Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ziarah Ke Yerusalem

Ziarah Ke Yerusalem

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Jan 2023
  • visibility 442
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Muslim yang mampu di setiap negara berbondong-bondong pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, sebagai pelaksanaan rukun Islam yang kelima. Tentu, banyak kalangan muslim bercita-cita bisa berhaji ke tanah suci itu. Tak terkecuali kedua orangtua saya. Pada suatu ketika saat pulang kampung, saya bincang-bincang dengan mereka. Dari pembicaraannya, saya tahu bahwa mereka begitu ingin sekali menunaikan ibadah haji, sekali seumur hidup. Ada rasa sedih mendengarnya. Sedih karena turut merasakan apa yang mereka rasakan. Sedih, lantaran sebagai anak, saya belum bisa membantu mereka, yakni dapat membiayai mereka berhaji.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Tuhan mendengar doa orangtuaku dan doa-doa yang mendoakan kedua orangtuaku. Siapa tahu Tuhan mengabulkannya, entah dengan jalan apa. Kami tidak tahu. Mungkin Tuhan punya rencana. Tuhan Maha Kuasa. Boleh jadi Tuhan sedang menguji orangtuaku, seberapa kuat azzam mereka. Tuhan memberi pelajaran, menuju perbuatan baik membutuhkan niat dan usaha yang kuat. Mungkin Tuhan hendak “bercanda” sampai mana kedua orangtuaku bisa menjaga niatnya dengan ikhlas dan seberapa besar persiapan dan usaha mereka dalam meraih mimpinya?

Saya teringat sebuah cerpen karya Leo Tolstoy berjudul “Ziarah” dalam buku Tuhan Maha Tahu, Tapi Dia Menunggu (2011). Diceritakan, awal abad ke-19 di sebuah desa di Rusia, ada dua orang lelaki tua (Efim dan Eliyah) yang telah merencanakan untuk pergi berziarah ke Yerusalem (Palestina). Nahasnya, rencana tersebut sulit diwujudkan. Selalu saja ada alasan untuk menundanya, baik soal materi maupun pekerjaannya. Efim, misalnya, dia selalu disibukan oleh pekerjaannya yang segunung, di samping ingin konsentrasi membangun rumah barunya.

Sedang Eliyah, selalu terbelit oleh uang, lantaran penghasilannya pas-pasan. Namun, kehidupan keluarganya yang pas-pasan tersebut, justru dialah kemudian yang meyakinkan Efim untuk berangkat ziarah pada musim semi tahun itu juga. Tidak boleh ditunda-tunda lagi, karena tidak ada waktu yang benar-benar tepat, menurutnya. Tentu saja karena usia mereka yang semakin uzur. Bisa dibayangkan, pada waktu itu perjalanan ke Yerusalem dari Rusia membutuhkan waktu berbulan-bulan. 

Musim semi tiba, mereka pun berangkat menuju Yerusalem. Dalam perjalanan, Eliyah kehabisan air. Dia kehausan. Dia kemudian bermaksud berkunjung ke sebuah rumah untuk meminta air minum. Sedang Efim disuruhnya untuk melanjutkan perjalanan, tidak perlu menunggunya. Nanti Eliyah akan menyusulnya dan mereka akan bertemu di suatu tempat. Ketika Eliyah mendatangi suatu rumah, dia melihat keluarga di rumah tersebut sedang sekarat dan kelaparan. Alih-alih hendak meminta air, dia malah harus menolong keluarga tersebut yang sedang menderita.

Eliyah pun memutuskan untuk membantu keluarga tersebut. Dia merawat mereka dengan penuh keikhlasan. Berhari-hari Eliyah hidup di situ. Dia membelanjakan uangnya yang sudah dia kumpulkan sekian lama untuk membeli makanan, menebus tanah mereka yang tergadai, membelikan seekor sapi, kuda, dan lain-lain. Akhirnya keluarga itu dapat hidup normal kembali. Sadar dengan uangnya yang tinggal sedikit, Eliyah memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Dia memilih kembali ke desanya.

