Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Eksistensi NU dalam Menjaga Nasionalisme Bangsa

Eksistensi NU dalam Menjaga Nasionalisme Bangsa

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 29 Jul 2021
  • visibility 416
  • comment 0 komentar

 Oleh: Siswanto


Nahdlatul Ulama (NU) sebagaimana yang kita ketahui merupakan organisasi sosial kemasyarakatan keagamaan terbebesar di Indonesia. Bahkan, ada yang mengatakan organisasi terbesar di dunia. Menurut Greg Fealy (2003), hadirnya NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang mendorong lahirnya tatanan kehidupan bernegara yang berkeadaban.

Selain sebagai organisasi terbesar di Indonesia, NU juga ikut bertanggungjawab untuk memberikan kontribusinya dalam membangun cita-cita keadaban bangsa. hal ini tidak lain karena kontribusi NU tidak hanya dialamatkan kepada jamaah NU saja, melainkan juga kontribusinya dialamatkan kepada bangsa dan negara. Itu sebabnya eksistensi NU terhadap bangsa dan negara sudah tidak diragukan lagi.

Sudah sangat jelas, bahwa NU merupakan kekayaan bangsa yang tidak ternilai harganya. Pandangan keagamaannya menjadi pilar yang dapat mengukuhkan berdirinya bangsa ini. Tidak melebih-lebihkan pula bila NU dalam sejarahnya yang panjang mampu berperan sebagai kekuatan sosial berbasis agama dengan visi kebangsaan yang kukuh. Salah satu momentumnya adalah pada saat tahun 1984 NU menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah final dan Pancasila adalah Dasar Negara Indonesia. 

Sehingga komitme NU dalam menjaga eksistensi NKRI sudah tidak diragukan lagi, bahkan NU selalu di garda paling depan dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Hal ini tidak berlebihan, mengingat NU dalam sejarah panjangnya selalu konsisten dan mengabdi demi bangsa Indonesia tercinta.

Oleh sebab itu, agar pembangunan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia bisa terbangun dengan baik dan bentuk keharmonisasian masyarakat Indonesia yang majemuk saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya, maka ada beberapa cara yang bisa ditempuh antara lain yaitu;

Pertama, secara kodrati manusia diciptakan dengan penuh keberagaman yang tentu akan memantik keberagaman-keberagaman yang lain dalam kehidupannya. Sehingga wawasan akan kemajemukan harus diberlakukan dalam fenomena seperti ini. Dengan demikian, pembangunan manusia di Indonesia harus berdasarkan pada kesadaran kemajemukan karena keberagaman yang dimilikinya.

Kedua, dalam banyak kasus konflik sosial yang bernuansa SARA (suku, agama dan ras) di Indonesia pada dasawarsa belakangan ini disinyalir berhubungan dengan masalah rendahnya penghargaan nilai-nilai kemanusiaan (human values) dan dangkalnya pemahaman terhadapa kemajemukan multikultural.

Ketiga, berdasarkan dari kedua hal tersebut, kesadaran kebangsaan adalah sebentuk perwujudan politik yang diilhami sama cita dan sama cinta terhadap apa yang dimiliki oleh bangsanya untuk tetap senantiasa menjaga keutuhan kehidupan sosial di dalamnya.

 

 Dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama, Hadharatu Syaikh Hasyim Asy’ari menyatakan:

“Manusia harus bersatu… agar tercipta kebaikan dan kesejahteraan dan terhindar dari bahaya… Persatuan telah mendorong kesejahteraan negara, meningkatkan status rakyat, dan mencapai kemajuan, kekuatan dan kesempurnaan pemerintah.”

Kutipan di atas adalah pesan kemanusiaan atas keprihatinan Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari terhadap kondisi masyarakat pada zamannya yang terpecah belah sebab kemajemukan tidak dipahami sebagai anugerah Tuhan. Perbedaan yang merupakan bukti keabsahan kalam Tuhan ditafsirkan dengan serampangan sehingga memantik ketegangan-ketegangan sosial antar sesama anak bangsa. Tidak adanya persatuan dalam tubuh jiwa-jiwa muda Indonesia, telah mengakibatkan bangsa Indonesia semakin sengsara di bawah bendera kolonialisme. Parahnya, saat kolonialisme semakin menancapkan akarnya di bumi Ibu Pertiwi ini, bangsa Indonesia justru terpecah belah dan sibuk sendiri dengan fanatisme suku, golongan, stratifikasi sosial dan pengamalan ajaran-ajaran keagamaan yang semakin memperkeruh keadaan bangsa Indonesia.

