Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU dan Kesadaran Kebangsaan dalam Pluralitas Bernegara

NU dan Kesadaran Kebangsaan dalam Pluralitas Bernegara

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 24 Jun 2023
  • visibility 432
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada 31 Januari 1926 lahir dari gagasan sejumlah kiai pesantren yang tersebar di Pulai Jawa-Madura. Paling tidak, ada dua sosok kunci yang berjasa dalam tumbuh-kembangnya NU, yakni Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Jika KH. Wahab sebagai penggerak organisatornya, maka Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari  sebagai gurunya dan sekaligus sebagai legitimator-konseptornya.  Duet ulama besar ini memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam kehidupan beragama sekaligus bernegara, baik di dalam negeri bahkan juga hingga kancah internasional.

Selain itu, meskipun kedua ulama tersohor di atas berdomisili di daerah pelosok, yaitu di padepokan pesantren Tebuireng Jombang, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari memiliki perhatian penuh terhadap perkembangan sosio-politik yang sedang berlangsung di negera yang sedang berada di bawah cengkeraman pemerintah kolonial.

Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari mendirikan dan memimpin organisasi sosial kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah perjuangan keagamaan sekaligus kebangsaan secara bersamaan. Sehingga moderasi bergama dan bernegara sangat tampak dominan dalam pemikiran Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari., saat beliau memimpin NU. Di satu sisi beliau juga peduli dengan keadaan bangsa yang pada waktu itu masih terjadi peperangan, sehingga beliau menyerukan persatuan dan menyalakan semangat juang melawan penjajah, di satu sisi yang lain, beliau mengingatkan dan menekankan, bahwa persoalan-persoalan parsial dalam ajaran-ajaran keagamaan jangan sampai memecah belah umat Islam.

Oleh karena itu, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari menganjurkan agar umat Islam bermasyarakat dan berbaur, karena setiap orang tidak dapat memenuhi kebutuhanya sendiri. Bagi Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari, “Persatuan keterikatan satu hati dengan yang lainnya, kebersamaannya dalam satu perkara dan kesatupaduan dalam satu kata merupakan sarana terpenting menuju kebahagiaan dan kasih sayang.”

Menurut Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari, “perpecahan merupakan penyebab kelemahan dan kerusakan”, dengan demikian “bekerjasama merupakan pusat sistem kehidupan berbangsa.” Selaras dengan pendapat madzhab Syafi’i, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa negara Indonesia bukanlah merupakan negara yang harus diperangi (dâr al-harb), dan bukan juga merupakan negara Islam (dâr al-islâm), tetapi Indonesia ini adalah negara sanggah atau damai (dâr al-shulh).

Berdasarkan pernyataan Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari yang disarikan dari pendapat madzhab Syafi’i kita dapat memahami bahwa suatu negara yang tidak memerangi Islam dan menerapkan hukum dengan tetap berpegangan pada nilai-nilai Islam serta tidak membatasi gerak umat Islam dalam menjalankan praktik-praktik ritual peribadatannya maka itu berarti adalah negara damai yang secara otomatis harus dibela dan dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga.

Sedangkan menurut KH. Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, menyatakan bahwa hubungan antara agama dengan negara dalam sejarahnya tidaklah sama. Namun sejarah juga telah membuktikan bahwa negera berperan penting dalam mendukung dan mendorong dinamika kehidupan beragama.

Sebaliknya, agama juga berperan penting dalam menciptakan dan mendorong pembangunan etika kehidupan bernegara. Walaupun demikian, negara tidak harus berbentuk agama tertentu, termasuk agama Islam, yang terpenting ada keserasian dengan agama Islam. Dengan demikian, prinsip saling menghormati menjadi dasar utama keberlangsungan negara ini.

Penghormatan terhadap pluralitas dan kerjasama antara agama juga tampak ketika para pendiri negara sedang merumuskan Pancasila. Mereka yang mayoritas Muslim memiliki sikap yang terbuka dan lapang dada untuk dapat saling menghargai dan menghormati keyakinan agama lain. Fenomena ini, menjadi bukti sejarah pendirian negara Indonesia yang sangat otentik dan tidak terbantahkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak bisa diganggu gugat lagi.

Prinsip penghormatan terhadap agama lain menjadi agenda Gus Dur untuk memperkokoh NKRI. Pemikiran ini dapat kita lacak ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gus Dur tidak hanya melakukan reformasi di tubuh PBNU, tetapi juga bersama KH. Ahmad Siddiq melakukan transformasi proses pemahaman bahwa Pancasila adalah titik kompromi yang sudah tepat dan final dalam membangun tata kehidupan yang majemuk dan beragam di Indonesia. Gagasan besar mengenai relasi agama dan negara ini dapat ditelaah dari gagasan “kebangsaan” dan “NU kembali ke Khittah” yang kemudian disahkan pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Dalam konteks ini, NU menjadi organisasi sosial keagamaan pertama yang menerima ideologi Pancasila sebagai asas tunggalnya.

