Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Islam dan Modernitas

Islam dan Modernitas

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 22 Jul 2021
  • visibility 119
  • comment 0 komentar

 Oleh : Miftahus Salam*

Modernitas (kemodernenan) adalah salah satu masalah paling krusial yang dihadapi oleh umat Islam abad ini. Pasalnya sampai saat ini umat Islam selalu diidentikkan dengan kelompok yang berseberangan dengan modernitas. Bahkan ada yang membuat kesan bahwa Islam tidak cocok dengan modernitas.

Isu-isu terkait modernitas menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam, terutama dalam bidang sosial, politik, ekonomi dan tekhnologi. Dalam berbagai bidang tersebut, umat Islam mengalami keterbelakangan dibanding bangsa-bangsa lain. Menurut Hassan Hanafi terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi umat Islam tertinggal dengan bangsa-bangsa lain, diantaranya adalah persoalan Imperialisme. Imperialisme (Penjajahan Bangsa-Bangsa Barat), dengan format baru yang menggunakan modus petualangan ekonomi multinasional dan westernisasi kebudayaan telah mematikan semangat kreatifitas bangsa-bangsa Islam serta telah mencabut umat Islam dari akar kesejarahannya.

Selanjutnya adalah persoalan zionisme, gerakan yahudi untuk menghancurkan umat Islam. Gerakan ini tak henti-hentinya menghancurkan Islam, sehingga menjadi bahaya laten bagi Islam serta umatnya. Dan terakhir adalah persoalan kapitalisme. Kapitalisme ini bukan saja bahaya bagi pengikutnya, tapi juga bagi masyarakat Islam, kelompok ini akan menimbulkan masyarakat kelas dan kekuasaan berada pada orang yang menguasai modal, mereka tidak segan mengobarkan perang dan memproduksi senjata, selama kepentingan mereka tetap eksis.

Modernitas ini datang dari bangsa yang orang Islam terbiasa untuk menghinanya, yaitu bangsa barat. Menurut Nurchalis Madjid (Cak Nur) alasan inilah yang membuat umat Islam secara psikologis sulit untuk menerimanya. Hal ini bukan tanpa dasar, pasalnya doktrin-doktrin tentang anti barat, bahwa bangsa barat merupakan musuh umat Islam selalu digulirkan, ditambah lagi sejarah tentang penindasan bangsa barat terhadap bangsa umat Islam menjadi semakin kuat.

Sebenarnya peradaban umat Islam pernah mengalami kejayaan di masa kekhalifahan Umayyah dan Abasiyyah. Banyak ilmu pengetahuan dan tekhnologi ditemukan oleh umat Islam pada masa ini. Namun umat Islam mengalami kemunduran pada abad ke-12, dikarenakan umat Islam telah menutup pintu Ijtihad. Padahal menurut Cak Nur Ijtihad inilah yang sebetulnya membuat umat Islam berpikir lebih kreatif dan proaktif. Selanjutnya, dengan ditutupnya pintu ijtihad ini, maka yang kemudian muncul di dunia ilmu pengetahuan Islam ialah tradisi menghafal.

Hafal dari bahasa Arab ‘hafizha’, artinya memelihara. Jadi menghafal itu sebetulnya hanya tindakan memelihara yang sudah ada, tidak kreatif. Budaya menghafal inilah yang membuat sebagian besar peradaban umat Islam saat ini mengalami kemandekan.

Peradaban dan Modernitas

Pada umumnya kita telah terjebak terhadap pandangan bahwa modernisasi adalah westernisasi, artinya, bahwa modern merupakan segala sesuatu yang berasal dari barat. Bukan tanpa alasan, menurut Aly Syari’ati, selama 150 tahun yang lalu sebenarnya bangsa barat telah menjalankan tugas “memodernenan” manusia dengan semangat misionaris. Semua bangsa non-barat ditempatkan pada hubungan yang kuat terhadap barat dan peradaban barat, serta akan mengubah mereka menjadi bangsa-bangsa modern. Dengan kedok “memberadabkan” bangsa-bangsa serta menyertai mereka dengan kebudayaan, bangsa barat menghadiahkan mereka  “modernitas”. Menurut Aly Syari’ati, seharusnya para kaum intelektual Islam sedari awal memahami perbedaan mendasar antara peradaban dan modernitas. Tetapi para kaum terpelajar umat Islam gagal memahami masalah ini selama 150 tahun proses “modernisasi” oleh barat terhadap bangsa-bangsa umat Islam. Maka bisa dilihat sampai saat ini, pengertian “peradaban” dan “modernitas” selalu diidentikkan dengan barat.

Sependapat dengan Ali Syari’ati, Cak Nur memberi pengertian modernisasi bukanlah westernisasi, melainkan “rasionalisasi”. Artinya, bahwa modernisasi merupakan cara berfikir dan bekerja menurut fitrah atau sunnatullah, dan mampu melahirkan ilmu pengetahuan, sedang ilmu pengetahuan diperoleh dengan menggunakan akal (rasio).

