Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 28 Feb 2026
  • visibility 9.472
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Sebenarnya, tulisan ini selesai pada bagian pertama, yaitu berjudul Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian I). Namun, karena saya kesel, ya saya lanjutkan di bagian kedua ini. Agar ada jeda. Ambegan disit.

Idiom gandulan sarunge kiai dalam wacana populer sering dipahami sebagai simbol kebergantungan atau bahkan kultus individu. Dekonstruksi atas idiom tersebut tentu menuntut pemahaman epistemologis, bukan sekadar penilaian sosiologis modern yang sudah kita sampaikan pada bagian pertama kemarin.

Dalam riset Linnaja dan El Syam (2025), gondelan sarunge kiai menjadi simbol pendidikan Islam khas Nusantara yang menekankan kesetiaan pada sanad keilmuan para kiai, keberlanjutan ajaran Walisongo, dan pendekatan dakwah berbasis budaya yang ramah, membumi, serta mencerminkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Ini menjadi penguat bahwa gondelan tidak sekadar tradisi turun-temurun yang ngawur, tapi ada alasannya!

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai

Mengapa idiom gandulan sarunge kiai, gendolan sarunge kiai perlu didekonstruksi. Ya, jelas agar tidak salah paham. Salah tafsir. Salah mengartikan. Untuk itu, terdapat beberapa temuan dan hasil kajian dari bagian pertama atas bentuk dekonstruksi tersebut.

Pertama, gandulan sarunge kiai tidaklah bentuk kultus personal kiai/ulama, namun hal itu bentuk rekognisi atau pengakuan sanad keilmuan yang sahih dan jelas. Kiai dalam tradisi pesantren dihormati, ditakzimi, ditempatkan sebagai simpul dalam jaringan transmisi ilmu pengetahuan. Otoritas melekat pada kiai/ulama tidaklah milik individu, namun menjadi milik tradisi keilmuan yang ia wakili

Kedua, perspektif modern sering mengalamatkan tuduhan feodalisme budaya yang pada akhirnya memisahkan otoritas dari tradisi. Nah, uniknya, dalam pesantren, hubungan kiai-santri, guru-murid, atau pendidik-peserta didik itu bersifat timbal balik. Artinya, santri atau murid menghormati kiai/guru karena ilmu, dan kiai/guru memiliki bertanggung jawab ngemong atau membimbing santri/murid secara moral dan intelektual. Jelas ya!

Dalam Kitab Adabul Alim Wal Muta’Allim, KH – Hasyim Asy’ari menyerukan urgensi ikatan batin atau relasi jiwa antara santri-kiai, murid-guru, pelajar-pendidik, mahasiswa-dosen, dan lainnya. Meskipun secara puitis dan populer, istilah gondelan sarunge kiai kerap tampak dalam jargon-jargon santri ketika menggambarkan sikap rendah hati alias tawadu. Jenenge santri ya pancen ngono lah!

Ketiga, modernisasi telah melahirkan recontextualization. John Obert Voll lewat karyanya Islam: Continuity and Change in the Modern World (1994) mempertegas tradisi keilmuan Islam selalu melalui proses negosiasi dengan modernitas. Artinya, saat sistem “sertifikasi formal” dan “gelar akademis” menggantikan sanad sebagai mekanisme validasi utama dan paling utama yang diakui, maka praktik-praktik tradisional sering disalahpahami bahkan tidak dianggap babarblas.

Keempat, di pesantren maupun masyarakat Islam di Jawa pada umumnya, simbol-simbol fisik yang terlihat ritualistik mempunyai signifikasi epistemik. Ia merupakan pernyataan keterikatan pada sanad. Legitimasi pada tradisi ilmu klasik bukan sebatas lewat teks, malainkan juga lewat relasi individual yang terverifikasi.

Kelima, gondelan sarung kiai merupakan bentuk santri untuk mencari keberkahan, alias bertambah kebaikan. Konsep tabarruk atau tabarrukan ala pesantren ini sudah dicontohkan sejak dulu. Dalam Kitab Fathul Baari, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, melalui penjelasan atas Shahih Bukhari, di dalamnya dikaji mendalam soal diperbolehkannya tabarruk dengan peninggalan Nabi SAW. Kita-kitab sejarah (tarikh) juga menceritakan para sahabat Nabi Muhammad yang berebut sisa air wudhu atau potongan rambut Nabi. Seperti Sahabat Khalid bin Walid rajin menyimpan beberapa helai rambut Kanjeng Nabi Muhammad, Anas bin Malik pernah menginformasikan bahwa Ummu Sulaim (ibunya) mengumpulkan keringat Kanjeng Nabi, Abu Juhaifah pernah menceritakan para sahabat berebut sisa air wudlu Kanjeng Nabi Muhammad lalu mengusapkan ke wajah dan tubuh mereka.

Nah, dalam konteks lokal di tulisan ini, kiai/ulama yang dianggap sebagai Warasatul Anbiya (pewaris nabi), diberi penghormatan serupa yang diaplikasikan tanpa mengurangi spirit gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Di media sosial, bisa jadi banyak nalar sekuler, nalar populer, nalar literel, yang cenderung menyempitkan idiom dan tradisi gandulan sarunge kiai sebagai “kultus individual kiai” atau “praktik feodalisme”. Akan tetapi, ketika dikaji dari aspek epistemologi sanad dalam tradisi pesantren, narasi gandulan sarunge kiai merupakan ekspresi simbolik dari relasi santri/murid dengan jaringan keilmuan historis

Menghormati kiai/ulama harus diyakini ittiba’ para sahabat atas menghormati Kanjeng Nabi Muhammad tanpa menggantikan sosok kiai sebagai pengganti sosok Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Ini saya jelas tidak setuju.

