Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Menunggu Panen

Menunggu Panen

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 18 Jun 2023
  • visibility 305
  • comment 0 komentar

Oleh : Ramli Lahaping

Seiring waktu, Romi makin gandrung mengulang kebiasaannya. Setiap kali berada di waktu senggang, ia akan duduk di teras depan rumah punggunggnya untuk memandang-mandangi sepohon durian montong yang berada di sebelah kanan halamannya. Ia akan memperhatikan buah-buah pohon itu, sembari mengkhayalkan kenikmatan saat nanti ia menyantapnya. 

Kebiasaan Romi itu tambah menjadi-jadi belakangan waktu. Setiap kali bangun pagi atau sepulang sekolah, ia tak akan melakukan aktivitas apa-apa selain memastikan kalau delapan buah durian itu masih menggantung dan terikat tali di atas dahan pohonnya. Itu karena buah-buah durian tersebut telah membulat sempurna dan tampak makin mengkal.

Memang tidak lama lagi buah-buah itu akan masak. Bahkan ayah Romi menaksir kalau buah-buah tersebut sebenarnya telah matang dan sudah bisa dipanen untuk dieramkan hingga masak. Tetapi demi menjamin mutu isi buah, sang ayah terus menahan diri untuk memetiknya. Sang ayah bahkan mengatakan kepadanya kalau buah itu baru akan diturunkan setelah terjatuh dan menggantung pada ikatannya, supaya masaknya baik.

Sudah lebih dari empat bulan Romi memperhatikan sepohon durian itu. Sejak saat bulir-bulir bakal buahnya muncul dan mekar menjadi bunga, lalu terbentuk jadi bulatan buah, hingga makin membesar. Ia menyimak semua proses pematangan buah itu sebagai tontonan yang menarik dan mendebarkan. Ia memantaunya dengan hasrat untuk melahapnya sampai puas setelah masak. 

Tetapi sejak saat itu pula, kekhawatiran Romi tumbuh secara perlahan. Pasalnya, setiap hari, ia terus menyaksikan kalau bakal buah durian itu berguguran. Bunga-bunga yang berlimpah, bulir-bulir yang semarak, hingga buah-buah muda yang bergumpal-gumpal, terus berguguran. Sampai akhirnya, yang tersisa dan bertahan menuju masak, sisa delapan buah saja. 

Atas kenyataan itu, Romi jadi sangat cemas. Ia takut kalau tak ada buah yang bertahan menjadi santapannya. Namun atas penjelasan ayahnya kalau kondisi itu alamiah, bahwa bunga buah yang begitu banyak mustahil bertahan seluruhnya menjadi buah yang masak, cukup membuatnya tenang. Apalagi setelah sang ayah mengatakan kalau delapan buah yang tersisa, sudah terhitung banyak untuk sepohon durian montong berusia hampir lima tahun yang pertama kali berbuah. 

Akhirnya, Romi sekadar berharap-harap cemas dan berdoa semoga delapan buah itu benar-benar bertahan sampai masak untuk ia nikmati. Ia sangat mendambakan kenyataan itu setelah sekian lama ia berharap menyantap buah durian sepuas-puasnya. Sejak dahulu, saat ia menyadari betapa nikmatnya menyantap buah durian dan ayahnya tak punya pohon durian, ia telah mengimpikannya.

Dahulu, kala ayahnya belum menanam sepohon durian montong, sampai saat durian itu belum menghasilkan buah yang masak, Romi memang hanya menggantungkan nafsunya pada kemurahan tetangganya yang punya banyak durian lokal. Bahkan jikalau nafsunya mendesak, ia dan beberapa kawannya akan melanglang ke kebun orang lain untuk mencuri buah durian. Apalagi, ayahnya tentu keberatan untuk membelikannya buah durian dari hasil penjualan tanaman kacang tanah mereka yang tidak terlalu menguntungkan. 

