Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Dari Balik Jendela Kaca

Dari Balik Jendela Kaca

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 21 Jan 2024
  • visibility 233
  • comment 0 komentar

Oleh : J. Intifada

Ben, junior di kampus yang sekarang satu perusahaan denganku. Cowo flamboyan yang suka dikelilingi karyawan-karyawan perempuan di kantorku. Sikapnya yang ramah, baik dan suka membantu membuat para teman kantor menyukainya. Bahkan tanpa aku sadari sudah satu tahun saat kami bekerja, dia sudah beberapa kali membuat cewek-cewek magang terbawa perasaannya.

“Kamu kenapa Van?” tanya Erna yang duduk di samping mejaku

“Oh… ada apa?” jawabku terbata

“Kamu … dari tadi nglihatin Ben terus, kamu suka?” Erna yang daritadi memperhatikanku bertanya.

“Hah… apaan sih.”

“Ya, mana tahu, sedari tadi kamu ngedumel sambil melototin Benu. Sedang yang dilihatin asyik sendiri.”

“Ahh gak lah, aku tuh heran aja, kenapa cewek cewek itu bisa terbawa perasaan sama dia. Padahal dia gak cakep-cakep amat kan.”

“Vanya … Vanya, kamu kenapa? Jealous?”

“Apa … “Jawab ku mengelak

Erna terkekeh dengan jawabanku sambil melihatku berlalu ke kamar kecil.

***

“Hey mblo, sendirian?”

Sapa Ben yang tiba-tiba sudah di belakangku saat ku berjalan sendiri ke kantin. Ku lirik tanpa mengatakan apa-apa.

“Slow mblo,” dia seperti tahu arti lirikanku. Aku berjalan lebih cepat untuk menghindarinya. Ben mengejar dan menjajari langkahku.

“Nanti sore aku jemput ya.”

Aku berhenti dan menatapnya dengan tanda tanya. Kalau tiba-tiba mendekat biasanya ada maunya.

“Ehmmm pekan ini, aku mau jalan dengan Rahel. Pilihkan baju untukku yuk.” Serunya mengerti apa yang ingin ku tanyakan.

Aku menghela nafas dan melanjutkan berjalan.

“Ayolah mblo, Please…” bujuknya sambil membututiku

“Why? Kenapa aku? Kamu kan bisa pergi sendiri.”

“Karena kamu ………… pasti…………. Akan……… membantuku.” Teriaknya dengan berlari tanpa peduli apa aku akan menolak atau menerima.

***

Sorenya dia sudah memarkir kendaraannya di depan rumahku. Aku tak segera keluar untuk menemuinya. Dia menelepon hingga puluhan kali. Saat aku keluar tak terlihat wajah kesalnya karena lama menunggu. Dia malah terlihat sumringah dan segera mengajakku pergi ke Mall.

Di toko baju langganannya, dia mencari-cari baju dengan warna yang sama. Aku tahu dia akan memilih warna favoritnya. Coklat muda. Ternyata dia jalan ke bagian kemeja bercorak dan berwarna. Aku diam – diam mengambil baju. Kemeja hijau lime ku pilihkan. Ku sodorkan padanya.

“No……” jawabnya galak

Aku tertawa cekikikan. Puas sekali melihatnya melotot.

“Mbak, ini ada yang size double XL tidak?” tanyanya ke pramuniaga sambil menunjuk kemeja navy.

“Hanya satu ukuran kak, kalau size besar ada disebelah sana kak.”

Aku hanya menahan tawa mendengar jawaban mbak-mbak pramuniaga. Ben melihatku dan menjitak kepalaku dengan hanger kemeja tadi yang tidak muat di badannya.

“Ouch ….” seruku kesakitan

Sudah 1 jam kami berputar-putar di area kemeja- T-Shirt, T-Shirt-Kemeja. Tapi tak menemukan yang diinginkannya. Kakiku sudah kesemutan. Mencari tempat yang sepi dan selonjoran.

“Ya sudah mbak, ini saja.” Katanya kemudian. Meyakinkan mbaknya yang sedari tadi ikut kelelahan menawari baju sesuai ukurannya. Akhirnya pilihannya ke kemeja coklat muda polos.

“Oh tidak …” gerutuku padanya

“Kenapa?”

“Itu kan sama dengan kemeja yang kamu beli dua bulan lalu Ben. Dan baru kamu pakai sekali. Ngapain beli baju sama.”

“Ini beda brand mblo …” bantahnya

“Ya apa bedanya kalau sama-sama kemeja coklat polos Benuuuuuuuuuuu.” protesku

“Bodo amat.”

