Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Teruslah Bekerja, Jangan Berharap THR!

Teruslah Bekerja, Jangan Berharap THR!

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 14 Mar 2026
  • visibility 10.181
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Detik-detik terakhir menjelang Lebaran Idulfitri 1447 H saya kepikiran berbagi Tunjangan Hari Raya (THR). Meski sederhana berupa jajan, parcel, sajadah, dan sarung, namun bagi saya memberi itu penting. Ya, tentu di akhir Ramadan seperti ini, suasana di banyak ruang kerja sering mengalami perubahan psikologis yang unik sekaligus menarik. Sebelumnya fokusnya pada target pekerjaan dan tanggung jawab kantor perlahan bergeser pada satu penantian yang nyaris kolektif: kapan notifikasi saldo bertambah akan muncul.

 

Semacam menjadi “ritual ekonomi” yang dinanti setiap tahun di bulan Ramadan menjelang Idulfitri. Namanya THR ya begitu, Bro. Dinamika seperti ini wajar secara sosial, namun ketika tak disadari bisa menggeser orientasi kerja dari pengabdian menuju sekadar transaksi saja. Ramadan padahal datang untuk mengikis kebergantungan umat Islam pada dorongan material, bukan memperkuatnya loh.

 

Realitasnya, di media sosial, sampai dunia beneran, perbincangan soal THR terjadi di mana-mana. Di WAG ya bahas THR, di masjid ya THR, di kantor, ruang dosen, pabrik, hingga grup percakapan digital dalam beragam bentuk. Tak sedikit yang mulai menghitung pengeluaran Lebaran Idulfitri bahkan sebelum bonus itu benar-benar diterima dengan kontan, transfer, atau berbentuk barang.

 

Kondisi ini dalam konteks psikologi kerja menunjukkan ekspektasi pada imbalan eksternal bisa berpengaruh pada fokus seorang terhadap pekerjaan. Ketika motivasi kerja sekadar menggantungkan pada bonus tahunan, maka produktivitas dipastikan naik-turun mengikuti siklus finansial itu. Padahal, seharusnya Ramadan menjadi ruang latihan spiritual agar manusia dapat bekerja secara konsisten, lurus, istikamah, tanpa terlalu terikat pada angka-angka materi.

 

Tak hanya dalam lingkungan kerja, lingkungan sosial dan kekeluargaan pun sama. Banyak yang justru ingin mendapatkan THR, bukan memberinya. “Ndi THR e, Bos”, “Kei THR to, Bro” dan bentuk sapaan atau permintaan lain soal THR kepada saudara, teman, sahabat, atau tetangga.

 

Kerja, Ibadah, Amanah

Bekerja, hakikatnya tak hanya soal aktivitas ekonomi untuk mencari penghasilan, melainkan bagian dari ibadah dan amanah. Hal ini merupakan bentuk perwujudan dari landasan teologis Islam. Sebab, dalam Al-Qur’an, Allah Swt berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 105 yang artinya:

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).


Ayat di atas mempertegas, agar manusia bekerja karena keyakinan bahwa tiap amal akan dilihat Allah Swt, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dan orang-orang beriman. Ayat 105 Surat At-Taubah ini mempertegas juga adanya dimensi pengawasan ilahiah (divine supervision) pada tiap aktivitas kerja. Tujuan pokok seorang mukmin tak hanya soal hasil materi, namun juga kualitas amal yang dipersembahkan pada Allah Swt. Melalui pandangan ini, bekerja menjadi perwujudan pengabdian, tak hanya soal kontrak ekonomi belaka.

 

Kanjeng Nabi Muhammad Saw memberikan penghargaan spiritual yang sangat tinggi kepada orang yang bekerja keras. Dalam hadisnya, Kanjeng Nabi Muhammad Saw bersabda:

من اَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ اَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ

Artinya:  “Barangsiapa yang di waktu sore merasa capek karena bekerja dengan kedua tangannya dalam mencari nafkah maka di saat itu diampuni dosa baginya.” (HR Thabrani)

Hadis yang dimuat dalam Al-Mu’jam al-Kabir karya Al-Tabarani, dijelaskan seorang yang merasa lelah karena bekerja dengan tangannya sendiri pada sore hari akan memperoleh ampunan dari Allah Swt. Pandangan dari hadis ini tentu menarik. Sebab, kelelahan dalam bekerja tak hanya konsekuensi fisik, namun bernilai spiritual. Tujuan upah, gaji, honor, bayaran, bonus, insentif yang semula bersifat horizontal, dinaikkan ke dimensi vertikal berupa pahala dan ampunan.

