Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa: Konsepe Ora Ngono!

Puasa: Konsepe Ora Ngono!

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 12 Mar 2026
  • visibility 10.412
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sore itu ruang tengah rumah terasa hangat oleh aktivitas kecil menjelang berbuka. Istri saya bergegas menyiapkan hidangan sambil sesekali merapikan diri. Ia meraih botol parfum dan menyemprotkannya dengan cukup bersemangat. Namun mungkin karena tergesa, arah semprotannya mengenai bagian yang tidak semestinya.

 

Anak kami yang sejak tadi memperhatikan tiba-tiba berkomentar dengan nada polos tetapi kritis, “Konsepe ora ngono, Ma!” (konsepnya bukan begitu, Ma). Saya dan istri tertawa terbahak-bahak karena mendengar celetukan spontan itu. Hahahaha Namun, usai tawa mereda, kalimat sederhana itu justru memantik perenungan panjang dalam benak saya.

 

Idiom “konsepe ora ngono” terasa seperti cermin kecil bagi metode kita menjalankan ibadah puasa Ramadan. Betapa sering manusia beribadah dengan penuh motivasi, namun tanpa memahami konsep yang idealnya. Kita rajin menjalankan ritual, namun kadang kehilangan makna yang melandasinya. Ramadan menjadi sangat super sibuk dengan berbagai aktivitas. Apa saja? Ya tentu mulai dari sahur, puasa, berbuka puasa, salat tarawih, salat witir, tadarus Quran, iktikaf, takjil, zakat, infak, sedekah, pengajian, bahkan agenda sosial yang padat. Namun tidak jarang di tengah kesibukan itu yang tertinggal yaitu berupa esensi dari ibadah itu sendiri. Kita super sibuk dengan kulitnya, namun hakikatnya lupa pada isi yang seharusnya memberi kehidupan.

 

Secara teologis, puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dari fajar hingga magrib. Dalam Al-Qur’an, tujuan puasa ditegaskan dengan sangat jelas: membentuk ketakwaan dalam diri manusia. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183 menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi bertakwa. Ketakwaan di sini bukan sekadar status spiritual, tetapi transformasi karakter yang tampak dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang mampu menahan lapar namun tetap mudah marah, tetap gemar menyebarkan kebohongan, atau tetap melakukan kecurangan, maka tujuan puasa belum tercapai.

 

Konsepnya Tak Begitu!

Kanjeng Nabi Muhammad Saw memperkuat pandangan di atas sesuai hadis yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, yaitu“Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami: Sa’id Al-Maqburi menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah R.A, beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta, maka Allah tidak hiraukan amalannya menahan makan dan minum.” (HR. Bukhari No. 1903).

 

Pesan hadis di atas sangat tegas. Artinya, puasa bukan sebatas diukur dari urusan menahan lapar dan dahaga, namun juga dari perubahan perilaku. Ketika lisan tetap menyakiti teman, tetap clutak dengan rekan, dan hati tetap dipenuhi amarah, maka puasa sekadar menjadi ritual biologis yang kehilangan ruh spiritualnya.

 

Masalah seperti ini ini telah lama dibahas oleh para ulama. Salah satunya dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyatakan ibadah mempunyai dua aspek penting, yaitu (1) rasm dan (2) ruh. Pertama, rasm yaitu bentuk lahiriah atau formalitas ibadah. Kedua, ruh merupakan makna batin yang menghidupkannya. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, puasa orang awam sekadar aktivitas menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi puasa yang lebih tinggi yaitu puasa yang dapat menjaga pancaindera dari dosa, menjaga telinga dari gosip, menjaga mata agar tidak pelilak-pelilik, menjaga lisan dari kata-kata yang menyakitkan dan agar tidak celutak.

 

Dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari menyatakan tiap amal harus dilandasi dengan niat dan pemahaman yang benar. Tiadanya pemahaman konsep yang tepat, suatu tindakan bisa kehilangan maknanya. Analogi parfum dalam kisah receh di awal tulisan saya ini menjadi sangat relevan. Artinya, parfum mungkin disemprotkan dengan niat agar wangi di badan dan baju, namun jika caranya salah, wanginya tak akan terasa dengan baik. Bahkan, bisa menjadi berlebihan wanginya. Lalu bagaimana dengan puasa? Ketika konsepnya keliru, salah, apalagi ngawur, misalnya sekadar menahan lapar untuk kemudian “balas dendam” ketika berbuka puasa dengan konsumsi berlebihan, maka tujuan spiritualnya tidak tercapai.