“Ihhh. nanti kamu dikira gak punya baju baru lho,”

“Ya tapi kan ini beda merek.”

“Ganti … itu ada yang warna grey atau blue green, violet dan jingga itu juga keren.”

“Gak, netral ini.”

Aku bersungut ingin memelintir rambutnya. Lalu aku pun mengambil dua kemeja dengan warna blue green dan grey tanpa pikir panjang. Aku berjalan ke kasir dan membayar.

“Mbak, sekalian bungkus yang dua ini ya. Yang abu-abu dan hijau tosca.”

“Kamu beli buat siapa?” Tanya Ben penasaran

Aku diam tak menjawab. Mengambil tas belanja dan meninggalkannya di depan kasir.

***

Sesampai di rumah tak biasanya dia mengucapkan terima kasih karena aku mau menemaninya hari ini. Aku tersenyum sambil berkata, “iya sama-sama.” Dalam hati aku ingin tertawa lepas. Tapi tak sanggup melihatnya mengucapkan terima kasih dengan tulus.

Aku melambaikan tangan padanya yang sudah melajukan mobilnya. Aku lirik tas belanjaanku dan tak tahan lagi untuk tertawa.

Malam ini, aku akan tidur dengan tenang. Ku matikan handphone agar Ben tak menggangguku malam-malam. Good night Ben, See you in office. Ucapku pelan sebelum memejamkan mata dengan tersenyum riang.

***

“Mblo…… Belanjaan kita tertukar ……”

“Mblo…… Kamu udah tidur?”

“Aku balik ke rumahmu ini. Duh … Kamu ini gimana sih tadi …”

“Kamu beneran tidur ini. cepet banget sih.”

“Besok pagi, aku antar ini baju ke rumahmu.”

“Mblo…… Udah bangun belum ?”

Aku mengerjap-ngerjap mata saat mengecek handphone keesokan harinya. Sudah ada belasan chatnya memberondongku dari semalam. Ku letakkan kembali Sengaja aku tak membalas.

“Mblo…… aku kerumahmu ya ambil baju ku kemarin.”

“Mblo …… kamu kok gak bales sich. Aku nanti siang jalan nih.”

“Parah mblo, baju pilihan kamu jelek banget… Duhhh mana cakepku ilang kalau kayak gini mblo.”11.00

Ben membrondongi ku dengan pesan yang tak henti-henti. Dia mengomel sepanjang hari. Walau aku tak mendengar ocehannya tapi dengan pesan yang masuk bertubi-tubi membuatku seperti mendengar suaranya.

Pesannya mereda setelah lewat tengah hari. Mungkin dia sedang bertemu dengan Rahel. Aku membayangkan dia akan bete seharian karena memakai baju yang tak disukainya. Malamnya dia baru mengirimiku pesan lagi.

“Mblo, makasih ya, ternyata pilihan kamu sama kayak Rahel. Dia bilang aku cakep pakai baju abu-abu.”

Aku hanya menghela napas dan memandangi pesannya tanpa berniat membalas.

***

Dua bulan berlalu, Ben masih terlihat jalan bersama Rahel. Setiap kali kami akan berpapasan, aku akan bersembunyi. Beberapa kali dia menelepon dan mengirim pesan selalu ku abaikan. Sedang malam ini, saat aku memikirkan dia, tiba-tiba dia menelepon lagi.

“Angkat teleponku mblo, aku pengen curhat.” Pesan singkatnya sebelum ku angkat teleponnya. Sesaat kemudian dia menelepon. Dengan berat ku terima panggilannya.

“Kamu kemana aja mblo? kangen.” Katanya tiba-tiba

Aku tak menjawab dan masih bingung dengan pernyataannya tiba-tiba. Bukankah kemarin dia masih jalan dengan Rahel.

“Aku putus dengan Rahel.” katanya seperti mengetahui kebingunganku.

“Dia selalu komplain dengan baju yang aku pakai. Katanya aku tak pernah ganti. Padahal kan itu beda merek.” Tuturnya lagi

“Dia juga suka minta dikabarin tiap waktu, minta makan bareng kalau pulang dari kantor, minta dianterin kemanapun dia mau. Padahal waktu itu masih jam kantor.”

“Terus? Wajarkan cewek minta perhatian cowoknya.” Jawabku membela Rahel

“Iya, tapi sepertinya aku sudah melakukan apa yang dia inginkan. Tapi malah dia yang minta putus, karena dia pikir aku gak seperti dulu.”

“Syukurlah.”

