Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dakwah Berbasis Literasi

Dakwah Berbasis Literasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 16 Apr 2022
  • visibility 447
  • comment 0 komentar

Dakwah memang erat kaitannya dengan orang yang berceramah di atas mimbar dan di sana banyak orang yang berkumpul untuk mendengarkannya. Namun tidak semua orang memiliki kemampuan public speaking yang bagus, maka dakwah dengan cara apapun sangat dianjurkan, asalkan sesuai dengan perintah Allah Swt dan petunjuk Rasulullah Saw yakni dakwah dengan hikmah, dengan kebijaksanaan, dan pelajaran yang baik.

Dalam hal ini dakwah tidak hanya dilakukan dalam bentuk lisan, tetapi juga bisa dilakukan dalam bentuk literasi (baca dan tulisan). Karena esensi dakwah adalah mengundang, mengajak, menuntun, dan mengarahkan masyarakat dalam bentuk kebaikan.

Di era informasi yang begitu cepat dan massif perkembangannya, maka dakwah bil-literasi sangat tepat untuk diaplikasikan oleh beberapa kalangan, baik dari kiai, ustaz, akademisi, dan pegiat literasi lainnya.

engan tujuan untuk saling bersatu dalam memberikan nilai-nilai edukasi dalam penggunaan sosial media. Mengingat tidak semua masyarakat menggunakan ruang sosial media dengan kebaikan, tetapi juga digunakan untuk kepentingan dan kejahatan. Oleh karena itu, dakwah bil-literasi melalui sosial media sangat tepat di era seperti ini.

Perkembangan informasi yang mengalir deras seperti air bah yang tidak bisa dibendung, maka dibutuh cara yang tepat untuk meminimalisir dan membendungnya. Oleh karena itu dibutuhkan solidaritas antar sesama pengguna sosial media untuk memberikan respon kreatif untuk menghadirkan nilai-nilai yang positif.

Selain itu, salah satu langkah yang tepat untuk dilakukan oleh semua kalangan yang tidak memiliki basic public speaking baik adalah dengan menggunakan akun sosial media. Salah satu caranya adalah membangun tradisi menulis. Tradisi menulis di sini merupakan modal penting untuk menghadapi era disrupsi yang sedemikian pesat perkembangannya.

Membangun tradisi menulis harus diawali dengan membangun budaya membaca, karena membaca dan menulis merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, keduanya harus saling bersinergi dan beriringan. Dengan demikian membaca yang runtut dan sistematis akan membentuk sebuah karakter tulisan yang sistematis pula.

Dalam konteks seperti ini, dakwah bil-literasi sangat dianjurkan, mengingat literasi memiliki pengaruh yang sangat luas terhadap para pembaca di seantero dunia. Dengan demikian, dakwah bil-literasi memiliki banyak kelibihan.

Pertama, memberikan banyak manfaat terhadap generasi milenial tentang kajian khazanah agama dikemas dengan bahasa ala milenial yang tidak bertele-tele dan banyak dalilnya, melainkan lebih pada konteks dan relevansi sesuai dengan kebutuhan para generasi milenial yang haus akan nilia-nilai spritual.

Kedua, dakwah bil-letrasi juga akan mempermudah dalam proses penyebaran informasi yang setiap detik, menit, dan jam akan semakin luas proses penyebaran informasi yang sudah kita tulis. Sehingga, melalui dakwah bil-lietrasi cakupan dan spektrumnya lebih luas dan lebih mengena terhadap masyarakat, tidak hanya dari kalangan akademisi, tetapi semua unsur elemen masyarakat.

Ketiga, dakwah bil-literasi, bisa mengefektifkan dan mengefisiensikan waktu kita dalam berdakwah. Misalnya kita buat akun facebook atau fanpage untuk dijadikan sebagai media dakwah. Melalui akun tersebut, kita undang sebanyak-banyaknya teman kita untuk mengklik tombol like fanpage yang kita buat.

Dan jika teman-teman kita sudah me-like fanpage, secara otomatis status yang kita tulis di fanpage akan muncul di beranda teman-teman kita. Bayangkan, jika fanpage yang kita buat itu ada seribu orang yang me-like, maka seribu orang itu akan mendapatkan pesan dakwah dari status fanpage yang kita buat.

Maka, dengan adanya penyebaran informasi yang cepat dan pengguna yang semakin banyak, harapannya dakwah melalui literasi bisa mendapatkan manfaat dari konten yang kita sebarkan melalui dunia digital.

