Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa: Konsepe Ora Ngono!

Puasa: Konsepe Ora Ngono!

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 12 Mar 2026
  • visibility 10.152
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sore itu ruang tengah rumah terasa hangat oleh aktivitas kecil menjelang berbuka. Istri saya bergegas menyiapkan hidangan sambil sesekali merapikan diri. Ia meraih botol parfum dan menyemprotkannya dengan cukup bersemangat. Namun mungkin karena tergesa, arah semprotannya mengenai bagian yang tidak semestinya.

 

Anak kami yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba berkomentar dengan nada polos tetapi kritis, “Konsepe ora ngono, Ma!” (konsepnya bukan begitu, Ma). Saya dan istri tertawa terbahak-bahak karena mendengar celetukan spontan itu. Hahahaha Namun, usai tawa mereda, kalimat sederhana itu justru memantik perenungan panjang dalam benak saya.

 

Idiom “konsepe ora ngono” terasa seperti cermin kecil bagi metode kita menjalankan ibadah puasa Ramadan. Betapa sering manusia beribadah dengan penuh motivasi, namun tanpa memahami konsep yang idealnya. Kita rajin menjalankan ritual, namun kadang kehilangan makna yang melandasinya. Ramadan menjadi sangat super sibuk dengan berbagai aktivitas. Apa saja? Ya tentu mulai dari sahur, puasa, berbuka puasa, salat tarawih, salat witir, tadarus Quran, iktikaf, takjil, zakat, infak, sedekah, pengajian, bahkan agenda sosial yang padat. Namun tidak jarang di tengah kesibukan itu yang tertinggal yaitu berupa esensi dari ibadah itu sendiri. Kita super sibuk dengan kulitnya, namun hakikatnya lupa pada isi yang seharusnya memberi kehidupan.

 

Secara teologis, puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga magrib. Dalam Al-Qur’an, tujuan puasa ditegaskan dengan sangat jelas: membentuk ketakwaan dalam diri manusia. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa. Ketakwaan di sini bukan sekadar status spiritual, tetapi transformasi karakter yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang mampu menahan lapar namun tetap mudah marah, tetap gemar menyebarkan kebohongan, atau tetap melakukan kecurangan, maka tujuan puasa belum tercapai.

 

Konsepnya Tak Begitu!

Kanjeng Nabi Muhammad Saw memperkuat pandangan di atas sesuai hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, yaitu“Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah R.A, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak hiraukan amalannya menahan makan dan minum.” (HR. Bukhari No. 1903).

 

Pesan hadis di atas sangat tegas. Artinya, puasa bukan sebatas diukur dari urusan menahan lapar dan dahaga, namun juga dari perubahan perilaku. Ketika lisan tetap menyakiti teman, tetap clutak dengan rekan, dan hati tetap dipenuhi amarah, maka puasa sekadar menjadi ritual biologis yang kehilangan ruh spiritualnya.

 

Masalah seperti ini ini telah lama dibahas oleh para ulama. Salah satunya dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyatakan ibadah mempunyai dua aspek penting, yaitu (1) rasm dan (2) ruh. Pertama, rasm yaitu bentuk lahiriah atau formalitas ibadah. Kedua, ruh merupakan makna batin yang menghidupkannya. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, puasa orang awam sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi puasa yang lebih tinggi yaitu puasa yang dapat menjaga pancaindera dari dosa, menjaga telinga dari gosip, menjaga mata agar tidak pelilak-pelilik, menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan dan agar tidak celutak.

 

Dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menyatakan tiap amal harus dilandasi dengan niat dan pemahaman yang benar. Tiadanya pemahaman konsep yang tepat, suatu tindakan bisa kehilangan maknanya. Analogi parfum dalam kisah receh di awal tulisan saya ini menjadi sangat relevan. Artinya, parfum mungkin disemprotkan dengan niat agar wangi di badan dan baju, namun jika caranya salah, wanginya tak akan terasa dengan baik. Bahkan, bisa menjadi berlebihan wanginya. Lalu bagaimana dengan puasa? Ketika konsepnya keliru, salah, apalagi ngawur, misalnya sekadar menahan lapar untuk kemudian “balas dendam” ketika berbuka puasa dengan konsumsi berlebihan, maka tujuan spiritualnya tidak tercapai.

