Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Alquran: Kitab Suci STEM

Alquran: Kitab Suci STEM

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 16 Mar 2026
  • visibility 9.993
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Dalam ruang badan riset, lembaga penelitian, atau lorong-lorong kampus, laboratorium modern, atau kelas santifik, idiom Science, Technology, Engineering, and Mathematics alias STEM akrab dinilai sebagai simbol kemajuan peradaban Barat. Kayake memang ngono! Jadi, banyak orang menilai bahwa STEM adalah produk murni modernitas yang lahir dari revolusi ilmiah Eropa, taka da kaitannya dengan Islam.

 

Akan tetapi, ketika kita menengok kembali literatur-literatur, sumber-sumber pengetahuan pada tradisi Islam, kita menemukan fondasi epistemologis bagi cara berpikir ilmiah hakikatnya sudah lama disemai oleh wahyu juga al-kutub al-mu’tabarah yang mengembangkan ayat-ayat Quran. Di sini, Al-Quran memang bukan buku teks sains yang teknis implementatif, namun Al-Quran merupakan kitab penuh dengan isyarat ilmu pengetahuan yang mendorong umat manusia membaca alam secara logis, metodologis, dan rasional.

 

Kitab Suci STEM?

Kitab suci Al-Quran sebagai kitab petunjuk berulang kali mengajak umat manusia mengamati, melihat, dan menganalisis fenomena alam dengan penuh kesadaran intelektual. Misal dalam QS. Fussilat ayat 53 disebutkan:“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat: 53).

 

Dalam ayat ini, Allah Swt akan memperlihatkan tanda-tanda-Nya di segenap ufuk dan pada diri manusia sampai jelas kebenaran wahyu. Ayat ini tentu mengandung dorongan epistemologis yang sangat kuat, yaitu alam semesta merupakan “laboratorium terbuka” bagi manusia. Prinsip ini sangat kompatibel dengan spirit sains modern berbasis observasi empiris berbasis pengalaman. Membaca alam dalam tradisi Islam tak hanya aktivitas intelektual, namun juga bentuk sebuah ibadah karena lewat observasi itu, manusia makin mengenal kebesaran Allah Swt, Sang Pencipta.

 

Kitab suci Al-Quran dalam konteks sains menyampaikan beragam isyarat soal fenomena alam yang selanjutnya menjadi bahan refleksi ilmiah para sarjana/intelektual muslim. Di antara contoh yang sering dibahas yaitu deskripsi soal perkembangan embrio manusia terdapat dalam QS. Al-Mu’minun ayat 12–14 yang artinya:“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian, Kami menjadikannya air mani di dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang menggantung (darah). Lalu, sesuatu yang menggantung itu Kami jadikan segumpal daging. Lalu, segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu, tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta. Kemudian, sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati.” (QS. Al-Mu’minun: 12–14).

 

Ayat di atas ini mengilustrasikan sintak, urutan, atau tahapan penciptaan manusia secara bertahap yang detail, yaitu dimulai dari nutfah (نطفة) (tetesan kecil atau air yang sedikit), ‘alaqah (علقة) (sesuatu yang melekat, segumpal darah, atau menyerupai lintah (leech-like), mudhghah (مضغة) (sesuatu yang dikunyah atau segumpal daging yang seukuran satu kunyahan). Banyak ilmuwan modern terkesan dengan ketepatan narasi di Quran ini dalam menjelaskan proses embriologi. Ayat tersebut bagi umat Islam tentu bukan buku biologi, namun menjadi inspirasi untuk meriset, mengkaji, mendata, menganalisis dan memahami keajaiban penciptaan manusia secara lebih mendalam. Kueren sekali!

 

Sejak awal, tradisi keilmuan Islam melihat alam sebagai sumber ilmu pengetahuan yang harus diriset. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw menegaskan “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” Perintah Kanjeng Nabi Muhammad ini tak terbatas pada ilmu agama saja, melainkan juga mencakup ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Bahkan, Nabi Muhammad memerintahkan untuk menuntut ilmu meski sampai ke negeri Cina. Ini kan revolusioner namanya. Maka tak mengherankan dan takjub saat sejarah peradaban Islam lahir para ilmuwan besar, berpengaruh, dan momumental yang mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, pertanian, fisika, hingga teknik mesin dengan inspirasi dari nilai-nilai wahyu Al-Quran.

 

Selain sains, Al-Quran di dalamnya terdapat kisah-kisah inspirasi teknologi dan rekayasa teknik. Dalam Surat Al-Kahfi ayat 96 artinya: “Berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga ketika (potongan besi) itu telah (terpasang) sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, dia (Zulqarnain) berkata, “Tiuplah (api itu).” Ketika (besi) itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atasnya (besi panas itu).” (Q.S Al-Kahfi: 96).

