Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Empat Ibu Pengajian

Empat Ibu Pengajian

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 10 Okt 2022
  • visibility 426
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Empat ibu pengajian duduk sambil ngerumpi. Mereka sedang asyik saling membangga-banggakan anaknya masing-masing. Ibu pertama berkata, “Tahu tidak, anak saya sekarang sudah jadi ustad. Kalau dia masuk ruangan, orang akan menyapa, ‘Assalamu’alaikum, selamat pagi, Ustad.’”

Tak mau ketinggalan ibu kedua berkata, “Yah baru ustad, anak saya adalah seorang kyai. Orang-orang menyapanya, ‘Assalamu’alaikum, selamat pagi Kyai,’” ujar si ibu dengan bangga.

Tentu ibu ketiga tidak mau kalah dari dua ibu tadi. ”Sudah dech, anak kalian belum ada apa-apanya dibanding anakku. Anakku sudah jadi seorang syaikh. Ia disapa banyak orang, ‘Assalamu’alaikum, sobahul khair[1] ya Syaikh.’”

Ibu ketiga ini bangga bukan main dapat mengalahkan kedua ibu tadi yang membanggakan anak-anaknya. Ia merasa di atas angin.

Setelah diam sesaat, ibu keempat yang sadar bahwa anaknya sama sekali tak berada di ‘jalur’ keagamaan dan cari-cari akal agar anaknya bisa unggul. Sesaat dia tersenyum dan berkata, ”Anak saya tingginya dua meter, beratnya 100-an kg, otot semua, dan kalau ia masuk ruangan, orang-orang akan menyambutnya, ‘Oh Tuhan…!’”

Amboi. Ketiga ibu tersebut kalah telak oleh ibu keempat, karena anaknya lebih unggul dari julukan apa pun. Tidak tanggung-tanggung anaknya dianggap Tuhan oleh orang-orang, ketimbang lainnya yang hanya ustad, kyai, atau syaikh.

 Barangkali kita juga sering mendengar kisah yang senada dengan kisah atas. Sudah hal lumrah apabila orangtua yang bangga dengan anaknya. Orangtua mana yang tidak bangga dengan anaknya yang sukses? Tapi kisah di atas hanyalah sebuah parodi, lelucon belaka. Meski lelucon, kisah di atas sarat dengan makna.  Ada kandungan yang bisa kita ambil. Salah satunya adalah perihal bangga.

Bangga pada dasarnya tidaklah dilarang, sah-sah saja. Mungkin sebuah hal yang normal. Namun, akan menjadi terlarang tatkala bangga sudah mencapai tahap sombong. Dalam arti, kebanggaan tersebut membutakan hati dan pikirannya, dimana seolah dirinya yang paling tinggi dan hebat dari yang lainnya sehingga lupa daratan.

Dalam hadis banyak disebutkan perihal bangga ini. Dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, misalnya, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada di samping Nabi saw. Beliau kemudian bersabda, “Celakalah engkau. Kau telah menggorok leher saudaramu. Kau telah meggorok leher saudaramu!” Dalam hadis lain disebutkan pula, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan bahwa Nabi saw. mendengar ada orang yang memuji saudaranya dengan sangat berlebihan. Nabi saw. bersabda, “Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian (kalian telah membinasakannya).” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Nabi melarang untuk memuji atau membanggakan seseorang secara berlebihan dengan pujian yang tidak layak dia terima. Hal itu dikhawatirkan akan menimbulkan rasa bangga diri berlebihan, karena orang yang dipuji mengira bahwa dia memang memiliki sifat atau kelebihan tersebut. Dan kelebihan semu tersebut akan membuat dirinya tidak bersemangat untuk menambah amal kebaikan karena dia sudah merasa yakin dengan pujian tersebut.