“Kenapa bersyukur?”

“Ya syukurlah bukan kamu yang menyakiti dia.”

“Jadi kamu seneng aku sedih patah hati?”

“Mblo, kamu kan jadi bisa fokus kerja lagi. Kariermu masih panjang. Kalau kamu masih cinta sama dia, buktikan dong dengan kerja kerasmu dan setelah tabunganmu cukup, lamar dia mblo….” Ledekku menirukan dia yang pernah menasehatiku untuk tidak bersedih karena gagal dilamar dengan fokus bekerja mengejar karier.

“Gak Van, dia udah punya baru yang lebih kaya. Mulanya aku tak percaya. Tapi setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku sekarang paham. Cantik itu dari hati.”

Aku terdiam mendengar penuturannya. Inginku meledeknya lagi. Sejak kapan dia mendefinisikan cantik dari hati. Bukannya dia yang beberapa kali mengejekku karena tak cantik. Ah aku mulai ke GR an.

“Keluarlah, aku diluar.” Katanya kemudian

Aku berlari mengintip jendela depan. Ben melambaikan tangan sambil bersandar di mobilnya. Aku menutup telepon dan menemuinya.

“Makan yuk, aku lapar.” Ajaknya sambil mendorongku masuk ke mobilnya.

***

Kami makan di tempat biasa. Dia suka penyetan. Memilihkanku bebek penyet kesukaanku. Aku hanya menurut apa yang dia inginkan.

“Kamu kemana saja sih. Ngilang mulu kalau dicari. Ditelepon gak diangkat di wa gak dibales?”

Aku hanya mengangkat bahu dan duduk di pojokan. Selesai memesan es teh dan es jeruk dia menghampiriku. Kami duduk berhadapan. Aku mencoba mengusir kecanggungan dengan bermain gadget. Tiba-tiba dia memulai pembicaraan yang membuatku terkejut.

“Mblo, nikah yuk.”

“Hah?”

Aku membelalakkan mataku. Hampir tak percaya dengan apa yang dia katakan. Dia memandangiku dengan serius tanpa tertawa. Apakah benar apa yang dia katakan?

Seketika suasana menjadi hening. Dia masih menunggu jawabanku dan aku menunggu kalimat selanjutnya. Kami saling berpandangan dengan membawa pertanyaan masing-masing.

“Kamu sadarkan?” tanyaku kemudian

“Hati-hati dong kalau ngomong.”

Aku pun terdiam tak melanjutkan juga tak menanyakan lagi. Kami sama-sama diam. Dia pun tak membahas lagi. Makanan datang dan kami menikmati makanan kami masing-masing sembari membahas pekerjaan kantor.

Selesai makan dia langsung mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan di mobil hening tak ada suara. Kami larut dalam lamunan kita masing-masing.

Sesampainya di rumah, dia berkata, “Mblo, makasih ya udah jadi teman yang baik selama ini.”

Aku mengangguk dan menjawab iya. Suasana canggung terasa. Aku mulai kikuk dan tak tahu harus ngomong apa. Kemudian berpamitan. Dia juga ikut mengangguk dan mempersilakanku pergi.

Setelah membuka gerbang pagar ketika hampir masuk gerbang rumah, dia keluar dari mobil dan memanggilku.

“Mblo, aku tunggu jawabannya.”

Belum sempat aku menengok dan bertanya dia sudah masuk ke dalam mobil dan pergi. Aku hanya memandangi mobilnya berlalu dan menghela napas.

Paginya di kantor, Ben sudah menunggu di ruang kerjaku membawa segelas air putih. Tak seperti biasa yang selalu wara wiri mengelilingi tiap meja karyawan wanita lain sambil tebar pesona. Selesai memberikan gelas berisi air putih dia kembali di meja kerja sambil tersenyum. Aku hanya bisa pasrah dengan tingkahnya yang agak lain.

“Ben kenapa tuh?”

“Gak tahu, mungkin kesambet.”

“Kemarin masih jalan sama Rahel, kenapa mendadak baik sama kamu?”

Aku diam tak menanggapi komentar Erna. Erna yang tahu perubahan sikap Ben juga ikut heran. Di kantor, kami bersikap seolah tak ada perbincangan serius semalam. Dia lebih banyak memanggilku seperti biasa, mblo dan meminta bantuan. Aku membantu sekedarnya dan berusaha untuk tidak terpengaruh dengan perkataannya semalam.

Jam makan siang, Ben menungguku. Melihatku berjalan bersama Erna, dia membuntuti dari belakang diam-diam. Aku hanya menengok sebentar dan meneruskan berjalan ke kantin sembari mengobrol dengan Erna.

