Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ziarah Ke Yerusalem

Ziarah Ke Yerusalem

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Jan 2023
  • visibility 135
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Muslim yang mampu di setiap negara berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, sebagai pelaksanaan rukun Islam yang kelima. Tentu, banyak kalangan muslim bercita-cita bisa berhaji ke tanah suci itu. Tak terkecuali kedua orangtua saya. Pada suatu ketika saat pulang kampung, saya bincang-bincang dengan mereka. Dari pembicaraannya, saya tahu bahwa mereka begitu ingin sekali menunaikan ibadah haji, sekali seumur hidup. Ada rasa sedih mendengarnya. Sedih karena turut merasakan apa yang mereka rasakan. Sedih, lantaran sebagai anak, saya belum bisa membantu mereka, yakni dapat membiayai mereka berhaji.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mendengar doa orangtuaku dan doa-doa yang mendoakan kedua orangtuaku. Siapa tahu Tuhan mengabulkannya, entah dengan jalan apa. Kami tidak tahu. Mungkin Tuhan punya rencana. Tuhan Maha Kuasa. Boleh jadi Tuhan sedang menguji orangtuaku, seberapa kuat azzam mereka. Tuhan memberi pelajaran, menuju perbuatan baik membutuhkan niat dan usaha yang kuat. Mungkin Tuhan hendak “bercanda” sampai mana kedua orangtuaku bisa menjaga niatnya dengan ikhlas dan seberapa besar persiapan dan usaha mereka dalam meraih mimpinya?

Saya teringat sebuah cerpen karya Leo Tolstoy berjudul “Ziarah” dalam buku Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu (2011). Diceritakan, awal abad ke-19 di sebuah desa di Rusia, ada dua orang lelaki tua (Efim dan Eliyah) yang telah merencanakan untuk pergi berziarah ke Yerusalem (Palestina). Nahasnya, rencana tersebut sulit diwujudkan. Selalu saja ada alasan untuk menundanya, baik soal materi maupun pekerjaannya. Efim, misalnya, dia selalu disibukan oleh pekerjaannya yang segunung, di samping ingin konsentrasi membangun rumah barunya.

Sedang Eliyah, selalu terbelit oleh uang, lantaran penghasilannya pas-pasan. Namun, kehidupan keluarganya yang pas-pasan tersebut, justru dialah kemudian yang meyakinkan Efim untuk berangkat ziarah pada musim semi tahun itu juga. Tidak boleh ditunda-tunda lagi, karena tidak ada waktu yang benar-benar tepat, menurutnya. Tentu saja karena usia mereka yang semakin uzur. Bisa dibayangkan, pada waktu itu perjalanan ke Yerusalem dari Rusia membutuhkan waktu berbulan-bulan. 

Musim semi tiba, mereka pun berangkat menuju Yerusalem. Dalam perjalanan, Eliyah kehabisan air. Dia kehausan. Dia kemudian bermaksud berkunjung ke sebuah rumah untuk meminta air minum. Sedang Efim disuruhnya untuk melanjutkan perjalanan, tidak perlu menunggunya. Nanti Eliyah akan menyusulnya dan mereka akan bertemu di suatu tempat. Ketika Eliyah mendatangi suatu rumah, dia melihat keluarga di rumah tersebut sedang sekarat dan kelaparan. Alih-alih hendak meminta air, dia malah harus menolong keluarga tersebut yang sedang menderita.

Eliyah pun memutuskan untuk membantu keluarga tersebut. Dia merawat mereka dengan penuh keikhlasan. Berhari-hari Eliyah hidup di situ. Dia membelanjakan uangnya yang sudah dia kumpulkan sekian lama untuk membeli makanan, menebus tanah mereka yang tergadai, membelikan seekor sapi, kuda, dan lain-lain. Akhirnya keluarga itu dapat hidup normal kembali. Sadar dengan uangnya yang tinggal sedikit, Eliyah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Dia memilih kembali ke desanya.