Gandulan sarunge kiai secara sederhana tidak semata sebagai rekognisi atau pengakuan sosial, namun sebagai pengakuan pada garis transmitif ilmu, sanad keilmuan, yang secara konseptual bermuara pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagai sumber utama ilmu Islam yang benar dan sahih. Lewat pemahaman ini, sanad tak sebatas nostalgia tradisi belaka, namun menjadi fondasi epistemik untuk menjaga adab, otentisitas, dan nyambungnya ilmu dalam peradaban Islam.

Gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad adalah wajib. Ini tidak bisa didebat. Namun, gandulan sarunge kiai juga penting, karena menjadi bentuk menjaga sanad keilmuan, ittiba’, dan penghormatan yang sekadarnya juga penting. Sebab, ulama/kiai/orang alim adalah pewaris nabi. Begitu!

Ada pendapat lain?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 300 Sembako Lazisnu Didistribusikan untuk Marbot dan Yatama di Trangkil

    300 Sembako Lazisnu Didistribusikan untuk Marbot dan Yatama di Trangkil

    • calendar_month Sen, 20 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 308
    • 0Komentar

    PC Lazisnu memberikan paket sembako kepada anak-anak yatim. Tentu targetnya bukan hanya untuk anak yatim, namun lebih kepada wali yang merawat anak yatim tersebut. TRANGKIL-PC Lazisnu Kabupaten Pati kembali memberikan paket sembako. Kali ini Lazisnu beraksi di Kecamatan Trangkil. Dengan ditemani Pengurus Lazisnu tingkat MWC, Minggu (19/4) kemarin PC Lazisnu menghabiskan 300 paket sembako untuk […]

  • Membangun Nasionalisme Lewat Suwuk Aswaja

    Membangun Nasionalisme Lewat Suwuk Aswaja

    • calendar_month Sen, 22 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Temanggung – Bertempat di STAINU Temanggung, JRA Temanggung menggelar seminar bertajuk “Epistimologi Nalar Sehat Suwuk Aswaja Terhadap Fenomena Ruqyah Syar’iyyah di Indonesia” pada Ahad 21 juli 2019.  Dalam kesempatan itu, ditegaskan para pemateri bahwa suwuk merupakan bagian dari membangun nasionalisme. Suasana Seminar yang digelar oleh JRA Temanggung di STAINU Temanggung Dalam kesempatan itu, Ketua PCNU […]

  • Pembinaan Dai dan Daiyah di Pati: Meningkatkan Kemampuan Dakwah di Era Digital

    Pembinaan Dai dan Daiyah di Pati: Meningkatkan Kemampuan Dakwah di Era Digital

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id –  Sebanyak 60 dai dan daiyah dari berbagai elemen keagamaan se-Kabupaten Pati mengikuti kegiatan pembinaan yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati. Kegiatan berlangsung di Gedung Islamic Center Masjid Baitunnur Pati, Rabu (9/7/2025). Peserta yang hadir berasal dari unsur mubaligh-mubalighah, pembina majelis taklim, serta penyuluh agama Islam. Pembinaan ini bertujuan meningkatkan […]

  • Santri Salafiyah Angkat Masalah Sosial Di Panggung Teater

    Santri Salafiyah Angkat Masalah Sosial Di Panggung Teater

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 358
    • 0Komentar

    MARGOYOSO – Teater Aliyah Salafiyah (TEASA) MA Salafiyah Kajen kembali menggelar pertunjukan teater pada hari jum’at (29/11) siang. Mereka mengangkat cerita naskah lakon yang berjudul Tragedi Satria yang diadaptasi dari cerpen yang berjudul Ibu Yang Anaknya Di Culik itu karya Seno Gumira Ajidarma. Salah satu adegan Teasa yang diperankan oleh santriwati Salafiyah, Kajen, Margoyoso Pada […]

  • Bukan Sekadar Ujian Kertas, Mts Dan Sma Joyo Kusumo Sulap Ujian Jadi Laboratorium Karakter Digital

    Bukan Sekadar Ujian Kertas, Mts Dan Sma Joyo Kusumo Sulap Ujian Jadi Laboratorium Karakter Digital

    • calendar_month Sel, 3 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.761
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Di tengah kekhawatiran publik tentang dampak negatif gawai terhadap generasi muda, Yayasan Joyo Kusumo mengambil langkah berbeda. Lembaga pendidikan yang menaungi MTs dan SMA ini justru menjadikan teknologi sebagai mitra dalam membentuk karakter siswa. Pada Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) Genap Tahun Ajaran 2025/2026 yang berlangsung 2-9 Maret 2026, yayasan tidak hanya […]

  • Jakenan; Pelaksanaan PKPNU Pertama Tingkat MWCNU

    Jakenan; Pelaksanaan PKPNU Pertama Tingkat MWCNU

    • calendar_month Sel, 8 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Warta MWC NU: Jakenan Pada hari sabtu s/d Ahad tanggal 5-6 September 2015 MWCNU Kec Jakenan mengadakan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU). Jakenan menjadi MWC NU pertama yang telah melakukan PKPNU ini. “Dari panitia sangat bersyukur sekali dengan terlaksananya PKPNU ini, persiapannya bisa di bilang sangat cepat hanya dalam kurun waktu satu minggu saja, […]

expand_less