Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Membumikan Green Ramadan

Membumikan Green Ramadan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 15 Mar 2025
  • visibility 953
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Kemarin, saya menulis Ramadan Ramah Lingkungan. Tulisan ini sebenarnya lanjutan dari ide pokoknya. Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah, di mana umat Islam berpuasa sebagai bentuk ibadah, refleksi diri, dan peningkatan spiritualitas harus diwujudkan serratus persen. Namun, di balik ibadah yang mulia, ada tantangan besar yang harus dihadapi, yaitu bagaimana menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan dan praktik konsumsi selama bulan Ramadan.

Dalam beberapa tahun terakhir, masalah polusi, sampah, dan kerusakan alam semakin mengkhawatirkan, bahkan terjadi peningkatan yang signifikan pada bulan Ramadan. Oleh karena itu, penting untuk membumikan konsep “Green Ramadan” agar ibadah ini bisa lebih ramah lingkungan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 24 Juli 2024, jumlah timbunan sampah nasional mencapai 31,9 juta ton (BRIN, 2024). Dari jumlah tersebut, 20,2 juta ton (65,24%) di antaranya berstatus terkelola dan 10,77 juta ton (34,76%) tidak terkelola. Data ini tentu bikin kita geleng-geleng, bahwa Indonesia ini aslinya “negera kotor”. Betul nggak?

Kerusakan Alam dan Polusi Selama Ramadan

Data yang ada menunjukkan bahwa selama bulan Ramadan, volume sampah dan polusi meningkat secara signifikan. Beberapa fakta dapat kita kaji untuk menunjukkan dampak lingkungan negatif selama bulan puasa. Pertama, peningkatan sampah makanan. Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia menyebut saat bulan Ramadhan terjadi peningkatan 5%-20 % sampah di sejumlah daerah itu. Komposisi terbesar adalah sampah makanan. Data Jakstranas 2022, total timbulan sampah nasional yakni sebesar 69,2 juta ton per tahun. Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), komposisi sampah terbesar didominasi sisa makanan atau sampah organik sebesar 41,2 %, plastik sebesar 18,2 % serta kayu atau ranting sebesar 13,5 %. Komposisi sampah berdasarkan sumber sampahnya terbesar berasal dari sektor rumah tangga yakni sebesar 39,2 %, lalu pusat perniagaan sebesar 21,2 % dan pasar tradisional sebesar 16,1 %.

Kedua, peningkatan penggunaan plastik. Setiap tahun, konsumsi plastik sekali pakai meningkat secara signifikan selama bulan Ramadan. Sejumlah besar kantong plastik, pembungkus makanan, dan gelas plastik digunakan dalam acara berbuka puasa di masjid, restoran, dan rumah tangga. Menurut data Greenpeace, setiap tahun sekitar 8 juta ton plastik berakhir di lautan, mencemari ekosistem laut. Kebanyakan plastik ini berasal dari produk sekali pakai yang tidak terkelola dengan baik. Dari sini, saya setuju artikel Yuana (2025) yang menyebut bahwa selama Ramadan, kita harus memakai plastik sekali pakai.

Ketiga, polusi udara akibat pembakaran. Selama Ramadan, banyak kegiatan sosial yang melibatkan penggunaan api, seperti pembakaran sampah atau masakan di luar ruangan. Selain itu, polusi dari kendaraan yang meningkat selama perjalanan untuk berbuka puasa juga turut memperburuk kualitas udara. Peningkatan penggunaan energi listrik di rumah-rumah juga berkontribusi pada meningkatnya emisi karbon.

Keempat, peningkatan listrik dan energi. Selama Ramadan, banyak rumah tangga yang menggunakan lebih banyak energi listrik untuk kegiatan berbuka puasa, sahur, dan beribadah. Lampu-lampu yang lebih banyak menyala sepanjang malam, penggunaan alat pendingin udara, serta memasak dalam jumlah besar membutuhkan energi yang lebih banyak. Ini berkontribusi pada peningkatan konsumsi energi yang berdampak pada emisi karbon.

