Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Jejak Gus Dur

Jejak Gus Dur

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Mar 2015
  • visibility 508
  • comment 0 komentar
Tokoh Ulama ; Selama menjadi Ketua Umum PBNU selama 15 tahun, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) banyak mengunjungi daerah, termasuk di wilayah Sulawesi Selatan. Pada akhir tahun 1985, Gus Dur diundang berceramah oleh Rektor IKIP Makassar, Gubernur Prof. Dr. H. A. Amiruddin.
Waktu itu, Gus Dur berangkat ke IKIP dan dijamu sarapan pagi. Di meja makan, sambil menunggu penjemput dari IKIP, terjadi diskusi antara Gus Dur dengan Gubernur H. A. Amiruddin terkait berbagai hal yang dihadapi bangsa Indonesia. Setelah penjemput dari IKIP datang, Gubernur mengantar Gus Dur ke bawah dijemput oleh Wagub HZB Palaguna. Gubernur A. Ahmad Amiruddin meminta HZB Palaguna mendampingi Gus Dur di IKIP, sambil berkata “Dampingi, dia orang pintar”.
Di atas mobil dalam perjalanan menuju IKIP, Gus Dur bertanya, “Tema apa yang akan saya bawakan dalam ceramaah nanti ?”.“Transformasi sosial menuju masa depan Indonesia”, jawab saya. Sampai di IKIP, Gus Dur dijemput oleh Rektor IKIP Prof. Dr. HP. Parawangsah dirumah jabatan. Setelah minum teh, Gus Dur diantar ke gedung Serba Guna IKIP, disambut oleh Civitas Akademika IKIP dan ratusan mahasiswa yang memenuhi aula gedung Serba Guna.
Setelah pidato penyambutan Rektor IKIP, Gus Dur dipersilakan ke mimbar. Pada awal ceramahnya, mahasiswa menyambut dengan suara “Uuuuuuh”, tetapi pada pertengahan ceramahnya, hadirin mulai diam dan tenang. Menjelang akhir ceramahnya, hampir setiap kalimatnya disambut dengan tepuk tangan yang meriah, dan menutup ceramahnya disambut dengan tepuk tangan yang panjang sambil hadirin berdiri mengantarkan Gus Dur meninggalkan tempat upacara.
Gus Dur Ziarah Makam di Wajo
Akhir Januari 1989 pukul 08.00 pagi, menaiki mobil mini bus DPRD Sulsel, kami berangkat ke Wajo untuk berziarah ke makam Sayyid Jamaluddin al Akbari al Husaini yang wafat pada tahun 1310 dimakamkan berdampingan dengan Raja Tosora Lamaddusila di Tosora (situs purbakala), Sayyid Jamaluddin adalah nenek para wali songo di Jawa.
Menurut Gus Dur, ia mendapat pesan dari kakeknya Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, supaya menziarahi 27 makam Wali di Indonesia.
Sekitar pukul 11.00 kami tiba disuatu desa sekitar 4 Km sebelum sampai ke lokasi makam, jembatan desa terputus yang tidak bisa dilalui kendaraan. Gus Dur mengatakan, “Rupanya Almarhum belum berkenan diziarahi.” Gus Dur berceritera bahwa juga pernah ada makam seorang Wali di Semarang, 5 kali baru bisa tembus mencapai makam wali tersebut. Akhirnya, Gus Dur meminta kepada yang hadir untuk mendoakan di sini saja sambil menunjuk jembatan yang putus.
Kami yang mengantar Gus Dur, antara lain Sayyid Abu Bakar Alatas, Idris Nashir, Muhamad Abduh, Pengurus Cabang NU Wajo berkumpul ditengah persawaahan duduk melingkar sambil berdoa dan mengirimkan bacaan Al Fatihah. Doa dipimpin oleh Sayyid Abu Bakar Alatas. Gus Dur berjanji akan datang lagi secara incognito (tidak resmi).
Belakangan saya ketahui telah datang secara diam-diam dan berdua dengan Habib Abubakar Alatas, Gus Dur telah menziarahi beberapa makam wali di Sulsel seperti makam Syech Yusuf al Khalawatiyah al Makassari di Gowa, Makam Syekh Jamaluddin al Akbari al Husaini di Tosora Kabupaten Wajo, makam Syekh Datok Ri Bandang dan Makam Pangerang Diponegoro di Makassar, makam Tuan Bojodi Kajuara Bone, makam Kareng Lolo Bayo Sanrabone Takalar.
Pada suatu waktu saya menemui Gus Dur di kantor PBNU Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, menyampaikan niat saya untuk menyelenggarakan Haul dan tahlilan untuk almarhum Sayyid Jamaluddin Al Akbari al Huseini dan Syech Yusuf Al Halwati di Gowa. Gus Dur mendukung dan bersedia mencarikan sponsor. Niat untuk mengadakan Haul dan tahlilan ini kemudian saya konsultasikan pada M. Parawansyah, Sekretaris Provinsi Sulsel di Kantor Gubernur.
Dari almarhum KHS Jamaluddin Puang Ramma, saya mendapat informasi bahwa 42 orang ulama dan kiai dari Jawa Timur setelah memperoleh informasi dari Gus Dur, dengan mencharter pesawat terbang Fokker 28 mereka ke Makassar menginap di Syahid Hotel datang memui beliau di jalan Baji Bicara 7 Makassar. Mereka semua mengaku sebagai keturunan Sayyid Jamaluddin al Akbari al Huseini nenek para Wali Songo di Jawa. Mereka bermaksud menziarahi makam beliau di Tosora.
Drs. KH. Abdurrahman adalah Ketua PWNU Sulsel 1986 – 1990 dan 1990 – 1995. Ia dikenal dengan nama Abdurrahman ‘Bola Dunia”, karena memiliki rumah dengan pagar Bola Dunia sebagaimana Lambang Nahdlatul Ulama.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nalar Kritis Abu Bakar ash Shiddiq

