menciptakan Green Ramadan adalah dengan mengurangi pemborosan makanan. Selama bulan Ramadan, penting untuk mengatur takaran makanan yang akan dimakan saat berbuka puasa dan sahur. Memasak dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan keluarga atau tamu dapat membantu mengurangi sampah makanan. Selain itu, jika ada sisa makanan, usahakan untuk mengolahnya kembali menjadi masakan lain atau memberikannya kepada yang membutuhkan.

Kedua, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama Ramadan adalah langkah besar menuju Green Ramadan. Salah satu cara mudah untuk melakukannya adalah dengan membawa wadah makan sendiri ketika berbuka puasa di luar rumah, atau menggunakan bahan-bahan yang dapat terurai dengan mudah, seperti kertas atau daun sebagai pembungkus makanan. Selain itu, mengurangi penggunaan plastik di masjid atau tempat umum dengan menyediakan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan non-organik juga dapat membantu mengurangi dampak polusi plastik.

Ketiga, menggunakan energi secara bijak. Mengatur konsumsi energi di rumah selama Ramadan sangat penting. Menggunakan lampu hemat energi, mematikan peralatan elektronik yang tidak digunakan, serta memanfaatkan energi matahari untuk penerangan atau kegiatan lainnya adalah cara-cara efektif untuk mengurangi jejak karbon. Selain itu, jika memungkinkan, memilih perangkat dengan label ramah lingkungan atau efisien dalam penggunaan energi akan membantu mengurangi dampak dari konsumsi energi yang tinggi.

Keempat, pembersihan lingkungan secara bersama. Mengajak komunitas untuk membersihkan masjid, tempat umum, atau lingkungan sekitar secara rutin, khususnya setelah acara berbuka puasa, dapat menjadi langkah konkret yang membawa manfaat lingkungan. Menyediakan tempat sampah yang cukup dan mudah dijangkau, serta memberikan edukasi kepada masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Kelima, mengoptimalkan transportasi ramah lingkungan. Selama Ramadan, perjalanan ke masjid atau tempat berbuka puasa sering kali menggunakan kendaraan pribadi. Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki adalah alternatif yang lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi polusi udara. Selain itu, berbagi kendaraan (carpooling) dengan teman-teman atau keluarga untuk pergi ke masjid juga bisa mengurangi jejak karbon yang ditinggalkan.

Keenam, edukasi dan sosialisasi. Salah satu aspek penting dalam menciptakan Green Ramadan adalah dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Kampanye untuk mengurangi pemborosan makanan, penggunaan plastik, dan energi berlebih dapat dilakukan di masjid, komunitas, atau media sosial. Dengan demikian, umat Islam dapat lebih memahami bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab mereka sebagai khalifah di bumi.

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, tetapi dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemborosan makanan, penggunaan plastik, dan peningkatan konsumsi energi tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, menciptakan Green Ramadan adalah sebuah keharusan untuk menjaga keseimbangan antara beribadah dan merawat bumi yang menjadi amanah dari Allah. Dengan mengurangi sampah, menggunakan energi dengan bijak, dan menerapkan kebiasaan ramah lingkungan selama bulan puasa, umat Islam dapat memastikan bahwa Ramadan tetap membawa keberkahan tidak hanya untuk diri

Ramadan sebagai bulan suci yang penuh berkah, seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Sayangnya, tradisi Ramadan sering kali diiringi dengan peningkatan produksi sampah dan polusi udara. Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai “Green Ramadan”, yaitu Ramadan yang bersih dari sampah dan polusi udara.

