Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 28 Feb 2026
  • visibility 9.607
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Sebenarnya, tulisan ini selesai pada bagian pertama, yaitu berjudul Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian I). Namun, karena saya kesel, ya saya lanjutkan di bagian kedua ini. Agar ada jeda. Ambegan disit.

Idiom gandulan sarunge kiai dalam wacana populer sering dipahami sebagai simbol kebergantungan atau bahkan kultus individu. Dekonstruksi atas idiom tersebut tentu menuntut pemahaman epistemologis, bukan sekadar penilaian sosiologis modern yang sudah kita sampaikan pada bagian pertama kemarin.

Dalam riset Linnaja dan El Syam (2025), gondelan sarunge kiai menjadi simbol pendidikan Islam khas Nusantara yang menekankan kesetiaan pada sanad keilmuan para kiai, keberlanjutan ajaran Walisongo, dan pendekatan dakwah berbasis budaya yang ramah, membumi, serta mencerminkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Ini menjadi penguat bahwa gondelan tidak sekadar tradisi turun-temurun yang ngawur, tapi ada alasannya!

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai

Mengapa idiom gandulan sarunge kiai, gendolan sarunge kiai perlu didekonstruksi. Ya, jelas agar tidak salah paham. Salah tafsir. Salah mengartikan. Untuk itu, terdapat beberapa temuan dan hasil kajian dari bagian pertama atas bentuk dekonstruksi tersebut.

Pertama, gandulan sarunge kiai tidaklah bentuk kultus personal kiai/ulama, namun hal itu bentuk rekognisi atau pengakuan sanad keilmuan yang sahih dan jelas. Kiai dalam tradisi pesantren dihormati, ditakzimi, ditempatkan sebagai simpul dalam jaringan transmisi ilmu pengetahuan. Otoritas melekat pada kiai/ulama tidaklah milik individu, namun menjadi milik tradisi keilmuan yang ia wakili

Kedua, perspektif modern sering mengalamatkan tuduhan feodalisme budaya yang pada akhirnya memisahkan otoritas dari tradisi. Nah, uniknya, dalam pesantren, hubungan kiai-santri, guru-murid, atau pendidik-peserta didik itu bersifat timbal balik. Artinya, santri atau murid menghormati kiai/guru karena ilmu, dan kiai/guru memiliki bertanggung jawab ngemong atau membimbing santri/murid secara moral dan intelektual. Jelas ya!

Dalam Kitab Adabul Alim Wal Muta’Allim, KH – Hasyim Asy’ari menyerukan urgensi ikatan batin atau relasi jiwa antara santri-kiai, murid-guru, pelajar-pendidik, mahasiswa-dosen, dan lainnya. Meskipun secara puitis dan populer, istilah gondelan sarunge kiai kerap tampak dalam jargon-jargon santri ketika menggambarkan sikap rendah hati alias tawadu. Jenenge santri ya pancen ngono lah!

Ketiga, modernisasi telah melahirkan recontextualization. John Obert Voll lewat karyanya Islam: Continuity and Change in the Modern World (1994) mempertegas tradisi keilmuan Islam selalu melalui proses negosiasi dengan modernitas. Artinya, saat sistem “sertifikasi formal” dan “gelar akademis” menggantikan sanad sebagai mekanisme validasi utama dan paling utama yang diakui, maka praktik-praktik tradisional sering disalahpahami bahkan tidak dianggap babarblas.

Keempat, di pesantren maupun masyarakat Islam di Jawa pada umumnya, simbol-simbol fisik yang terlihat ritualistik mempunyai signifikasi epistemik. Ia merupakan pernyataan keterikatan pada sanad. Legitimasi pada tradisi ilmu klasik bukan sebatas lewat teks, malainkan juga lewat relasi individual yang terverifikasi.

Kelima, gondelan sarung kiai merupakan bentuk santri untuk mencari keberkahan, alias bertambah kebaikan. Konsep tabarruk atau tabarrukan ala pesantren ini sudah dicontohkan sejak dulu. Dalam Kitab Fathul Baari, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, melalui penjelasan atas Shahih Bukhari, di dalamnya dikaji mendalam soal diperbolehkannya tabarruk dengan peninggalan Nabi SAW. Kita-kitab sejarah (tarikh) juga menceritakan para sahabat Nabi Muhammad yang berebut sisa air wudhu atau potongan rambut Nabi. Seperti Sahabat Khalid bin Walid rajin menyimpan beberapa helai rambut Kanjeng Nabi Muhammad, Anas bin Malik pernah menginformasikan bahwa Ummu Sulaim (ibunya) mengumpulkan keringat Kanjeng Nabi, Abu Juhaifah pernah menceritakan para sahabat berebut sisa air wudlu Kanjeng Nabi Muhammad lalu mengusapkan ke wajah dan tubuh mereka.

Nah, dalam konteks lokal di tulisan ini, kiai/ulama yang dianggap sebagai Warasatul Anbiya (pewaris nabi), diberi penghormatan serupa yang diaplikasikan tanpa mengurangi spirit gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Di media sosial, bisa jadi banyak nalar sekuler, nalar populer, nalar literel, yang cenderung menyempitkan idiom dan tradisi gandulan sarunge kiai sebagai “kultus individual kiai” atau “praktik feodalisme”. Akan tetapi, ketika dikaji dari aspek epistemologi sanad dalam tradisi pesantren, narasi gandulan sarunge kiai merupakan ekspresi simbolik dari relasi santri/murid dengan jaringan keilmuan historis

Menghormati kiai/ulama harus diyakini ittiba’ para sahabat atas menghormati Kanjeng Nabi Muhammad tanpa menggantikan sosok kiai sebagai pengganti sosok Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Ini saya jelas tidak setuju.