 

Fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori psikologi kognitif. Benjamin Bloom lewat teori Bloom’s Taxonomy dalam buku Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, Volume 1 (1956), memaparkan tingkat pembelajaran tertinggi bukan sekadar mengikuti aturan, namun memahami, menganalisis, dan mengevaluasi suatu konsep. Tentu dalam kajian edukasi, para ahli membedakan antara procedural knowledge dan conceptual understanding. Pengetahuan prosedural di sini bermakna sebuah kemampuan mengikuti aturan atau langkah-langkah tertentu, sedangkan pemahaman konseptual adalah kemampuan memahami makna di balik tindakan tersebut.

 

Ketika ditinjau dalam perspektif ini, tentu kita bisa memetakan bahwa sebenarnya banyak orang menjalankan puasa sekadar pada level atau tingkat prosedural. Pastinya, mereka semua tahu kapan waktu harus sahur, waktu berbuka, dan kapan harus salat tarawih-salat witir. Akan tetapi, dari mereka tidak semua mengerti tujuan psikologis dan spiritual dari praktik rentetan ibadah puasa Ramadan tersebut. Padahal seharusnya puasa melatih kesabaran, simpati dan empati pada orang fakir-miskin, dan kemampuan mengendalikan diri. Tanpa sebuah pemahaman konseptual yang masak, puasa tentu sekadar menjadi ritus, jadwal, rutinitas tahunan yang mekanistik.

 

Puasa dari sudut pandang neurosains hakikatnya mempunyai potensi besar dalam melatih pengendalian diri seorang manusia. Saat seorang menahan lapar dan emosi, bagian otak yang disebut prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pengambilan keputusan rasional, idealnya menjadi lebih aktif mengendalikan impuls emosional dari amygdala (bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi). Akan tetapi, saat seorang justru menjadi lebih mudah marah saat puasa, hal ini menunjukkan latihan mental itu belum berhasil sepenuhnya. Secara ilmiah pun kita bisa mengatakan dengan jelas konsepe ora ngono!

 

Puasa dalam perspektif manajemen diri bisa dimaknai sebagai bagian siklus evaluasi kehidupan. Rumus manajemen kualitas dengan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) oleh W. Edwards Deming dalam buku Out of the Crisis (reissue) (2018) mempertegas tiap tahapan wajib diikuti dengan evaluasi untuk melihat hasilnya. Dalam hal ini, bulan suci Ramadan bisa dimengerti sebagai fase praktik intensif (Do). Perubahan perilaku setelah itu menjadi indikator keberhasilan dari proses tersebut. Ketika usai bulan Ramadan seorang tetap memiliki kebiasaan buruk yang sama bahkan makin merajalela, maka proses refleksi tersebut belum berjalan optimal.

 

Akhirnya, celetukan anak saya “konsepe ora ngono” sore itu terasa seperti pelajaran kecil yang sangat dalam. Kita dalam kehidupan beragama pastinya butuh kecerdasan literasi spiritual agar tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna, dan akhirnya sia-siapa. Idealnya puasa menjadi momen untuk mereset konsep hidup kita, yaitu menggeser pusat kehidupan dari ego dan materi menuju Allah Swt dan kemanusiaan. Pola ini hampir sama seperti menyemprot parfum yang saya ceritakan di awal yang membutuhkan cara tepat agar wanginya tahan lama, puasa juga membutuhkan konsep yang benar agar pahalanya berbekas dalam kehidupan.

 

Maka jangan sampai kita telah payah menahan ngeleh, ngelak, sepanjang hari, namun di akhir perjalanan spiritual bulan Ramadan, justru kita mendengar teguran halus dari langit: “Konsepe ora ngono, hamba-Ku.”