 

Fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori psikologi kognitif. Benjamin Bloom lewat teori Bloom’s Taxonomy dalam buku Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals, Volume 1 (1956), memaparkan tingkat pembelajaran tertinggi bukan sekadar mengikuti aturan, namun memahami, menganalisis, dan mengevaluasi suatu konsep. Tentu dalam kajian edukasi, para ahli membedakan antara procedural knowledge dan conceptual understanding. Pengetahuan prosedural di sini bermakna sebuah kemampuan mengikuti aturan atau langkah-langkah tertentu, sedangkan pemahaman konseptual adalah kemampuan memahami makna di balik tindakan tersebut.

 

Ketika ditinjau dalam perspektif ini, tentu kita bisa memetakan bahwa sebenarnya banyak orang menjalankan puasa sekadar pada level atau tingkat prosedural. Pastinya, mereka semua tahu kapan waktu harus sahur, waktu berbuka, dan kapan harus salat tarawih-salat witir. Akan tetapi, dari mereka tidak semua mengerti tujuan psikologis dan spiritual dari praktik rentetan ibadah puasa Ramadan tersebut. Padahal seharusnya puasa melatih kesabaran, simpati dan empati pada orang fakir-miskin, dan kemampuan mengendalikan diri. Tanpa sebuah pemahaman konseptual yang masak, puasa tentu sekadar menjadi ritus, jadwal, rutinitas tahunan yang mekanistik.

 

Puasa dari sudut pandang neurosains hakikatnya mempunyai potensi besar dalam melatih pengendalian diri seorang manusia. Saat seorang menahan lapar dan emosi, bagian otak yang disebut prefrontal cortex yang bertanggung jawab atas pengendalian diri dan pengambilan keputusan rasional, idealnya menjadi lebih aktif mengendalikan impuls emosional dari amygdala (bagian otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi). Akan tetapi, saat seorang justru menjadi lebih mudah marah saat puasa, hal ini menunjukkan latihan mental itu belum berhasil sepenuhnya. Secara ilmiah pun kita bisa mengatakan dengan jelas konsepe ora ngono!

 

Puasa dalam perspektif manajemen diri bisa dimaknai sebagai bagian siklus evaluasi kehidupan. Rumus manajemen kualitas dengan siklus Plan–Do–Check–Act (PDCA) oleh W. Edwards Deming dalam buku Out of the Crisis (reissue) (2018) mempertegas tiap tahapan wajib diikuti dengan evaluasi untuk melihat hasilnya. Dalam hal ini, bulan suci Ramadan bisa dimengerti sebagai fase praktik intensif (Do). Perubahan perilaku setelah itu menjadi indikator keberhasilan dari proses tersebut. Ketika usai bulan Ramadan seorang tetap memiliki kebiasaan buruk yang sama bahkan makin merajalela, maka proses refleksi tersebut belum berjalan optimal.

 

Akhirnya, celetukan anak saya “konsepe ora ngono” sore itu terasa seperti pelajaran kecil yang sangat dalam. Kita dalam kehidupan beragama pastinya butuh kecerdasan literasi spiritual agar tidak terjebak pada rutinitas tanpa makna, dan akhirnya sia-siapa. Idealnya puasa menjadi momen untuk mereset konsep hidup kita, yaitu menggeser pusat kehidupan dari ego dan materi menuju Allah Swt dan kemanusiaan. Pola ini hampir sama seperti menyemprot parfum yang saya ceritakan di awal yang membutuhkan cara tepat agar wanginya tahan lama, puasa juga membutuhkan konsep yang benar agar pahalanya berbekas dalam kehidupan.

 

Maka jangan sampai kita telah payah menahan ngeleh, ngelak, sepanjang hari, namun di akhir perjalanan spiritual bulan Ramadan, justru kita mendengar teguran halus dari langit: “Konsepe ora ngono, hamba-Ku.”