Sebab itulah, atas rengekan Romi soal durian, dan setelah ia beberapa kali ketahuan mencuri durian, sang ayah jadi gusar dan memutuskan untuk menanam sebuah bibit durian montong di halaman depan rumah mereka yang lapang. Sang ayah jelas kasihan melihatnya, serta tidak ingin lagi menanggung malu atas aksi pencuriannya. Karena itu pula, sang ayah memelihara durian itu baik-baik, dengan pemupukan, penyemprotan, dan pemangkasan, agar buahnya bisa lekas dinikmati. 

“Memangnya, seperti apa durian montong itu, Ayah?” tanya Romi kepada ayahnya, tiga tahun lalu, saat keduanya tengah memangkas tunas muda sepohon durian montong mereka, setelah Romi lazim mendengar kata “montong” dan mulai tahu kalau buah durian ternyata banyak macamnya.

“Durian montong itu, jenis durian unggul, Nak; durian hasil penyambungan, bukan durian lokal seperti yang biasa engkau makan,” jelas sang ayah, sekenanya.

Romi jadi makin penasaran. “Lebih baik mana daripada durian teman-temanku?”

Sang ayah pun tersenyum. “Lebih baik durian montong, lah, Nak. Selain rasanya yang lebih enak, memakan durian montong juga lebih memuaskan karena isinya jauh lebih tebal dan bijinya pipih. Selain itu, durian montong juga bisa bikin kaya, loh, sebab harganya bisa bekali-kali lebih mahal daripada harga durian biasa,” terang sang ayah, seperti mencoba membesarkan hatinya dan menyenangkan perasaannya. 

Atas keterangan ayahnya itu, Romi pun terus menghidupkan harapannya atas keberadaan sepohon durian montong tersebut. Ia terus berkhayal bahwa kelak, ia akan menjadi pengeran durian di desanya. Hingga akhirnya, kini, dengan kesabaran dan keuletan ayahnya dalam melakukan pemeliharaan, durian itu tumbuh subur dan berhasil berbuah.

Melihat sepohon durian tersebut berbuah, tak pelak membuat Romi menjadi bangga. Ia bahkan suka menyombong-nyombongkannya kepada teman-temannya yang sebagian besar hanya memiliki durian varietas lokal. Sikapnya itu pun berhasil membuat teman-temannya tak berkutik, sebab varietas durian montong memang dinilai lebih unggul dari segi apa pun.

Dan kini, sepulang sekolah sebagai murid kelas V SD, Romi kembali membicarakan persoalan duriannya itu dengan Gari, seorang temannya yang tak punya pohon durian montong. Ia tak henti-hentinya bersikap congkak dengan menyatakan kalau sepohon durian montongnya lebih baik daripada tiga pohon durian lokal punya Gari. 

“Jangan khawatir. Nanti, kalau buah durian montongku masak, aku akan mengajakmu menyantapnya,” tutur Romi kepada Gari, setelah teman dekatnya itu tampak melemah dalam mengadu keunggulan durian.

“Memangnya, akan ada bagian untukku? Kan, buah durianmu tinggal sedikit; tinggal delapan. Lebih banyak buah durianku,” tanggap Gari, polos dan terkesan merendahkan.

Romi pun jadi kesal. Ia merasa diremehkan. “Tetapi durianku itu durian montong. Buahnya besar-besar. Tidak ada orang yang sanggup menghabiskan satu buahnya dalam sekali makan. Kau cukup makan dua isi bijinya saja, kau pasti sudah puas,” tangkisnya, sebagaimana keterangan ayahnya.

Gari mengangangguk-angguk saja. Ia maklum, sebab ia bisa membayangkan kenyataan itu setelah melihat betapa besarnya buah durian montong tersebut. Ia pun merasa tak berdaya lagi untuk melanjutkan perdebatan. “Baiklah. Aku ingin mencoba juga senikmat apa durian montong itu. Sisakan untuk aku, ya,” pintanya, dengan nada kalah.

