Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
  • visibility 9.315
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Tema tulisan seperti ini sudah banyak diketik banyak penulis. Diunggah banyak website. Dijelaskan pada Influecer dan Youtuber. Didakwahkan para pendakwah. Saya beberapa kali juga menulisnya di website resmi PCNU Pati. Namun, perlu ditegaskan lagi, mengapa etika bermedia sosial di bulan Ramadan menjadi penting untuk ditulis ulang di Pcnupati.or.id ini? Ya, jawab sak karep-karepem wes! Hehe

Perlu ditegaskan, Ramadan bagi saya adalah “bulan pendidikan etika”. Mengapa? Ya, karena Ramadan bukan sekadar mengatur hubungan manusia dengan badokan saja, namun juga membentuk sikap batin, lisan, dan perilaku sosial. Realitasnya, di era digital saat ini, ruang sosial manusia tak sekadar terbatas pada dunia fisik semata. Media sosial alias medsos sudah menjadi medan baru interaksi, ekspresi, bahkan konflik berkepanjangan. Maka dari itu, berbicara tentang Ramadan hari ini tidak bisa dilepaskan dari pembahasan etika bermedia sosial.

Parahnya lagi, ketika bulan yang seyogyanya dipenuhi usaha pengendalian diri, medsos justru sering menjadi ruang pelampiasan emosi. Ada perdebatan agama, ada “cebong”, ada “kampret”, ada “fufufafa”, ada ujaran kebencian, hoaks keagamaan, hingga pamer kesalehan dengan menujukkan bahwa gawainya adalah iPhone 17 dari Apple yang Cosmic Orange. Hahaha

Kondisi ini menunjukkan realitas, bahwa puasa sering berhenti pada dimensi ritual, sekadar bungkus dan ritus, belum sepenuhnya menjelma menjadi etika digital. Kok bisa ya?

Krisis Etika Kontemporer

Setahu saya, kerja medsos menggunakan logika kecepatan dan atensi. Edan tenan pancen. Unggahan konten yang memancing emosi berupa marah, takut, kontroversi, bahkan porno lebih cepat menyebar dibandingkan konten yang mendidik. Uangel pancen.

Tak heran, jika Sherry Turkle (2011) dalam buku Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less menegaskan bahwa teknologi digital menciptakan ilusi kedekatan, tetapi sering mengikis empati. Turkle berpendapat tegas demikian. Maka dalam konteks Ramadan 1447 H ini, kondisi seperti ungkapan Turkle tersebut sangat berbahaya karena ibadah yang seharusnya melatih kesabaran justru diiringi dengan perilaku reaktif di ruang digital lewat medsos waala alihi wasohbihi ajmain.

Dalam buku Convergence Culture: Where Old and New Media Collide, Henry Jenkins (2006) berpendapat medsos bersifat partisipatoris. Apa maksudnya? Tiap pengguna tidak sekadar konsumen (konsumtif) belaka, namun juga produsen pesan bahkan produsen makna dan pengetahuan. Artinya, dosa dan pahala tak sekadar lahir dari apa yang kita lakukan secara fisik, tetapi juga dari apa yang kita unggah, komentari, dan sebarkan. Bahaya kan?

Maka saya menyebut, di sinilah bulan Ramadan hadir sebagai koreksi moral, introspkeis diri, sebab tidak semua yang bisa diunggah harus diunggah, dan tidak semua yang viral layak disebarkan. Semua yang sedang “memanas” kita bagikan. Lebih baik dihentikan deh!

Puasa: Fondasi Etika Digital

Dalam Islam, anak kecil pun tahu bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, menaham diri dari makan, minum, dan seks. Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan puasa memiliki banyak kaliber, makam, kelas, derajat, atau tingkatan. Puasanya orang awam adalah sekadar menahan makan dan minum. Puasanya orang khusus adalah menjaga anggota tubuh dari maksiat. Sementara puasa orang yang sangat khusus adalah menjaga hati dari selain Allah. Jelas ya!

Jika konsep ini dibawa ke medsos, maka etika digital menuntut lebih dari sekadar tidak berkata kasar, saru, dan wagu. Lebih dari itu, puasa sangat menuntut kesadaran niat, dampak, dan tanggung jawab moral atas setiap aktivitas digital.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari No. 1903).

