Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Bidadari Berlampu

Bidadari Berlampu

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
  • visibility 117
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Setelah menarik napas melalui hidung dan menghembuskannya lewat mulut sebanyak tiga kali, Shanaya memberanikan diri mengucapkan sebuah “assalamu’alaikum” yang lirih dan sedikit serak sambil mengetuk pintu dengan halus.

 Ia pandang lagi tulisan besar “Ruang Dekan” di atas pintu itu dengan perasaan was-was. Benang kusut di kepalanya bertambah kusut akibat insiden salah kirim pesan beberapa saat yang lalu. Benaknya diliputi kegelisahan. Wajah Juan yang bersungut-sungut dan Nikhil yang tertawa mengejek menari-nari di pelupuk matanya. Ia harap bayang wajah kedua lelaki itu hilang dan tenggelam ke dasar bumi seperti handphone yang ia coba benamkan ke dalam tas.

“Wa’alaikumsalam … silahkan masuk!” sebuah suara membuat degup dalam dada Shanaya semakin kencang. Hati-hati ia dorong handle pintu flush berwarna hitam kelam. Dengan segera ujung-ujung jarinya terasa dingin dan kedua kakinya serasa gemetaran.

Tanpa Shanaya mendongak, ia tahu dua pasang mata itu sedang membidiknya.

“Selamat siang, Bu Twiena,” sapanya sambil membungkuk hormat dengan suara yang teramat lirih.

“Siang. Silahkan duduk.”

Hanya selarik kalimat, tapi sukses membuat Shanaya semakin mengerut. Seolah dia sudah bisa meraba kalimat apa yang akan terlontar selanjutnya. Cara bicara perempuan bergelar Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Sultan Hasanudin itu memang selalu ringkas, tegas dan lugas. Gesturenya tenang tapi selalu mampu membuat orang sungkan dan ketakutan. Mungkin karena jarang tersenyum dan selalu bicara secukupnya. Mungkin juga karena jabatan dan ilmu yang dimilikinya. Setiap berhadapan dengan dosennya satu ini, Shanaya selalu teringat dengan Professor Minerva Mcgonagall, salah satu penyihir terkuat yang ada di Hogwarts—yang juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah sekaligus penanggung jawab asrama Gryffindor.

“Mbak Shanaya, kecerobohanmu hampir mencelakakan kami semua,” ujarnya setelah saling berbasa basi secukupnya.

“Maafkan saya, Bu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Tadi pagi saya baru saja menjenguk Bu Kurniasih ke rumah sakit dan mewakili kampus untuk meminta maaf pada keluarganya. Untung saja pasienmu itu bisa mentas dari masa kritis. Coba kalau tidak?”

Bu Twiena memijit pelipisnya. Helaan napasnya terdengar berat. Membuat pita suara Shanaya seperti tercekik. Semua kalimat yang ia rangkai tadi seketika ambyar semua.

“Jangan sampai salah jurusan ya, Mbak. Orang kesehatan harus sadar bahwa hidupnya sepenuhnya didedikasikan untuk menolong orang. Jangan pernah mikir dapat apa, dapat uang berapa. Semua kepentingan pribadi harus dikesampingkan. Coba dalami lagi jiwa Florence Nightingale-nya.”

Hampir mirip dengan nasehat dari Bidan Eko. Tapi cara penyampaian Bu Twiena memang selalu lebih tajam. Sepertinya baru kali ini Shanaya mendengar Bu Twiena berbicara panjang lebar.

Shanaya sangat menyesal tak pernah belajar dengan baik selama kuliah. Mungkin ia memang salah jurusan. Selama ini hidupnya bukan didedikasikan untuk menolong orang, melainkan untuk kekasihnya, Juan. Tapi kali ini Shanaya berjanji akan belajar lebih serius dan menanamkan jiwa Florence Nightingale dalam dirinya.

