Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Keheningan

Keheningan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 21 Nov 2022
  • visibility 497
  • comment 0 komentar

Oleh : M Iqbal Dawami

“Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.” — Susanna Tamaro

Perjalanan terkadang membosankan. Apalagi menempuh perjalanan jauh. Berjam-jam duduk di kendaraan, semisal bis ekonomi, banyak orang tersiksa. Kebosanan itu ditambah pula oleh hiruk-pikuknya pedagang asongan dan pengamen. Para penumpang  mengisi rasa bosannya biasa dengan tiduran atau melamun. Mereka biasanya malas untuk mengobrol dengan penumpang yang ada di sampingnya.

Saya sendiri sering mengalami semacam itu, sedari dulu, manakala mengadakan perjalanan entah kemana. Tapi, suatu ketika, pada saat berada di bus ekonomi jurusan Purwodadi – Solo saya tidak merasakan rasa bosan itu. Saya merasa riang gembira. Mengapa gerangan? Karena saya menikmati lagu yang disetel oleh sang sopir. Meski sang sopir membawa busnya dengan kecepatan yang luar biasa, tapi saya tidak khawatir sama sekali. Saya sangat menikmati perjalanan itu. Jalanan seperti milik pribadi sang sopir jika bus melaju dengan cepat. Ini adalah khas angkutan umum saya kira.

 Saya berdoa, semoga saja penumpang yang lainnya mempunyai perasaan seperti saya. Mereka tidak stres. Terhibur di tengah suasana yang panas dan berkeringat. Pembaca yang budiman, hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa kita mesti mencoba untuk menikmati suasana seburuk apa pun kondisinya. Kondisi di luar yang buruk jangan sampai masuk ke dalam pikiran dan perasaan kita. Kita harus mampu memfilternya.

Suasana di dalam bus sebagaimana yang saya alami di atas, sebenarnya contoh kecil dari pengalaman hidup manusia lainnya yang lebih kompleks dan berat. Tapi cara mengatasinya sama, yaitu memfilter respons atas pelbagai peristiwa negatif. Barangkali kita pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa buruk yang membuat kita menjadi terpuruk, sehingga Anda merasa menderita dan kesepian.

Barangkali dari situ timbul keinginan untuk melakukan hal-hal negatif, katakanlah bunuh diri, lantaran hidup sudah tidak ada gunanya lagi, dan merasa sia-sia. Oleh karena itu di sinilah pentingnya menjaga diri dari serang-serangan negatif itu. Tentu banyak cara, asalkan punya keinginan untuk menjaga diri dari serangan tersebut. Apakah itu dengan mendekatkan diri pada Tuhan, menyibukkan diri dengan pekerjaan dan aktifitas, atau juga bergabung dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

Menikmati Kesendirian

J. Sumardianta, penulis Simply Amazing, menjabarkan perihal kesepian. Menurutunya kesepian merupakan penyakit yang cepat mewabah pada abad ke-21, bukan flu burung atau flu babi. Suspect kesepian ini meliputi depresi, kanker, alkoholisme, AIDS, narsisme, dan bunuh diri. Kesepian berkorelasi dengan gejala-gejala klinis seperti penyakit jantung, darah tinggi, vertigo, dan stroke.

Sebagaimana dikutip oleh Sumardianta, kesepian, menurut David Riesman, dalam The Lonely Crowd (2001), mewujud nyata dalam: ketersisihan dari orang lain, keterasingan dari diri sendiri, dan kehampaan spiritual.

Banyak orang merasa kesepian hidupnya sehingga merasa tak berguna, menderita, atau perasaan negatif lainnya. Padahal kesepian terkadang memberi makna positif. Terkadang kita membutuhkan merenung dan refleksi. Banyak orang sukses telah mempraktikkannya. Menyendiri adalah saat yang tepat untuk introspeksi. Kita bisa melihat dan menilai lagi sebenarnya kita ini seperti apa. Kita bisa mengenal diri lagi yang barangkali lantaran kesibukan kita “asing” dengan diri sendiri.  

Satu hal lagi, keuntungan ketika sedang kesepian adalah kita bisa mengisinya dengan menyusun strategi hidup sukses.  Kita bisa berpikir langkah-langkah ke depan. Jack Canfield, yang di sini dikenal sebagai penulis buku seri Chicken Soup Series, mengatakan  salah satu langkah awal yang baik untuk memulai ‘pertandingan hidup’ kita adalah membuat goal utama yang akan kita kejar.

 Tiga goal utama saja sudah cukup untuk menjadi star awal yang baik dalam kehidupan kita. Misalnya kita mencoba meningkatkan beberapa hal, seperti mensyukuri hidup atas apa yang telah kita capai, mencintai apa yang kita punya, dan perbanyak memberi. Oleh karena itu, ubahlah kesepian menjadi keheningan.

Perasaan kesepian terkadang menjadi perasaan yang sangat mengerikan. Perasaan ini akan menimbulkan rasa kosong yang mencekam, lalu kita merasa bahwa semua yang kita lakukan selama ini tidaklah berarti. Dalam tahap ini manusia akan masuk pada absurditas dirinya. Padahal, menikmati sepi (baca: hening), ibaratnya menarik nafas sejenak sebelum berlari kembali.

Tak jarang, dalam keheningan inilah kita menemukan pencerahan dan arti hidup yang baru dan awal dari keberhasilan. Sebutlah William Shakspeare, Leonardo da Vinci, Benjamin Franklin dan Abraham Lincoln, mereka sering mengalami keheningan yang berawal dari kesepian dan keterasingan. Keheningan itu membawa mereka keberhasilan.