Dari Sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw di atas, intinya Beliau menegaskan bahwa puasa kehilangan makna ketika lisan dan perilaku termasuk di ruang digital tetap liar.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Bidayah al-Hidayah, beliau menyampaikan pesan agar seorang umat Islam menjaga lisannya dari debat sia-sia, ghibah, dan menyakiti hati orang lain. Jika lisan di dunia nyata saja harus dijaga. Maka dari itu, “lisan digital” berupa status, caption, komentar, dan uploadan tentu lebih layak untuk dikendalikan, karena dampaknya bisa jauh lebih luas dan limitless alias tak terbatas.

Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, menegaskan adab berbicara dan menyampaikan ilmu haruslah dilandasi niat benar, kehati-hatian, dan kemaslahatan. Mbah Hasyim dalam kitab ini, menegaskan bahwa prinsip-prinsip tersebut relevan dalam konteks medsos, utamanya ketika menyebarkan konten keagamaan lewat beragam platform lah. Dakwah digital tanpa adab hanya akan melahirkan kegaduhan, bukan pencerahan.

Dalam kaidah Usul Fikih juga dikenal sebuah kaidah popular yaitu “Dar ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih” (درء المفاسد مقدم على جلب المصالح). Kaidah Ushul Fikih ini bermakna “Menghindar dari kerusakan/keburukan harus didahulukan daripada meraih kemaslahatan/ kebaikan.”

Dalam konteks Ramadan, mencegah kerusakan harus diprioritaskan daripada sekadar menarik kemaslahatan. Prinsip ini menjadi dasar etika bermedsos. Artinya. ketika suatu unggahan berpotensi menimbulkan konflik, bengkerengan, kisruh, perpecahan, atau kesalahpahaman, maka meninggalkannya lebih utama.

Tantangan dan Solusinya

Setidaknya, terdapat tiga tantangan utama etika bermedia sosial selama Ramadan era digital. Pertama, banjir konten keagamaan instan. Kedua, polarisasi dan debat keagamaan. Ketiga, riya dan eksibisionisme digital.

Lalu, apa solusi yang bisa dilakukan? Pertama, menguatkan niat digital dalam menjalankan aktivitas digital selama bulan Ramadan. Tiap aktivitas bermedsos harus diawali dengan pertanyaan etis: untuk apa ini diunggah? Dalam Ihya’ Ulum al-Din, Imam Al-Ghazali menyerukan bahwa amal tanpa niat yang lurus tidak bernilai di sisi Allah Swt.

Kedua, menerapkan tabayun digital. Prinsip tabayun (QS. Al-Hujurat: 6) haruslah dijadikan dasar atau fondasi literasi digital. Jangan menyebarkan informasi sebelum jelas sumber dan dampaknya. Buku Media Ethics: Cases and Moral Reasoning tulisannya Clifford Christians, dkk., (2020) menekankan bahwa “kebenaran adalah pilar utama etika komunikasi”. Prinsip Islam juga menyerukan untuk menyampaikan yang benar meskipun itu pahit. Artinya, kaidah ini harusnya menjadikan dasar ketika bermedsos.

Ketiga, mengalihkan medsos menjadi ruang maslahat. Medsos bisa menjadi ladang pahala, bahkan ladang cuan, jika digunakan untuk edukasi, dakwah yang ramah, dan penguatan ukhuwah. Hal ini yang disebut para ulama sebagai amal jariyah dalam bentuk baru.

Keempat, membatasi konsumsi dan produksi konten. Puasa mengajarkan moderasi. Apapun itu bentuknya. Membatasi waktu scroll, memilih konten edukatif, dan menghindari debat sia-sia adalah bentuk “mujahadah digital” dan “riyadah digital”.

Ramadan dan etika bermedsos tidaklah dua hal yang terpisah. Ia jadi satu. Satu kesatuan. Justru, kualitas puasa Ramadan seorang muslim hari ini sangat tercermin dari perilakunya di ruang digital. Ruang maya atau ruang virtual. Menahan lapar tanpa menahan ujaran digital hanya akan melahirkan “kesalehan semu”.

Bulan Ramadan mengajarkan meneng (diam) sering lebih bernilai daripada “kokean cangkem”, dan tidak bereaksi menjadi wujud kedewasaan spiritual. Di tengah riuh medsos yang tak terbatas alias limitless, etika merupakan bentuk ibadah paling nyata dan paling mudah sebenarnya.

