Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Teruslah Bekerja, Jangan Berharap THR!

Teruslah Bekerja, Jangan Berharap THR!

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 14 Mar 2026
  • visibility 10.330
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Detik-detik terakhir menjelang Lebaran Idulfitri 1447 H saya kepikiran berbagi Tunjangan Hari Raya (THR). Meski sederhana berupa jajan, parcel, sajadah, dan sarung, namun bagi saya memberi itu penting. Ya, tentu di akhir Ramadan seperti ini, suasana di banyak ruang kerja sering mengalami perubahan psikologis yang unik sekaligus menarik. Sebelumnya fokusnya pada target pekerjaan dan tanggung jawab kantor perlahan bergeser pada satu penantian yang nyaris kolektif: kapan notifikasi saldo bertambah akan muncul.

 

Semacam menjadi “ritual ekonomi” yang dinanti setiap tahun di bulan Ramadan menjelang Idulfitri. Namanya THR ya begitu, Bro. Dinamika seperti ini wajar secara sosial, namun ketika tak disadari bisa menggeser orientasi kerja dari pengabdian menuju sekadar transaksi saja. Ramadan padahal datang untuk mengikis kebergantungan umat Islam pada dorongan material, bukan memperkuatnya loh.

 

Realitasnya, di media sosial, sampai dunia beneran, perbincangan soal THR terjadi di mana-mana. Di WAG ya bahas THR, di masjid ya THR, di kantor, ruang dosen, pabrik, hingga grup percakapan digital dalam beragam bentuk. Tak sedikit yang mulai menghitung pengeluaran Lebaran Idulfitri bahkan sebelum bonus itu benar-benar diterima dengan kontan, transfer, atau berbentuk barang.

 

Kondisi ini dalam konteks psikologi kerja menunjukkan ekspektasi pada imbalan eksternal bisa berpengaruh pada fokus seorang terhadap pekerjaan. Ketika motivasi kerja sekadar menggantungkan pada bonus tahunan, maka produktivitas dipastikan naik-turun mengikuti siklus finansial itu. Padahal, seharusnya Ramadan menjadi ruang latihan spiritual agar manusia dapat bekerja secara konsisten, lurus, istikamah, tanpa terlalu terikat pada angka-angka materi.

 

Tak hanya dalam lingkungan kerja, lingkungan sosial dan kekeluargaan pun sama. Banyak yang justru ingin mendapatkan THR, bukan memberinya. “Ndi THR e, Bos”, “Kei THR to, Bro” dan bentuk sapaan atau permintaan lain soal THR kepada saudara, teman, sahabat, atau tetangga.

 

Kerja, Ibadah, Amanah

Bekerja, hakikatnya tak hanya soal aktivitas ekonomi untuk mencari penghasilan, melainkan bagian dari ibadah dan amanah. Hal ini merupakan bentuk perwujudan dari landasan teologis Islam. Sebab, dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 105 yang artinya:

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).


Ayat di atas mempertegas, agar manusia bekerja karena keyakinan bahwa tiap amal akan dilihat Allah Swt, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dan orang-orang beriman. Ayat 105 Surat At-Taubah ini mempertegas juga adanya dimensi pengawasan ilahiah (divine supervision) pada tiap aktivitas kerja. Tujuan pokok seorang mukmin tak hanya soal hasil materi, namun juga kualitas amal yang dipersembahkan pada Allah Swt. Melalui pandangan ini, bekerja menjadi perwujudan pengabdian, tak hanya soal kontrak ekonomi belaka.

 

Kanjeng Nabi Muhammad Saw memberikan penghargaan spiritual yang sangat tinggi kepada orang yang bekerja keras. Dalam hadisnya, Kanjeng Nabi Muhammad Saw bersabda:

من اَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ اَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ

Artinya:  “Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek karena bekerja dengan kedua tangannya dalam mencari nafkah maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR Thabrani)

Hadis yang dimuat dalam Al-Mu’jam al-Kabir karya Al-Tabarani, dijelaskan seorang yang merasa lelah karena bekerja dengan tangannya sendiri pada sore hari akan memperoleh ampunan dari Allah Swt. Pandangan dari hadis ini tentu menarik. Sebab, kelelahan dalam bekerja tak hanya konsekuensi fisik, namun bernilai spiritual. Tujuan upah, gaji, honor, bayaran, bonus, insentif yang semula bersifat horizontal, dinaikkan ke dimensi vertikal berupa pahala dan ampunan.

