Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ramadan: antara Pati, Semarang, Blora, Temanggung, dan Jogja

Ramadan: antara Pati, Semarang, Blora, Temanggung, dan Jogja

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 24 Mar 2024
  • visibility 68
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda*

 Setiap tempat menyimpan enigma, rasa, karsa, budaya, dan juga kata-kata. Terutama saat Ramadan seperti ini. Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmat, merupakan salah satu momen yang paling dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Jika mengingat tempat-tempat tertentu saat Ramadan, yang paling saya ingat tentu Pati, Semarang, Blora, Temanggung, dan Jogjakarta.

Di lima tempat tersebut, Ramadan disambut dengan sukacita dan antusiasme yang luar biasa. Selama bulan ini, masyarakat tidak hanya menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian, dan kedermawanan. Saya sendiri masih perlu menelusuri bagaimana Ramadan dirayakan di kelima wilayah ini.

Pati di Hati

Sebagai orang kelahiran Pati, saya merasakan rindu tersendiri ketika pertama kali Ramadan di tempat lain. Bahkan hingga kini masih merindukan masa-masa kecil waktu itu. Saya merasakan Ramadan paling tidak dari kurun 1990-an hingga 2008. Meski tidak hidup sehari-hari di sana, suasana Ramadan di kampung halaman adalah kenikmatan yang tidak terbeli.

Pati, sebuah kota kecil yang terletak di Jawa Tengah, menjadi tempat di mana semangat kebersamaan sangat kental terasa selama Ramadan. Kumpul bersama keluarga, teman waktu kecil, dan suasana di kampung yang selalu ingin kurasakan.

Di sini, umat muslim berkumpul untuk melaksanakan tarawih di masjid-masjid setempat, sambil merayakan kebersamaan dengan sajian menu berbuka yang beraneka ragam. Tidak hanya itu, tradisi gotong-royong untuk mempersiapkan hidangan berbuka puasa juga menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Pati. Yang jelas, Pati selalu di hati.

 

Semarang yang Kusayang

Kota Semarang, ibu kota Provinsi Jawa Tengah, tidak hanya terkenal dengan keindahan alam dan sejarahnya yang kaya, tetapi juga dengan semaraknya budaya dan tradisi Ramadan. Setidaknya, saya mengawal pengembaraan hidup di Semarang terhitung sejak Agustus 2008. Kala itu, saya harus hijrah sementara (pikiran saya) karena melanjutkan pendidikan sarjana di IAIN Walisongo, namun akhirnya sampai sekarang malah omah-omah di Semarang.

Di Semarang, umat muslim memperkaya pengalaman spiritual mereka dengan menghadiri dugderan, majelis taklim, ceramah agama, dan tadarusan Al-Quran. Selain itu, pasar-pasar tradisional di Semarang menjadi tempat yang ramai selama Ramadan, dengan beragam jajanan khas untuk berbuka puasa yang menggugah selera. Dengan suasana inilah, membuat hati saya dan keluarga menetap di Semarang hingga sekarang.

Bagi saya, Kota Atlas ini memang tersayang karena saya mendapatkan ilmu akademik di S1 IAIN Walisongo dan S2 UNNES. Di Kota yang terdapat kuburan KH. Sholeh Darat as-Samarani ini juga, saya dipertemukan dengan istri saya juga di Semarang saat kuliah S2. Banyak cerita terpendam teruntuk Kota Semarang yang kusayang.

 

Blora yang Jawa

Meski tidak pernah hidup lama di Blora, namun intensitas saya di Blora kurun 2014-2015 pasca menikah membuat saya mengagumi budaya dan pesona masyarakat di sana. Saya mendapatkan jodoh Perempuan cerdas dan bernas dari Blora. Tempat kelahiran Pramoedya Ananta Toer, dan berkembangnya ajaran Samin Surosentiko ini memang benar-benar Jawa. Tahu kan maksud Jawa?

Saya menyebut “Blora itu Jawa” atau “Blora yang Jawa” memang khas di hati saya. Apalagi, di rumah mertua terdapat puluhan alat musik Gamelan Jawa/Saron (laras slendro dan pelok), kendang dan plangkan, gong dan goyor (tempat gong), bonang dan kethuk, kempul, demung, ketipung, rancak, puluhan barongan, Bujang Ganong, Joko Lodro, Untup, Nayantoko, Gainah, jaranan, simbal dan snare, dan alat musik lain. Dengan beragam seni yang hidup inilah saya betah di Blora meski saya jarang makan lauk-pauk dari ikan laut. Namanya juga jauh dari laut, tapi itulah Blora yang mengesankan.