 

Hahaha

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pedoman Memulai Bisnis dari Hobi

    Pedoman Memulai Bisnis dari Hobi

    • calendar_month Ming, 8 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 549
    • 0Komentar

      Jika berbicara hobi, pasti semua orang mempunyai hobi.Akan tetapi jarang sekali orang yang mau menjadikan hobinya itu untuk memperkaya diri. Padahal apabila kita memulai sebuah bisnis berdasarkan dari hobi tentunya di dalam menjalankannya dengan sepenuh hati. Sebab pekerjaan yang kita jalani berdasarkan kehendak hati.             Sering kali kita tidak menyadari bahwa apa yang sering […]

  • Warga Gandeng PMII Syekh Mutamakkin Tancapkan 8000 Bibit Mangrove

    Warga Gandeng PMII Syekh Mutamakkin Tancapkan 8000 Bibit Mangrove

    • calendar_month Sel, 3 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 795
    • 0Komentar

    TAYU-Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Syekh Mutamakkin Pati melakukan gerakkan penanaman mangrove, Senin (2/12). Penanaman ini dilakukan bersama dengan para petani tambah dan nelayan Desa Dororejo, Tayu. Pengurus PMII Komisariat Syeh Mutamakkin bersama dengan warga dan TNI-Polri usai penanaman 8000 bibit mangrove di Desa Dororejo, Kecamatan Tayu, Senin (2/12). Sebanyak 8.000 bibit pohon […]

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Hari Ibu, Hari Pengabdian

    • calendar_month Kam, 22 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 439
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Mary, Maria atau Maryam, wanita suci nan tangguh. Bahkan oleh umat nasrani namanya diabadikan untuk peringatan hari raya, Mary Christmas, yang secara bahasa kurang lebih, Maria dan Christ yang diutus. Christ dalam beberapa ‘rawi’ disandarkan kepada Jesus atau Isa. Hmm, tapi, paragraf pertama ini sekadar pengantar saja. Alih-alih nyemplung dalam perdebatan […]

  • PCNU-PATI

    Mendarat di Tebuireng,  Habib Umar bin Hafidz Singgung LGBT

    • calendar_month Rab, 23 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 564
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Tour Habib Umar bib Hafidz Yaman telah sampai ke Jawa Timur. Ponpes Tebu Ireng Jombang menjadi destinasi pertama setelah terbang dari Jakarta.  Dalam acara Multaqo’ Ulama bersama Habib Umar bin Hafidz, Selasa (22/8), Ulama asal Tarim itu menyinggung banyak hal. Dengan diterjemahkan oleh santrinya, Habib Jindan, Habib Umar bahkan berbicara soal karma yang menimpa […]

  • PCNU- PATI

    Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah di Bulan Dzulhijjah

    • calendar_month Jum, 8 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 548
    • 0Komentar

    Bulan Dzulhijjah adalah bulan di mana umat muslim di dunia diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Karena ibadah haji merupakan salah satu bentuk rukun Islam yang ke lima, sehingga bagi umat muslim yang mampu dan sudah memenuhi syarat diwajibkan untuk menjalankan ibadah haji tersebut. Sedangkan bagi umat muslim yang tidak mampu dalam melaksanakan […]

  • 3.160 Pramuka Ma’arif NU Ikuti PERBHASAMA III di Jlamprang

    3.160 Pramuka Ma’arif NU Ikuti PERBHASAMA III di Jlamprang

    • calendar_month Kam, 3 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19.091
    • 0Komentar

      WONOSOBO, 3 September 2026 – Bumi Perkemahan Jlamprang Wonosobo mulai dipenuhi ribuan anggota Pramuka, Kamis (3/9). Sebanyak 3.160 Pramuka Penggalang dan Penegak dari sekolah dan madrasah di bawah LP Ma’arif NU PCNU Wonosobo mengikuti Perkemahan Bhakti dan Giat Prestasi Sako Ma’arif NU (PERBHASAMA) III. Kegiatan yang berlangsung hingga 5 September 2026 itu dibuka oleh […]

expand_less