Selain konflik eksternal antar sesama anak bangsa, umat Islam sendiri mengalami konflik internal. Rentang konflik keagamaan umat Islam sendiri merupakan dalil ketidakdewasaan pemuka agama sekaligus masyarakat keagamaannya dalam menyikapi ragam penafsiran dan aneka praktik kebudayaan. Perdeaan masalah-masalah parsial (al-masâil al-furû’iyyah) selalu menjadi alasan di balik setiap konflik internal keagamaan umat Islam. Kesadaran akan perlunya persatuan umat Islam, kemudian dilanjutkan dengan pesatuan kebangsaan antar sesama umat beragama di Indonesia, menjadi titik kepekaan Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari untuk mengingatkan bahwa:

“Janganlah hal-hal yang sepele menyebabkan kamu bercerai-berai, bertengkar dan bermusuhan… Serta jangan kamu meneruskan budaya saling bertikai dan mencacai…”

Dari padepokan yang sederhana, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari senantiasa memperhatikan dan mengingatkan para pemimpin dan masyarakat mengenai pentinganya kesadaran kebangsaan sebagi pupuk untuk mewujudkan persatuan. Tidak hanya sebatas kata, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari juga senantiasa memahat jiwa-jiwa generasi muda dengan tempaan-tempaan kebangsaan agar bangkit dan bersatu melawan praktik-praktik kolonialisme di tanah Ibu Pertiwi.

*Siswanto Alumnus Interdisclipinary iIslamic Studies dan Founder Taman Baca ABATA

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU- PATI Photo by MasterTux

    Kabar Pernikahan Terviral

    • calendar_month Ming, 4 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 511
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin “Kasihan, lulus jadi dokter bedah langsung disuruh nikah sama kakek-kakek.” “Rupanya dokter cantik itu jadi tumbal orang tuanya sendiri. Ck… ck… ck….” “Kalau aku sih mau aja. Kan konglomerat itu udah aki-aki. Bentar lagi dipanggil Yang Maha Kuasa. Warisan yang gak bakal habis dimakan tujuh turunan akan jatuh di tangan. Haha.” […]

  • PBNU Mantabkan Agenda Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama

    PBNU Mantabkan Agenda Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 564
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Runtutan resepsi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Nahdlatul Ulama versi hijriah telah digagas oleh PBNU. Pada tahun 2025 Masehi yang bertepatan dengan 1446 Hijriyah ini, NU genap berusia 102 tahun. “Sesuai AD ART NU pasal satu, NU lahir 16 Rajab,” ungkap Nur Hidayat, Panitia HUT NU ke-102. Pada tahun ini, secara kebetulan, 16 […]

  • Sholawatan Sedang Jadi Trend, Ini Respon PCNU

    Sholawatan Sedang Jadi Trend, Ini Respon PCNU

    • calendar_month Kam, 22 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

    PATI-Kabupaten Pati yang merupakan bagian dari Pantura, sangat identik dengan seni musik seperti dangdut koplo, ketoprak ludruk dan hiburan-hiburan lainnya. Setiap hajatan, hampir seluruh masyarakat Pati mendatangkan orkes dangdut atau ketoprak untuk mengisi acara mereka. Pekalongan Bersholawat dalam rangka walimatul urusy bersama Habib Ali Zainal Abidin dan KH. Marzuqi Abbas, Selasa (20/8) Namun jika kita […]

  • PCNU-PATI

    Fiqih Pemulasaran Jenazah Covid 19

    • calendar_month Sab, 13 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Menurut penelitian medis, Covid-19 termasuk jenis penyakit berbahaya dan dapatmenular kepada yang melakukan kontak dengan orang yang terpapar Covid-19 atau carapenularan lainnya. Lebih berbahaya lagi jika tubuh kita tidak memiliki kesiapanmemproduksi antibodi sebagaimana layaknya antibodi terhadap virus lainnya.Dalam kondisi demikian orang dapat dengan mudah tertular Covid-19. Meskipenyakit ini jika ditangani dengan baik dapat disembuhkan, namun […]

  • Puasa dan Produktivitas Kerja

    Puasa dan Produktivitas Kerja

    • calendar_month Rab, 5 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 510
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Pasa-pasa kok nglemprek le le. Ya, ungkapan ini sering kita dengarkan dari para orang tua kita saat memberikan nasihat kepada anak-anaknya. Sebab, meski berpuasa, kita dituntut untuk produktif bekerja, belajar, sekolah, kuliah, beribadah, beraktivitas sesuai dengan tupoksi masing-masing, di lembaganya masing-masing. Puasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang diwajibkan bagi umat Islam, […]

  • GERAKAN ISLAM RADIKAL DLM PERSPEKTIF FIQIH

    GERAKAN ISLAM RADIKAL DLM PERSPEKTIF FIQIH

    • calendar_month Sab, 25 Okt 2014
    • account_circle admin
    • visibility 451
    • 0Komentar

    GERAKAN ISLAM RADIKAL DLM PERSPEKTIF FIQIH KH. M. Aniq Muhammadun (Rais Syuriyah PCNU Pati)           الســـــــــــــــــــــــلام عليــــــــــــــــــــــــــكم ورحمة الله وبركاته الحمد لله الذى ارسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره الكافرون  والصلا والسلا م على سيدنا ومولانا محمد الذي خضع له الجبابرة والظالمون    وعلى اله واصحابه ومن تبعهم الى يوم يبعثون […]

expand_less