Dari situlah puasa Ramadan akan menemukan makna utuh, yaitu untuk membentuk manusia yang bertakwa, beradab, dan bertanggung jawab, baik di dunia nyata maupun di dunia digital. Apakah kita bisa mewujudkan hal itu? Mari kita mulai sekarang juga!

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • KH. Imron Jamil Bakal Buka Ngaji Rutin al Hikam di Gembong

    KH. Imron Jamil Bakal Buka Ngaji Rutin al Hikam di Gembong

    • calendar_month Jum, 31 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.212
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – KH. Imron Jamil yang begitu populer dengan pengajian al Hikamnya, berencana akan membuka kajian rutin di Gembong. Lebih tepatnya, Ngaji Hikam tersebut bakal diselenggarakan setiap Sabtu Pahing di Ponpes Shofa Az Zahro’ (PPSA) Dukuh Sentul, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Pengasuh PPSA, Gus Faiz Aminuddin Shofwan mengorfimasi hal ini kepada pcnupati.or.id, Jumat (31/10). […]

  • Majalah Nuansa Rihlah Ke Sekolah-sekolah

    Majalah Nuansa Rihlah Ke Sekolah-sekolah

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 507
    • 0Komentar

    Warta. LTN NU. Baru-baru ini Pimpinan Redaksi Majalah Nuansa Faiz Aminuddin, MA rihlah ke sekolah-sekolah, untuk memperkenalkan ke pelajar Pati dani acara perkenalannya melalui seminar atau pun bedah Majalah. Sehingga dengan begitu para pelajar yang mengikuti akan mengetahui jika  Majalah ini bagus untuk di jadikan referensi. Dalam edisi kali ini, Redaksi sengaja mengankat tema Pertarungan politik […]

  • PCNU-PATI

    Inilah Rangkaian Harlah PC Fatayat NU Pati

    • calendar_month Sen, 3 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PC Fatayat NU Pati mengadakan berbagai lomba dalam rangka memperingati Harlah Fatayat NU ke-73, Ahad (02/07). Acara ini diikuti oleh delegasi seluruh PAC Fatayat NU se-Kabupaten Pati. Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Pati ini, diantaranya ada lomba senam gesit, lomba administrasi, dan pemilihan duta Fatayat Pati tahun 2023. Asmonah selaku ketua PC Fatayat […]

  • RMI PCNU Pati Berupaya Ciptakan Lingkungan Pesantren yang Aman dan Nyaman

    RMI PCNU Pati Berupaya Ciptakan Lingkungan Pesantren yang Aman dan Nyaman

    • calendar_month Jum, 18 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 543
    • 0Komentar

      pcnupati.or id – Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Kabupaten Pati mengadakan dialog dengan Bu Nyai dari berbagai pesantren di Kabupaten Pati pada Jumat (18/72025), di Aula Barat Madrasah Alhikmah Kajen, Kecamatan Margoyoso. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan terhadap pelecehan seksual di lingkungan pesantren. Dialog ini dihadiri oleh 100-an Bu Nyai dari […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Kam, 7 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 673
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr Wb. Saya mau membuka sebuah usaha, namun tetangga saya sudah ada yang menjalankan usaha yang serupa, saya kawatir jika saya menjalankan usaha tersebut tetangga saya akan merasa tersaingi, mohon dijelaskan bagaimana pandangan fiqih tentang usaha tersebut, apakah saya perlu meminta izin pada tetangga saya ?. Terima kasih. Wa’alaikum salam Wr Wb. Membuka usaha […]

  • Respon Tantangan Zaman, 100 Pengelola Medsos Sekolah Ma'arif Pekalongan Ikuti Pelatihan Literasi Digital

    Respon Tantangan Zaman, 100 Pengelola Medsos Sekolah Ma’arif Pekalongan Ikuti Pelatihan Literasi Digital

    • calendar_month Sen, 3 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.569
    • 0Komentar

    PEKALONGAN — Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan resmi menggandeng Institut Widya Pratama (IWIMA)Kota Pekalongan. Kolaborasi strategis ini diwujudkan melalui program pelatihan khusus bagi pengelola media sosial di lingkungan sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif NU Kota Pekalongan. Tak kurang dari 100 peserta dintanggal […]

expand_less