Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Embun yang Hinggap di Dedaunan

Embun yang Hinggap di Dedaunan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 20 Mar 2023
  • visibility 533
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Embun pagi dan rerumputan/Hijau daun dan warna bunga/Kicau burung yang hinggap di dahan/Matahari bersinar terang/Dan semua ini semakin kurasa/Sebagai nikmat yang telah Kauberikan/Takkan kulangkahkan kakiku lagi/Tanpa bimbinganmu Tuhan…

Kata-kata di atas adalah lirik lagu yang disenandungkan Chrisye berjudul Hening. Ada rasa syahdu mendengarnya. Indah sekali. Terutama, di saat mendengarnya sambil minum kopi dan memandang persawahan. Hmm, sungguh indah.

Menyesap lagu ini dengan pelan-pelan membawaku pada perenungan bahwa seringkali saya lupa dengan karunia indah dari Tuhan. Tuhan memberi alam ini untuk kita, sebagai khalifah di muka bumi. Embun pagi, dedaunan hijau, kicauan burung, dan matahari yang bersinar, itu semua untuk kita. Oh, malunya diri ini apabila masih juga tidak bersyukur. Oh, betapa tidak tahu dirinya diri ini apabila masih saja mengeluh.

Tak aneh apabila Tuhan begitu sering menyindir kita dengan kata-kata Afala tatafakkarun? Tidakkah kamu berpikir? Fabi’ayyi ala’i rabbikuma tukadziban? Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kaudustakan? Oh, Tuhan telah menohok diriku.

Setiap ada kesempatan, saya mengajak Aghza, anakku, yang masih berusia 4 tahun pergi ke sawah. Dan tampaknya cocok kalau kami berdua kelak menyanyikan lagu tersebut pada saat kami di sawah. Baiklah, terlebih dahulu saya harus menghafalkan dan menghayatinya.

Tiba-tiba saya teringat dengan kata-kata Thich Nhat Hanh, seorang Buddhis, yang mengatakan, “Orang-orang seringkali menganggap berjalan di atas air atau udara adalah suatu keajaiban. Padahal, keajaiban yang sesungguhnya adalah dapat berjalan di atas bumi. Setiap hari kita bersentuhan dengan keajaiban yang tidak kita sadari: langit biru, awan putih, daun-daun hijau, warna hitam, keindahan dari mata anak-anak – kedua bola mata kita. Semua itu adalah keajaiban.” Aduhai indah sekali pernyataan Thich Nhat Hanh tersebut.

Rutinitas aktivitas kadangkala menjadikan kita lupa untuk menyadari keindahan-keindahan yang ada di sekitar kita. Banyak hal tidak kita perhatikan secara seksama. Misalnya saja bunga yang bermekaran di halaman rumah. Kalau kita perhatikan dengan detail dan hikmat, bunga yang sejatinya makhluk hidup itu sedang tersenyum kepada kita, karena dapat hidup berdampingan dengan anggun. Dedaunan yang bergoyang saat diterpa angin, suara-suara bebek dan ayam bersahut-sahutan, bahkan suara jangkrik di gelap malam, memberi nuansa alam ini begitu indah nan syahdu.

Tanpa pernah saya sadari sebelumnya, saat memandikan Aghza juga rupanya memberikan keindahan tiada terkira. Sungguh betapa indah rasanya dia mencium pipiku saat kugendong menuju kamar mandi, saat mengguyur sekujur badannya dengan air hangat maupun dingin. Saat kuusap badannya dengan sabun, sembari bercanda ria. Saat kubedaki punggung dan dadanya sembari kesana kemari tak mau diam. Saat kupakaikan baju dan celana pilihannya sendiri. Saat kusisir rambutnya yang susah diatur. Sungguh itu merupakan keindahan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Belum lagi ketika saya mengajaknya jalan-jalan sore maupun pagi. Dalam perjalanan kami bernyanyi bersama. Seperti yang pernah kami lakukan di suatu minggu sore kami bernyanyi bersama di perjalanan saat menuju alun-alun kecamatan. Kami menyanyikan lagu Garuda di Dadaku dengan penuh semangat. Di saat pulang dari alun-alun, kami berdebat hebat. Dia ingin dibelikan jeruk (entah apa namanya, jeruk yang jenisnya kecil-kecil). Kukatakan, “Ngapain beli jeruk, wong di rumah lagi banyak mangga. Paling gak dimakan jeruknya.” Dia tetap keukeuh. “Emoh, pokoknya beli, beli, beli…” ujarnya dengan nada kesal.

Aku tetap ngotot untuk tidak mau membelikannya, dengan berbagai argumentasi. Dia pun makin keukeuh dan mulai menangis. Aku pun mengalah. Aku pun membelikannya. Jeruk itu memang kesukaannya. Mengingatnya membuatku geli sendiri.   

