Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa Kok Rebahan?

Puasa Kok Rebahan?

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 14 Mar 2024
  • visibility 222
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Ketika ada rekan bertanya, puasa kok rebahan? Saya bilang, “ya orang rebahan itu banyak motif. Ada yang karena keshet (malas), sakit, atau sekadar istirahat melepas penat dan lelah”. Ya, beragam motif tersebut tentu banyak sekali perspektif kita sajikan agar kita tetap produktif di bulan Ramadan. Sebagai bagian dari Rukun Islam, puasa merupakan salah satu praktik ibadah yang penting dalam agama Islam. Namun sangat sia-sia jika seharian rebahan tanpa alasan.

Selama bulan Ramadan, umat muslim di seluruh dunia menjalankan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari sebagai bentuk pengorbanan, introspeksi, dan pengendalian diri. Namun, belakangan ini, muncul fenomena yang dikenal dengan istilah “puasa kok rebahan” yang menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat muslim. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa puasa semacam ini tidak sesuai dengan makna sejati dari puasa itu sendiri.

 

Puasa Kok Rebahan?

Puasa tapi rebahan merujuk pada praktik puasa seorang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan berbaring atau rebahan, tanpa melakukan aktivitas fisik atau spiritual yang signifikan. Aktivitas utama mereka hanyalah tidur, menonton televisi, scroll WhatsApp, atau menghabiskan waktu di media sosial. Praktik ini sering kali dilakukan dengan alasan untuk menghindari lapar dan dahaga, tanpa benar-benar memahami tujuan dan makna dari puasa itu sendiri.

Rebahan merupakan istilah dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada posisi tubuh seseorang yang berada dalam keadaan berbaring atau beristirahat dengan nyaman. Istilah ini sering digunakan untuk menyatakan aktivitas santai di mana seseorang berada dalam posisi berbaring, sering kali sambil menonton televisi, menggunakan ponsel, atau melakukan kegiatan lainnya yang tidak memerlukan banyak gerakan fisik.

Dalam konteks yang lebih luas, “rebahan” juga dapat merujuk pada gaya hidup atau pola perilaku di mana seseorang cenderung menghabiskan banyak waktu dengan berbaring atau beristirahat tanpa melakukan aktivitas yang produktif atau bermanfaat secara fisik maupun mental.

Penggunaan istilah “rebahan” dalam konteks “puasa kok rebahan” sering kali mengacu pada praktik puasa di mana seseorang hanya menahan diri dari makan dan minum, namun tidak melakukan aktivitas yang membawa manfaat spiritual atau menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan penghayatan. Praktik semacam ini kontroversial karena dianggap menyimpang dari esensi sejati puasa dalam agama Islam, yang seharusnya membawa manfaat spiritual dan meningkatkan kesadaran diri serta koneksi dengan Allah.

 

Mitos atau Kenyataan?

Puasa dan rebahan telah menjadi topik perdebatan di antara para ulama dan umat Islam. Di satu sisi, beberapa orang berpendapat bahwa asal mula puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas lainnya yang dapat membatalkan puasa. Dengan demikian, secara teknis, tidak ada larangan untuk berbaring atau rebahan selama berpuasa, selama tidak ada tindakan yang membatalkan puasa.

Di sisi lain, banyak ulama dan cendekiawan Islam menekankan bahwa puasa tidak hanya tentang menahan diri dari makanan dan minuman. Puasa seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran spiritual, introspeksi diri, kebaikan, dan koneksi dengan Allah. Dalam konteks ini, puasa kok rebahan dianggap sebagai pemahaman yang dangkal dan menyimpang dari esensi sejati puasa.

Puasa kok rebahan merupakan fenomena yang memicu perdebatan di kalangan umat Muslim. Meskipun secara teknis tidak ada larangan untuk berbaring atau rebahan selama berpuasa, namun praktik ini dinilai oleh sebagian besar ulama sebagai pemahaman yang dangkal dan menyimpang dari esensi sejati puasa. Sebagai ibadah yang memiliki dimensi spiritual, puasa seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran diri dan koneksi dengan Allah, bukan sekadar menahan lapar dan haus. Oleh karena itu, penting bagi umat Muslim untuk memahami tujuan dan makna sejati dari puasa serta menjalankannya dengan penuh kesadaran dan penghayatan.

 

Puasa Harus Produktif

Puasa, dalam konteks agama Islam, bukan hanya sekadar menahan diri dari makanan dan minuman. Ia juga merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran spiritual, memperbaiki diri, dan berbuat kebaikan. Oleh karena itu, puasa seharusnya tidak hanya dilakukan secara mekanis atau pasif, tetapi juga produktif dalam berbagai aspek kehidupan. Penulis menawarkan beberapa alasan mengapa puasa harus produktif. Pertama, peningkatan kedisiplinan. Puasa yang produktif melibatkan disiplin yang tinggi dalam menjalankan ibadah dan mengendalikan hawa nafsu. Ini membantu seseorang menjadi lebih teratur dan bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kedua, pengembangan kebaikan. Puasa yang produktif mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan baik dan bermanfaat bagi sesama. Ini bisa berupa memberi sedekah, membantu orang lain, atau berkontribusi dalam masyarakat. Ketiga, peningkatan produktivitas. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk tetap produktif dalam aktivitas sehari-hari. Bahkan, banyak orang yang mengalami peningkatan produktivitas selama bulan Ramadan karena mereka lebih fokus dan bersemangat dalam mencapai tujuan mereka. Keempat, pembentukan kualitas individu. Puasa yang produktif membantu seseorang mengembangkan kualitas diri seperti kesabaran, pengendalian diri, rasa syukur, dan empati. Ini membantu dalam memperbaiki hubungan dengan diri sendiri dan dengan orang lain.