Florence Nightingale adalah pelopor perawat modern, penulis dan ahli statistik. Ia dikenal dengan nama Bidadari Berlampu atas jasanya yang tanpa kenal takut mengumpulkan korban perang pada perang Krimea di semenanjung Krimea, Rusia. Ia juga mendapat julukan “Wanita Pembawa Pelita” dari orang-orang di medan perang. Sedangkan Hendry Dunant menjulukinya sebagai pelopor pertama Palang Merah. Nightingale menginspirasi bahwa hidup akan bermakna jika melakukan sesuatu untuk orang lain.

Shanaya kembali mengingat cerita sejarah tentang Florence Nightingale dalam sebuah buku yang pernah ia baca. Mungkin karena ia tak begitu suka buku non-fiksi hingga kurang merasuk ke dalam jiwa saat membacanya. Ia lebih suka buku berbau fiksi seperti novel. Ia baru sadar jika ia mirip Florence—setidaknya di kategori tak hanya sebagai tenaga medis tapi juga seorang penulis. Perbedaan terbesar adalah Florence di jalan yang lurus, sedangkan Shanaya di jalan yang melenceng.

“Iya, Bu sekali lagi maafkan saya, Bu, Hukum saya apa saja asal tidak di DO, Bu.”

Hati Shanaya melolong-lolong, berharap kesalahannya akan dimaafkan dan Bu Twiena mau berbaik hati untuk tidak menghukum atau men-DO-nya

 “Siapa yang bilang kamu di-DO?” 

Kalimat Bu Twiena membuat wajah Shanaya sedikit mendongak. Ada perasaan lega yang langsung menyambutnya. Tapi perasaan lega itu sekonyong-konyong sirna. Harapan Shanaya tidak terkabul begitu saja. Sebab Bu Twiena sudah menyiapkan ganjaran yang pantas untuknya. Meskipun tidak lebih berat dari DO, tapi tetap saja ini bukan hukuman sepele.

“Masa PKL saya tambah satu semester lagi ya.”

Seperti ada sebuah palu yang diketok tiga kali di atas meja hakim. Shanaya tak mungkin menyanggah meski hatinya menjerit-jerti pilu. Nyalinya ciut dan wajahnya sepucat mayat.

 What? Satu semester lagi? Bisa sampai beruban itu rambut.

“Baik, Bu. Terimakasih, Bu. Terimakasih atas kemurahan hati jenengan.”

Kemurahan hati gundulmu!

Berteriaklah, jika kamu ingin berteriak, Sufu Shanaya!

Lepaskan semua beban yang menindih jiwa!

“AAAAAAAAaaaaaaaa ….”

Shanaya berteriak sekuat tenaga hingga tenggorokannya sakit saat sudah berhasil menapakkan kaki di area parkir. Satu semester bukanlah waktu yang sedikit. Ini saja baru setengah perjalanan ia arungi, mengabdi di RB milik Bidan Eko. Dan harus ditambah enam bulan lagi? Itu berarti ia harus rela dijuluki mahasiswa PKL lumutan.

“It’s Ok, Shanaya all is well. All is well. Nggak apa-apa satu semester lagi. Itung-itung nambah ilmu dan pengalaman. Ye, kan?” hiburnya pada diri sendiri sambil mengatur napas.

Satu urusan sudah terlalui. Shanaya cukup menyiapkan mental selanjutnya untuk menghadapi urusan berikutnya. Ia harus ke rumah sakit untuk meminta maaf secara langsung pada Bu Kurniasih dan keluarganya. Beruntung rumah sakit sebagai lab school fakultasnya berada satu komplek dengan kampus. Ia hanya perlu menaiki motor bebeknya mengitari area kampus untuk sampai ke rumah sakit.

Segera ia pakirkan motornya di area parkir dekat Eye Center. Ia paksa langkah beratnya menuju bangsal VIP di mana Bu Kurniasih di rawat. Ia tahan rasa lapar yang datang mendera. Kali ini ia tak mau menunda-nunda. Meski sudah terus-terusan menggumamkan mantra di film 3 Idiots “All is Well” tetap saja Shanaya grogi tak keruan. Ketakutan itu semakin besar ketika sudah berada di lorong bangsal Ibnu Sina. Ia baru sadar sudah terlalu nekat dengan datang sendirian.