    Nalar Kritis Abu Bakar ash Shiddiq

    • calendar_month Kam, 23 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 605
    • 0Komentar

      Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq selalu menjadi trending topik di kalangan da’i terutama menjelang peringatan hari agung isro’ mi’roj. Pasalnya, dialah tokoh islam yang seketika membenarkan klaim Nabi Muhammad yang menyatakan telah mengunjungi Palestina lalu naik menuju langit ke-tujuh dalam waktu semalam. Sebagai catatan, Nabi melaksanakan kegiatan luar biasa tersebut […]

  • LP Maarif Purbalingga Lantil 7 Kepala MI dan 2 Kepala Mts

    LP Maarif Purbalingga Lantik 7 Kepala MI dan 2 Kepala Mts

    • calendar_month Kam, 9 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 767
    • 0Komentar

      Purbalingga, kamis, 9 Januari 2025 ketua PC.LP. Maarif NU PCNU Purbalingga H. Torik Jahidin, S.Pd.I., M.Pd.I melantik 7 Kepala MI dan 2 Kepala MTs. Dilaksankan di Gedung Dekopinda Kabupaten Purbalingga. Kegiatan ini kali pertama dilaksanakan pada masa khidamah awal pengurus LP. Maarif NU Purbalingga masa khidmah 2024-2029. Berahirnya masa khidmah Kepala menjadi dasar Pengurus […]

  • Salafiyah Kajen Pati Diproseksi Jadi Model Nasional Green Madrasah

    Salafiyah Kajen Pati Diproseksi Jadi Model Nasional Green Madrasah

    • calendar_month Sab, 1 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.070
    • 0Komentar

      Pati – Kementerian Agama (Kemenag) mulai memperluas implementasi Green Madrasah sebagai bagian dari transformasi pendidikan Islam berbasis ekoteologi di Indonesia. Madrasah Salafiyah Kajen, Kabupaten Pati, dijajaki menjadi salah satu model percontohan nasional untuk penguatan pendidikan ramah lingkungan. Hal ini diungkapkan Kasubdit Fasilitasi Profesi Guru, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Kemenag Fakhurrozi dalam pelatihan […]

  • Ekskul et-Diversity MA Salafiyah Gelar Pelatihan Jurnalistik

    Ekskul et-Diversity MA Salafiyah Gelar Pelatihan Jurnalistik

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 518
    • 0Komentar

      Angga, salah satu pemateri dari wartaphoto.com yang juga redaktur LTN NU Pati sedang semangat menyampaikan materi kepada para peserta pelatihan jurnalistik di MA Salafiyah Kajen MARGOYOSO – Ekstrakurikuler Jurnalistik Et-Diversity Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati adakan pelatihan jurnalistik dasar, Sabtu (30/10/2021) siang. Kegiatan itu bertempat di aula madrasah setempat.  Pada kesempatan […]

  • PCNU-PATI

    Memahami Konsep Fikih Sosial Kiai Sahal Mahfudh

    • calendar_month Sab, 29 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 481
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Secara etimologi, fikih berasal dari kata bahasa Arab faqiha-yafqahu-fikihan, yang berarti mengerti atau memahami. Orang-orang Arab memaknai fikih dalam konteks kebahasaan dengan mā daqqa wa ghamudha, yang artinya: sesuatu yang samar dan sulit untuk dipahami. Berdasarkan pengertian etimologis kata fikih ini, orang-orang Arab mengatakan faqihtu ma’na kalāmika liannahu qad yaduqqu wa yaghmadhu, […]

  • Muslimat NU Pati Gelontorkan Rp 3M untuk Santuni Yatim

    Muslimat NU Pati Gelontorkan Rp 3M untuk Santuni Yatim

    • calendar_month Sab, 5 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 579
    • 0Komentar

    PATI-Gedung Haji Pati mendadak menjadi lautan putih, Sabtu (5/10) pagi tadi. Sedikitnya, 6000 anggota Muslimat NU se-Kabupaten menghadiri acara istighotsah dan selawat bersama. Santunan yatim piatu secara simbolis oleh Pengurus Cabang Muslimat NU Pati Ibu-ibu Muslimat tersebut, atas intruksi pengurus cabang datang dengan mengenakan dresscode serba putih. Jamaah terbanyak datang dari PAC Pucakwangi sebanyak 750 […]

expand_less