Ben masih mengekor saat aku memesan makanan dan duduk di tempat makan. Dia memilih duduk di seberang kami. Aku dan Erna tak menghiraukannya. Kami asyik makan sendiri-sendiri.

Setelah sholat asar, aku bergegas berberes untuk pulang. Ku lihat Ben sudah siap dengan tasnya untuk beranjak pulang. Dia menunggu di pintu lobi. Begitu aku sampai di dekatnya di menengokku.

“Yuk.”

Aku hanya memandanginya.

“Masih lama diamnya?” tanyanya

Aku bersungut dan mengikutinya masuk mobil. Di dalam mobil dia memutar lagu kesukaanku “Dan” Sheila on7. Sejak kapan dia menyukai lagu yang sama denganku. Bukannya dia suka lagu – lagu Letto.

“Tumben.”

“Apanya.”

“Biasanya lagu senyumanmu.”

“Oh, itu nanti kalau sudah sampai rumah.”

“Maksudnya?”

“Ya kan, senyumnya masih bisa ku lihat sekarang.” Jawabnya sambil cengar cengir.

Aku tambah manyun mendengar jawabannya. Sebab karena sikapnya benar-benar berubah romantis tak seperti biasa. Ajakan nikah, gombalan, perhatian, tak biasa aku terima.

“Kamu pasti kesal karena aku seperti berubah.”

Aku pura-pura tak mendengar sambil melihat pemandangan diluar.

“Aku beneran Van, gak ada yang bisa buat aku nyaman jadi diri sendiri kecuali sama kamu.”

Dia memulai penjelasannya. Bersamaku dia bisa menjadi diri sendiri. Tak harus jaga image jadi seseorang yang gak enakan. Bisa leluasa cerita masalah kantor tanpa harus diceramahi dan digurui balik. Semua keluhannya selalu ku dengar dan apa yang dia mau tak pernah ku komplain.

“Ya kan karena kita temen mblo. Wajarlah kalau kamu merasa nyaman.”

“Tapi apa kamu gak ada rasa pada aku Van?”

Aku tak bisa menjawab. Dia melirikku sambil menyetir. Gang rumahku semakin dekat. Tapi laju mobil sepertinya tidak ada tanda-tanda belok kiri. Dia masih fokus dengan kecepatannya. Hingga gangnya terlewati.

“Rumahku kelewatan Ben.” Kali ini aku menyebut namanya. Karena dia sudah tak menyebutku mblo seperti biasa kala meledek.

“Kamu beneran gak mau jawab? Kamu mau kelewat kayak gang rumahmu?”

Aku menghela napas. Tak mudah menjelaskan pada jomblo tebar pesona ini.

“Bagaimana tanggapan keluargamu tentang aku. Aku seniormu.”

“Memang kenapa?”

“Kamu bilang ingin yang lebih muda biar kamu bisa punya anak.”

Ganti dia yang terdiam. Penjelasanku adalah memutar balikkan apa yang pernah dia katakan tentang semua keinginannya kelak waktu menikah. Tentang calon istri yang dia idamkan dan tentang kehidupan rumah tangga yang seperti apa.

Ben tak menjawab lagi. Hingga akhirnya mobilnya belok di gang rumahku dari jalan satunya.

“Maafkan aku saat itu. Aku masih belum berpikir dengan baik. Tapi yang jelas, kata-kataku semalam adalah sungguh-sungguh. Aku akan menunggumu sampai kapanpun.” Katanya kemudian setiba di depan rumahku.

“Terima kasih Ben, tapi mungkin sebaiknya kita mengenal satu sama lain lebih dulu. Aku akan menerimamu tapi tidak sekarang. Kamu harus menyelesaikan apa yang ada didirimu. Setelah itu, tanyakan pada hatimu. Benarkah aku yang kamu inginkan. Bila jawabannya masih sama datanglah padaku, bila tidak, aku tidak keberatan kamu memilih yang lain.”

Aku meninggalkan Ben untuk merenung. Kehidupan pernikahan bukan sebuah permainan. Aku tahu, aku sudah cukup usia untuk menikah. Tapi bukan berarti aku terburu-buru memilih pasangan. Walau aku sudah mengenalnya lama, namun aku harus memastikan apakah dia benar dengan hatinya atau hanya kehendaknya sesaat.

“Hubungi aku 3 bulan kemudian. Beritahu aku keputusanmu nanti. Aku akan menerima apapun itu.”