Kelima, peningkatan kesehatan spiritual dan fisik. Puasa yang produktif dapat memberikan manfaat kesehatan baik secara spiritual maupun fisik. Secara spiritual, puasa membantu membersihkan jiwa dari dosa dan keburukan. Secara fisik, puasa dapat memberikan istirahat bagi sistem pencernaan dan membersihkan tubuh dari racun. Keenam, peningkatan kualitas ibadah. Puasa yang produktif membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Selain menahan diri dari makan dan minum, seseorang juga diharapkan memperbanyak ibadah seperti salat, zikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Ketujuh, ben urip ono gunane. Ya, jika kita malah menjadi pemalas saat Ramadan, kethoke kok ra berguna blas.

Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk memahami bahwa puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk mencapai kedekatan dengan Allah dan meningkatkan kualitas kehidupan secara keseluruhan. Puasa yang produktif akan membawa manfaat yang jauh lebih besar bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan.

*Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., penulis lahir di Pati, 17 Juni. Saat ini menjadi dosen Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2018-2023, Kabid Media, Hukum, dan Humas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2020-sekarang, aktif menjadi reviewer 17 jurnal internasional terindeks Scopus, reviewer 7 jurnal internasional, editor dan reviewer 25 jurnal nasional.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Markesot Bertutur

    • calendar_month Rab, 14 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Tidak mengherankan jika literasi kritik amat pedas terhadap kemanusiaan karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang diterbitkan di tahun 1993 ini dicetak kembali di tahun 2012, dan dicetak lagi di tahun 2015, dan… Buku ini sebagian besar bercerita dari sudut pandang seorang Markesot: sosok fiktif yang dikembangkan oleh Emha. Terkadang, Markesot dianggap sebagai manusia misterius […]

  • LPBI NU : 10 Tangki Air Bersih Per Hari Masih Kurang

    LPBI NU : 10 Tangki Air Bersih Per Hari Masih Kurang

    • calendar_month Rab, 16 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 222
    • 0Komentar

    PATI-Lazisnu bersama dengan LPBI NU Cabang Pati akhir-akhir ini disibukkan dengan agenda bhakti sosial. Kekeringan yang melanda sebagian daerah di Kabupaten Pati membuat LPBI NU sebagai lembaga yang mengurus penanggulangan bencana harus turun tangan. Tercatat, puluhan desa yang tersebar di beberapa kecamatan di Pati mengalami kekeringan. Saebagian besar desa tersebut berada di Kecamatan Pucakwangi, Kayen, […]

  • LP Ma`arif NU Jawa Tengah Audiensi dengan Dinas DIKBUD Provinsi Jawa Tengah

    LP Ma`arif NU Jawa Tengah Audiensi dengan Dinas DIKBUD Provinsi Jawa Tengah

    • calendar_month Rab, 23 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 255
    • 0Komentar

      Semarang – Lembaga Pendidikan Ma`arif NU Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada Rabu, 23 Oktober 2024. Kehadiran pengurus LP. Ma`arif NU Jawa Tengah diterima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Dr. Uswatun Hasanah, S.Pd, M.Pd., dan didampingi oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Syamsudin Isnaeni S.STP, S.H, M.H, […]

  • PAC IPNU IPPNU Wedarijaksa Audiensi dengan Pemerintah Kecamatan

    PAC IPNU IPPNU Wedarijaksa Audiensi dengan Pemerintah Kecamatan

    • calendar_month Jum, 10 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 252
    • 0Komentar

    Umar, Ketua PAC IPNU Wedarijaksa (kiri) sedang berdiskusi dengan Camat  Setempat, Eko Purwantoro  WEDARIJAKSA – PAC IPNU Wedarijaksa baru saja lakukan audiensi dengan Pemerintahan Kecamatan Wedarijaksa, Rabu (8/9). Perjumpaan yang berlangsung relatif singkat ini dilakukan di rumah dinas Camat Wedarijaksa.  Dalam kesempatan tersebut PAC IPNU IPPNU Wedarijaksa dalam hal ini ditandangi langsung oleh Umar, selaku […]

  • NU Peduli Kabupaten Pati Dirikan Posko Kesehatan untuk Warga Terdampak Banjir

    NU Peduli Kabupaten Pati Dirikan Posko Kesehatan untuk Warga Terdampak Banjir

    • calendar_month Jum, 23 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.477
    • 0Komentar

      PATI – NU Peduli Kabupaten Pati terus menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat terdampak banjir di wilayah Kabupaten Pati. Salah satu upaya nyata yang dilakukan adalah dengan mendirikan Posko Kesehatan guna memberikan layanan dan pendampingan kesehatan bagi warga terdampak. Posko Kesehatan NU Peduli secara resmi mulai beroperasi pada Kamis, 22 Januari 2026, bertempat di Posko […]

  • PCNU - PATI kegiatan_akad_nikah_di_masjid

    Sighot Ta’liq dalam Pernikahan

    • calendar_month Sen, 4 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 344
    • 0Komentar

       Berikut ini kami sertakan potongan dari sighot ta’liq : ‘selanjutnya saya sekarang membaca sighot ta’liq atas istri saya itu sebagai berikut : sewaktu-waktu saya  : Meninggalkan istri saya dua tahun berturut-turut Atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya selama 3 bulan lamanya Atau saya menyakiti badan atau jasmani istri saya itu Atau saya membiarkan […]

expand_less