Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Eksistensi NU dalam Menjaga Nasionalisme Bangsa

Eksistensi NU dalam Menjaga Nasionalisme Bangsa

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 29 Jul 2021
  • visibility 417
  • comment 0 komentar

 Oleh: Siswanto


Nahdlatul Ulama (NU) sebagaimana yang kita ketahui merupakan organisasi sosial kemasyarakatan keagamaan terbebesar di Indonesia. Bahkan, ada yang mengatakan organisasi terbesar di dunia. Menurut Greg Fealy (2003), hadirnya NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang mendorong lahirnya tatanan kehidupan bernegara yang berkeadaban.

Selain sebagai organisasi terbesar di Indonesia, NU juga ikut bertanggungjawab untuk memberikan kontribusinya dalam membangun cita-cita keadaban bangsa. hal ini tidak lain karena kontribusi NU tidak hanya dialamatkan kepada jamaah NU saja, melainkan juga kontribusinya dialamatkan kepada bangsa dan negara. Itu sebabnya eksistensi NU terhadap bangsa dan negara sudah tidak diragukan lagi.

Sudah sangat jelas, bahwa NU merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Pandangan keagamaannya menjadi pilar yang dapat mengukuhkan berdirinya bangsa ini. Tidak melebih-lebihkan pula bila NU dalam sejarahnya yang panjang mampu berperan sebagai kekuatan sosial berbasis agama dengan visi kebangsaan yang kukuh. Salah satu momentumnya adalah pada saat tahun 1984 NU menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah final dan Pancasila adalah Dasar Negara Indonesia. 

Sehingga komitme NU dalam menjaga eksistensi NKRI sudah tidak diragukan lagi, bahkan NU selalu di garda paling depan dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Hal ini tidak berlebihan, mengingat NU dalam sejarah panjangnya selalu konsisten dan mengabdi demi bangsa Indonesia tercinta.

Oleh sebab itu, agar pembangunan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia bisa terbangun dengan baik dan bentuk keharmonisasian masyarakat Indonesia yang majemuk saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya, maka ada beberapa cara yang bisa ditempuh antara lain yaitu;

Pertama, secara kodrati manusia diciptakan dengan penuh keberagaman yang tentu akan memantik keberagaman-keberagaman yang lain dalam kehidupannya. Sehingga wawasan akan kemajemukan harus diberlakukan dalam fenomena seperti ini. Dengan demikian, pembangunan manusia di Indonesia harus berdasarkan pada kesadaran kemajemukan karena keberagaman yang dimilikinya.

Kedua, dalam banyak kasus konflik sosial yang bernuansa SARA (suku, agama dan ras) di Indonesia pada dasawarsa belakangan ini disinyalir berhubungan dengan masalah rendahnya penghargaan nilai-nilai kemanusiaan (human values) dan dangkalnya pemahaman terhadapa kemajemukan multikultural.

Ketiga, berdasarkan dari kedua hal tersebut, kesadaran kebangsaan adalah sebentuk perwujudan politik yang diilhami sama cita dan sama cinta terhadap apa yang dimiliki oleh bangsanya untuk tetap senantiasa menjaga keutuhan kehidupan sosial di dalamnya.

 

 Dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama, Hadharatu Syaikh Hasyim Asy’ari menyatakan:

“Manusia harus bersatu… agar tercipta kebaikan dan kesejahteraan dan terhindar dari bahaya… Persatuan telah mendorong kesejahteraan negara, meningkatkan status rakyat, dan mencapai kemajuan, kekuatan dan kesempurnaan pemerintah.”

Kutipan di atas adalah pesan kemanusiaan atas keprihatinan Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari terhadap kondisi masyarakat pada zamannya yang terpecah belah sebab kemajemukan tidak dipahami sebagai anugerah Tuhan. Perbedaan yang merupakan bukti keabsahan kalam Tuhan ditafsirkan dengan serampangan sehingga memantik ketegangan-ketegangan sosial antar sesama anak bangsa. Tidak adanya persatuan dalam tubuh jiwa-jiwa muda Indonesia, telah mengakibatkan bangsa Indonesia semakin sengsara di bawah bendera kolonialisme. Parahnya, saat kolonialisme semakin menancapkan akarnya di bumi Ibu Pertiwi ini, bangsa Indonesia justru terpecah belah dan sibuk sendiri dengan fanatisme suku, golongan, stratifikasi sosial dan pengamalan ajaran-ajaran keagamaan yang semakin memperkeruh keadaan bangsa Indonesia.