Blora, sebuah kabupaten yang dikenal dengan keindahan alamnya, juga merayakan Ramadan dengan penuh kebahagiaan dan kepedulian. Selama bulan suci ini, masyarakat Blora aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Jika mendekati puasa atau lebaran, saya pasti berdebat, diskusi, dan membuat keputusan, lebaran nanti akan mudik ke Blora dulu atau Pati dulu? Menurut Anda bagaimana?

 

Temanggung yang Adiluhung

Lain cerita di Pati, Semarang, dan Blora, Kabupaten Temanggung menjadi tempat persinggahan dalam hidup saya yang ketiga setelah Semarang dan Blora. Di Temanggung, sebuah kabupaten yang terletak di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, saya mencari nafkah, bekerja, membangun karir, dan mengabdikan diri melalui lembaga pendidikan.

Saya menyebut Temanggung itu adiluhung. Banyak pengalaman mistis, histeris, ada juga yang enigmatis sejak 2017 sampai kini. Apalagi kalau berbicara Ramadan, yang jauh-jauh hari sudah disambut dengan nyadaran di tiap desa sebagai bukti kedermawanan dan kepedulian yang luar biasa. “Nyadran nakene iki ngluwehi bodo” begitu kata teman. Nyadran di Temanggung intinya bisa lebih meriah dari lebaran. Ya, itulah saya bilang adiluhung karena di Temanggung bisa menempatkan falsafah mikul dhuwur mendem jero terhadap waliyullah, ulama, dan orang tua yang sudah meninggal dunia dengan bentuk penghormatan saat nyadran menjelang Ramadan.

Masyarakat Temanggung aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Semangat gotong-royong dan kepedulian terhadap sesama menjadi ciri khas Ramadan di Temanggung. Meski demikian, waktu saya tetap bisa terbagi untuk hidup di Semarang dan Temanggung. Sejak 2021, saya harus berbagi hidup juga di Jogjakarta, DIY karena harus menlanjutkan studi S3.

 

Jogja yang Selalu Istimewa

Di Jogja, saya menemukan banyak hal-hal yang istimewa. Melebihi yang saya bayangkan. Yogyakarta, atau yang sering disebut Jogja, merupakan salah satu kota yang penuh dengan keberagaman budaya, tradisi, ormas, dan mazhab. Setidaknya, sudah hampir 2 tahun 7 bulan saya menikmati Jogja yang selalu istimewa. Istimewa budayanya, wisatanya, bukunya, anginnya, macetnya, konsernya, bakpianya, kopinya, orang-orangnya, kampusnya, pendidikannya, bahasanya, dan oiya hotelnya.

Pernah sekali saya bingung harus jawab apa dengan dosen karena beliau bilang “sudah kansenan, Mas?” Saya bingung, iki maksude opo? Setelah saya tanya senior saya yang paling baik, Mas Rois Saifuddin Zuhri, kansenan artinya adalah janjian, kansen adalah janji. Owalah. Ini uniknya bahasa Jogja. Karena saya sendiri asing banget.

Selama Ramadan, masyarakat Jogja merayakan bulan suci ini dengan semangat yang tinggi, tanpa memandang perbedaan latar belakang atau budaya. Tak hanya saat Ramadan, saat hari Jumat pun saya merasakan aura religiusnya ketika hendak jumatan kala kuliah di UNY. Di sini, umat muslim dari berbagai etnis dan kelompok sosial berkumpul untuk beribadah bersama, berbagi makanan berbuka puasa, dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

 Jogja memang istimewa. Saya tidak pernah membayangkan bisa lulus S3 dengan predikat cumlaude, lulus cepat dengan lama studi 2 tahun 6 bulan, dan yang mengesankan juga lulus tanpa ujian terbuka. Itulah yang membuat Jogja istimewa.

Jadi, sebentar lagi mungkin saya akan jarang ke Jogja, karena insyallah pada 25 Mei 2024 saya akan wisuda. Doakan semoga lancar.

Bagi saya, Ramadan di Pati, Semarang, Blora, Temanggung, dan Jogja bukan hanya sekadar bulan ibadah dan puasa, tetapi juga bulan kebersamaan, kebahagiaan, kedermawanan, dan memontum berbagi.

Di setiap wilayah, masyarakat memperkaya pengalaman spiritual mereka dengan berbagai kegiatan ibadah, tradisi lokal, dan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi sesama. Semangat gotong-royong, kepedulian, dan keberagaman budaya menjadi pemandangan yang khas selama bulan suci Ramadan di Indonesia.