Dalam hal ini Gus Dur menyatakan “Dalam konteks politik Islam mutakhir, rumusan tersebut (relasi agama dan negara, pen.) sudah dirumuskan secara formal oleh Nahdlatul Ulama dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo tahun 1983 setahun sebelum Muktamar berlangsung. Dikatakan bahwa Pancasila adalah asas dari Nahdlatul Ulama sedangankan Islam adalah akidahnya.”

Menurut Gus Dur, Islam tidak mewajibkan pendirian negara agama, tetapi yang dibicarakan justru tentang manusia secara keseluruhan, yang tidak memiliki sifat memaksa, yang terdapat dalam setiap negara. Islam cukup menjadi mata air yang mengairi Pancasila dengan nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa, sehingga Islam bisa bersatu dengan kearifan budaya bangsa. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa agama dan budaya menjadi entitas yang membentuk ideologi negara berupa Pancasila.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Pawel Czerwinski

    Kecerdasan Sayyidina Hasan Ar-Ridho

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 462
    • 0Komentar

    Oleh : Muhammad Rofiq Dikisahkan bahwa Abu Hayyan merupakan seorang guru dalam Ilmu Nahwu.Pada suatu malam, Abu Hayyan bermimpi melihat Sayyidah Fatimah Az-Zahra memenggam tangan kedua putranya yang masih kecil, yaitu Sayyidina Hasan Ar-Ridho dan Sayyidina Husein Al-Murtadho. Kemudian Sayyidah Fatimah Az-Zahra berkata kepadanya : “ Wahai Abu Hayyan, Tolong ajarilah kedua putraku ini tentang […]

  • Bupati Dukung Penuh Proker Fatayat

    Bupati Dukung Penuh Proker Fatayat

    • calendar_month Sen, 12 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 650
    • 0Komentar

    PATI-Pengurus Cabang Fatayat Pati melakukan kunjungan ke kantor Bupati Pati, Senin (12/8) siang. Fatayat mendelegasikan sepuluh orang koordinator bidang untuk bertemu dengan Bupati. Pertemuan yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut menghasilkan beberapa agenda. Foto bersama Pengurus Harian Cabang Fatayat Pati bersama Bupati Pati.  “Kami terus berupaya membangun komunikasi dan kerja sama dengan siapa saja, […]

  • Suluk Maleman Menyoal Tuhan dalam Pemahaman Manusia

    Suluk Maleman Menyoal Tuhan dalam Pemahaman Manusia

    • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Pemahaman manusia tentang Tuhan, karena perbedaan sudut pandang, acap menjadi rumit dalam banyak pembahasan. Masalah inilah yang mencoba dibedah di forum NgAllah Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia. Awalnya Anis Sholeh Ba’asyin menggaris-bawahi bahwa apa yang disebut ateisme bukanlah gejala baru. “Dalam sejumlah teori, ditegaskan bahwa pada […]

  • Kordar SKPP Pati, Alumni Harapkan Sinergitas

    Kordar SKPP Pati, Alumni Harapkan Sinergitas

    • calendar_month Sen, 6 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

      Nur Khoiriyah (berdiri), alumni SKPP Pati sekaligus aktifis PMII menyampaikan pandangannya mengenai pergerakan SKPP ke depan PATI – Jajaran Alumni SKPP (Sekolah Kader Pengawas Parsipatif) Pati mengadakan Kordar ke dua. Agenda ini berlokasi di Kantor Bawaslu Pati, Jumat (3/12) kemarin. Nur Khoiriyah, salah satu alumni SKPP mengemukakan bahwa SKPP akan mampu memberikan dampak signifikan […]

  • Silaturahim NU Se Dunia ke XVIII di Saudi Arabia

    Silaturahim NU Se Dunia ke XVIII di Saudi Arabia

    • calendar_month Kam, 8 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 564
    • 0Komentar

    JARWAL-Pertemuan Diaspora NU yang diadakan setiap musim haji di Mekkah Al Mukaromah ini awalnya digagas oleh PCI NU Arab Saudi 18 tahun lalu. Agenda ini akhirnya dijadikan agenda tahunan yang selalu diadakan pada saat musim haji dan dilaksanakan biasanya sebelum pelaksanaan wukuf di Arofah Suasana pertemuan NU se-dunia di Arab Saudi Silaturahim warga NU dunia […]

  • ​Dorong Pertanian Ramah Lingkungan, LPPNU Pati dan MTs Al Fattah Juwana Edukasi Pembuatan Nitrobakter

    ​Dorong Pertanian Ramah Lingkungan, LPPNU Pati dan MTs Al Fattah Juwana Edukasi Pembuatan Nitrobakter

    • calendar_month Ming, 16 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.911
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Pati menggelar pelatihan pembuatan pupuk hayati Nitrobakter dan pupuk padat berbasis kotoran hewan (kohe) di MTs Al Fattah Juwana, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini ditujukan untuk membekali para siswa dan civitas akademika dengan keterampilan pertanian ramah lingkungan. ​Dalam pelatihan tersebut, LPPNU Pati menerjunkan empat narasumber teknis, yakni Ali […]

expand_less