Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Takjil, Pencitraan, dan Tren Konten Kreator

Takjil, Pencitraan, dan Tren Konten Kreator

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 13 Mar 2025
  • visibility 469
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

Tren pencitraan, sekadar membuat konten telah menjamur di masyarakat kita. Saking jengkelnya ketika ada orang melakukan apapun “halah itu cuma konten”. Apatisme inilah yang harus diperhatikan di bulan Ramadan. Sebab, Ramadan seharusnya membawa berkah dan semangat untuk meningkatkan ibadah. Namun, di era media sosial ini, Ramadan juga menjadi panggung bagi berbagai fenomena, salah satunya adalah tren bagi-bagi takjil yang seringkali diiringi dengan pencitraan dan konten kreator.

Hakikatnya, Ramadan adalah bulan penuh berkah yang seharusnya diisi dengan ibadah, introspeksi, dan kegiatan yang membawa manfaat bagi diri sendiri serta orang lain. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren baru di kalangan konten kreator yang menjadikan momen Ramadan sebagai ajang pencitraan. Bagi-bagi takjil, berbagi santunan, dan kegiatan sosial lainnya seakan kehilangan makna keikhlasannya karena dibalut demi mengejar like, share, dan monetisasi di platform digital.

Takjil, hidangan pembuka puasa, memiliki makna yang dalam sebagai simbol berbagi dan kepedulian. Tradisi ini mengajarkan kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga berbagi rezeki dengan sesama yang membutuhkan. Namun, sayangnya, niat mulia ini terkadang ternoda oleh kepentingan pribadi, seperti pencitraan diri atau popularitas di media sosial.

Tak dapat dipungkiri, konten kreator memiliki peran penting dalam menyebarkan kebaikan. Namun, mereka juga memiliki tanggung jawab besar untuk tidak terjebak dalam pusaran pencitraan. Kegiatan berbagi takjil seharusnya dilakukan dengan tulus, bukan sekadar untuk mendapatkan pujian atau meningkatkan popularitas.

Ketika Kebaikan Berbalut Pencitraan

Tidak dapat dimungkiri bahwa media sosial memiliki peran besar dalam menyebarkan inspirasi kebaikan. Namun, ketika aksi berbagi takjil dan amal lainnya dilakukan semata-mata demi kepentingan pribadi, esensi Ramadan justru berkurang. Fenomena ini terlihat dari banyaknya video yang menampilkan bantuan sosial dengan angle dramatis dan narasi heroik. Sayangnya, beberapa dari mereka lebih mementingkan jumlah views daripada kebermanfaatan bagi penerima bantuan.

Beberapa contoh konten yang kerap terlihat selama Ramadan. Pertama, bagi-bagi takjil dengan pengambilan gambar yang berlebihan, fokus pada ekspresi penerima daripada keikhlasan pemberi. Kedua, kegiatan sosial yang dilakukan demi meningkatkan engagement, bukan karena dorongan hati untuk membantu. Ketiga, tantangan dan challenge Ramadan yang lebih bersifat hiburan daripada edukatif.

 

Ramadan Produktif Tanpa Lupa Esensi

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa tetap produktif di bulan Ramadan tanpa terjebak dalam fenomena pencitraan? Berikut adalah beberapa strategi yang bisa Anda terapkan. Pertama, niat yang tulus. Awali setiap kegiatan dengan niat yang tulus untuk mencari ridha Allah SWT. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Kedua, fokus pada kualitas, bukan kuantitas. Jangan hanya fokus pada seberapa banyak konten yang Anda hasilkan, tetapi fokuslah pada kualitas konten tersebut. Apakah konten tersebut bermanfaat, menginspirasi, atau justru menyesatkan?

Ketiga, berkolaborasi dengan komunitas. Ajak teman-teman atau komunitas untuk melakukan kegiatan sosial bersama. Dengan berkolaborasi, kita bisa saling mengingatkan dan menguatkan niat untuk berbuat baik.

Keempat, manfaatkan media sosial dengan bijak. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, bukan untuk mencari popularitas. Bagikan konten-konten yang positif dan inspiratif, serta hindari konten yang bersifat pamer atau riya.

Kelima, introspeksi diri. Lakukan introspeksi diri secara berkala. Tanyakan pada diri sendiri, apakah niat kita dalam melakukan kebaikan sudah lurus? Apakah kita sudah ikhlas dalam berbuat baik?

 

Ramadan Bermakna

Daripada terjebak dalam budaya pencitraan, ada banyak cara lain yang lebih produktif dan bermakna untuk mengisi Ramadan. Pertama, membuat konten edukatif dan inspiratif.
Alih-alih sekadar membagikan aksi berbagi takjil, lebih baik membuat konten yang mengedukasi, seperti kajian singkat tentang makna puasa dan keutamaan Ramadan, tips memperbaiki kualitas ibadah, seperti cara meningkatkan kekhusyukan dalam salat, sejarah Islam dan kisah inspiratif para ulama dalam menghadapi Ramadan, dan lainnya termasuk Kolom Ramadan di pcnupati.or.id ini.

Kedua, mengembangkan diri dengan ibadah dan ilmu. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki diri. Manfaatkan waktu untuk membaca Al-Qur’an dan memahami tafsirnya, mengikuti kajian online atau offline, menulis refleksi spiritual untuk mendokumentasikan perjalanan ibadah.

