Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Islam dan Modernitas

Islam dan Modernitas

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 22 Jul 2021
  • visibility 114
  • comment 0 komentar

 Oleh : Miftahus Salam*

Modernitas (kemodernenan) adalah salah satu masalah paling krusial yang dihadapi oleh umat Islam abad ini. Pasalnya sampai saat ini umat Islam selalu diidentikkan dengan kelompok yang berseberangan dengan modernitas. Bahkan ada yang membuat kesan bahwa Islam tidak cocok dengan modernitas.

Isu-isu terkait modernitas menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam, terutama dalam bidang sosial, politik, ekonomi dan tekhnologi. Dalam berbagai bidang tersebut, umat Islam mengalami keterbelakangan dibanding bangsa-bangsa lain. Menurut Hassan Hanafi terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi umat Islam tertinggal dengan bangsa-bangsa lain, diantaranya adalah persoalan Imperialisme. Imperialisme (Penjajahan Bangsa-Bangsa Barat), dengan format baru yang menggunakan modus petualangan ekonomi multinasional dan westernisasi kebudayaan telah mematikan semangat kreatifitas bangsa-bangsa Islam serta telah mencabut umat Islam dari akar kesejarahannya.

Selanjutnya adalah persoalan zionisme, gerakan yahudi untuk menghancurkan umat Islam. Gerakan ini tak henti-hentinya menghancurkan Islam, sehingga menjadi bahaya laten bagi Islam serta umatnya. Dan terakhir adalah persoalan kapitalisme. Kapitalisme ini bukan saja bahaya bagi pengikutnya, tapi juga bagi masyarakat Islam, kelompok ini akan menimbulkan masyarakat kelas dan kekuasaan berada pada orang yang menguasai modal, mereka tidak segan mengobarkan perang dan memproduksi senjata, selama kepentingan mereka tetap eksis.

Modernitas ini datang dari bangsa yang orang Islam terbiasa untuk menghinanya, yaitu bangsa barat. Menurut Nurchalis Madjid (Cak Nur) alasan inilah yang membuat umat Islam secara psikologis sulit untuk menerimanya. Hal ini bukan tanpa dasar, pasalnya doktrin-doktrin tentang anti barat, bahwa bangsa barat merupakan musuh umat Islam selalu digulirkan, ditambah lagi sejarah tentang penindasan bangsa barat terhadap bangsa umat Islam menjadi semakin kuat.

Sebenarnya peradaban umat Islam pernah mengalami kejayaan di masa kekhalifahan Umayyah dan Abasiyyah. Banyak ilmu pengetahuan dan tekhnologi ditemukan oleh umat Islam pada masa ini. Namun umat Islam mengalami kemunduran pada abad ke-12, dikarenakan umat Islam telah menutup pintu Ijtihad. Padahal menurut Cak Nur Ijtihad inilah yang sebetulnya membuat umat Islam berpikir lebih kreatif dan proaktif. Selanjutnya, dengan ditutupnya pintu ijtihad ini, maka yang kemudian muncul di dunia ilmu pengetahuan Islam ialah tradisi menghafal.

Hafal dari bahasa Arab ‘hafizha’, artinya memelihara. Jadi menghafal itu sebetulnya hanya tindakan memelihara yang sudah ada, tidak kreatif. Budaya menghafal inilah yang membuat sebagian besar peradaban umat Islam saat ini mengalami kemandekan.

Peradaban dan Modernitas

Pada umumnya kita telah terjebak terhadap pandangan bahwa modernisasi adalah westernisasi, artinya, bahwa modern merupakan segala sesuatu yang berasal dari barat. Bukan tanpa alasan, menurut Aly Syari’ati, selama 150 tahun yang lalu sebenarnya bangsa barat telah menjalankan tugas “memodernenan” manusia dengan semangat misionaris. Semua bangsa non-barat ditempatkan pada hubungan yang kuat terhadap barat dan peradaban barat, serta akan mengubah mereka menjadi bangsa-bangsa modern. Dengan kedok “memberadabkan” bangsa-bangsa serta menyertai mereka dengan kebudayaan, bangsa barat menghadiahkan mereka  “modernitas”. Menurut Aly Syari’ati, seharusnya para kaum intelektual Islam sedari awal memahami perbedaan mendasar antara peradaban dan modernitas. Tetapi para kaum terpelajar umat Islam gagal memahami masalah ini selama 150 tahun proses “modernisasi” oleh barat terhadap bangsa-bangsa umat Islam. Maka bisa dilihat sampai saat ini, pengertian “peradaban” dan “modernitas” selalu diidentikkan dengan barat.