Mengenang semua itu rupanya begitu indah. Hal-hal remeh yang tampak biasa, ternyata tidak kalah indah dengan hal-hal yang tampak besar. Hal ini senada dengan Melvy Yendra, seorang penulis dan editor, yang menulis status di dinding fesbuknya. Dia mengatakan:

“Saya berbahagia dan menikmati setiap momen saat saya menjalani peran sebagai ayah bagi Aisha (3,5): memandikannya, memakaikan bajunya, memasang pita rambutnya, mengantarnya pipis di malam hari, membersihkan bekas ompolnya, membujuknya makan, merayunya saat ngambek, membereskan mainannya, mendongenginya kalau dia ingin, dan lain sebagainya, karena kelak, ketika dia sudah besar dan bisa melakukan semuanya sendiri, saya akan sangat merindukan semua momen-momen kecil yang terjadi hari ini…”

Saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari peristiwa-peristiwa keseharian. Saya berusaha untuk menghargai setiap momen hidup saya entah dimanapun dan dengan siapapun, dengan penuh makna dan sadar. Karena boleh jadi momen itu tidak akan terulang lagi. Karena boleh jadi, detik itu adalah detik terakhir yang kumiliki.[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Melihat Proses Kreatif Penyair Nuyang Jaimee

    • calendar_month Sel, 5 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 574
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jakarta, Minggu, 3/12/2023,- Ketika memilih ruang puisi, sepenuhnya ia sadar bahwa dirinya telah masuk ke dalam ruang yang begitu sunyi. “Puisi yang telah saya pilih, yang telah anda pilih, yang telah teman-teman semua pilih, yang telah kita semua pilih, adalah sebuah keniscayaan dari hati paling sepi, langkah paling sunyi dan kata tanpa suara paling […]

  • Tarekat vs Syariat. Photo by Fereshteh Ghazisaeedi on Unsplash.

    Tarekat vs Syariat

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 625
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Sering kita temukan, perdebatan sengit antara pengikut tarekat versus pengikut fikih sentris. Forum apapun bisa jadi medan laga siapa yang terbaik di antara mereka berdua. Follower tarekat terbiasa kultus akan amalan-amalan wirid yang mereka lakukan, tanpa mau didikte oleh syariat atau fikih (dalam batas tertentu). Sementara kubu sebelah bangga dengan fikih […]

  • Kelas Advokasi Non-Litigasi HMPS HKI UIN Gus Dur, Suarakan Keadilan di Media Sosial

    Kelas Advokasi Non-Litigasi HMPS HKI UIN Gus Dur, Suarakan Keadilan di Media Sosial

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.288
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Keluarga Islam (HKI) mengadakan Kelas Advokasi Non Litigasi yang bertempat di Aula Fakultas Syariah UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan selama tiga hari, Rabu, Jumat dan Sabtu (5,7,8/11/2025). Kegiatan yang diikuti oleh 32 peserta ini menghadirkan lima narasumber yang punya pengalaman di bidangnya. Salah satu materi pada acara […]

  • MA Salafiyah Kajen Pati Jalin Kerja Sama Strategis dengan UIN Walisongo Semarang

    MA Salafiyah Kajen Pati Jalin Kerja Sama Strategis dengan UIN Walisongo Semarang

    • calendar_month Sel, 8 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 665
    • 0Komentar

      Pati, Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Pati, resmi menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan di sela acara Reuni Akbar dan Temu Alumni Nasional yang digelar di kompleks MA Salafiyah Kajen, Sabtu (5/7/2025). Penandatangan MoU dilakukan langsung oleh Kepala MA Salafiyah Kajen, Masrukhan, M.Pd, dan […]

  • Photo by Mufid Majnun

    Pedoman Politik ala Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Sab, 16 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 709
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, M.A Dalam menyambut pesta demokratis yang rutin bergulir setiap lima tahun sekali. Sebagai warga Negara Republik Indonesia tentunya memiliki hak pilih untuk menentukan pilihannya masing-masing. Hal ini sangat wajar karena setiap orang memiliki karakteristik dan pendapat tersendiri. Sehingga sebagai warga negara yang baik, harus bijak dan bisa menyikapi sebuah pemandangan perbedaan demi […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Kam, 18 Feb 2016
    • account_circle admin
    • visibility 592
    • 0Komentar

    Assalamualaikum Wr Wb. Saya mau Tanya, HP saya android dan didalamnya ada aplikasi alqur’annya, apakah saya boleh membawanya dalam keadaan tidak memiliki wudlu’, dan bagaimana hukum membawanya ke toilet, mohon penjelasannya. Terima kasih. Wa’alaikum salam Wr Wb. Hukum membawanya dalam keadaan tidak memiliki wudlu` (hadats) adalah haram jika aplikasi tersebut dibuka dan menampilkan tulisan alqura’an […]

expand_less