 

Pandangan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin terdapat pada Adab al-Kasb wal Ma’asy (etika bekerja dan mencari penghidupan). Dalam bab ini, Imam Al-Ghazali mempertegas bekerja merupakan metode menjaga kehormatan diri agar tak menggantungkan hidup pada orang lain termasuk saudara sendiri. Seorang mukmin yang bekerja dengan niat lurus bukan sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun juga menjalankan tanggung jawab moral kepada keluarga dan masyarakat.

 

Syekh Nawawi al-Bantani melalui Kitab Qami’ ath-Thughyan, dipaparkan amanah merupakan bagian penting dari iman, di dalamnya termasuk amanah dalam menjalankan profesi atau pekerjaan. Ketika seorang menurunkan kualitas kerjanya / kinerjanya hanya lantaran merasa “sudah mendekati libur” atau “belum mendapatkan THR”, maka hakikatnya ia telah mencederai amanah yang dipercayakan kepadanya.

 

Etos ini dikenal dalam tradisi pesantren dengan prinsip lillahi ta’ala, yaitu bekerja semata-mata karena Allah, tanpa berharap imbalan apa-apa. Dalam bahasa anak muda, bekerja yang mendapatkan lelah diharapkan menjadi lillah. Artinya, lelah diganti menjadi lillah.

 

Fenomena kebergantungan manusia terhadap THR bisa dianalisis dengan teori motivasi. Edward Deci dan Richard Ryan dalam teori self-determination theory melalui buku Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior (1985), dijelaskan bahwa motivasi manusia dibagi menjadi dua, yaitu (1) intrinsik dan (2) ekstrinsik. Pertama, motivasi intrinsik muncul dari rasa makna, tanggung jawab, dan kepuasan batin pada pekerjaan itu sendiri. Kedua, motivasi ekstrinsik muncul karena dorongan imbalan luar seperti uang, bonus, atau penghargaan. Di buku ini, temuannya menyebut motivasi intrinsik cenderung menghasilkan produktivitas dan kepuasan kerja yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Artinya, ketika seorang bekerja hanya sekadar menunggu THR, maka motivasi yang lahir bersifat ekstrinsik dan temporer. Produktivitas bisa meningkat menjelang bonus, namun menurun saat ekspektasi itu tak terpenuhi. Nah, sebaliknya, pekerja dengan motivasi intrinsik akan tetap konsisten bekerja karena merasa pekerjaannya memiliki makna.

 

Puasa dalam konteks Ramadan, hakikatnya menjadi latihan menguatkan motivasi intrinsik itu. Artinya, lewat kegiatan menahan lapar dan dahaga sambil tetap bekerja dengan baik otomatis mengajarkan “manusia mampu melampaui dorongan material.”

Etos kerja dalam perspektif sosiologi ekonomi yang kuat sering kali lahir dari keyakinan spiritual yang mendalam. Dalam buku The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1930), Max Weber menjelaskan kesuksesan ekonomi dalam masyarakat Barat lahir dari pandangan “kerja adalah calling atau panggilan Tuhan.” Nah, lalu bagaimana dalam konteks Islam? Tentu, pandangan ini bahkan lebih kuat karena tiap usaha manusia dipandang sebagai ibadah yang dicatat Tuhan. Melalui pandangan seperti ini akan menjadikan manusia berpikir bahwa “kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, namun sebagai bentuk pengabdian spiritual.”

 

Kembali ke inti kolom ini. Perlu ditegaskan, bahwa THR merupakan hak yang patut disyukuri ketika diberikan institusi pemerintah, lembaga, perusahaan, pabrik, PT, CV, atau perseorangan. Akan tetapi, ia tak boleh menjadi pusat orientasi yang utama dalam bekerja. Pekerja profesional sejati tetap memberikan pelayanan dan pengabdian terbaik meski berada dalam kondisi menunggu atau bahkan tanpa bonus tambahan berupa THR.

 

Di sini, Ramadan mengedukasi kepada kita bahwa nilai tertinggi dari pekerjaan tak terletak pada angka yang masuk ke rekening mak klunting, namun pada kejujuran dan kesungguhan dalam menjalankan amanah. Ketika seorang dapat melewati bulan suci Ramadan dengan produktivitas yang stabil tanpa terus-menerus menengok saldo di aplikasi m-bangking masing-masing, maka ia hakikatnya telah memenangkan pertarungan batin yang sesungguhnya. Artinya, ia sukses mengubah pekerjaan itu dari sekadar rutinitas ekonomi menjadi ibadah yang bermakna.