Bagaimana cerita Ramadan dalam hidupmu?

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., penulis lahir di Pati, 17 Juni. Saat ini menjadi dosen Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2018-2023, Kabid Media, Hukum, dan Humas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2020-sekarang, aktif menjadi reviewer 18 jurnal internasional terindeks Scopus, reviewer 9 jurnal internasional, editor dan reviewer 25 jurnal nasional.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LP Ma’arif PBNU Tampilkan Madrasah Inklusif Dan Inovasi Teknologi

    LP Ma’arif PBNU Tampilkan Madrasah Inklusif Dan Inovasi Teknologi

    • calendar_month Ming, 8 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Jakarta – Lembaga Pendidikan Ma’arif PBNU menampilkan Madrasah Inklusif dan Inovasi Teknologi  oleh Madradah Dibawah LP Ma’arif Jateng pada Pameran Pendidikan Kementerian Agama RI. Dalam kesempatan itu, LP Ma’arif Jateng mewakili LP Ma’arif PBNU di Expo Pendidikan dalam Rangka Hari Disabilitas Internasional tahun 2024 pada 3-4 Desember 2024 di Jakarta. Kegiatan itu adalah kegiatan yang […]

  • PCNU-PATI Photo by sam sul

    Peran Pesantren Sebagai Pengembangan Civil Society

    • calendar_month Sab, 3 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Berbicara tentang pemberdayaan masyarakat dalam konteks Indonesia, tentunya sangat kompleks sekali ranah dan dimensinya.  Mulai dari banyaknya angka kemiskinan, keterbelakangan masyarakat, dan kurang terciptanya lapangan pekerjaan yang merata, sehingga dari situ dibutuhkan para agen perubahan sosial untuk memberikan sumbangsih pemikiran dan solusi terhadap masyarakat. Agar problem solving di masyarakat bisa teratasi […]

  • PCNU-PATI

    Peringati Harlah ke-49, MTs Walisongo Gelar Lomba Antar SD/MI Se-Jepara

    • calendar_month Jum, 12 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jepara – Dalam rangka memperingati hari lahir ke 49 MTs Walisongo Pecangaan Jepara menggelar lomba antar SD/MI se Jepara yang berlangsung di kompleks madrasah pada Kamis (4/1/2024). Kegiatan diikuti 25 SD/MI se Jepara dengan jumlah 150 peserta. Adapun cabang yang dilombakan Tilawah, Tahfidh, Tartil, Badminton, Tenis Meja, Khitabah, Lagu Religi, Poster, Kaligrafi, dan Catur. […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 75
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr Wb. Sekarang ini sudah umum atau biasa dikalangan masyarakat, apabila ada pengajian yang diisi oleh seorang muballigh, sebelum ia sampai ke tempat untuk berceramah, maka akan disambut dan diiringi dengan bacaan : طلع البدر علينا من ثنيات الوداع وجب الشكر علينا ما دعا لله داع dengan tujuan penghormatan terhadap muballigh tersebut. Padahal dalam […]

  • Pati Berduka, Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (KH Ali Fatah Ya’qub telah di panggil yang Esa)

    Pati Berduka, Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (KH Ali Fatah Ya’qub telah di panggil yang Esa)

    • calendar_month Sab, 19 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Kabar NU, Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Jumat 18 September 2015, pukul 09.30. Wib Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama  KH Ali Fatah Ya’qub (Waturoyo) telah pulang kerahmatullah di RSI Pati. Dan di makamkan hari itu juga pada pukul 14.00. Wib.  Yi Fatah para santri biasa memanggilnya. Beliau adalah sosok yang sederhana, sosok yang penuh […]

  • BP4 Pati Adakan Praktek Ubudiyah Santri Putri

    BP4 Pati Adakan Praktek Ubudiyah Santri Putri

    • calendar_month Sab, 4 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Pati, RMI, Badan Pelayanan Pondok Pesantren Putri (BP4) Pati mengadakan pelatihan bimbingan ubudiyah. Bertempat di aula Madrasah Stanawiyah/Aliyah Al-Hikmah, Kajen, hadir puluhan santri putri utusan dari berbagai pesanten di kecamatan Margoyoso dan sekitarnya. Tampak sebagai narasumber Ibu Nyai Umdah El-Baroroh (pengasuh Pondok Pesantren Mansajul Ulum, Cebolek) dan Ibu Nyai Royyanach Ahal (pengasuh Pondok Pesantren Permata […]

expand_less