Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Mbah Syahid Kemadu, Kiai Alhamdulillah

Mbah Syahid Kemadu, Kiai Alhamdulillah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 22 Mar 2022
  • visibility 914
  • comment 0 komentar

 

Kiai pada umumnya dipersepsikan sebagai seseorang yang memiliki wawasan pengetahuan di bidang agama. Persepsi ini tak ayal diberikan masyarakat, karena sumbangsih dan kontribusinya di lingkungan masyarakat dalam berdakwah maupun saat membimbing masyarakat dalam kajian sosial-keagamaan. Sehingga labeling kiai secara tidak langsung disematkan kepada seseorang yang unggul dalam ilmu keagamaan. 

Sebagai orang yang dipersepsikan demikian, seorang kiai selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan dan fatwa dalam berdakwah. Karena ucapan dan tindak lakunya akan ditiru masyarakat awam yang masih minim dalam pengetahuan agama. Maka, persepsi kiai tidak semua orang bisa mendapatkannya hanya bermodalkan dalil saja, akan tetapi penghormatan dan penyematan kiai yang diberikan masyarakat tidak lain karena sumbangsih dan wawasan keilmuan agama yang memadai dalam memecahkan problematika sosial di lingkungan masyarakat.

Sepertihalnya manusia biasa, kiai juga memiliki sifat humoris, jenaka, tawadlu, ‘alim, dan rendah hati dalam kehidupan sehari-harinya. Di sisi lain kiai juga terkadang memiliki sifat kekanak-kanakan. Bahkan untuk menghibur dirinya maupun santrinya, kiai tidak lepas dengan sifat humornya. Karena dengan humor rasa lelah, penat, dan depresi akan hilang. Maka humor di lingkungan pesantren merupakan oase untuk menghidupkan ghirah santri dalam belajar.

Kiai seperti ini biasanya tipikal kiai yang sudah terbiasa dalam berdakwah dan mengisi sebuah pengajian di berbagai tempat. Sehingga selera humor tidak ketinggalan untuk disampaikan kepada masyarakat dengan maksud dan tujuan agar suasana bisa cair dan tidak membosankan. 

Akan tetapi beda lagi dengan KH. Ahmad Syahid bin Solihun Kemadu, Sulang, Rembang, Jawa Tengah. Mbah Syahid Kemadu panggilan akrab beliau, memang terkenal dengan julukan Kiai Alhamdulillah. Julukan Kiai Alhamdulillah ini tidak lepas dari kebiasaan beliau kapan pun dan di mana pun beliau selalu melafalkan kalimat zikir “Alhamdulillah”.  Sehingga apa pun yang terjadi ya Alhamdulillah.

Di mana kalimat ini sebagaimana diceritakan oleh KH. A. Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dipanggil dengan Gus Mus, menceritakan, bahwa “ Suatu ketika ada rombongan para kiai yang berkunjung ke Semarang untuk menghadiri suatu acara. Di sepanjang perjalanan, menjelang masuk kota Demak para kiai melewati kawasan sungai  yang dilabeli masyarakat dengan istilah “kamar mandi terpanjang di dunia”.

Kawasan yang berada di jalan Demak-Semarang memang terbentang sungai yang panjang, bahkan saban harinya digunakan penduduk untuk segala macam keperluan mulai dari mandi, cuci, kakus, dan mancing. Sehingga tak ayal apabila ada pengendara yang melintasi jalan Demak-Semarang melihat pemandangan bidadari sedang mandi menghiasi di sepanjang kamar mandi terpanjang di dunia tersebut.   

Oleh sebab itu, melihat pemandangan yang terbentang di jalan Demak-Semarang. Ada seorang kiai tiba-tiba berteriak Astaghfirullah. Dan kiai yang lain juga penasarn ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi dan menyebabkan salah satu kiai yang ada dalam rombongan tersebut menyebut bacaan zikir yang penuh dengan nada tinggi dan mengundang penasaran kiai lainnya.

Dan kiai yang ada dalam rombongan tersebut penasaran ingin melihat apa yang terjadi. Maka dilihatlah sungai  itu, ada adegan buka-bukaan ada bidadari yang sedang mandi di sungai. Sehingga semua kiai mengucapkan lafal zikir yang beragam mulai Astaghfirullah, Masya Allah dan ada juga yang menyebut Innalillah.