Mengingat dunia digital seperti perpustakaan global yang di dalamnya terdapat jutaan referensi dan informasi yang kita butuhkan. Siapa pun bisa mengaksesnya, baik muda atau tua, kaya atau miskin, remaja atau manula tidak ada batasannya. Dan siapa pun bisa mengakses informasi tersebut.

Dengan demikian, dakwah melalui literasi, selain untuk efesiensi waktu juga sebagai media yang sangat menarik, efektif, dan inovatif dalam menyebarkan informasi. Oleh karena itu, di era revolusi industri 4.0. Sudah saatnya kita tampil terdepan dalam memberikan nilai-nilai pesan positif, arif, dan bijaksana terhadap generasi milenial agar tidak salah dalam mengakses informasi dan tidak mudah termakan berita hoaks. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Mendarat di Tebuireng,  Habib Umar bin Hafidz Singgung LGBT

    • calendar_month Rab, 23 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 529
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Tour Habib Umar bib Hafidz Yaman telah sampai ke Jawa Timur. Ponpes Tebu Ireng Jombang menjadi destinasi pertama setelah terbang dari Jakarta.  Dalam acara Multaqo’ Ulama bersama Habib Umar bin Hafidz, Selasa (22/8), Ulama asal Tarim itu menyinggung banyak hal. Dengan diterjemahkan oleh santrinya, Habib Jindan, Habib Umar bahkan berbicara soal karma yang menimpa […]

  • Gus Rozin: Hanya 8 Persen Generasi Milenial Mengakui NU, Kita Harus Waspada

    Gus Rozin: Hanya 8 Persen Generasi Milenial Mengakui NU, Kita Harus Waspada

    • calendar_month Sab, 10 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.di-Semarang – Ketua Majelis Pembimbing Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama (Sakomanu) Jawa Tengah, KH. Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab disapa Gus Rozin, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya pengakuan generasi milenial terhadap Nahdlatul Ulama (NU). “Dari data yang kami terima, hanya sekitar 8 persen generasi milenial yang mengakui dan merasa memiliki NU. Ini tentu […]

  • PCNU PATI. Ketua MWC NU Gembong, K. Sholikhin menyerahkan kenang-kenangan kepada ketua takmir Masjid Jami'atul Husna, Dukuh Godangmulyo, Gembong

    Safari Ramadhan, MWC-NU Gembong Beberkan Peran Lazisnu kepada Warga

    • calendar_month Kam, 14 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 512
    • 0Komentar

    GEMBONG – Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Gembong kembali memgadakan safari Ramadhan tarawih kelilih setelah dua tahun libur. Kegiatan yang menjadi salah satu agenda rutin dalam dua periode K. Sholikhin tersebut kembali digelar di lima tempat. Hal tersebut disampaikan oleh sekretaris MWC, KH. Nur Hasyim. “Setiap tahun kami pusatkan di lima desa, tahun ini […]

  • Seperti Ini Potret Toleransi di Desa Jrahi<br>

    Seperti Ini Potret Toleransi di Desa Jrahi

    • calendar_month Sab, 30 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    PATI -Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten Pati, terkenal dengan sebutan Desa Wisata Pancasila. Di sana terdapat beberapa agama. Namun dengan kerukunan dan toleransi yang ada, masyarakat bisa hidup berdampingan.  Di sana, ada tiga agama dan satu penghayat kepercayaan yang dipeluk. Yakni, Agama Islam, Kristen, Budha dan Sapto Darmo.  Potret kerukunan di Desa Jrahi terlihat saat […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Merayakan Kemiskinan Dengan Bahagia’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (21/6).

    Ngaji NgAllah Suluk Maleman Menyoal Merayakan Kemiskinan dengan Bahagia

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 548
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Universitas Harvard pada Mei lalu, berdasar penelitiannya, menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia. Anugerah itu memiliki keterkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Kajian inilah yang kemudian dijadikan salah satu topik pembahasan dalam Suluk Maleman edisi ke 162 pada Sabtu (21/6) malam. Budayawan yang juga penggagas Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin menyebut hal itu […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dan KH. A. Nawawi Cholil dalam NgAllah Suluk Maleman “Kita, Agama, Kuasa” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (23/5).

    Suluk Maleman, Menyoal Kita, Agama dan Kuasa

    • calendar_month Ming, 24 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.341
    • 0Komentar

    Penyalahgunaan relasi kuasa patut menjadi bahan perenungan yang serius. Keberadaan ilmu tentu menjadi penting untuk mencegah persoalan itu terjadi di tengah carut marut saat ini. Persoalan itu menjadi bahasan dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (23/5) malam. Anis Sholeh Ba’asyin menyebut kasus dugaan pelecehan santriwati di Pati […]

expand_less