Gandulan sarunge kiai secara sederhana tidak semata sebagai rekognisi atau pengakuan sosial, namun sebagai pengakuan pada garis transmitif ilmu, sanad keilmuan, yang secara konseptual bermuara pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagai sumber utama ilmu Islam yang benar dan sahih. Lewat pemahaman ini, sanad tak sebatas nostalgia tradisi belaka, namun menjadi fondasi epistemik untuk menjaga adab, otentisitas, dan nyambungnya ilmu dalam peradaban Islam.

Gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad adalah wajib. Ini tidak bisa didebat. Namun, gandulan sarunge kiai juga penting, karena menjadi bentuk menjaga sanad keilmuan, ittiba’, dan penghormatan yang sekadarnya juga penting. Sebab, ulama/kiai/orang alim adalah pewaris nabi. Begitu!

Ada pendapat lain?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Lembaga NU Distribusikan 30.000 Liter Air Bersih

    3 Lembaga NU Distribusikan 30.000 Liter Air Bersih

    • calendar_month Ming, 15 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 506
    • 0Komentar

    JAKENAN-Musim kemarau panjangan menimbulkan kegelisahan bagi masyarakat. Para petani khususnya, yang membutuhkan sumber daya air sebagai penunjang kegiatan cocok tanam akhir-akhir ini mulai risau dengan kondisi yang demikian. Beberapa aliran sungai bahkan dikabarkan mengering. Armada truk tangki siap mendistribusikan air bersih ke Kecamatan Jakenan Di Kabupaten Pati Sendiri, ada beberapa kecamatan yang mulai kesulitan air […]

  • Tingkatkan Mutu SDM, Pelajar NU Wedarijaksa Gelar Learning Together

    Tingkatkan Mutu SDM, Pelajar NU Wedarijaksa Gelar Learning Together

    • calendar_month Jum, 13 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 437
    • 0Komentar

      Prosesi kegiatan ‘Learning Together’ Departemen Organisasi PAC IPNU-IPPNU Wedarijaksa Masa pandemi tidak lantas menyurutkan semangat Pengurus Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Wedarijaksa.  Departemen Organisasi PAC IPNU-IPPNU di kecamatan tersebut justru membuat gebrakan baru. Sebuah program yang diberi nama ‘Learning Together’ justru lahir di tengah pandemi covid-19. Dimana organisasi-organisasi lain kerepotan untuk tetap menjalankan roda organisasi.  […]

  • 172.971 Siswa Daftar PTKIN 2022 lewat Jalur Prestasi

    172.971 Siswa Daftar PTKIN 2022 lewat Jalur Prestasi

    • calendar_month Rab, 13 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 378
    • 0Komentar

    Proses pendaftaran Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2022 sudah selesai. Panitia telah melakukan proses verifikasi dan hasilnya segera dibahas pada sidang yudisium atau rapat penentuan kelulusan. “Setelah dilakukan proses vinalisasi, total ada 172.971 pendaftar yang mengikuti proses seleksi SPAN PTKIN 2022,” terang Kepala Sekretariat SPAN UM PTKIN 2022 Mukhsin […]

  • Bupati Pati Janji Berikan Dana Hibah Rp 1 Miliar untuk Muslimat NU

    Bupati Pati Janji Berikan Dana Hibah Rp 1 Miliar untuk Muslimat NU

    • calendar_month Ming, 29 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 362
    • 0Komentar

      Bupati Pati Sudewo berjanji untuk memberikan kenaikan dana hibah sepuluh kali lipat dari sebelumnya ke Muslimat NU Kabupaten Pati. Jika sebelumnya Muslimat NU hanya memperoleh Rp 100 juta, kini Bupati menjanjikan Rp 1 miliar. Hal itu disampaikan Bupati Pati Sudewo saat menghadiri acara Khotmil Qur’an dan Istighosah dalam rangka Harlah Muslimat NU ke-79 dan […]

  • aerial view of city buildings during daytime

    Insting Parental Pemerintah

    • calendar_month Kam, 27 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 483
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Setiap yang sudah menikah dan memiliki anak, akan mengalami perubahan perilaku. Lebih protektif dan bertanggung jawab adalah salah satunya. Gejala ini bernama efek parental. Efek parental akan menimbulkan insting parental seperti yang sudah penulis sebutkan. Seseorang dengan kecenderungan masa bodoh soal hajat orang lain, perlahan maupun secara drastis akan berubah setelah […]

  • Rosok, Nilai Tambah Bersedekah

    Rosok, Nilai Tambah Bersedekah

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 372
    • 0Komentar

    Pati. Gunungwungkal, banyak orang yang beranggapan apabila sampah atau barang rongsokan, tidak ada nilainya sehingga di buang begitu saja. Namun siapa sangka, barang sisa-sisa dari olahan rumah tangga dan pertokoan tersebut dapat dijadikan jalan untuk menambah amal dan ibadah seluruh masyarakat. Hal tersebut dilakukan oleh Pemuda Masjid Besar Darussalam Gunungwungkal Pati.             “ Kami yang […]

expand_less