 

Urgensi Green Ramadan

Untuk menciptakan “Green Ramadan” yang ramah lingkungan, umat Islam dapat mengikuti beberapa strategi yang dapat mengurangi dampak lingkungan negatif selama bulan suci ini. Pertama, mengurangi pemborosan makanan. Salah satu langkah penting dalam menciptakan Green Ramadan adalah dengan mengurangi pemborosan makanan. Selama bulan Ramadan, penting untuk mengatur takaran makanan yang akan dimakan saat berbuka puasa dan sahur. Memasak dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan keluarga atau tamu dapat membantu mengurangi sampah makanan. Selain itu, jika ada sisa makanan, usahakan untuk mengolahnya kembali menjadi masakan lain atau memberikannya kepada yang membutuhkan.

Kedua, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai selama Ramadan adalah langkah besar menuju Green Ramadan. Salah satu cara mudah untuk melakukannya adalah dengan membawa wadah makan sendiri ketika berbuka puasa di luar rumah, atau menggunakan bahan-bahan yang dapat terurai dengan mudah, seperti kertas atau daun sebagai pembungkus makanan. Selain itu, mengurangi penggunaan plastik di masjid atau tempat umum dengan menyediakan tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan non-organik juga dapat membantu mengurangi dampak polusi plastik.

Ketiga, menggunakan energi secara bijak. Mengatur konsumsi energi di rumah selama Ramadan sangat penting. Menggunakan lampu hemat energi, mematikan peralatan elektronik yang tidak digunakan, serta memanfaatkan energi matahari untuk penerangan atau kegiatan lainnya adalah cara-cara efektif untuk mengurangi jejak karbon. Selain itu, jika memungkinkan, memilih perangkat dengan label ramah lingkungan atau efisien dalam penggunaan energi akan membantu mengurangi dampak dari konsumsi energi yang tinggi.

Keempat, pembersihan lingkungan secara bersama. Mengajak komunitas untuk membersihkan masjid, tempat umum, atau lingkungan sekitar secara rutin, khususnya setelah acara berbuka puasa, dapat menjadi langkah konkret yang membawa manfaat lingkungan. Menyediakan tempat sampah yang cukup dan mudah dijangkau, serta memberikan edukasi kepada masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Kelima, mengoptimalkan transportasi ramah lingkungan. Selama Ramadan, perjalanan ke masjid atau tempat berbuka puasa sering kali menggunakan kendaraan pribadi. Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki adalah alternatif yang lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi polusi udara. Selain itu, berbagi kendaraan (carpooling) dengan teman-teman atau keluarga untuk pergi ke masjid juga bisa mengurangi jejak karbon yang ditinggalkan.

Keenam, edukasi dan sosialisasi. Salah satu aspek penting dalam menciptakan Green Ramadan adalah dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Kampanye untuk mengurangi pemborosan makanan, penggunaan plastik, dan energi berlebih dapat dilakukan di masjid, komunitas, atau media sosial. Dengan demikian, umat Islam dapat lebih memahami bahwa menjaga alam dan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab mereka sebagai khalifah di bumi.

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, tetapi dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemborosan makanan, penggunaan plastik, dan peningkatan konsumsi energi tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, menciptakan Green Ramadan adalah sebuah keharusan untuk menjaga keseimbangan antara beribadah dan merawat bumi yang menjadi amanah dari Allah. Dengan mengurangi sampah, menggunakan energi dengan bijak, dan menerapkan kebiasaan ramah lingkungan selama bulan puasa, umat Islam dapat memastikan bahwa Ramadan tetap membawa keberkahan tidak hanya untuk diri

Ramadan sebagai bulan suci yang penuh berkah, seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Sayangnya, tradisi Ramadan sering kali diiringi dengan peningkatan produksi sampah dan polusi udara. Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai “Green Ramadan”, yaitu Ramadan yang bersih dari sampah dan polusi udara.

Green Ramadan bukan hanya sekadar slogan, tetapi juga komitmen kita untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dengan melakukan tindakan nyata, kita dapat menciptakan Ramadan yang lebih bersih, sehat, dan bermakna. Mari kita jadikan Ramadan kali ini sebagai momentum untuk memulai gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Semoga Ramadan kali ini membawa berkah bagi kita semua dan bagi lingkungan kita. Amin.