Sependapat dengan Ali Syari’ati, Cak Nur memberi pengertian modernisasi bukanlah westernisasi, melainkan “rasionalisasi”. Artinya, bahwa modernisasi merupakan cara berfikir dan bekerja menurut fitrah atau sunnatullah, dan mampu melahirkan ilmu pengetahuan, sedang ilmu pengetahuan diperoleh dengan menggunakan akal (rasio).

Terdapat anggapan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada batasannya, kecuali kita sendiri yang membatasinya. Dan setiap batasan dapat ditembus dengan sikap kreatif, yaitu kemampuan menembus perbatasan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang biasa dilakukan oleh umat Islam terdahulu.

Menurut Ali Syari’ati modernitas merupakan metode paling baik untuk menyesatkan dunia non-barat dari segala susunan dan bentuk pemikiran kepribadian mereka sendiri. Dengan iming-iming modernisasi orang-orang non-barat akan menolak masa lampaunya sendiri, menodai dan menghancurkan dengan tangannya sendiri unsur pokok kebudayaan, agama  dan kepribadiannya yang unik. Dan pada akhirnya menjadi termodernkan dipandang sebagai menjadi seperti orang Eropa.

Modernitas Umat Islam

Tidak selamanya pengertian modernitas bisa dipahami dengan menggunakan sudut pandang ala barat. Pasalnya tidak semua yang ada di barat bisa diterapkan di belahan dunia lain, kecuali dengan memaksakannya dan mematikan kebudayaan setempat. Dan hal semacam inilah yang saat ini sedang dilakukan oleh barat.

Satu-satunya jalan untuk menuju modernisasi Islam adalah dengan mamaksimalkan ijtihad, seperti yang biasa dilakukan oleh umat Islam terdahulu. Menurut Muhammad Iqbal di dalam berbagai argumentasinya, sebenarnya umat Islam tidak perlu mengacu pada barat untuk menjadi sebuah bangsa yang modern, menurutnya di dalam agama Islam sudah sangat lengkap untuk dijadikan dasar sebagai jalan untuk menjadi bangsa yang modern. Tentunya, hal ini bisa dilakukan jika umat Islam mampu memaksimalkan rasionya dan sedikit demi sedikit meninggalkan budaya menghafal.

Menurut Cak Nur, sebenarnya sudah banyak usaha yang telah dilakukan untuk mewujudkan modernisasi di kalangan umat Islam, termasuk yang telah dilakukan oleh Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal dan lain sebagainya. Akan tetapi sampai saat ini umat Islam belum berhasil menjadi bangsa modern. Dalam penilaian Cak Nur, hal ini disebabkan, karena kemodernenan itu tidak tumbuh secara organik dari sebagaian besar kalangan umat islam itu sendiri.

Untuk mengubah keadaan umat Islam dalam menghadapi zaman modern, Hassan hanafi menawarkan delapan model rekontruksi. Antara lain, Pertama, dari Tuhan ke bumi, yang dimaksud Hassan hanafi adalah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta diimplementasikan dalam bentuk pengolahan bumi sebagai sumber kehidupan manusia. Kedua, dari keabadian ke waktu, maksudnya disini yang dimaksud keabadian adalah kehidupan setelah dunia (akhirat), dalam hal ini Hassan hanafi menjelaskan bahwasannya pembangunan tidak akan berlangsung jika berorientasi keabadian, karena pembangunan berarti tahapan-tahapan dalm waktu yang harus diikuti sesuai perencanaan. Ketiga, dari takdir ke kehendak bebas, maksudnya adalah dalam pembangunan hendaknya prioritas difokuskan kepada usaha dan kehendak bebas manusia, bukan semata-mata kepada takdir Tuhan. Keempat, dari otoritas ke akal, Hassan hanafi mendorong umat Islam agar mendayagunakan akal, sampai-sampai ia mengatakan “Akal sama dengan wahyu dan keduanya sama dengan alam”. Kelima, dari teori ke tindakan, ia mengatakan bahwa dalam Islam perbuatan yang baik merupakan satu-satunya menifestasi iman, iman tanpa tindakan adalah omong kosong. Dengan tegas ia mengatakan bahwa tindakan yang benar adalah yang didasarkan pada teori yang salah adalah lebih baik daripada teori yang benar tanpa tindakan. Keenam, dari kharisma ke partisipasi massa, umumnya di dunia ketiga proses pembangunan dikendalikan oleh pemimpin yang kharismatis tanpa memandang partisipasi massa. Dalam hal ini Hassan hanafi memandang perlu perubahan orientasi dari kepemimpinan kharismatis menuju komunitas massa, seperti shalat berjamaah bernilai lebih besar daripada salat sendiri. Ketujuh, dari jiwa ke tubuh, Hasan Hanafi lebih cenderung eksoteris dalam memandang manusia, masalah tubuh menurutnya adalah masalah utama di dunia ketiga, yakni kelaparan, kekeringan, perumahan, transportasi dan sebagainya. Kedelapan, dari eskatologi ke futurologi, eskatologi berarti masa depan dunia, manusia harus mempersiapkan diri untuk sebuah masa depan yang baikdan membuat dunia ini menjadi dunia yang sebaik-baiknya. Jika delapan model rekonstruksi ini mampu diterapkan oleh sebagian umat Islam, maka tidak ada kekhawatiran lagi bagi umat Islam dalam menghadapi zaman modern.