Terdapat anggapan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada batasannya, kecuali kita sendiri yang membatasinya. Dan setiap batasan dapat ditembus dengan sikap kreatif, yaitu kemampuan menembus perbatasan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang biasa dilakukan oleh umat Islam terdahulu.

Menurut Ali Syari’ati modernitas merupakan metode paling baik untuk menyesatkan dunia non-barat dari segala susunan dan bentuk pemikiran kepribadian mereka sendiri. Dengan iming-iming modernisasi orang-orang non-barat akan menolak masa lampaunya sendiri, menodai dan menghancurkan dengan tangannya sendiri unsur pokok kebudayaan, agama  dan kepribadiannya yang unik. Dan pada akhirnya menjadi termodernkan dipandang sebagai menjadi seperti orang Eropa.

Modernitas Umat Islam

Tidak selamanya pengertian modernitas bisa dipahami dengan menggunakan sudut pandang ala barat. Pasalnya tidak semua yang ada di barat bisa diterapkan di belahan dunia lain, kecuali dengan memaksakannya dan mematikan kebudayaan setempat. Dan hal semacam inilah yang saat ini sedang dilakukan oleh barat.

Satu-satunya jalan untuk menuju modernisasi Islam adalah dengan mamaksimalkan ijtihad, seperti yang biasa dilakukan oleh umat Islam terdahulu. Menurut Muhammad Iqbal di dalam berbagai argumentasinya, sebenarnya umat Islam tidak perlu mengacu pada barat untuk menjadi sebuah bangsa yang modern, menurutnya di dalam agama Islam sudah sangat lengkap untuk dijadikan dasar sebagai jalan untuk menjadi bangsa yang modern. Tentunya, hal ini bisa dilakukan jika umat Islam mampu memaksimalkan rasionya dan sedikit demi sedikit meninggalkan budaya menghafal.

Menurut Cak Nur, sebenarnya sudah banyak usaha yang telah dilakukan untuk mewujudkan modernisasi di kalangan umat Islam, termasuk yang telah dilakukan oleh Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal dan lain sebagainya. Akan tetapi sampai saat ini umat Islam belum berhasil menjadi bangsa modern. Dalam penilaian Cak Nur, hal ini disebabkan, karena kemodernenan itu tidak tumbuh secara organik dari sebagaian besar kalangan umat islam itu sendiri.

Untuk mengubah keadaan umat Islam dalam menghadapi zaman modern, Hassan hanafi menawarkan delapan model rekontruksi. Antara lain, Pertama, dari Tuhan ke bumi, yang dimaksud Hassan hanafi adalah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta diimplementasikan dalam bentuk pengolahan bumi sebagai sumber kehidupan manusia. Kedua, dari keabadian ke waktu, maksudnya disini yang dimaksud keabadian adalah kehidupan setelah dunia (akhirat), dalam hal ini Hassan hanafi menjelaskan bahwasannya pembangunan tidak akan berlangsung jika berorientasi keabadian, karena pembangunan berarti tahapan-tahapan dalm waktu yang harus diikuti sesuai perencanaan. Ketiga, dari takdir ke kehendak bebas, maksudnya adalah dalam pembangunan hendaknya prioritas difokuskan kepada usaha dan kehendak bebas manusia, bukan semata-mata kepada takdir Tuhan. Keempat, dari otoritas ke akal, Hassan hanafi mendorong umat Islam agar mendayagunakan akal, sampai-sampai ia mengatakan “Akal sama dengan wahyu dan keduanya sama dengan alam”. Kelima, dari teori ke tindakan, ia mengatakan bahwa dalam Islam perbuatan yang baik merupakan satu-satunya menifestasi iman, iman tanpa tindakan adalah omong kosong. Dengan tegas ia mengatakan bahwa tindakan yang benar adalah yang didasarkan pada teori yang salah adalah lebih baik daripada teori yang benar tanpa tindakan. Keenam, dari kharisma ke partisipasi massa, umumnya di dunia ketiga proses pembangunan dikendalikan oleh pemimpin yang kharismatis tanpa memandang partisipasi massa. Dalam hal ini Hassan hanafi memandang perlu perubahan orientasi dari kepemimpinan kharismatis menuju komunitas massa, seperti shalat berjamaah bernilai lebih besar daripada salat sendiri. Ketujuh, dari jiwa ke tubuh, Hasan Hanafi lebih cenderung eksoteris dalam memandang manusia, masalah tubuh menurutnya adalah masalah utama di dunia ketiga, yakni kelaparan, kekeringan, perumahan, transportasi dan sebagainya. Kedelapan, dari eskatologi ke futurologi, eskatologi berarti masa depan dunia, manusia harus mempersiapkan diri untuk sebuah masa depan yang baikdan membuat dunia ini menjadi dunia yang sebaik-baiknya. Jika delapan model rekonstruksi ini mampu diterapkan oleh sebagian umat Islam, maka tidak ada kekhawatiran lagi bagi umat Islam dalam menghadapi zaman modern.