“Shanaya … goblok banget sih kamu.”

Shanaya menghentikan langkahnya. Ujung sepatunya seperti mencengkeram lantai rumah sakit.  Ia seperti patung di tengah-tengah para pembesuk yang sedang berlalu lalang. Ia meraup mukanya gelisah, sambil memutar otak mencari sebuah nama yang sekiranya bisa ia mintai pertolongan. Detik kemudian, pasang matanya berubah seperti lampu pijar ketika nama itu terlintas. Magda.

“Ah, kenapa nggak dari tadi sih nelpon tuh anak. Bukannya dia PKL-nya disini ya?” racau Shanaya sambil merogoh handphone-nya. Lalu bergerak cepat menelepon sahabatnya.

“Halo, Bestiiiii … gimana kabar?”

“Da … dimana?”

“Di rumah sakit lah.”

“Bisa ketemu sekarang nggak? Genting nih!” Shanaya menggigit-gigit kukunya.

“Duh, maaf banget ya … ini lagi dapat pasien. Aku nggak bisa ninggalin meski baru pembukaan satu. Ibunya udah kesakitan mulu.”

“Oh,” jawab Shanaya lesu. Entah kenapa Magda seperti menyindirnya.

“Genting ada apa sih?”

“Nggak sih nggak genting amat. Lebih genting pasien kamu. Kamu beneran jangan ninggalin pasiennya ya. Ntar nyesel,” ujar Shanaya sebelum memutus sambungan telepon. Ia coba membesarkan hati saat menilik papan notifikasi. Juan dan Ayah seperti berlomba mengirimi pesan untuknya. Dengan ragu ia tekan icon telepon pada kontak Juan untuk menghubungi lelaki itu. Ia pikir tak ada salahnya meminta bantuan kekasihnya sekalian meluruskan kesalahpahaman.

“Halo, Cinta kok baru nelpon sih?” sapa Juan dengan nada gusar begitu telepon terhubung.

“Maaf, Cinta masalahku rumit banget ini. Aku ….”

“Apa maksudmu pernikahan dadakan di pesan tadi?” sambar Juan. Lelaki itu dengan serta merta memotong kalimat Shanaya.

“Itu aku … salah kirim.”

“Salah kirim gimana? Siapa yang nikah? Jangan ngaco kamu!” Suara Juan terdengar mengintimidasi.

“Ceritanya panjang, Cinta. Kamu bisa tolongin aku dulu nggak? Ketemuan yuk nanti aku jelasin,” bujuk Shanaya dengan nada memelas.

“Ya udah aku tunggu. Kamu segera kesini.” Alih-alih menuruti permintaan Shanaya, lelaki itu justru menyuruh kekasihnya yang datang.

“Nggak bisa, Cinta. Aku sedang di rumah sakit.”

“Hah? Ngapain?”

“Ada urusan penting. Kamu bisa nggak nemenin aku?”

“Aku juga ada urusan penting ini. Aku udah janji sama fans, live serempat jam lagi.  Udah, kamu segera ke kos aja!” Sambungan telepon terputus secara sepihak. Juan menutup teleponnya. Shanaya menatap layar ponselnya dengan sorot kecewa dan mulut menganga. Kaca-kaca di matanya hampir tumpah. Ia tak percaya bisa cinta mati dengan lelaki itu.

Tanpa Shanaya sadari satu tetes air jatuh dari tengah netranya. Segera ia usap cepat sambil meneguhkan hati. Bersamaan dengan itu sebuah suara tiba-tiba muncul mengejutkannya.

 “Shanaya?”

Shanaya menoleh dan tak menyangka bisa bertemu dengan lelaki itu di rumah sakit ini. Apa dunia memang benar-benar berubah sempit dan tak selebar daun kelor?

