Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pendidikan Responsif Gender

Pendidikan Responsif Gender

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 30 Jul 2021
  • visibility 446
  • comment 0 komentar

 Oleh : Sulistiani*


Gender merupakan perlabelan atas laki-laki dan perempuan. Kontruksi ini tidak lagi membedakan laki-laki dan perempuan atas perbedaan seks yang dimiliki. Secara mendasar gender berbeda dari jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis merupakan pemberian, kita dilahirkan sebagai seorang laki-laki atau seorang perempuan.

Seperti halnya yang di kemukakan Hartian Silawati dalam buku Gender & Pembangunan, Yogyakarta, Pustaka Belajar, 1996, Gender adalah seperangkat peran yang seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah peminim atau maskulin.

Secara umum, pengertian gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Dalam womenstudies ensiklopedia dijelaskan. “gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat”

Perbincangan seputar relasi gender dalam Islam selalu saja menyisakan masalah. Apa yang disebut ketidakadilan gender menjadi isu yang terus menerus dipersoalkan. Pasalnya masih begitu kuat melekat dalam bawah sadar kita bahwa perempuan tidak sebanding dengan laki-laki. Bahwa perempuan kurang ‘akal’ dan oleh karena itu dia juga hanya “setengah” manusia. Yusuf Ulfa, dalam Naqhisatu Aqlinwa Dinin,

Anggapan bahwa perempuan ‘kurang akal dan kurang agama’ berdampak pada berbedanya perlakuan masyarakat terhadap makhluk berjenis kelamin perempuan ini. Perempuan dikonsentrasikan pada ruang domestik semata. Sementara ruang publik menjadi wewenang tunggal laki-laki.

Domestifikasi peran inilah yang terus-menerus menyandera perempuan. Terlebih lagi dengan perilaku bawah sadar perempuan sendiri yang selalu memposisikan dirinya sebagai ‘boneka india’ yang tidak bisa melakukan hal-hal berarti, lemah, dan tidak berdaya. Perasaan naif ini tentunya cukup berperan dalam membentuk pola berfikir perempuan itu sendiri dan akhirnya akan menjadi justifikasi bagi laki-laki untuk melanggengkan kekuasaannya dan mengambil alih semua kesempatan. Ujungnya, perempuan memiliki daya tawar yang tumpul dihadapan kuasa laki-laki.

Dalam perbincangan mengenai relasi gender, pendidikan bukan hanya dianggap dan dinyatakan sebagai sebuah unsur utama dalam upaya pencerdasan bangsa melainkan juga sebagai produk atau kontruksi sosial, maka dengan demikian pendidikan juga memiliki andil bagi terbentuknya relasi gender dimasyarakat terutama dalam membentuk karakter perempuan agar dapat memiliki harga tawar yang setara dengan laki-laki.

Pendidikan responsif gender hendaknya dimulai dari rumah tangga. Orang tua memiliki peran sangat penting dalam mendidik dan mengarahkan anak-anaknya, karena apabila dalam satu keluarga tersebut terjadi bias gender maka hal ini akan sangat berpengaruh pada pola pikir anak-anaknya di masa yang akan datang.

Dalam dunia pendidikan formal biar gender dapat dilihat pada perumusan kurikulum. Implementasi kurikulum pendidikan sendiri terdapat dalam buku ajar yang digunakan di sekolah-sekolah. Realitas yang ada dalam kurikulum pendidikan masih terdapat banyak hal yang menonjolkan laki-laki berada pada sektor publik sementara perempuan berada pada sektor domestik.

Pada tataran praktis, Islam telah memberi aturan yang rinci berkenaan dengan peran dan fungsi masing-masing dalam menjalani kehidupan ini. Adakalanya sama dan adakalanya berbeda. Hanya saja ada perbedaan dan persamaan pada pembagian peran dan fungsi masing-masing. Dan tidak bisa dipandang sebagai adanya kesetaraan atau ketidaksetaraan gender. Pembagian tersebut semata-mata pentingnya di dalam upaya mewujudkan kehidupan masyarakat, yakni tercapainya kebahagiaan yang hakiki di bawah keridloan Allah semata.

Demikian halnya dalam dunia pendidikan laki-laki dan perempuan diberi kesempatan yang sama dalam menuntut ilmu, sesuai dengan hadist yang mempunyai arti “menuntut ilmu kewajiban bagi muslim dan muslimah”.

Perlu diupayakan pendidikan responsif gender, yaitu dengan tidak melakukan pembedaan atas perempuan dan laki-laki serta berupaya membongkar stereotip yang timpang.

Pendidikan responsif gender jangan diterjemahkan sebagai upaya perempuan melawan laki-laki. Bukan demikian, namun bagaimana perempuan bisa mendapatkan kesetaraan nonkodrati yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan perlindungan, pelayanan, dan kesejahteraan kaum perempuan.