*Miftahus Salam, Pengurus PC IPNU Pati, Pengurus PW IPNU Jateng,Wartawan lingkar Jateng dan Lingkar.co

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH. Zuhdi Ketuai Ulama-Ulama se-Kecamatan Gembong

    KH. Zuhdi Ketuai Ulama-Ulama se-Kecamatan Gembong

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Suasana pembukaan musyawarah pengurus MWC NU Gembong untuk menentukan pengisian jabatan beberapa pengurus yang wafat dalam masa jabatan GEMBONG – Sejumlah ulama Kecamatan Gembong berkumpul di Aula MTs Al Ma’arif Gembong, Jumat (8/10) siang. Mereka adalah jajaran Syuriyah dan pengurus harian MWC NU Kecamatan Gembong.  Para kiai tersebut sedang bermusyawarah untuk mengisi posisi kepengurusan NU […]

  • PCNU Beri Selamat dan Doa untuk Presiden dan Wapres Baru

    PCNU Beri Selamat dan Doa untuk Presiden dan Wapres Baru

    • calendar_month Sen, 21 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 120
    • 0Komentar

    PATI-Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden baru saja diselenggarakan Minggu (20/10) sore. Ir. H. Joko Widodo, beserta wakilnya, KH. Ma’ruf Amin resmi memimpin negeri ini lima tahun ke depan. Warga NU menyambut baik pelantikan tersebut. Banyak yang beranggapan bahwa pengangkatan K.H. Ma’ruf Amin sebagai Wapres merupakan hadiah terbesar untuk Hari Santri Nasional. Pasalnya, kiai yang pernah […]

  • LP Ma’arif PWNU Jateng Bersama Pearson Tingkatkan Kapasitas Guru Bahasa Inggris

    LP Ma’arif PWNU Jateng Bersama Pearson Tingkatkan Kapasitas Guru Bahasa Inggris

    • calendar_month 19 jam yang lalu
    • account_circle admin
    • visibility 6.835
    • 0Komentar

      Semarang, 15102026. LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah menjalin kerja sama dengan Pearson Indonesia dalam program pendampingan Bahasa Inggris bagi guru-guru sekolah dan madrasah di lingkungan LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Program ini diikuti oleh 29 guru dari 26 sekolah dan madrasah. Kegiatan diawali dengan pelatihan tatap muka yang dilaksanakan pada 14–15 Januari 2026 di […]

  • Santri Darul Hadlanah Waturoyo Ikuti Webinar Bersama Wakil DPR RI

    Santri Darul Hadlanah Waturoyo Ikuti Webinar Bersama Wakil DPR RI

    • calendar_month Sen, 30 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Para santri Darul Hadlanah antusias mengikuti Gebyar Muharram 1443 Halaqah Majelis Ta’lim, Minggu (29/8) kemarin MARGOYOSO – Munggu (29/8), puluhan santri Panti Asuhan Darul Hadlonah, Waturoyo, Margoyoso menjadi peserta dalam Gebyar Muharram 1443 H Halaqoh Majelis Ta’lim (HMT). Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual ini dihadiri oleh wakil ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar.  Antusiasme santri terlihat […]

  • PCNU-PATI

    MHI Gembong Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

    • calendar_month Rab, 4 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- GABUS – Keluarga MI Hidayatul Islam (MHI)  Gembong-Pati melakukan aksi sosial. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kosekan, Gabus pada Rabu (4/1) sore. Desa tersebut menjadi salah satu langganan banjir setiap musim penghujan. Kepala MHI Gembong, Sholikhin menegaskan bahwa Desa Kosekan menjadi tujuan penyaluran bantuan karena di daerah tersebut jarang tersorot kamera.  “Dulu pernah kami […]

  • Kata Guru: Antologi Esai Reflektif Para Pendidik MA Salafiyah Kajen Pati

    Kata Guru: Antologi Esai Reflektif Para Pendidik MA Salafiyah Kajen Pati

    • calendar_month Sab, 21 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 142
    • 0Komentar

      PATI – Profesi guru menyimpan banyak kisah dan refleksi mendalam yang kerap menginspirasi. Melalui buku antologi esai berjudul “Kata Guru”, sebanyak 13 guru MA Salafiyah Kajen Pati mencoba merekam dan membagikan pengalaman serta pemikiran mereka seputar dunia pendidikan dalam 15 esai bernas dan menyentuh. Buku ini diterbitkan oleh Iniibubudi Publishing dengan nomor ISBN 978-602-70232-8-4, […]

expand_less