Selain konflik eksternal antar sesama anak bangsa, umat Islam sendiri mengalami konflik internal. Rentang konflik keagamaan umat Islam sendiri merupakan dalil ketidakdewasaan pemuka agama sekaligus masyarakat keagamaannya dalam menyikapi ragam penafsiran dan aneka praktik kebudayaan. Perdeaan masalah-masalah parsial (al-masâil al-furû’iyyah) selalu menjadi alasan di balik setiap konflik internal keagamaan umat Islam. Kesadaran akan perlunya persatuan umat Islam, kemudian dilanjutkan dengan pesatuan kebangsaan antar sesama umat beragama di Indonesia, menjadi titik kepekaan Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari untuk mengingatkan bahwa:

“Janganlah hal-hal yang sepele menyebabkan kamu bercerai-berai, bertengkar dan bermusuhan… Serta jangan kamu meneruskan budaya saling bertikai dan mencacai…”

Dari padepokan yang sederhana, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari senantiasa memperhatikan dan mengingatkan para pemimpin dan masyarakat mengenai pentinganya kesadaran kebangsaan sebagi pupuk untuk mewujudkan persatuan. Tidak hanya sebatas kata, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari juga senantiasa memahat jiwa-jiwa generasi muda dengan tempaan-tempaan kebangsaan agar bangkit dan bersatu melawan praktik-praktik kolonialisme di tanah Ibu Pertiwi.

*Siswanto Alumnus Interdisclipinary iIslamic Studies dan Founder Taman Baca ABATA

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    PCNU Kabupaten Pati; Selenggarakan Bahtsul Masail Wakaf Uang

    • calendar_month Jum, 17 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 576
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Hingga saat ini fenomena wakaf uang di Indonesia relatif masih sangat minim. Dilaporkan oleh BWI (Badan Wakaf Indonesia) pada tahun 2023, dari potensi nasional yang bisa mencapai Rp. 180 triliun baru terserap secara akumulatif sekitar Rp. 2,23 triliun, atau kurang dari 2%. Sejak dicanangkan pada tahun 2010 memang belum maksimal. Sebetulnya regulasi terkait zakat […]

  • Resolusi Jihad NU 22 Alasan Hari Santri

    Resolusi Jihad NU 22 Alasan Hari Santri

    • calendar_month Jum, 30 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 824
    • 0Komentar

     Seperti yang di agendakan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yaitu ziarah  ke makam KH. Ahmad Sahal Mahfudz dan KH. Ahmad Mutamakin Kajen.  Sebelum pergi ziarah para peserta kirab terlebih dahulu singgah singgah di Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati.  Kemudian mereka membaca Ikrar Santri yang dipimpin Aizudin Abdurrahman. Aizudin atau akrab disapa Gus Aiz […]

  • Trio Muslimat, Ansor dan Fatayat Batangan Dilantik

    Trio Muslimat, Ansor dan Fatayat Batangan Dilantik

    • calendar_month Sab, 26 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 582
    • 0Komentar

    BATANGAN-Puluhan pengurus Muslimat, Ansor dan Fatayat Anank Cabang Batangan resmi dilantik Jumat (25/10) siang di YPI Khoiriyah, Dukuh Dagel, Desa Kedalon, Batangan. Acara pelantikan ini sengaja dilakukan bersama-sama demi efektifitas. Pelantikan PAC Muslimat NU, Fatayat dan Ansor Batangan serta pembukaan PKD PAC Ansor Batangan di YPI Khoiriyah, Sabtu (26/10) Beberapa tokoh penting juga hadir dalam […]

  • PCNU-PATI

    Teks Istighosah

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 608
    • 0Komentar
  • Jaringan Sekolah PC IPNU IPPNU Pati Agendakan Pertemuan dengan OSIS

    Jaringan Sekolah PC IPNU IPPNU Pati Agendakan Pertemuan dengan OSIS

    • calendar_month Ming, 17 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Departemen Jaringan Sekolah (JS) PC IPNU IPPNU Pati dalam waktu dekat akan mengadakan pertemuan dengan OSIS di beberapa sekolah. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi pintu utama terealisasinya kerjasama departemen Jaringan Sekolah PC IPNU IPPNU Pati dengan OSIS, baik sekolah Madrasah maupun Negeri. Diharapkan konsolidasi ini menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan di kedua belah pihak. Dari JS […]

  • PCNU-PATI

    Prestis! Rutinan Fatayat NU Margorejo Dihadiri Dua Pengasuh Pondok

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 573
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id MARGOREJO –   Peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. masih berlangsung. Salah satunya adalah yang dilaksanakan oleh PAC Fatayat NU Kecamatan Margorejo.  Sabtu (4/3) lalu, para pemudi NU tersebut menyelenggarakan peringatan Isro’ Mi’roj sekaligus rutinan Fatayat NU di Desa Sukobubuk. Bahkan, dalam agenda tersebut dihadiri salah seorang pengasuh Ponpes Roudlotul Falah, Bermi, Gembong, Kiai Ali Nur […]

expand_less