Pendidikan responsif gender sendiri merupakan salah satu upaya dalam mendekontruksi ideologi, yaitu mempertanyakan kembali segala sesuatu yang menyangkut nasib perempuan dimana saja, pada tingkat dan bentuk apa saja, berbasis pendidikan kritis. Pendidikan ini dapat membantu perempuan memahami pengalaman dan menolak ideologi serta norma yang dipaksakan pada mereka, dimana tujuan akhirnya adalah melahirkan gagasan dan nilai baru yang menjadi dasar bagi transformasi gender.

 

* PW IPPNU Jawa Tengah  Dept Dakwah dan Sosial Kemasyarakatan dan Mahasiswi PGMI Institut Pesantren Mathali’ul Falah

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Selamat Lebaran

    • calendar_month Jum, 28 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Sepekan lalu kita semua telah merayakan hari raya idul fitri. Tak dipungkiri, saling berkunjung kerumah saudara maupun tetangga kini telah menjadi tradisi. Ada banyak hal yang berkenaan dengan adanya silaturahmi tersebut. Salah satunya adalah cerita-cerita dan pertanyaan tentang kehidupan pribadi. Saya, yang kini masih belum berpasangan tak lepas dari pertanyaan kapan […]

  • Islam Agama Kemanusiaan

    Islam Agama Kemanusiaan

    • calendar_month Sab, 24 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Di tengah krisis pemahaman keislaman otentik dan komprehensif, umat Islam membutuhkan pemikiran yang mampu menyegarkan dan membangkitkan paham keislaman yang moderat, toleran dan rahmatan lil ‘alamin. Pemahaman keislaman demikian pada gilirannya mampu merealisasikan kerukunan antar umat beragama dan antar aliran di internal Islam sendiri. Melalui bukunya ini, K.H. Husein Muhammad menyampaikan beberapa refleksi pemikirannya dalam […]

  • MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    • calendar_month Rab, 23 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 561
    • 0Komentar

    Warta MWC Gabus. Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Gabus mengadakan sholat Istisqo’ bersama Pagar Nusa, Ansor, Banser,Fatayat. Banser,IPNU-IPPNU. Dan sekolah-sekolah yang berada di Kec Gabus. Senin (21/9). Ribuan warga Nahdliyin  Kec Gabus mengikuti Shalat Istisqo’ yang dilaksanakan di Lapangan Desa Gabus.Hal ini dilakukan agar Tuhan memberikan berkah dan rahmat berupa hujan yang dinantikan kehadirannya. […]

  • Gelar PKD, Ini Target Ketua GP Ansor Gembong

    Gelar PKD, Ini Target Ketua GP Ansor Gembong

    • calendar_month Ming, 28 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 698
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Anak Cabang Gembong menggelar PKD. Puluhan peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Pati turut menjalani pelatihan wajib tersebut. Pelaksanaan PKD kali ini, ditempatkan di lokasi yang tidak biasa. Ponpes Nurul Qur’an Jonggol, Sitiluhur Kecamatan Gembong sengaja dipilih untuk menggelar agenda sakral tersebut. “Tempatnya di lereng gunung, bisa dilihat, sehingga […]

  • Jika Mau Nulis Puisi, Jangan Baca Rumus Kimia

    Jika Mau Nulis Puisi, Jangan Baca Rumus Kimia

    • calendar_month Rab, 20 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 625
    • 0Komentar

    Semarang –  Dalam menulis puisi, seorang penyair baik pemula atau mahir harus menyesuaikan dengan zamannya. Hal itu diungkapkan Muhammad Rois Rinaldi Penerima Anugerah Utama Penyair ASEAN (HesCom Esastera 2014-2016) dan Anugerah Puisi ASEAN (Numera, 2014) dalam Pendidikan dan Pelatihan Gerakan Literasi Karya Sastra Puisi pada Selasa (19/11/2024) melalui Zoom Meeting. “”Puisi yang baik itu adalah […]

  • Seribu Satu Rebana untuk Peringati Tahun Baru

    Seribu Satu Rebana untuk Peringati Tahun Baru

    • calendar_month Rab, 11 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 454
    • 0Komentar

    PAC IPNU IPPNU Trangkil gelar kegiatan seribu satu rebana untuk memperingati tahun baru 1443 Hijriyah. PATI – PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Trangkil baru saja sukses menggelar kegiatan seribu satu rebana. Kegiatan tersebut dilaksanakan di pendopo Desa Tlutup, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati pada Selasa malam (10/8). Wahyu Putra, Ketua PAC IPNU Kecamatan Trangkil menuturkan bahwa […]

expand_less