 

Pandangan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin terdapat pada Adab al-Kasb wal Ma’asy (etika bekerja dan mencari penghidupan). Dalam bab ini, Imam Al-Ghazali mempertegas bekerja merupakan metode menjaga kehormatan diri agar tak menggantungkan hidup pada orang lain termasuk saudara sendiri. Seorang mukmin yang bekerja dengan niat lurus bukan sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun juga menjalankan tanggung jawab moral kepada keluarga dan masyarakat.

 

Syekh Nawawi al-Bantani melalui Kitab Qami’ ath-Thughyan, dipaparkan amanah merupakan bagian penting dari iman, di dalamnya termasuk amanah dalam menjalankan profesi atau pekerjaan. Ketika seorang menurunkan kualitas kerjanya / kinerjanya hanya lantaran merasa “sudah mendekati libur” atau “belum mendapatkan THR”, maka hakikatnya ia telah mencederai amanah yang dipercayakan kepadanya.

 

Etos ini dikenal dalam tradisi pesantren dengan prinsip lillahi ta’ala, yaitu bekerja semata-mata karena Allah, tanpa berharap imbalan apa-apa. Dalam bahasa anak muda, bekerja yang mendapatkan lelah diharapkan menjadi lillah. Artinya, lelah diganti menjadi lillah.

 

Fenomena kebergantungan manusia terhadap THR bisa dianalisis dengan teori motivasi. Edward Deci dan Richard Ryan dalam teori self-determination theory melalui buku Intrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior (1985), dijelaskan bahwa motivasi manusia dibagi menjadi dua, yaitu (1) intrinsik dan (2) ekstrinsik. Pertama, motivasi intrinsik muncul dari rasa makna, tanggung jawab, dan kepuasan batin pada pekerjaan itu sendiri. Kedua, motivasi ekstrinsik muncul karena dorongan imbalan luar seperti uang, bonus, atau penghargaan. Di buku ini, temuannya menyebut motivasi intrinsik cenderung menghasilkan produktivitas dan kepuasan kerja yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Artinya, ketika seorang bekerja hanya sekadar menunggu THR, maka motivasi yang lahir bersifat ekstrinsik dan temporer. Produktivitas bisa meningkat menjelang bonus, namun menurun saat ekspektasi itu tak terpenuhi. Nah, sebaliknya, pekerja dengan motivasi intrinsik akan tetap konsisten bekerja karena merasa pekerjaannya memiliki makna.

 

Puasa dalam konteks Ramadan, hakikatnya menjadi latihan menguatkan motivasi intrinsik itu. Artinya, lewat kegiatan menahan lapar dan dahaga sambil tetap bekerja dengan baik otomatis mengajarkan “manusia mampu melampaui dorongan material.”

Etos kerja dalam perspektif sosiologi ekonomi yang kuat sering kali lahir dari keyakinan spiritual yang mendalam. Dalam buku The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1930), Max Weber menjelaskan kesuksesan ekonomi dalam masyarakat Barat lahir dari pandangan “kerja adalah calling atau panggilan Tuhan.” Nah, lalu bagaimana dalam konteks Islam? Tentu, pandangan ini bahkan lebih kuat karena tiap usaha manusia dipandang sebagai ibadah yang dicatat Tuhan. Melalui pandangan seperti ini akan menjadikan manusia berpikir bahwa “kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, namun sebagai bentuk pengabdian spiritual.”

 

Kembali ke inti kolom ini. Perlu ditegaskan, bahwa THR merupakan hak yang patut disyukuri ketika diberikan institusi pemerintah, lembaga, perusahaan, pabrik, PT, CV, atau perseorangan. Akan tetapi, ia tak boleh menjadi pusat orientasi yang utama dalam bekerja. Pekerja profesional sejati tetap memberikan pelayanan dan pengabdian terbaik meski berada dalam kondisi menunggu atau bahkan tanpa bonus tambahan berupa THR.

 

Di sini, Ramadan mengedukasi kepada kita bahwa nilai tertinggi dari pekerjaan tak terletak pada angka yang masuk ke rekening mak klunting, namun pada kejujuran dan kesungguhan dalam menjalankan amanah. Ketika seorang dapat melewati bulan suci Ramadan dengan produktivitas yang stabil tanpa terus-menerus menengok saldo di aplikasi m-bangking masing-masing, maka ia hakikatnya telah memenangkan pertarungan batin yang sesungguhnya. Artinya, ia sukses mengubah pekerjaan itu dari sekadar rutinitas ekonomi menjadi ibadah yang bermakna.

 

Melalui kesadaran seperti itu, manusia bisa mengabdi, menjalankan tugasnya, dan bekerja dengan tenang. Sebab, ia tahu bahwa rezeki tak semata-mata datang dari sistem penggajian, tetapi dari ketetapan Allah Swt yang mengatur kehidupan dengan cara yang sering kali tidak terduga. Dalam Surat At-Talaq ayat 3, namanya adalah Min haitsu laa yahtasib.