“Alien?”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Akhlak Mulia Begitu Penting Saat ini

    Akhlak Mulia Begitu Penting Saat ini

    • calendar_month Ming, 23 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 181
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Batasan terkadang memberi tantangan bagi manusia. Ada tantangan yang tak boleh dilewati namun ada pula yang bisa diterobos untuk pengembangan diri menjadi lebih baik. Kesadaran itulah yang penting dibangun dalam pembentukan diri. Persoalan “Menerobos Batas” dipilih sebagai tema dalam Suluk Maleman edisi ke-158 yang digelar di rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (22/2) malam. […]

  • PCNU PATI - PAC IPNU IPPNU Gabus Bagikan Takjil ke Masyarakat

    PAC IPNU IPPNU Gabus Bagikan Takjil ke Masyarakat

    • calendar_month Sab, 23 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 137
    • 0Komentar

    GABUS – Puasa Ramadan adalah ibadah yang sangat istimewa. Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, puasa mendapatkan ganjaran langsung dari Allah SWT. “Setiap amalan manusia adalah untuknya sendiri kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku (Allah), dan Aku sendiri yang akan membalasnya,” demikian sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis qudsi. Saat kita berbagi dengan orang lain, hal itu […]

  • Harapkan Ketua IPPNU Terpilih Istiqomah Kawal Pimpinan di Bawah

    Munajat Ketua IPPNU: Semoga yang Terpilih Bisa Istiqomah Kawal Pimpinan di Bawah

    • calendar_month Ming, 17 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 145
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Pati Periode 2019-2023 akhirnya memasuki masa purna. Ketua IPPNU Melisa Yusrina mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus atas pengabdiannya selama satu periode. “Saya juga minta maaf kepada seluruh pelajar NU se-Kabupaten Pati jika ada kekurangan selama kepemimpinan kami,” katanya, di sela-sela Konferensi PC […]

  • PCNU Pati Berikan Masukan tentang Kenaikan Pajak kepada BPKAD

    PCNU Pati Berikan Masukan tentang Kenaikan Pajak kepada BPKAD

    • calendar_month Sab, 19 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 200
    • 0Komentar

      Pati- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, mendatangi Kantor Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) setempat, Sabtu (19/7/2025). Mereka menyampaikan hasil kajian dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU  soal kanaikan tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Pati yang mencapai 250 persen pada tahun 2025 ini. Perwakilan dari PCNU Pati […]

  • TVNU – PB PMII Kolaborasi Gelar Doa Bersama

    TVNU – PB PMII Kolaborasi Gelar Doa Bersama

    • calendar_month Kam, 8 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Zoom meeting Sholawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa oleh TVNU dan PB-PMII Rabu (7/7) malam. JAKARTA-Pengurus Besar PMII bekerja sama dengan TVNU mengadakan sholawat nariyah dan doa bersama Rabu (7/7) malam. Kegiatan tersebur dilakukan secara daring via zoom meeting.  Selain ketua umum PB PMII dan Kopri PB PMII, hadir pula dalam agenda tersebut beberapa […]

  • Ketua Ma'arif Jateng: Alhamdulillah, Dana Bos Madrasah Urung Dipangkas

    Ketua Ma’arif Jateng: Alhamdulillah, Dana Bos Madrasah Urung Dipangkas

    • calendar_month Jum, 14 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 117
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Semarang – Ketua Ma’arif Jateng, Fakhrudin Karmani menyatakan, dana BOS Madrasah tidak jadi dipotong. “Alhamdulillah, Juknis sudah keluar, BOS tidak jadi dipotong!” tegasnya saat penutupan Diklat Pelatihan Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah, di Balai Diklat Keagamaan Semarang, Jumat (14/3/2025). Untuk diketahui, sebelumnya beredar surat dari Kementerian Agama, tentang tindak lanjut efisiensi rekonstruksi belanja Ditjen Pendidikan […]

expand_less