 

Hahaha

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pesantren di Pati Diharapkan Bentuk Satgas Pencegahan Covid-19

    Pesantren di Pati Diharapkan Bentuk Satgas Pencegahan Covid-19

    • calendar_month Sel, 30 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 335
    • 0Komentar

    PATI – Dalam rangka Pencegahan penyebaran virus covid-19 di kalangan pesantren dan  menyiapkan new normal yang telah ditetapkan oleh pemerintah, RMI PCNU Kabupaten Pati melaksanakan sosialisasi yang akan dilaksanakan diseluruh kecamatan Se-kabupaten Pati. RMI PCNU Pati bersama pengurus PCNU Pati, Team Satgas Covid-19 PCNU Pati melakukan Sosialisasi New Normal yang kemarin dilaksanakan (Senin, 29/06/2020)  di Ponpes […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Puasa dari Hoaks

    • calendar_month Sen, 23 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.005
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda Pentingkah puasa dari hoax (hoaks)? Jawabannya penting. Mengapa penting? Ya, data hoaks itu ribuan. Pada 8 Januari 2025, Komdigi merillis ada sebanyak 1.923 kontens hoaks yang mengerikan. PPID Dikomdigi Jawa Tengah tahun 2025 juga merillis banyak sekali konten hoaks menyebar ke mana-mana lewat data yang dirillis melalui “Rekap Isu Hoaks & […]

  • PCNU-PATI

    Setelah Jepara, Giliran Lazisnu Grobogan Bantu Korban Bencana Pati

    • calendar_month Kam, 29 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 275
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id PATI – Di tengah maraknya bencana yang terjadi di Indonesia, tingkat kepedulian masyarakat menjadi meningkat. Bahkan sebagian masyarakat tergerak merogoh kocek lebih dalam untuk membantu sesamanya yang menjadi korban bencana.  Bantuan yang datang pun beragam, mulai dari uang, sembako, pakaian layak pakai. Justru, menurut pantauan Lazisnu Pati, bantuan non-tunai inilah yang dibutuhkan korban yang […]

  • PCNU-PATI Photo by Daniel J. Schwarz

    Biksu Menabung untuk Menerbitkan Tao Te Ching

    • calendar_month Sen, 5 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 381
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Sebuah kisah menarik dari legenda Jepang. Konon ada seorang biksu yang tertarik menerjemah dan menerbitkan buku Tao Te Ching ke dalam bahasanya. Sembari menerjemah ia menabung untuk menerbitkannya kelak. Kurang lebih 10 tahun ia berhasil mengumpulkan dana yang kira-kira cukup untuk menerbitkan hasil terjemahannya itu. Ketika siap mencetak bukunya tiba-tiba […]

  • Nanti Malam, Pengurus NU Ajak Doa Bersama

    Nanti Malam, Pengurus NU Ajak Doa Bersama

    • calendar_month Sab, 4 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 349
    • 0Komentar

    PATI-Pengurus Cabang NU Kabupaten mengajak Nahdliyin untuk melaksanakan doa bersama. Ajakan ini terlebih disampaikan kepada para pengurus MWC.Diharapkan, pemangku NU di tingkat kecamatan tersebut bisa menjadi corong kepada warga. Flyer ajakan doa bersama PCNU Pati.  “Ini merupakan usaha bathin yang kita lakukan.” Tanggap K. Yusuf Hasyim, Ketua PCNU. Pengurus Cabang telah menentukan doa yang harus […]

  • Lakpesdam NU Pati & LTN NU  Mengadakan Pelatihan Cyber

    Lakpesdam NU Pati & LTN NU Mengadakan Pelatihan Cyber

    • calendar_month Sen, 2 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Dalam rangka menyambut hari santri Nasional, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia  (LAKPESDAM) serta Lajnah Ta’lif Wa ‘ansr (LTNNU) Pati menyelenggarakan  pelatihan pembuatan Blog dengan tema Resolusi Jihad Cyber di SMK Cordova, Kajen Margoyoso Pati, Ahad (25/10). “Jika dulu seorang santri Jihadnya membawa bambu runcing dan mengusir penjajah. Namun dalam era digital seorang santri harus […]

expand_less