 

Melalui kesadaran seperti itu, manusia bisa mengabdi, menjalankan tugasnya, dan bekerja dengan tenang. Sebab, ia tahu bahwa rezeki tak semata-mata datang dari sistem penggajian, tetapi dari ketetapan Allah Swt yang mengatur kehidupan dengan cara yang sering kali tidak terduga. Dalam Surat At-Talaq ayat 3, namanya adalah Min haitsu laa yahtasib.

 

Adakah ayat lain?

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMK NU Al-Ma’arif Gembong Membuka Jurusan Akutansi

    SMK NU Al-Ma’arif Gembong Membuka Jurusan Akutansi

    • calendar_month Jum, 17 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 641
    • 0Komentar

    SMK NU Al-Ma’arif Gembong membuka jurusan baru Akuntansi, jurusan ini telah dibuka mulai tahun lalu, sehingga tahun ini menjadi tahun kedua jurusan Akuntansi dibuka. Sebelumnya SMK NU Al-Ma’arif sudah memiliki jurusan TSM (Teknik Sepeda Motor) dan jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) yang telah meluluskan lima angkatan. Dibukanya jurusan Akuntansi supaya nantinya muncul generasi-generasi akuntan […]

  • 3 Lembaga NU Distribusikan 30.000 Liter Air Bersih

    3 Lembaga NU Distribusikan 30.000 Liter Air Bersih

    • calendar_month Ming, 15 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 588
    • 0Komentar

    JAKENAN-Musim kemarau panjangan menimbulkan kegelisahan bagi masyarakat. Para petani khususnya, yang membutuhkan sumber daya air sebagai penunjang kegiatan cocok tanam akhir-akhir ini mulai risau dengan kondisi yang demikian. Beberapa aliran sungai bahkan dikabarkan mengering. Armada truk tangki siap mendistribusikan air bersih ke Kecamatan Jakenan Di Kabupaten Pati Sendiri, ada beberapa kecamatan yang mulai kesulitan air […]

  • LP Ma’arif NU Jateng Bidik 6.000 Peluang Pelatihan dan Sertifikasi bagi Lulusan SMK

    LP Ma’arif NU Jateng Bidik 6.000 Peluang Pelatihan dan Sertifikasi bagi Lulusan SMK

    • calendar_month Sab, 8 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.679
    • 0Komentar

    SEMARANG, 8 Agustus 2026 — Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Jawa Tengah terus memperkuat ekosistem pendidikan vokasi agar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ma’arif NU tidak hanya siap memasuki dunia kerja di dalam negeri, tetapi juga mampu berkompetisi di pasar kerja global. Upaya tersebut diwujudkan melalui penjajakan kolaborasi antara LP Ma’arif NU Jawa Tengah, Kementerian […]

  • PCNU-PATI Photo by aboodi vesakaran

    Pendidikan Sebagai Hak Asasi Manusia

    • calendar_month Sab, 6 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 582
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto “Pendidikan bukanlah menabur benih pada dirimu, melainkan menumbuhkan benih-benih yang ada dalam dirimu”. (Jalaluddin Rumi). Pendidikan itu benih harapan bagi masyarakat dan bagi manusia itu sendiri. Karena pendidikan merupakan instrumen kunci untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, manakala masyarakat dilanda  kegelapan, keterbelakangan, keterpurukan, kekacauan, dan tidak tahu cara mengatasinya, maka sandaran […]

  • Akademi Pendidikan Da’I  Nusantara

    Akademi Pendidikan Da’I Nusantara

    • calendar_month Kam, 3 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 489
    • 0Komentar

    Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Pati (Pergunu) dalam waktu dekat akan mengadakan Akademi Pendidikan Da’i Nusantara hal tersebut dilakukan agar supaya menemukan Da’i-Da’i yang berbakat atau pun bakat menjadi Da’i belum terasah. Karena warga Nahliyin Pati khususnya  untuk saat ini telah kekurangan Da’i yang sesuai dengan faham ahlussunah waljamaah dan  fenomena sekarang yang terjadi sebagian Da’i […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Bendera Tauhid

    Bendera Tauhid

    • calendar_month Kam, 9 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 867
    • 0Komentar

    Hiruk pikuk di Indonesia terutama melalui media sosial memang luar biasa, terutama kasus bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Terlepas dari tujuan aatau modus seseorang atau kelompok, kita benar benar prihatin terutama ujaran dan kata kata yang tidak berakhlak untuk menyudutkan golongan atau kelompok tertentu. Agama sebagai payung hukum dan akhlak terpuji seakan hilang dan yang […]

expand_less