 

Dalam ayat ini, kisah pembangunan dinding raksasa oleh Nabi Zulkarnain untuk menahan Yakjuj dan Makjuj, dinarasikan penggunaan potongan besi yang dipanaskan lalu dilapisi tembaga cair. Dalam pandangan teknik material modern, kisah ini mengilustrasikan konsep dasar rekayasa logam dan konstruksi struktur. Ibrahnya tak hanya cerita sejarah, namun motivasi bagi umat manusia untuk menggunakan ilmu teknik demi melindungi dan memakmurkan kehidupan.

 

Motivasi teknik seperti ayat tersebut melahirkan banyak perkembangan, dan ditulis lewat karya para ilmuwan Islam seperti Al-Jazari (1136–1206) dengan Kitab Al-Jami’ Bain al-‘Ilm wal-‘Amal al-Nafi’ fi Sina’at al-Hiyal pada abad ke-12. Lewat kitab ini, Abū al-‘Iz Ibn Ismā’īl ibn al-Razāz al-Jazarī mengungkap beragam mesin mekanik dan sistem otomatis yang sering dianggap sebagai cikal bakal robotika modern. Karya tokoh yang sering dijuluki sebagai Bapak Robotika ini menunjukkan spirit observasi pada keteraturan alam yang diinspirasi oleh Al-Quran bisa berkembang menjadi inovasi teknologi nyata yang bermanfaat bagi masyarakat di dunia.

 

Dalam Al-Quran, matematika mempunyai posisi urgen dalam tradisi ilmiah Islam. Misalnya, pada QS. Ar-Rahman ayat 5 yaitu “Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan.” Substansi ayat ini, menegaskan matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Ayat tersebut mempertegas alam semesta bergerak dalam keteraturan matematis yang presisi, bahkan sudah sesuai jadwal alam. Spirit ayat tersebut, kesadaran akan keteraturan tersebut memotivasi para ilmuwan Islam mengembangkan ilmu hitung, aljabar, dan astronomi dengan sistematis. Dalam pandangan ini, matematika menjadi bahasa universal dalam memahami struktur kosmos dan sebagai alat praktis dalam kehidupan sosial.

 

Di antara tokoh matematikawan muslim adalah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi (780–850 M). Pada periode ini, bisa disebut perkembangan matematika Islam mencapai puncaknya. Tokoh yang sering disebut sebagai bapak aljabar. Melalui bukunya Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala atau dikenal di Barat sebagai Algebra al-Khwarizmi, Al-Khwarizmi mengembangkan metode aljabar yang menjadi fondasi bagi matematika modern.

 

Bahkan idiom algoritma dalam dunia komputasi saat ini berasal dari pelafalan nama Al-Khwarizmi dalam bahasa Latin. Artinya, teknologi digital yang kita gunakan untuk membaca Al-Quran di gawai saat ini memiliki akar historis dari tradisi matematika Islam. Lalu, mengapa masih ada yang ragu dalam Islam?

 

Quran, Etnosains, dan STEM

Integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai budaya dikenal dengan pendekatan etnosains, yaitu gabuangan enot dan sains. Dalam dunia pendidikan modern saat ini, pendekatan tersebut mempertegas ilmu tak lahir dalam ruang kosong, namun berkembang sesuai konteks budaya dan nilai tertentu. Al-Quran dengan perspektif ini bisa dimengerti sebagai sumber nilai yang menginspirasi metode berpikir ilmiah dalam umat Islam. Integrasi ini sangat penting dengan tujuan agar pembelajaran sains tak terlepas dari dimensi etika dan spiritual yang membimbing penggunaannya.

 

Apakah hanya berhenti di situ? Tidak. Pendekatan di atas kompatibel dengan teori konstruktivisme perspektif Jean Piaget. Lewat buku-buku Piaget, seperti The Origins of Intelligence in Children (1952), The Construction of Reality in the Child (1954), The Psychology of the Child (1969), dan To Understand Is To Invent: The Future of Education (1973), Piaget berpandangan bahwa proses belajar akan lebih efektif jika pengetahuan baru dihubungkan dengan pengalaman dan keyakinan yang telah dikantongi murid.

 

Artinya, dalam konteks pendidikan Islam, mengorelasikan konsep sains dengan ayat-ayat Al-Quran bisa membantu murid mengerti ilmu pengetahuan dengan lebih bermakna. Di sini, sains tak lagi dinilai sebagai pengetahuan asing, namun sains sebagai bagian dari proses memahami tanda-tanda kebesaran Allah Swt.

 

Dalam paradigma pendidikan modern seperti Outcome-Based Education (OBE), William G. Spady dalam buku Outcome-Based Education: Critical Issues and Answers (1994), mempertegas bahwa tujuan akhir pembelajaran bukan hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas moral. Dalam konteks ini, integrasi STEM dengan nilai-nilai Al-Quran bisa mencetak generasi yang bukan hanya cerdas intelektual, namun mempunyai kesadaran etis dalam menggunakan pengetahuan. Tentunya, teknologi tanpa nilai moral bisa menjadi alat kerusakan. Sedangkan spiritualitas tanpa pengetahuan bisa membuat manusia tertinggal dalam menghadapi tantangan zaman. Bukankah demikian?