Sedang Efim menunggu di sebuah tempat yang sudah mereka sepakati. Lama ia menunggu. Pikirnya mungkin Eliyah sudah mendahuluinya yang tidak dia ketahui. Akhirnya ia melanjutkan perjalanannya hingga tiba di Yerusalem. Sesampainya di sana, dia melihat Eliyah di tengah kerumunan orang yang sama-sama sedang berziarah. Tampak Eliyah sedang khusyuk berdoa. Awalnya ia tak yakin itu Eliyah, sahabatnya. Tapi, begitu tahu ciri-ciri dan gerak-geriknya, dia akhirnya yakin itu adalah Eliyah. Anehnya, saat Efim hendak menghampirinya, tiba-tiba Eliyah menghilang. Begitu juga saat di tempat ziarah lainnya, Efim melihat Eliyah, dan pada saat mendekatinya, dia kehilangan jejak. 

Setelah semua tempat peziarahan dikunjungi, Efim kemudian kembali ke desanya. Dalam perjalanan dia melewati rumah yang dulu disinggahi Eliyah. Desa tersebut kondisinya lain pada saat ia pertama kalinya melihatnya, yakni pada saat menuju Yerusalem. Efim dijamu dengan baik di rumah tersebut. Tuan rumah di situ menceritakan seorang musafir yang telah menolong mereka, hingga akhirnya mereka dapat hidup makmur. Pada saat mereka menceritakan ciri-ciri musafir tersebut, yakinlah bahwa dia adalah Eliyah, sahabatnya.

Cerita itu lumayan membingungkan Efim tentang sahabatnya itu. Sebenarnya Eliyah pergi tidak sih ke Yerusalem? Bukankah Efim melihatnya di sana? Tapi, katanya dia berada di sini selama Efim di Yerusalem. Pertanyaan itu dibawanya pulang. Ketika sampai di desanya, Efim diberitahu keluarganya bahwa Eliyah sudah berada di rumahnya sejak lama. Dia lalu pergi menuju rumah Eliyah.

Keduanya bercengkrama layaknya dua sahabat lama tidak bertemu. Namun, Efim tidak menceritakan bahwa dirinya melihat sahabatnya itu di Yerusalem. Semua pertanyaannya dia pendam. Begitu juga Eliyah, tidak menceritakan usahanya saat dia membantu sebuah keluarga di sebuah desa yang sedang kelaparan. 

Kisah di atas mengajarkan bahwa hakikat ibadah, temasuk ibadah haji, adalah memberi efek positif bagi individu maupun sosial. Ya, ada aspek sosial dari ibadah haji, bukan semata-mata aspek individual. Niat dan keikhlasan dalam melakukannya adalah dua hal terpenting. Apabila keduanya sudah benar, maka berhasil tidaknya untuk bisa beribadah haji bukanlah hal utama lagi. Itu urusan Tuhan. Seseorang yang dapat melakukannya, namun niatnya sudah tidak benar—misalnya karena prestise—maka tidak ada nilainya di mata Tuhan.

Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang sesungguhnya mampu melaksanakan ibadah haji, namun belum bisa berangkat, karena, misalnya, dananya dialokasikan untuk keperluan keluarga atau saudaranya, maka itu sesungguhnya bernilai sangat tinggi di mata Tuhan, karena dia lebih mementingkan orang banyak ketimbang dirinya sendiri.

Boleh jadi kedua orangtuaku sudah mempunyai bekal ongkos, tapi mereka mempunyai keperluan lain untuk anak-anaknya, seperti biaya pernikahan, pendidikan, atau biaya kehidupan sehari-hari, dimana usaha mereka itu mengesampingkan sementara keinginannya naik haji, dan harus menabung kembali. Tentu apa yang dilakukan kedua orangtuaku dicatat Tuhan sebagai sebuah kebaikan yang besar, karena sudah berkorban untuk keluarganya, dengan mengorbankan (sementara) keinginannya naik haji.