Seketika, Romi mengangguk angkuh. “Ya, tentu!”

Sejenak kemudian, Gari menyimpang jalan menuju ke rumahnya, dan Romi melanjutkan perjalanannya sendiri. 

Dengan perasaan penuh harap, seperti kemarin-kemarin, sepanjang sisa perjalanan, Romi kembali tak sabar untuk sampai di rumahnya. Ia ingin segera mengintip buah durian montongnya yang masih menggantung di atas pohonnya. Ia selalu akan melakukan kebiasaan itu untuk memastikan kalau tak satu pun dari delapan buah itu yang lenyap dan luput dari kehendaknya. Ia ingin benar-benar memuaskan nafsu makan duriannya dengan buah-buah tersebut. 

Tetapi akhirnya, setelah sampai di halaman rumahnya, Romi terkejut hebat dan bertanya-tanya. Pasalnya, delapan buah durian montongnya telah lenyap dari atas pohonnya. Padahal, sepengetahuannya, sebagaimana penuturan ayahnya sebelumnya, setiap buah itu sebaiknya baru akan diturunkan dari atas pohonnya setelah masak, yaitu setelah terjatuh dan menggantung di tali ikatannya. Karena itulah, ia jadi sangat penasaran perihal apa yang telah terjadi dengan buah durian itu. Ia sekadar menaksir kalau sang ayah mungkin sengaja memanen buah itu untuk disimpan sampai masak, untuk disantapnya. 

Akhirnya, demi menemukan jawaban atas pertanyaan besarnya, ia pun lekas naik ke atas rumah panggungnya. Setelah menemukan ayahnya yang tengah menonton televisi, ia lantas menembakkan pertanyaan, “Buah-buah durian itu di mana, Ayah?”

Sang ayah lalu bangkit dari posisi baringnya, lalu duduk menghadap sang anak. Ia lalu berucap dengan nada tenang. “Sudah aku panen, Nak,” katanya, dengan senyuman yang kaku. 

“Terus, Ayah simpan di mana?” sergah Romi. 

Seketika, rona wajah sang ayah meredup. “Sudah kujual ke pedagang, Nak.”

Romi sontak merengut. Ia lalu membanting tas gendongnya. “Kenapa dijual, Ayah? Kan, aku mau memakannya!”

Sang ayah pun mendengkus. “Kita lebih butuh uang untuk kebutuhan kita ketimbang makan buah durian itu, Nak. Banyak kebutuhan yang mesti diongkosi.”

Seolah tak bisa menerima alasan apa pun, Romi lalu menangis. 

Sang ayah kemudian bangkit dan menggapai dompetnya di atas lemari. Sejenak kemudian, sang ayah menawarinya beberapa lembar uang sejumlah Rp45.000 yang terhitung banyak untuk uang jajannya sekali pemberian. “Ini bagianmu dari hasil penjualan durian itu, Nak,” tuturnya, sambil menyodorkan uang tersebut. 

Untuk pertama kalinya, Romi menepis uang pemberian ayahnya, hingga uang itu terjatuh ke lantai. “Aku hanya mau buah durian itu!” katanya, tegas, lantas bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu mengunci pintu dan melanjutkan tangisannya. Ia benar-benar kecewa atas keputusan sang ayah yang membuat ia kehilangan kesempatan untuk memuaskan diri dengan memakan buah durian montong itu, juga membagikannya dan menyombongkannya kepada teman-temannya, khususnya kepada Gari.***

Ramli Lahaping. Penulis cerpen kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping) atau Facebook (Ramli Lahaping).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Reformulasi Aswaja Sebagai Manhajul-fikr & Manhajul-amal