*Miftahus Salam, Pengurus PC IPNU Pati, Pengurus PW IPNU Jateng,Wartawan lingkar Jateng dan Lingkar.co

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Catcalling

    Catcalling

    • calendar_month Jum, 1 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Senja kala itu, saat perjalanan pulang dari bekerja. Saya mendapati hal yang tak seharusnya terjadi. Saya naik motor dengan pelan karena melewati jalan persawahan yang tak seberapa lebar. Maklum desa saya dikelilingi oleh banyak sawah. Barangkali jika dilihat dari atas terlihat seperti pulau. Waktu itu saya mengenakan helm, masker, jilbab, jaket, dan celana panjang. Saat […]

  • Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam IPMAFA Ikuti Bimtek di BSIP Jaken Pati

    Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam IPMAFA Ikuti Bimtek di BSIP Jaken Pati

    • calendar_month Kam, 7 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Pati-Segenap mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) yang diadakan di Balai Standar Instrumen Pertanian (BSIP) Jaken, Pati. Bimtek ini mengusung tema “Penguatan Kapasitas Penerap Standar Pertanian Mendukung Program Kementerian Pertanian”. Rabu (6/11/24) Kegiatan dimulai dengan sambutan dari Bapak Agus Hasbianto, selaku Kepala BSIP, menjelaskan […]

  • Foto: Pemberangkatan calon jemaah haji di halaman Pendapa Kabupaten Pati.

    Enam Calon Jemaah Asal Pati Gagal Berangkat, Ini Penyebabnya

    • calendar_month Sab, 17 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Foto: Pemberangkatan calon jemaah haji di halaman Pendapa Kabupaten Pati.   Pcnupati.or.id, Pati – Sebanyak enam calon jemaah haji asal Kabupaten Pati, Jawa Tengah gagal berangkat pada tahun 2025 ini. Penyebabnya, keenam calon jemaah tersebut mengalami sakit hingga akhirnya mengundurkan diri. Plh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati Abdul Hamid menjelaskan, keenam calon jemaah […]

  • Lazisnu – FSEI Ipmafa Jalin MoU, Ini Hasilnya

    Lazisnu – FSEI Ipmafa Jalin MoU, Ini Hasilnya

    • calendar_month Sab, 4 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 118
    • 0Komentar

    Ketua Lazisnu Pati, Niam Sutaman (pegang kertas) dan Dekan FSEI, Umdatul Baroroh menunjukkan hasil penandatangan MoU antar dua lembaga tersebut. MARGOYOSO -PCNU Pati dan Institut Pesantren Matholiul Falah (Ipmafa) menjalin kerjasama. MoU ini secara lebih khusus dilakukan antara Fakultas Syariah Ekonomi Islam (FSEI) dengan PC Lazisnu Pati.  Penandatangan komitmen kerja sama ini dilamukan di Aula […]

  • Bulan Depan PCNU Pati Turba ke Tiap Kawedanan

    Bulan Depan PCNU Pati Turba ke Tiap Kawedanan

    • calendar_month Sen, 26 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 132
    • 0Komentar

    PATI – Bulan September besok, PCNU Kab. Pati mengagendakan melakukan turba (turun bawah) ke masing-masing MWC NU di Kabupaten Pati. Meski, untuk efektivitas pelaksanaannya, turba tersebut dilakukan per-eks kawedanan. Kepastian pelaksanaan turba pengurus cabang NU Kabupaten Pati ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi antara PCNU dengan MWC NU se kabupaten Pati, Ahad (25/08) siang kemarin. Wakil […]

  • Lailatul Ijtima’  MWCNU Wedarijaksa

    Lailatul Ijtima’ MWCNU Wedarijaksa

    • calendar_month Sen, 8 Jan 2018
    • account_circle admin
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Pati. Apabila Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pati, mempunyai program  Turba ke MWC se-kab. Pati yang di namakan dengan Naharul Ijtima’  pada jum’at  terakhir di setiap bulannya. Sedangkan Majlis Wakil Cabang Kecamatan Wedarijaksa mempunyai program hampir sama, yaitu kinsolidasi organisasi dan turba ke ranting- ranting, akan tetapi dilakukan pada malam hari yaitu dengan Lailatul Ijtima’. […]

expand_less