Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tipologi Kiai di Masyarakat

Tipologi Kiai di Masyarakat

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 4 Mei 2024
  • visibility 237
  • comment 0 komentar

Tipologi Kiai di Masyarakat

Oleh : Siswanto, M A

Istilah kiai pada umumnya digunakan masyarakat untuk menyebutkan orang lain yang dinilai memiliki keilmuan dan dianggap pintar oleh masyarakat di kampung halamannya. Istilah kiai juga pada umumnya mengkrucut pada sosok yang dianggap alim dan memiliki pesantren, ahli kitab, serta memiliki ketertarikan pada kajian tradisional Islam di masyarakat.

Sedangkan pemakaian istilah kiai sendiri di Indonesia hanya khas berlaku dalam kultur masyarakat Jawa. Sementara di daerah lain, istilah kiai memiliki arti yang berbeda-beda panggilannya, misalnya ajengan untuk masyarakat Sunda, bendere untuk masyarakat Madura, buya untuk masyarakat Sumatera, dan topanrita untuk masyarakat Sulawesi.

Dengan demikian istilah kiai, ajengan, dan buya merupakan istilah lokal yang ada di masing-masing daerah. Akan tetapi secara terminologi istilah tersebut merupakan istilah sama dengan istilah lain yang tersebar di pelbagai daerah.

Dalam khazanah intelektual masyarakat jawa, istilah kiai diidentikan  dengan ulama. Padahal pengertian ulama sendiri merupakan memiliki makna yang lebih luas cakupannya, yakni orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan tidak ada pembatasan maupun spesialisasi tertentu, sehingga sebutan ulama memiliki makna yang luas dan global.

Sementara kiai sendiri kerap hanya dipersepsikan sebagai orang yang menguasai kajian kitab kuning dan komitmen dengan keilmuan keislaman plus dalam pengalamannya disertai dengan kharismatiknya. Oleh karena itu, istilah kiai dan ulama pada umumnya di masyarakat dimaknai sama, yakni orang yang dianggap mampu dan bisa membimbing masyarakat menuju jalan yang lebih terang dan benar.

Dalam realitas sosial, kiai sebagai tokoh agama di masyarakat menduduki posisi ganda, yaitu selaku pemimpin spiritual, pelayan masyarakat maupun juga sebagai aktivis dalam dunia politik. Maka, dalam kajian sosiologis, tokoh spiritual semacamituselalu muncul dalamagama apapun yang dipeluk oleh masyarakat. Dalam kajian-kajiantentang kehidupan masyarakat mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling modern sekalipun, selalu dikenal religi, yaitu gejala penyembuhan dan pengobatan pada yang ghaib. Fenomena ini dapar disematkan sebagai bukti, bahwa kiai di masyarakat selain pahamilmu agama juga ilmu spiritual.

Oleh karena itu,istilah kiai sendiri dari pelbagai perspektif memiliki banyak makna. Hal ini sebagaimana dituturkan Gus Dur di NU online ada empat kategori kiai.

Pertama, Pertama, kiai tandur. Kiai jenis ini mengabdikan hidupnya untuk mengajar dan mendidik murid-murid di pesantrennya, serta memimpin komunitas di musala atau majelis taklim.

Kedua, kiai sembur, yang disebut di kalangan pesantren sebagai “ahli suwuk” atau “ahli dalam semua jenis doa”, memiliki fokus pada dunia spiritual dan pengobatan.

Ketiga, kiai tutur. Berbicara dari satu tempat ke tempat lain adalah sesuatu yang menarik bagi kiai jenis ini. Berhubungan dengan banyak orang, termasuk artis dan pejabat. Gus Dur mengatakan bahwa kiai yang pandai membuat proposal dan sering nongkrong di kantor pejabat termasuk dalam kategori ini.

Keempat, seorang kiai catur. Kiai jenis ini sangat menyukai politik dan kekuasaan. Dalam kasus seperti ini, Gus Dur mengaku sebagai kiai.

Dari keempat jenis istilah kiai di atas, Gus Dur berpendapat bahwa keempat jenis kiai itu harus bertanggung jawab satu sama lain, bukan saling menyalahkan atau menjelek-jelekkan. Kedua jenis kiai, kiai tandur dan kiai sembur, harus tinggal di komunitas untuk mempertahankan keyakinan mereka. Mereka bertanggung jawab atas NU di wilayah itu, sementara dua kelompok kiai lainnya, kiai tutur dan kiai catur, bertanggung jawab atas NU di tingkat kebijakan.