Di akhir cerita Efim berujar: “Bahwa di dunia ini Tuhan memerintahkan kepada setiap orang agar bekerja menebus utang kewajiban hidupnya dengan jalan kasih sayang dan pekerjaan-pekerjaan yang baik, sampai ia mati.”[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH. Aniq Muhammadun: Pentingnya Kerjasama Umara Ulama

    KH. Aniq Muhammadun: Pentingnya Kerjasama Umara Ulama

    • calendar_month Sel, 3 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 669
    • 0Komentar

    PATI – Dalam membina masyarakat perlu adanya kerjasama yang baik antara umara dan ulama. Demikian disampaikan oleh Rois Syuriah PCNU Kabupaten Pati, KH. M. Aniq Muhammadun, saat memberikan tausyiah dalam acara Gema Pati Bersholawat 2019. Acara Gema Pati Bersholawat 2019 Bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf sendiri digelar di komplek Alun-Alun Pati pada Selasa malam, […]

  • IAIN Kudus PPL di PC Lazisnu Pati

    IAIN Kudus PPL di PC Lazisnu Pati

    • calendar_month Rab, 10 Jul 2024
    • account_circle admin
    • visibility 464
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PC Lazisnu Pati kembali menerima mahasiswa PPL (Praktik Profesi Lapangan) dari kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus pada rabu (10/07). Acara tersebut berlangsung di kantor PC Lazisnu Pati. Dalam pelaksanaan program profesu pengalaman lapangan (PPL) dimaksudkan untuk menciptakan mahasiswa yang unggul dalam bidangnya yaitu manajemen zakat dan wakaf. Dalam hal ini IAIN Kudus […]

  • Revitalisasi Nahdlatut Tujjar, Agenda Muktamar NU ke-35 di Jombang

    Revitalisasi Nahdlatut Tujjar, Agenda Muktamar NU ke-35 di Jombang

    • calendar_month Kam, 13 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 18.080
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Wakil Ketua PCNU Pati Muktamar NU ke-35 di Jombang yang akan terlaksana besok pada 27 sampai 31 Agustus 2026 yang akan datang menjadi momentum strategis untuk melakukan revitalisasi nahdlatut tujjar atau bidang ekonomi, baik yang memperkuat jam’iyyah maupun jama’ah NU. Selama ini, momentum Muktamar NU hanya disibukkan tentang figur calon pemimpin, […]

  • KKN IPMAFA Desa Grogolan Ajak Anak-Anak Garap Kulit Telur

    KKN IPMAFA Desa Grogolan Ajak Anak-Anak Garap Kulit Telur

    • calendar_month Sel, 30 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 544
    • 0Komentar

    Guna membekali anak-anak mengembangkan kreativitasnya, mahasiswa KKN Ipmafa Desa Grogolan berinisiatif untuk melatih anak-anak membuat kerajinan yang mudah dan ekonomis. Maka dipilihlah kolase telur sebagai medianya Aksi anak-anak membuat kolase dari cangkang telur Nur Ami’in, M.Si selaku Dosen Pembimbing Lapangan mengungkapkan jika maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan karya seni rupa yg terbuat […]

  • Tata Busana Karya Guru SMK Salafiyah Kajen Ditampilkan pada Ajang Solo Batik Fashion

    Tata Busana Karya Guru SMK Salafiyah Kajen Ditampilkan pada Ajang Solo Batik Fashion

    • calendar_month Rab, 5 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

    PATI – Salah satu kreasi dari Bintari Kustianingrum, seorang guru Sekolah Menangah Kejuruan (SMK) Salafiyah, Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati, ditampilkan pada ajang Solo Batik Fashion baru-baru ini.  Kegiatan itu dalam rangka memeriahkan hari batik nasional 2022.  Bintari dengan brand ATTAMODA8 membawa nama Pati dalam acara tersebut.   Sejumlah nama besar dalam dunia fashion seperti Itang […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Halal bi Halal. Photo by ibrahim abdullah on Unsplash.

    Ber (makan)an

    • calendar_month Rab, 1 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Syawal adalah musim halal. Dalam hal ini banyak orang mengadakan hajatan, nikahan, tasyakuran dan lainnya. Banyak yang percaya jika mengadakan tasyakuran baik pernikahan atau pun sunatan di bulan syawal penuh keberkahan. Penuh keberkahan bagi yang mengadakan, akan tetapi lain lagi buat tetangga dan saudara; syawal adalah bulan nyumbang dan nikah secara nasional. Saya mengamini hal […]

expand_less