Akan tetapi, ada satu kiai yang melafalkan bacaan yang berbeda dengan kiai lainnya, lafal Alhamdulillah selalu melekat pada diri Mbah Syahid Kemadu. Melihat adegan yang membuat gempar semua rombongan kiai tadi. Beliau tetap mengucapkan “Alhamdulillah”. Sehingga dari situ, label Kiai Alhamdulillah disematkan kepada Mbah Syahid hingga akhir hayatnya. . (Siswanto, Perintis Taman Baca ABATA Trikoyo)

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Susan Wilkinson

    Iblis Berjubah Malaikat

    • calendar_month Ming, 6 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 423
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Ya, seandainya calon suaminya adalah Faris bukan kakek tua itu, mungkin ia perlu berpikir ulang. Gadis itu menggeleng. Menepis pikiran konyol yang tiba-tiba melintas. Ternyata tak semua lelaki bersarung terlihat kolot. Melihat Faris kenapa lelaki justru tampak berkharisma dengan outfit begitu? “Den Faris itu pemilik sekaligus pengelola panti. Setiap hari berkunjung […]

  • Menggali Potensi Lokal

    Menggali Potensi Lokal

    • calendar_month Jum, 31 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Juwana mengadakan Konferensi, hal tersebut di lakukan sesuai dengan ketentuan dalam organisasi Nahdlatul Ulama apabila sudah berakhir masa jabatan maka akan di lakukan reorganisasi. bertempat di Kantor MWCNU Juwana Jl. Juwana Tayu Km 2 Dukutalit Juwana. Minggu, 26/3 kemarin. Setelah Ketua Siswoyo memberikan laporan pertanggung jawaban […]

  • Dampak 5 Hari Sekolah Versi Survei Ipmafa Pati: Ancam TPQ hingga Pembelajaran Tak Maksimal

    Dampak 5 Hari Sekolah Versi Survei Ipmafa Pati: Ancam TPQ hingga Pembelajaran Tak Maksimal

    • calendar_month Sel, 8 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 581
    • 0Komentar

      Pati – Hasil survei Fakultas Tarbiyah Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati menunjukkan masyarakat khawatir lima hari sekolah menimbul sejumlah dampak negatif bila tetap dilakukan di Kabupaten Pati. Ipmafa menggelar survei pada tanggal 30 Juni hingga 2 Juli 2025. Sebanyak 208 responden terlibat dalam survei ini. Terdiri dari 53,4% laki-laki dan 46,6% perempuan. ”Mayoritas […]

  • PCNU - PATI

    Santri Piouner dan Memiliki Kecerdasan Mileneal

    • calendar_month Sab, 6 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Oleh : Fikrul Umam Ms* Memperingati Hari Santri 2022, Pesantren memiliki corak pandang dan gagasan intelektual. Santri dituntut kemandirian dan memiliki kompetensi (Prof. Dr. KH. Yudian Wahyudi, 2021). Santri Indonesia memiliki kekhasan dan keimanan dalam bidang tertentu; yakni Santri harus manut dengan Kiai, Santri dididik untuk memiliki kemandirian, santri dituntut untuk berilmu pengetahuan. Kemungkinan yang […]

  • 20 Guru Ma`arif dan Ustadz Ikuti Program English Capacity Building for Educators di Pare

    20 Guru Ma`arif dan Ustadz Ikuti Program English Capacity Building for Educators di Pare

    • calendar_month Rab, 20 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 668
    • 0Komentar

    Semarang – Program English Capacity Building for Nahdliyin Educators resmi diluncurkan dan pada 15 November 2024 oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU dan RMI NU Jawa Tengah. Program dan mengirimkan 20 guru untuk mendapatkan pembimbingan di Pare di Camp Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima Semarang. Semua Peserta sudah […]

  • Bupati Semarang Instruksikan Disdikbudpora Pimpin Sinergi Lintas Sektor Bentuk Pokja Pendidikan Inklusif

    Bupati Semarang Instruksikan Disdikbudpora Pimpin Sinergi Lintas Sektor Bentuk Pokja Pendidikan Inklusif

    • calendar_month Sel, 17 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.763
    • 0Komentar

      UNGARAN – Pemerintah Kabupaten Semarang mengambil langkah progresif dalam memperkuat layanan bagi anak berkebutuhan khusus. Dalam gelaran “Gebyar Pendidikan Inklusif 2026” di Pendopo Kabupaten Semarang (14/2), Bupati Semarang memberikan apresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Beliau juga memberikan instruksi khusus kepada Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikbudpora) untuk segera mengoordinasikan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Pendidikan […]

expand_less