Lantas bagaimana pujian dan bangga yang diperbolehkan bahkan mungkin dianjurkan dalam Islam? Pujian dan kebanggaan yang diperbolehkan dalam Islam adalah yang tidak berlebihan dan tidak dikhawatirkan lupa diri. Dengan kata lain, pujian dan kebanggaan tersebut sewajarnya saja, tidak berlebihan dalam memuji, dan tidak berlebihan pula dalam membanggakan diri sendiri, sesuatu atau orang lain. Nabi saw. mengajarkan kepada kita apa yang harus dikatakan pada saat kita memuji. Beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendo’akannya agar diberikan keberkahan kepadanya.” (HR Imam Malik dan Ibnu Majah).

Sungguh luar biasa. Betapa indahnya Rasulullah mengajarkan kepada kita perihal pujian dan kebanggaan. Sesuatu yang rentan disusupi kesombongan diubah menjadi keberkahan. Bisa kita bayangkan, saat kita memuji dengan mempraktikkan ajaran Rasulullah itu, bukan tidak mungkin orang yang kita puji akan termotivasi untuk senantiasa berbuat kebaikan, menambah amal kebaikan, dan memberikan teladan yang baik kepada orang lain. Kalau sudah begitu, yang timbul adalah kebaikan dan menimbulkan pahala.

Kini, orang menyebut “bangga secara berlebihan” lebih populer disebut narsis, yakni tindakan memuji diri sendiri secara berlebihan. Konon, istilah narsis diambil dari tokoh mitologi Yunani “Narcissus”, seorang pria yang sangat tampan, sehingga Dewa Apollo sampai jatuh cinta padanya. Bahkan Narcissus sendiri jatuh cinta pada dirinya. Dia terkesima dengan pantulan dirinya sendiri pada saat melihat melihat wajahnya di danau, dan terus mengaguminya hingga akhirnya ia berubah wujud menjadi bunga Narcissus.

Apabila seseorang dilanda narsis ‘stadium 4’ alias parah, maka itu bukan lagi dinamakan narsis, melainkan eksibisionis. Eksibisionis adalah nafsu pamer kehebatan diri yang berlebihan. Dalam ilmu psikologi, narsis dan eksibisionis adalah bentuk penyimpangan kejiwaan. Jadi, jika kita menemukan di sekeliling kita ada yang senang dengan memamerkan dari dirinya secara berlebihan, maka kita harus menyarankan dia ke dokter kejiwaan.

Narsis maupun eksibisionis dalam bahasa agama (Islam) dinamakan dengan ujub, karena secara bahasa ujub ialah merasa gembira dan merasa baik, menarik, mempesona dan merasa tinggi dan hebat. Sedang secara istilah ujub adalah perasaan senang, gembira dan bangga atas dirinya atau karena ucapan dan pekerjaan yang diikuti oleh perasaan lupa dan lalai atas nikmat Allah yang dia banggakan.

Wajah elok, fisik yang bagus, keturunan ningrat, jabatan prestise, kekayaan melimpah, prestasi dan karya berderet, itu semua adalah karunia Allah sekaligus ujian. Jika manusia lupa semua itu sebagai kenikmatan dari Allah dan membanggakan dirinya sampai lupa bahwa itu karunia Allah yang harus disyukuri maka itulah yang disebut ujub. Ujub adalah penyakit hati berbahaya karena memalingkan dari syukur. Ujub dilarang dalam Islam, dan dianggap sebagai salah satu penyakit hati yang disejajarkan dengan Riya’[2] dan Sum’ah[3].

Tentu bukan berarti kita tidak boleh berpenampilan baik dan memperlihatkan keunggulan kita. Semua itu dibolehkan, asal karena menjaga kebersihan, keindahan, dan kemanfaatan, yang dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan. Dan semua itu dilakukan atas dasar niat yang baik. Hanya Anda sendiri yang tahu  niat tersebut. Di situlah Allah akan menilai kualitas perilaku Anda, apakah murni niat untuk kebaikan atau sebaliknya untuk keburukan yang bertopeng kenarsisan dan keujuban. Hanya Anda yang tahu. 

Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan. Hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim)[]


[1] Selamat pagi

                [2] Melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharapkan pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya.

[3] Menyebut-nyebut amal baiknya kepada orang lain supaya mendapat pujian/ keuntungan.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 500 Vaksin Booster Tersedia di PCNU sampai Besok

    500 Vaksin Booster Tersedia di PCNU sampai Besok

    • calendar_month Kam, 21 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 496
    • 0Komentar

    PATI – Penyaluran 1 juta vaksin booster oleh PCNU Pati telah di mulai Kamis (21/4) pagi tadi. Program ini merupakan buah kerja sama antar tiga komponen, yaitu PBNU, Kementerian Agama dan Polri. Seperti di rilis pcnupati.or.id sebelumnya, Kabupaten Pati memperoleh kuota sebanyak 5000 paket vaksin booster. Pelaksanaan vaksinasi booster Covid-19 yang yang dilaksanakan di halaman […]

  • PCNU - PATI Photo by Markus Spiske

    Anak Berkembang, Orang Tua Harus Cemerlang

    • calendar_month Jum, 26 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Saya berusaha menuntut diri untuk menulis tentang anak-anak secara rutin. Lambat laun menjadi sebuah kesukaan. Bagi saya anak-anak adalah makhluk kecil yang istimewa. Namun seringkali keberadaannya seringkali disepelekan dan dianggap sebagai pelengkap keluarga saja. Bahkan dengan kehadirannya tersebut terkadang membuat kita bertindak sangat dominan atas dirinya dan pilihannya. Meski saat ia belum […]

  • Hukum Mengubur Ari-ari

    Hukum Mengubur Ari-ari

    • calendar_month Jum, 13 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 588
    • 0Komentar

    Pertanyaan : Sudah menjadi tradisi di indonesia khususnya di pulau jawa, bahwa setiapada orang melahirkan, maka mereka (keluarganya) mengubur ari-ari si bayi, di samping atau didepan rumahnya, apa sebenarnya hukum mengubur ari-ari tersebut? Jawaban :Ari-ari yang dalam bahasa arab disebut al-masyimahterdapat dua macam, 1. Tali pusar yang dalam bahasa arab juga disebut al-kholash(bagian yang terhubung […]

  • Ketika Cinta Over Protektif

    Ketika Cinta Over Protektif

    • calendar_month Sab, 26 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 611
    • 0Komentar

      Cintailah cinta dengan sewajarnya, karena cinta yang berlebihan akan membuatmu buta, tak bisa membedakan mana hitam dan mana putih. Bisa jadi pula berlebihan dalam urusan cinta akan berbalik menjadi benci tak terobati. Meskipun kita semua tahu, cinta adalah fitrah manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Tanpa adanya cinta dalam diri manusia kita tak […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    Tanya Jawab Bersama Syuriyah

    • calendar_month Rab, 19 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 540
    • 0Komentar

    Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh Pak kiai, bagaimanat pandangan syara’ tentang kepercayaan makna-makna tertentu dalam setiap prosesi adat seperti adat-adat dalam pernikahan dan sebagainya jika dikaitkan dengan hukum sebab-akibat ? Wa’alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh Pandangan fiqih dalam masalah ini  adalah : Ø  Kepercayaan dihukumi tidak boleh dan menyebabkan seseorang menjadi kafir menurut ijma’, jika dia dengan […]

  • ‎INISNU Temanggung Teken MoU dengan Pemprov Jateng

    ‎INISNU Temanggung Teken MoU dengan Pemprov Jateng

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.563
    • 0Komentar

    ‎ ‎SEMARANG – Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung (INISNU) Temanggung resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangkaian kegiatan Collaborative Awards Jawa Tengah Tahun 2026. ‎ ‎Penandatanganan dilaksanakan pada Jumat, 20 Februari 2026, di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang lalu yang merupakan kerjasama 73 perguruan tinggi swasta […]

expand_less