Sedang Efim menunggu di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati. Lama ia menunggu. Pikirnya mungkin Eliyah sudah mendahuluinya yang tidak dia ketahui. Akhirnya ia melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Yerusalem. Sesampainya di sana, dia melihat Eliyah di tengah kerumunan orang yang sama-sama sedang berziarah. Tampak Eliyah sedang khusyuk berdoa. Awalnya ia tak yakin itu Eliyah, sahabatnya. Tapi, begitu tahu ciri-ciri dan gerak-geriknya, dia akhirnya yakin itu adalah Eliyah. Anehnya, saat Efim hendak menghampirinya, tiba-tiba Eliyah menghilang. Begitu juga saat di tempat ziarah lainnya, Efim melihat Eliyah, dan pada saat mendekatinya, dia kehilangan jejak. 

Setelah semua tempat peziarahan dikunjungi, Efim kemudian kembali ke desanya. Dalam perjalanan dia melewati rumah yang dulu disinggahi Eliyah. Desa tersebut kondisinya lain pada saat ia pertama kalinya melihatnya, yakni pada saat menuju Yerusalem. Efim dijamu dengan baik di rumah tersebut. Tuan rumah di situ menceritakan seorang musafir yang telah menolong mereka, hingga akhirnya mereka dapat hidup makmur. Pada saat mereka menceritakan ciri-ciri musafir tersebut, yakinlah bahwa dia adalah Eliyah, sahabatnya.

Cerita itu lumayan membingungkan Efim tentang sahabatnya itu. Sebenarnya Eliyah pergi tidak sih ke Yerusalem? Bukankah Efim melihatnya di sana? Tapi, katanya dia berada di sini selama Efim di Yerusalem. Pertanyaan itu dibawanya pulang. Ketika sampai di desanya, Efim diberitahu keluarganya bahwa Eliyah sudah berada di rumahnya sejak lama. Dia lalu pergi menuju rumah Eliyah.

Keduanya bercengkrama layaknya dua sahabat lama tidak bertemu. Namun, Efim tidak menceritakan bahwa dirinya melihat sahabatnya itu di Yerusalem. Semua pertanyaannya dia pendam. Begitu juga Eliyah, tidak menceritakan usahanya saat dia membantu sebuah keluarga di sebuah desa yang sedang kelaparan. 

Kisah di atas mengajarkan bahwa hakikat ibadah, temasuk ibadah haji, adalah memberi efek positif bagi individu maupun sosial. Ya, ada aspek sosial dari ibadah haji, bukan semata-mata aspek individual. Niat dan keikhlasan dalam melakukannya adalah dua hal terpenting. Apabila keduanya sudah benar, maka berhasil tidaknya untuk bisa beribadah haji bukanlah hal utama lagi. Itu urusan Tuhan. Seseorang yang dapat melakukannya, namun niatnya sudah tidak benar—misalnya karena prestise—maka tidak ada nilainya di mata Tuhan.

Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang sesungguhnya mampu melaksanakan ibadah haji, namun belum bisa berangkat, karena, misalnya, dananya dialokasikan untuk keperluan keluarga atau saudaranya, maka itu sesungguhnya bernilai sangat tinggi di mata Tuhan, karena dia lebih mementingkan orang banyak ketimbang dirinya sendiri.

Boleh jadi kedua orangtuaku sudah mempunyai bekal ongkos, tapi mereka mempunyai keperluan lain untuk anak-anaknya, seperti biaya pernikahan, pendidikan, atau biaya kehidupan sehari-hari, dimana usaha mereka itu mengesampingkan sementara keinginannya naik haji, dan harus menabung kembali. Tentu apa yang dilakukan kedua orangtuaku dicatat Tuhan sebagai sebuah kebaikan yang besar, karena sudah berkorban untuk keluarganya, dengan mengorbankan (sementara) keinginannya naik haji.