Begitu juga pendiri Facebook yaitu Mark Elliot Zuckerberg. Dia mendapatkan keheningannya di kamarnya. Dalam keheningannya ia merancang Facebook.  Kesepian dan keterasingan berhasil diubah menjadi kekuatan kreatif yang menakjubkan.

Jika kita meluangkan waktu dalam keheningan, kita akan menemukan begitu banyak kekayaan di dalam diri kita. Keheningan melindungi api yang ada di dalam hati kita. Keheningan sangatlah berharga karena ia adalah sumber untuk pemikiran yang paling bijaksana.

 Gede Prama menggambarkaan keheningan dengan filosofis. Keheningan sudah berkecukupan apa adanya, ujar Prama. Seperti burung terbang di udara, ikan berenang di air, serigala berlari di hutan, matahari bersinar di siang hari, bintang bercahaya di malam hari. Semuanya sudah sempurna apa adanya. Tidak ada hal yang layak ditambahkan atau dikurangkan. Penambahan atau pengurangan mungkin bisa membahagiakan.

Namun dalam kebahagiaan, batin tidak sepenuhnya tenang-seimbang. Selalu ada ketakutan digantikan kesedihan. Dalam kamus orang-orang yang sudah memasuki keheningan, lanjut Prama, sekaya apa pun Anda akan tetap miskin tanpa rasa berkecukupan. Semiskin apa pun Anda, akan tetap kaya kalau hidup berkecukupan.

Seorang kawan mempraktikkan keheningan itu ibarat secangkir kopi, perlu ditenangkan supaya kita tidak perlu meminum ampasnya yang pahit itu. Teh diseduh, kemudian diamkan terlebih dahulu, supaya bubuk-bubuk halus bisa berada di bagian dasarnya, agar kita bisa menyesapnya dengan nikmat.

Jalaluddin Rumi dalam syairnya berujar, “Suatu kekayaan yang tak terbayangkan mengalir dari engkau. Jangan mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh orang asing. Pencilkanlah dirimu di rumah rahasiamu di dalam hati, di mangkuk keheningan itu.”[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPC Resmi Buka Pendaftaran Calon Ketua PC IPNU dan IPPNU Pati

    KPC Resmi Buka Pendaftaran Calon Ketua PC IPNU dan IPPNU Pati

    • calendar_month Kam, 12 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 610
    • 0Komentar

    PATI – Komisi Penjaringan Calon (KPC) IPNU IPPNU Kabupaten Pati baru saja membuka pendaftaran calon ketua IPNU dan IPPNU Kabupaten Pati untuk masa khidmah 2021-2023. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 11 sampai 16 Agustus  2021. Pendaftaran dilakukan di kantor PC IPPNU Kab. Pati, Lt 1. Gedung NU Kab. Pati pukul 13.00 – 16.00 WIB. Abdul Ghofur, […]

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Semua akan NU pada Waktunya

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 474
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Karim Sholikhin* Dulu, dulu sekali, diceritakan bahwa Imam Syafi’i sudah mengajar di Masjidil Haram sebelum usianya genap 12 tahun. Santrinya bukan anak-anak yang masih belajar a-ba-ta, melainkan para syaikh, pemuka agama. Bukan main! Al kisah, di suatu hari di Bulan Ramadhan, Imam Syafi’i mengajar sejak pagi sampai siang bolong. Saat mencapai tengah […]

  • 4 Tips Agar Tetap Produktif saat Weekend. Photo by Andreas Klassen on Unsplash.

    4 Tips Agar Tetap Produktif saat Weekend

    • calendar_month Sel, 29 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 435
    • 0Komentar

    Kebanyakan dari orang-orang sering memanfaatkan weekend untuk rebahan. Iya, kita sering bermalas-malasan alias malas gerak (mager). Tentunya hal itu menjadikan kita tidak produktif.  Nah, agar weekend kalian tetap produktif, lakukan empat hal ini. 

  • Lazisnu Pati Serius Melayani Umat

    Lazisnu Pati Serius Melayani Umat

    • calendar_month Sel, 20 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 517
    • 0Komentar

    Serah-terima bantuan Lazisnu kepada Angga PATI-Angga beserta istrinya mendatangi kantor Lazisnu Pati guna meminta bantuan atas kondisi yang di alaminya beberapa waktu lalu. Angga bercerita bahwa ia sebenarnya bukan orang Pati, melainkan dari Batam. Ia menikah dengan perempuan kelahiran Pati yang ia temui pada saat bekerja waktu itu.  “Dulu saya bertemu istri itu pada saat […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Perempuan Dalam Tradisi Pesantren. Photo by Mufid Majnun on Usnplash.

    Perempuan dalam Tradisi Pesantren

    • calendar_month Ming, 17 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 425
    • 0Komentar

    Tradisi pesantren selama ini yang kita kenal mempunyai kehidupan yang diwarnai dengan norma-norma ajaran Islam. Di mana ajaran Islam ini menekankan pada sikap patuh dan tawadlu’ kepada pengasuh pesantren (kiai). Seperti yang dijelaskan oleh Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya, Tradisi Pesantren, sikap patuh dan tawadlu’ ini bisa terbentuk. Hal ini tidak lepas setiap harinya di lingkngan […]

  • PCNU-PATI Photo by The Cleveland Museum of Art

    Puisi-Puisi Eska Mariska

    • calendar_month Ming, 19 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Pilu Kutatap pilu dua matamu merah-tertahan di antara dua muara hati memekik perih : runtuh bersama kisah sedihmu 1 Maret 2023 Sembunyi dalam Luka Banyak luka menyelami hidupmu menempuh jarak panjang menghadapi kisahmu dengan iringan tawa: yang ternyata duka bersembunyi dalam ramainya isi kepala dan bertahan dalam balutan kepura-puraan luar biasa, bahkan aku tak sanggup […]

expand_less