    Reformulasi Aswaja Sebagai Manhajul-fikr & Manhajul-amal

    • calendar_month Rab, 14 Mei 2014
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Oleh : DR. Abdul Karim, M.Pd A. Tuntutan Dunia Baru Kehidupan yang terus mengalami perubahan pada semua aspek baik sosial, budaya, ekonomi, dan politik menuntut pembaruan pemahaman aswaja yang menjadi pedoman dalam menjalankan syariat dan pembinaan umat. Bukan menggeser isi dan substansi namun menyelaraskan metode kajian (manhaj) agar hasil pemaknaan teks yang sudah ada menjadi […]

  • Sambut Muktamar NU, Lazisnu Klakahkasian Bagi-Bagi Sembako

    Sambut Muktamar NU, Lazisnu Klakahkasian Bagi-Bagi Sembako

    • calendar_month Ming, 19 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 387
    • 0Komentar

    Satu pikap paket sembako siap diedarkan oleh PR Lazisnu Klakahkasian, Kecamatan Gembong GEMBONG – Para pemuda yang tergabung dalan Pengurus Lazisnu Ranting Klakahkasian, Kecamatan Gembong membuat geger seisi kampung. Berbekal sebuah mobil pikap, mereka berbondong-bondong keliling kampung untuk membagikan paket sembako pada Minggu (19/12) siang tadi.  Ada 115 paket sembako yang disumbangkan oleh Lazisnu Ranting […]

  • MA Manahijul Huda Luncurkan Buku

    MA Manahijul Huda Luncurkan Buku

    • calendar_month Sel, 19 Des 2017
    • account_circle admin
    • visibility 437
    • 0Komentar

    Pati,  MA Manahijul Huda Luncurkan buku perdana yang bertajuk kumpulan puisi dengan judul  “Negeri Puisi”  yang kemarin  dilauncing dan dibedah di Aula  sekolah setempat dengan mendatangkan  Niam At-Majha dan Sahrozi (12/12/ kemarin Buku antalogi puisi yang berisi karya pelajar, alumni dan guru MA Manahijul Huda Ngagel itu adalah buku perdana yang terbit dari penerbit Pilar […]

  • PCNU-PATI

    NU Jakenan Peduli Bagikan 2.450 Paket untuk Korban Banjir

    • calendar_month Jum, 13 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id JAKENAN – NU Jakenan Peduli, Jumat (13/1/23) pagi ini, membagikan 2.450 paket bantuan kepada korban bencana banjir di wilayah kecamatan Jakenan.  NU Jakenan Peduli merupakan gerakan yang diinisiasi oleh MWCNU Kecamatan Jakenan melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBINU) dan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) yang bekerja sama dengan PAC […]

  • Tiga Madrasah Tanda Tangani MoU Sahabat Sains Banin

    Tiga Madrasah Tanda Tangani MoU Sahabat Sains Banin

    • calendar_month Kam, 16 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 371
    • 0Komentar

    Foto bersama K. Yusuf Hasyim (kepala MTs Tarbiyatul Banin) dengan salah satu kepala MI yang menyepakati MoU Sahabat Sains Banin sedang menunjukkan piagam MoU didampingi Pengawas Madrasah Kecamatan Winong. WINONG – MTs Tarbiyatul Banin Winong yang merupakan salah satu madrasah unggulan sains, mulai mengembangkan jaringan ke beberapa madrasah ibtidaiyah. Berlokasi di BLK Tarbiyatul Banin, Rabu […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Ramadan dan Perjumpaan Budaya Lokal

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.830
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ada banyak perjumpaan budaya lokal sebelum, saat, dan setelah Ramadan alias Lebaran Idulfitri. Saya saja banyak menulis soal nyadran, dugeran, dandangan, seperti Penguatan Tasawuf Sosial Lewat Nyadrani (2018), Nyadran dan Penguatan Nasionalisme (2018), Nyadran Jelang Ramadan, Bukan Kemusyrikan (2018), Penguatan Nilai-Nilai Sufisme dalam Nyadran sebagai Khazanah Islam Nusantara (2018), Dugderan: Ekspresi Warga Semarang Sambut Ramadan (2025), dan Nyadran, Dugeran, […]

expand_less