 

 

 

 

 

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LPBI NU : 10 Tangki Air Bersih Per Hari Masih Kurang

    LPBI NU : 10 Tangki Air Bersih Per Hari Masih Kurang

    • calendar_month Rab, 16 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 263
    • 0Komentar

    PATI-Lazisnu bersama dengan LPBI NU Cabang Pati akhir-akhir ini disibukkan dengan agenda bhakti sosial. Kekeringan yang melanda sebagian daerah di Kabupaten Pati membuat LPBI NU sebagai lembaga yang mengurus penanggulangan bencana harus turun tangan. Tercatat, puluhan desa yang tersebar di beberapa kecamatan di Pati mengalami kekeringan. Saebagian besar desa tersebut berada di Kecamatan Pucakwangi, Kayen, […]

  • PCNU-PATI

    MA Walisongo Pecangaan Bekali Siswa Wawasan Studi Lanjut

    • calendar_month Sen, 22 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jepara – Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan Jepara membekali peserta didik kelas XII dengan wawasan studi lanjut dan jenjang karir yang berlangsung di Laboratorium Multimedia, Ahad (21/1). Hadir dalam kegiatan Kepala MA Walisongo Ainun Najib, Direktur Eksekutif Yayasan Walisongo Adib Khoiruz Zaman, dan narasumber alumnus UGM Achmad Widiatmoko. Juga 37 peserta didik jurusan IPA […]

  • MWCNU Margoyoso Sabet Penghargaan Kinerja Terbaik oleh PCNU Pati

    MWCNU Margoyoso Sabet Penghargaan Kinerja Terbaik oleh PCNU Pati

    • calendar_month Kam, 29 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.780
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Malam peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama yang digelar oleh PCNU dan Pemda Pati di Pendopo Kabupaten Pati mbawa kenangan manis bagi MWC-NU Margoyoso. Acara istighotsah dan doa bersama yang digelar pada Rabu (28/1) malam tersebut diiringi dengan penganugerahan PCNU Pati Award. Penghargaan ini merupakan apresiasi kinerja MWC-NU (kepengurusan NU di tingkat kecamatan-red) oleh […]

  • Bedah Buku Mbah Sahal dan Perjalanan Intelektualnya

    Bedah Buku Mbah Sahal dan Perjalanan Intelektualnya

    • calendar_month Jum, 7 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 249
    • 0Komentar

    MARGOYOSO – “Mbah Sahal dan Perjalanan Intelektualnya” menjadi tema bedah Buku Perpustakaan Mathali’ul Falah bekerjasama dengan Pusat Studi Pesantren dan Fiqh Sosial (PUSAT FISI) IPMAFA Jum’at, 7 Februari 2020. Bertempat di auditorium PIM Gedung Banat, acara ini menghadirkan Ibu Tutik Nurul Janah, MH Direktur PUSAT FISI yang sekaligus menantu Kiai Sahal Mahfudh, sebagai narasumber. Acara […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Puasa: Pasword Menuju Allah

    • calendar_month Sel, 10 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.938
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Kita pastinya punya banyak password alias kata sandi untuk mengakses sistem tertentu. Dari kata sandi gawai, email, akun medsos (Facebook, Instagram, Tiktok), laptop, m-bangking, dan segala teknologi digital yang Anda punya. Nah, apakah hanya kata kunci di dunia? Ya ora to!   Untuk mengakses sistem Allah Swt, kita juga butuh […]

  • Menimbun Minyak Tanah

    Menimbun Minyak Tanah

    • calendar_month Sel, 21 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 232
    • 0Komentar

    Pada zaman sekarang, kita tahu bahwa seluruh dunia mengalami krisis globalisasi ( termasuk negara kita Indonesia ), sehingga berdampak pada kelangkaan minyak tanah. Pertanyaan : Bagaimana hukumnya, jika ada seorang yang kaya raya memborong minyak tanah di kota itu dengan harga yang sangat murah, lalu orang kaya tersebut menjual minyak tanah kepada orang lain dengan […]

expand_less