Ben hanya menatapku dari balik jendela kaca. Aku melambaikan tangan dan menyuruhnya pergi. Lama dia menatap. Kemudian menutup jendela kaca dan menghidupkan mesin. Melajukan mobil meninggalkan rumahku.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelatihan Dai Milenial, LDNU : Dakwah Bukan Cuma Lewat Mimbar

    Pelatihan Dai Milenial, LDNU : Dakwah Bukan Cuma Lewat Mimbar

    • calendar_month Sab, 16 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 230
    • 0Komentar

    Para peserta pelatihan dai milenial oleh PC LDNU Pati yang dilangsungkan di Gedung MWCNU Wedarijaksa, Jumat (15/10) lalu. WEDARIJAKSA – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama  (LDNU) Kabupaten Pati mengadakan pelatihan da’i milenial, Jumat (15/10) di Gedung MWC NU Wedarijaksa. Kegiatan ini sudah berjalan selama dua tahun.  “Ini kali ke delapan, dan menjadikan NU Wedarijaksa sebagai tuan […]

  • MA-MTs Darul Falah Gelar Sosialisasi Pembentukan Pimpinan IPNU IPPNU

    MA-MTs Darul Falah Gelar Sosialisasi Pembentukan Pimpinan IPNU IPPNU

    • calendar_month Sel, 9 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Para pemgurus Komisariat MA dan MTs Darul Falah Cluwak bersama para pengurus PAC IPNU/IPPNU Cluwak CLUWAK – Departemen Jaringan Sekolah Pesantren (JSP) PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Cluwak mengadakan sosialisasi pembentukan Pimpinan Komisariat MTs-MA Darul Falah pada Minggu (7/11). Kegiatan tersebut bertempat di MA Darul Falah dan dimulai pada pukul 09.30 WIB.  Sosialisasi ini dihadiri oleh Ainur […]

  • Fiqih Sebagai Etika Bersosial

    Fiqih Sebagai Etika Bersosial

    • calendar_month Sel, 3 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 285
    • 0Komentar

    KH.Abdul Ghoffar Rozien (Ketua Staimafa, Pati) mengatakan; “Meskipun KH. MA Sahal Mahfudh telah wafat, Kiai Sahal seolah-olah masih terasa menemani. Pemikiran dan ide-ide segar beliau masih terasa relevan untuk kondisi bangsa saat ini. Gagasan tentang fiqh sosial yang menjadi keahlian beliau merupakan kontribusi berharga bagi komunitas pesantren dan Umat Islam di negeri ini.” Pemikiran dan tindakan Kiai Sahal […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Lailatul Qadar dan Teknologi Alquran

    • calendar_month Ming, 15 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.036
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Al-Quran bagi saya adalah kitab teknologi. Agak aneh po kedengarannya? Ya, bisa jadi demikian. Nah, di dalam momentum akhir Ramadan ini, kita perlu mengkaji lagi Lailatul Qadar (baku: Lailatulqadar) sebagai “bonus” yang diberikan Allah Swt di bulan suci Ramadan.   Lazim kita jumpai, suasana spiritual umat Islam di dunia sering […]

  • Dindikpora Dapuk Dosen INISNU Temanggung Jadi Juri Jambore Pemuda

    Dindikpora Dapuk Dosen INISNU Temanggung Jadi Juri Jambore Pemuda

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Temanggung – Dalam rangka pengiriman peserta pada Jambore Pemuda Jawa Tengah Tahun 2023 dengan tema “Semangat Muda Dalam Menjaga dan Melestarikan Budaya dan Keunggulan Daerah” yang akan dilaksanakan di Kota Surakarta pada tanggal 18 sampai 21 September 2023 mendatang, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Dindikpora) Kabupaten Temanggung mengadakan rapat koordinasi dewan juri dalam rangkaian seleksi […]

  • Pelantikan Pengurus NU dan Fatayat NU Dukuhseti Dihadiri Kiai Aniq

    Pelantikan Pengurus NU dan Fatayat NU Dukuhseti Dihadiri Kiai Aniq

    • calendar_month Jum, 25 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Tausyiyah KH. Aniq Muhammadun, Rois Syuriyah PCNU Pati DUKUHSETI – MWC NU Dukuhseti, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU beserta 14 Pengurus Ranting NU dan PR Fatayat NU se-Dukuhseti telah benar-benar absah untuk menjalankan tugas. Semua jajaran dalam kepengurusan tersebut resmi dilantik, Jumat (25/2) siang tadi,  Pelantikan yang dilangsungkan di Gedung Haji Dukuhseti itu dihadiri […]

expand_less