 

Intinya, di kolom yang agak panjang ini, Al-Quran sebagai “Kitab Suci STEM” tidaklah memaksakan tafsir ilmiah dengan isyraf alias berlebihan. Namun, hal ini menjadi wujud rekognisi wahyu Allah Swt sudah memberikan spirit epistemologis bagi umat manusia untuk berpikir, meriset, tadabbur, dan membangun peradaban dengan ruh Al-Quran. Kan sudah jelas, bahwa Al-Quran mengedukasi sumber ilmu berasal dari dua ayat, yaitu ayat yang tertulis dalam kitab suci Al-Quran (qauliyah) dan ayat yang terbentang di alam semesta (kauniyah).

 

Problem penting untuk segera diselesaikan pendidik hari ini adalah bagaimana caranya membangun generasi ulul albab, yaitu generasi yang dapat mengintegrasikan zikir, pikir, dan amal saleh. Mereka tak sekadar pandai menggunakan teknologi, namun juga mendalami nilai spiritual yang mendasari penggunaannya.

 

Tanpa adanya nilai wahyu, STEM bisa kehilangan arah moral. Pemahaman Islam tanpa adanya penguasaan sains tentu akan kesulitan menjawab tantangan kehidupan. Ada pandangan lain?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Tegas Dukung Pembongkaran Warung Remang-remang

    PCNU Tegas Dukung Pembongkaran Warung Remang-remang

    • calendar_month Kam, 25 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 296
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id.- Bisnis prostitusi menjadi ladang basah yang sangat menggiurkan. Hal ini disampaikan salah satu mantan pelaku bisnis esek-esek tersebut kepada pcnupati.or.id.  Maka tak heran, usai diratakannya komplek prostitusi oleh Pemda Pati beberapa waktu lalu, kini, bisnis terlarang tersebut kembali menjamur dengan warung remang-remang.  Menyadari hal tersebut, PCNU Pati yang selalu aktif terlibat dalam pemberantasan prostitusi di […]

  • PCNU-PATI

    Kirab Budaya di Bakaran Wetan Berlangsung  Meriah

    • calendar_month Sen, 31 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Kirab Budaya sebagai acara puncak Festival Batik Bakaran 2022 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, pada Minggu (30/10/2022) siang, berlangsung meriah.  Bahkan, seorang pelawak sekaligus aktor, Fevi Hermawan Hidayat Kelana, yang akrab disapa Kang Peppy bersama salah satu presenter tersohor tanah air Fanny Ghassani, turut memeriahkan kirab budaya […]

  • Menjawab Adzan di TV

    Menjawab Adzan di TV

    • calendar_month Kam, 21 Des 2017
    • account_circle admin
    • visibility 244
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr Wb. Bagaimana hukumnya menjawab adzan dari radio ataupun televisi yang biasa sering kita dengar dan apakah adzannya radio ataupun televisi sudah mencukupi sunatnya adzan di tempat itu? Wa’alaikumsalam Wr Wb. Hukum menjawabnya adzan adalahsunat, apabila suara adzan tersebut langsung dari mu`addzinnya, dan apabila dari kaset rekamanmaka tidak sunat. Dan adzan tersebut tidak mencukupi […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Menghitung Kredit. Photo by Towfiqu barbhuiya on Unsplash.

    Kredit

    • calendar_month Rab, 25 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Karena untuk menjadi istiqomah itu amat berat. Selalu tepat waktu dalam kondisi apa saja, dimana saja, dengan siapa dan berbuat apa. Jika sudah mengiyakan sepekan sekali harus ada tulisan ya harus di sempatkan. Seperti halnya kemarin-kemarin jika hari kemenangan tinggal kenangan. Setelah sebulan fuul kita terkekang, menahan lapar, menahan dahaga. Tapi belum mampu menahan rasan-rasan […]

  • SMPIT ITTIHADUL MUWAHIDIN Sowan Ke PCNU Pati

    SMPIT ITTIHADUL MUWAHIDIN Sowan Ke PCNU Pati

    • calendar_month Jum, 13 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Untuk mempernalkan peserta didik terhadap ormas-ormas yang berada di Kabupaten Pati, maka Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu melakukan silaturahmi ke berbagai ormas di Pati, yang pada kesempatan sebelumnya  ke Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan pada  hari  Selasa (10/11/2015) bertepatan dengan Hari Pahlawan silaturahmi ke Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama.             “Saya selaku kepala sekolah mengucapkan banyak […]

  • M. Ngisom (baju hitam) saat menyampaikan materi seputar LTN di Gedung PCNU Kota Semarang

    Pimred NU Online Jateng Apresiasi LTN yang Aktif, Pati Masuk Daftar

    • calendar_month Kam, 14 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 190
    • 0Komentar

    SEMARANG – Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, menggelar FGD penangkalan Hoax, Kamis (14/7) siang ini. Forum diskusi ini diperuntukkab bagi pengurus Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) se-Jawa Tengah. Para peserta yang hadir dalam forum yang digelar di Gedung PCNU Kota Semarang tersebut mendapat pengarahan dari para pemantik. Salah satunya adalah M. Ngisom, Pimpinan […]

expand_less