Green Ramadan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga komitmen kita untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dengan melakukan tindakan nyata, kita dapat menciptakan Ramadan yang lebih bersih, sehat, dan bermakna. Mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk memulai gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Semoga Ramadan kali ini membawa berkah bagi kita semua dan bagi lingkungan kita. Amin.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH. Minan, Orang Pertama yang Mengisi Koin Muktamar di Pati

    KH. Minan, Orang Pertama yang Mengisi Koin Muktamar di Pati

    • calendar_month Ming, 2 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

    PATI-Bertajuk kemandirian Ummat, Muktamar NU ke-34 yang akan dihelat di Lampung kian bergaung. Koin Muktamar yang digagas oleh PBNU sudah mulai digalakkan hingga ke akar rumput. K. Niam Suratman, ketua Lazisnu Pati memberikan sosialisasi Koin Muktamar dan Koin NU (untuk kemaslahatan ummat) saat acara launching Koin Muktamar di aula PCNU Pati Minggu (2/2) siang PCNU […]

  • Ma’arif NU Jateng Apresiasi Pola Perekrutan Guru Ma’arif Cabang Kendal

    Ma’arif NU Jateng Apresiasi Pola Perekrutan Guru Ma’arif Cabang Kendal

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 494
    • 0Komentar

    Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP. Ma’arif NU) PWNU Jawa Tengah mengapresiasi pola perekrutan Guru dan Tenaga Kependidikan yang dilakukan LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Kendal. Hal itu disampaikan Wakil Ketua LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani, Senin (10/7/2023). “Pola perekrutan berbasis kompetensi sangat bagus yang dilakukan LP. Ma’arif NU PCNU […]

  • Mengenal Matsna, Pimpinan Baru IPNU Pati

    Mengenal Matsna, Pimpinan Baru IPNU Pati

    • calendar_month Sel, 31 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 461
    • 0Komentar

    PATI – Matsna Zakiyyatus Salwa sosok gigih yang saat ini menjabat sebagai ketua cabang IPNU Pati hingga 2023 nanti. Pria kelahiran 05 Desember 1999 ini mengusung visi ‘Sinergitas pelajar NU yang berilmu, humanis dan mandiri’ dalam mengemban tugas barunya ini. Untuk mewujudkan visi tersebut, pria berkacamata yang berasal dari Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati […]

  • Ranting NU Margoyoso Kini Punya Mobil Layanan Ummat

    Ranting NU Margoyoso Kini Punya Mobil Layanan Ummat

    • calendar_month Sab, 14 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-MARGOYOSO – Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (NU Care-LAZISNU) Ranting Desa Margoyoso secara resmi melaunching Mobil Layanan Umat (MLU), Jum’at (13/01/2023). Bertempat di halaman Masjid Nurul Amin Desa Margoyoso, launching MLU ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ketua Pengurus Ranting NU Desa Margoyoso, KH. Abbas Shiddiq. Selain pengurus ranting dan Lazisnu sendiri, turut […]

  • PCNU PATI - Aswandi Ketum Harus Tegal Lurus dengan PBNU

    Aswandi: Ketum Harus Tegal Lurus dengan PBNU

    • calendar_month Sab, 13 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 562
    • 0Komentar

    Aswandi Jailani Ketum PP IPNU menilai kandidat calon penerus Pimpinan Pusat adalah kader unggulan terbaik dalam periode ini. Ia berharap Ketum yang terpilih harus menuntaskan tugas yang belum usai. “Siapapun nanti yang terpilih untuk memimpin organisasi Pelajar NU ini, diminta agar bisa melanjutkan program yang belum usai terealisasi untuk menggarap sekolah negeri,” ujar Aswandi. Ia […]

  • a person holding a book with henna on their hands

    Mahakarya Pernikahan

    • calendar_month Kam, 13 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Pernikahan menjadi resolusi hampir semua lajang di muka bumi. Tak peduli apakah mereka miskin atau kaya, tampan atau pas-pasan, jomblo maupun jadian, semua menginginkan sebuah ending bernama pernikahan. Namun benarkah menikah adalah akhir? Kenyataannya tidak! Ada badai, topan dan gelombang tinggi yang kudu dilalui paskanya. Mempersatukan presepsi hingga memahami satu sama […]

expand_less