Ketiga, berbagi dengan cara yang lebih bermakna. Jika ingin berbagi, lakukan dengan penuh keikhlasan tanpa harus mengabadikan setiap momen seperti menyalurkan bantuan secara anonim kepada yang membutuhkan, mengadakan kelas gratis atau mentoring untuk berbagi ilmu dan pengalaman, bergabung dengan ormas seperti Nahdlatul Ulama atau komunitas yang fokus pada pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Keempat, menjaga produktivitas tanpa eksploitasi. Bagi para konten kreator, Ramadan bisa tetap menjadi momen produktif tanpa harus mengeksploitasi aspek sosial seperti membuat konten reflektif yang menggugah kesadaran spiritual, mengadakan diskusi online tentang pengelolaan waktu dan produktivitas selama Ramadan, mengembangkan keterampilan baru yang bisa digunakan setelah Ramadan.

Pada Ramadan ini, mari kita jadikan momentum untuk “puasa” dari segala bentuk pencitraan dan kesombongan. Mari kita fokus pada esensi Ramadan, yaitu meningkatkan ibadah, memperbanyak sedekah, dan memperbaiki diri.

Kita bisa mulai dari hal-hal kecil, seperti berbagi takjil dengan tetangga sekitar, membantu membersihkan masjid, atau sekadar memberikan senyuman kepada orang yang sedang kesusahan. Ingatlah, bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun, akan dicatat oleh Allah SWT.

Ramadan bukan sekadar momen untuk mencari popularitas di media sosial. Jika ingin berbagi kebaikan, lakukanlah dengan tulus tanpa harus membungkusnya dengan pencitraan yang berlebihan. Umat Islam diajarkan untuk beramal dengan ikhlas dan penuh keimanan. Dengan memanfaatkan Ramadan secara produktif dan bermakna, kita tidak hanya mendapatkan pahala, tetapi juga membangun kebiasaan baik yang bisa berlanjut setelah bulan suci ini berlalu.

Jangan biarkan Ramadan ini hanya menjadi ajang untuk mencari popularitas di media sosial. Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai bulan yang penuh berkah, di mana kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama. Semoga Ramadan ini menjadi Ramadan terbaik dalam hidup kita. Pora ngono leh?

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LPPM IPMAFA Studi Banding ke UNDIP untuk Membangun Kemitraan Riset dan Publikasi Ilmiah

    LPPM IPMAFA Studi Banding ke UNDIP untuk Membangun Kemitraan Riset dan Publikasi Ilmiah

    • calendar_month Jum, 21 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.745
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati melakukan kunjungan kelembagaan ke LPPM Universitas Diponegoro (UNDIP), Kamis (20/11/2025). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperluas wawasan serta memperkuat kapasitas tata kelola riset, jurnal ilmiah, dan penyelenggaraan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di lingkungan Kampus IPMAFA. Ketua LPPM IPMAFA, […]

  • Merenungi Hakikat Aswaja dan Tanggung Jawab Generasi Muda

    Merenungi Hakikat Aswaja dan Tanggung Jawab Generasi Muda

    • calendar_month Kam, 12 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Akhir-akhir ini muncul kegelisahan dari masyarakat Aswaja. Kekewatiran tersebut berkaitan dengan banyaknya muncul gerakan radikalisme, ekstrimisme dan anarkisme dalam mendakwahkan Islam. Salah satu sasaran dakwahnya adalah kader pemuda yang masih lugu dan sedikit memiliki pengalaman keagamaan. Ajakan untuk bergabung dalam aliran tersebut biasanya melalui kampus, organisasi, di desa-desa dan dengan memberi berbagai iming-imingmateri yang menggiurkan. […]

  • Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Penguatan Inklusi dan Bahasa Inggris di Sekolah Ma’arif Jateng

    Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Fondasi Penguatan Inklusi dan Bahasa Inggris di Sekolah Ma’arif Jateng

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.338
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah menggelar satu rangkaian kegiatan terpadu yang mencakup Pelatihan Pembelajaran Mendalam Kurikulum Berbasis Cinta (PM KBC) An-Nahdliyyah, Program Pendampingan Bahasa Inggris Berstandar Internasional Pearson, serta penyelesaian Modul Pendidikan Inklusi. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026, di Hotel Muria, Kota Semarang. […]

  • PCNU-PATI Photo by Marcel Strauß

    Pesantren sebagai Agen Perubahan Sosial Masyarakat

    • calendar_month Sab, 20 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Pondok pesantren sebagaimana kita ketahui merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia yang ada dalam masyarakat dan mempunyai peran yang sangat urgent dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Karena di dalam pesantren tidak hanya memberikan pengetahuan dan ketrampilan teknis kepada santri, melainkan yang lebih penting adalah menanamkan nilai-nilai […]

  • Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    Kemenag Kucurkan Bantuan untuk Pesantren

    • calendar_month Sen, 2 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 446
    • 0Komentar

    JAKARTA-Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) membuka tangan lebar-lebar bagi para pengelola pondok pesantren di seluruh Indonesia. Baru-baru ini, melalui Direktorat Pendidikan Islam Subdit Pendidikan Pesantren, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI membuka penerimaan proposal bantuan.] Setidaknya ada tiga jenis peruntukan bantuan yang ditawarkan oleh Kemenag. Di antaranya, pendidikan lifeskill dan pengembangan ekonomi pesantren; bantuan pesantren […]

  • NU Care-LAZISNU Pati Launching Program Kambing Bergulir

    NU Care-LAZISNU Pati Launching Program Kambing Bergulir

    • calendar_month Sel, 13 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 624
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – NU Care-LAZISNU Pati meluncurkan program zakat produktif berupa kambing bergulir dengan tujuan untuk membantu perekonomian warga penerima manfaat. Program ini ditandai dengan penyerahan dua ekor kambing bunting kepada Sufiyanto, warga Dukuh Tarukan, Desa Margorejo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, pada Senin (12/5/2025). Ketua LAZISNU Pati, Edi Kiswanto, menjelaskan bahwa program kambing bergulir ini […]

expand_less