Di akhir cerita Efim berujar: “Bahwa di dunia ini Tuhan memerintahkan kepada setiap orang agar bekerja menebus utang kewajiban hidupnya dengan jalan kasih sayang dan pekerjaan-pekerjaan yang baik, sampai ia mati.”[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Memaknai Santri di Hari Santri

    Memaknai Santri di Hari Santri

    • calendar_month Sab, 26 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Santri sebagaimana kita pahami merupakan seorang individu yang mempelajari ilmu agama di pesantren. Namun, makna santri juga tidak hanya terbatas pada aspek pendidikan, melainkan meliputi identitas, nilai-nilai, dan sikap hidup yang tercermin dalam kehidupan keseharian mereka. Sedangkan memaknai santri di hari santri adalah momen penting untuk mengenang peran santri dalam sejarah perjuangan […]

  • PCNU-PATI

    Tahlilan Wah Ala Kampung

    • calendar_month Kam, 13 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin*  Mengejutkan! Kata pertama yang terlontar saat mendengar bahwa ada sebuah desa yang mungkin belum dijamah Google Street View, biaya kematiannya begitu mahal. Bahkan bisa lebih mahal daripada di kota-kota besar.  Cerita ini bermula saat penulis mengantar seorang ustadz untuk mengisi ceramah dalam acara tujuh hari kematian. Tentu cuma orang NU yang […]

  • LTMNU Touring ke MWC Adakan Pelatihan Manajemen dan Fiqih Masjid

    LTMNU Touring ke MWC Adakan Pelatihan Manajemen dan Fiqih Masjid

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 105
    • 0Komentar

    KAYEN, LTMNU. Selasa, 10 September 2019 pengurus LTMNU MWC Kayen menyelenggarakan Pelatihan Manajemen dan Fiqh Masjid se-Kecamatan Kayen bertempat di Masjid Baiturrakhim Desa Pasuruhan Kec. Kayen Kab. Pati. Pelatihan ini merupakan  yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh LTMNU setelah sebelumnya juga diselenggarakan di MWCNU Kec. Gabus dan MWCNU Kec. Wedarijaksa. Pelatihan Manajemen dan Fiqih Masjid ini diikuti […]

  • SMK NU Entrepreneur dan LSP P2 Ma’arif Jateng Uji Sertifikasi Kompetensi Siswa

    SMK NU Entrepreneur dan LSP P2 Ma’arif Jateng Uji Sertifikasi Kompetensi Siswa

    • calendar_month Rab, 26 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 165
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Tegal – Uji Kompetensi Keahlian (UKK) peserta didik merupakan salah satu kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa SMK kelas XII. Selain sebagai kewajiban, kegiatan ini juga memberikan nilai tambah bagi siswa sebagai bekal untuk bersaing di dunia kerja. Dalam hal ini, SMK NU Entrepreneur 01 Lebaksiu Kab. Tegal menggandeng LSP P2 Ma’arif Jateng untuk […]

  • PCNU-PATI

    Peraturan Organisasi Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Ming, 4 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Bahwa anggota adalah unsur penting dalamorganisasi dan sebuah organisasi tidakakan berjalan jika tidak ada anggotanya;b. Bahwa untuk menjadikan organisasiberjalan secara baik danberkesinambungan maka diperlukanpengaturan yang jelas mengenai anggota,sehingga anggota organisasi dapat denganefektif menjalankan kegiatannya;c. Bahwa Peraturan Pengurus Besar NahdlatulUlama tentang tata cara penerimaan danpemberhentian anggota yang ada sudahtidak memadai lagi

  • PCNU - PATI Photo by JuniperPhoton

    Perfect Goodness

    • calendar_month Sen, 15 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami “Sebaik-baik manusia yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, dan sejelek-jelek manusia adalah yang panjang umurnya dan paling jelek amal perbuatannya” (Nabi Muhammad Saw.) Paulo Coelho (2012) mendapatkan cerita dari seorang bernama Carson Said Amer. Ada seorang pengajar yang memulai seminar dengan memperlihatkan selembar uang dua puluh dolar dan bertanya, […]

expand_less