 

Adakah ayat lain?

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MBG Dalam Perspektif Maqashidus Syariah

    MBG Dalam Perspektif Maqashidus Syariah

    • calendar_month Ming, 26 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.701
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Makan bergizi gratis (MBG) menjadi sorotan publik. Banyaknya kasus keracunan yang mencapai angka lima ribu lebih menjadikan program ini menunai kritik pedas. Wali murid dan publik sangat menyayangkan kasus keracunan ini. Analisis banyak kalangan menyatakan bahwa anggaran besar MBG yang mencapai 335 triyun ini jika tidak diawasi dengan ketat dan disiplin […]

  • SMPQT As Salafiyah dapat Hadiah Utama HUT RI Ke 77

    SMPQT As-Salafiyah dapat Hadiah Utama HUT RI Ke 77

    • calendar_month Sab, 13 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Bageng. Pemerintah Desa Bangeng mengadakan acara kegiatan dalam rangka menyambut kegiatan HUT RI ke 77 Sabtu, 13 Agustus 2022 bertempat di Lapangan Desa Bangeng Kecamatan Gembong Kegiatan tersebut di hadiri dari berbagai unsur pemerintahan di Kecamatan Gembong diantaranya, Malik selaku kasi Sosial dan Suwarno selaku kasi Pemerintahan” jelas Zaenuri Ketua Panitia Lanjutnya Babin Desa Bageng […]

  • Pelantikan PC IPNU IPPNU Pati Berlangsung Sakral

    Pelantikan PC IPNU IPPNU Pati Berlangsung Sakral

    • calendar_month Ming, 27 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 342
    • 0Komentar

    PATI-Pimpinan Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Pati masa khidmat 2019-2021 hari ini (27/10) resmi melangsungkan pelantikan dan rapat kerja 1. Acara tersebut terasa sakral karena bertempat di Pendopo Kabupaten Pati. Beberapa tokoh penting tampak hadir diantaranya K. Yusuf Hasyim selaku Ketua Tanfidziyah PCNU Pati, Banom NU, Majelis Alumni, Polres Pati, Dandim dan yang spesial kehadiran dari […]

  • Kembalikan Marwah Pesantren, Fatayat NU Pati Desak Pelaku Kekerasan Seksual Dihukum Maksimal

    Kembalikan Marwah Pesantren, Fatayat NU Pati Desak Pelaku Kekerasan Seksual Dihukum Maksimal

    • calendar_month Ming, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 12.864
    • 0Komentar

      Pcnupati – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Pati bersama Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A) merilis pernyataan sikap tegas terkait kasus dugaan pencabulan yang terjadi di Pesantren Ndholo Kusumo. Kasus yang diduga melibatkan oknum pengasuh pesantren tersebut memicu keprihatinan mendalam dari organisasi perempuan Nahdliyin ini. ​Dalam surat resmi tertanggal 2 Mei […]

  • Mahasiswa UMK Lakukan Penelitian dan Kembangkan Sistem Informasi Zakat di LAZISNU Kabupaten Pati

    Mahasiswa UMK Lakukan Penelitian dan Kembangkan Sistem Informasi Zakat di LAZISNU Kabupaten Pati

    • calendar_month Rab, 24 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.733
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Seorang mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) melaksanakan penelitian skripsi di LAZISNU Kabupaten Pati sebagai bagian dari tugas akhir perkuliahan. Penelitian ini berfokus pada pengembangan sistem informasi zakat berbasis web yang ditujukan untuk mendukung pengelolaan dan monitoring zakat di lingkungan LAZISNU Kabupaten Pati. Penelitian tersebut mengangkat judul skripsi “Rancang Bangun Sistem Informasi Berbasis […]

  • PENGUATAN KADER, PENDIDIK SEBAYA  (LELAKI BERESIKO TINGGI DAN PEKERJA SEKS) HIV&AIDS.

    PENGUATAN KADER, PENDIDIK SEBAYA (LELAKI BERESIKO TINGGI DAN PEKERJA SEKS) HIV&AIDS.

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Peran dan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan Progam Pencegahan dan Penanggulangan  HIV& AIDS di Kabupaten Pati secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative yang berkesinambungan dapat mempertajam kepekaan dan tindakan terhadap kasus HIV-AIDS sejak dini oleh masyarakat . Menindaklanjuti hal tersebut diatas KPA Kabupaten Pati mengoptimalkan  koordinasi  penguatan progam pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS KPA Kab. Pati dengan […]

expand_less