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU- PATI Photo by Sergiu Jurca

    Puisi-Puisi Ngadi Nugroho

    • calendar_month Ming, 2 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Tak Pernah Kembali Tak terpikir waktu hanyalah benar-benar sekejap Kita sekumpulan sunyi yang numpang lewat Kemarin ada yang datang Tiba-tiba ada yang pamit untuk segera pulang Belum terlalu genaplah kecupan ini mendingin Di dahimu yang menyimpan kerutan hari-hari kemarin Di bawah temaram, batu-batu murung Mencari jejak sirip-sirip kehidupan Ingin ditanamnya sekali lagi ingatan itu Di […]

  • Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi Pada Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka

    Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi Pada Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka

    • calendar_month Sel, 17 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 565
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jakarta, Senin, 16/10/2023,- Penyair Pulo Lasman Simanjuntak, 62 tahun diundang ikut baca puisi karya sendiri berjudul KALAH ATAU MENANG pada penghujung acara pesta ulangtahun (ultah) ketiga JAGAT SASTRA MILENIA di Cafe Sastra, Balai Pustaka, di Jakarta, Minggu sore (15/10/2023).” Sekarang kita sambut Lasman Simanjuntak untuk giliran baca puisi,” ujar Rissa Churria yang menjadi MC […]

  • Rekomendasi Kepala Kemenag, LP Ma’arif NU Pati Bentuk KKMI NU

    Rekomendasi Kepala Kemenag, LP Ma’arif NU Pati Bentuk KKMI NU

    • calendar_month Kam, 20 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 606
    • 0Komentar

    PATI – Rapat Koordinasi LP. Ma’arif NU PCNU Kab. Pati Bersama Kepala MI se Kabupaten Pati yang digelar di Gedung NU, Kamis (20/02/2020) sedianya hanya akan membahas program kerja LP. Ma’arif yang terkait Madrasah Ibtidaiyah dan persiapan penyelenggaraan Rakerdin LP. Ma’arif. Namun, saat memberikan sambutan dan pengarahan, Kepala Kantor Kementerian Agama, Imron, merekomendasikan untuk membentuk […]

  • PCNU-PATI

    Gelar Halal Bihalal, RMI PWNU Jateng Bahas Agenda untuk Perkuat Pesantren dan Madin

    • calendar_month Sel, 30 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 537
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-MAGELANG – Pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Wilayah Nahdlatul Ulama (RMI PWNU) Jawa Tengah mengadakan halal bihalal dengan seluruh jajaran pengurus RMI kab/kota se-Jawa Tengah di Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Asri Giri, Magelang, Sabtu (20/5/2023). Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua PWNU Jateng KH Muzammil, Rois Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, Pengasuh Pondok Pesantren […]

  • Sumbang Kurungan untuk Ikut Atasi Corona

    Sumbang Kurungan untuk Ikut Atasi Corona

    • calendar_month Sab, 18 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

    Kurungan burung sumbangan Imam Muslih untuk warga terdampak corona PATI-Unik, begitu kata yang muncul pertama kali saat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Joyo Kesumo Pati menerima kiriman tak lazim. Bingkisan tersebut berupa sebuah kurungan burung berukuran 30 cm × 50 cm. Benda tersebut merupakan pemberian dari seorang pengrajin kurungan burung asal Desa Ranggah Metaraman […]

  • RA. KH. Hasyim Asy’ari  Sukoharjo Gelar Parenting Ramadan

    RA. KH. Hasyim Asy’ari Sukoharjo Gelar Parenting Ramadan

    • calendar_month Sen, 24 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 601
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Sukoharjo – Raudhatul Athfal KH. Hasyim Asy’ari Sukoharjo mengadakan acara Buka Bersama, Kajian Ramadhan dan Parenting Bertemakan “Mengajarkan Anak Beribadah di Bulan Ramadhan Untuk Menanamkan Keimanan Sejak Dini”, dengan Nara Sumber Ustadz Syamsul Ashri, S.Pd. Dalam Kajian Ramadhan sekaligus Parenting, Ustadz Syamsul Ashri, S.Pd yang juga selaku Kepala MI Terpadu Riyadus Sholihin Kecamatan Nguter, […]

expand_less