Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Mbah Hasyim Mengantar Santrinya ke Kajen

Mbah Hasyim Mengantar Santrinya ke Kajen

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 13 Apr 2017
  • visibility 828
  • comment 0 komentar

Siapa sih yang tak kenal Hadratussyaikh Mbah Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur, pendiri NU, dan “sumber” ilmu dari sejumlah kiai besar di Jawa itu?
Sudah pasti ada banyak kisah tentang kiai besar ini. Sebagian besar kisah tentang beliau sudah pasti pernah dituturkan, baik oleh para muridnya atau oleh orang-orang lain yang pernah mengenal sosok ini.
Tetapi akan selalu ada “little narrative”, kisah-kisah kecil tentang Mbah Hasyim yang masih tersembunyi di balik memori para muridnya dan belum diketahui oleh banyak orang.
“Little narrative” tentang Mbah Hasyim itu saya jumpai saat lebaran tahun ini, saat saya “sowan” ke rumah Kiai Muadz Tohir, guru yang mengajari saya bahasa Inggris di Madrasah Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, dulu.
Kiai Muadz adalah putera Kiai Thohir bin Nawawi, Kajen. Saat saya berkunjung ke rumahnya Lebaran tahun ini, Kiai Muadz menuturkan sebuah “little narrative” tentang Mbah Hasyim yang saya yakin belum banyak diketahui oleh orang. Kisah yang sangat menarik.
Beginilah kisahnya.

Kiai Thohir, ayahanda dari Kiai Muadz, dulu pernah nyantri di Tebuireng, di bawah asuhan Mbah Hasyim. Dengan kata lain, Kiai Thohir adalah santrinya Mbah Hasyim.
Beberapa tahun nyantri, Thohir muda belum banyak mengalami perkembangan. Dia tak terlalu pintar menyerap pelajaran dari Mbah Hasyim. Istilah pesantrennya, “dhèdhèl” (not so smart).
Suatu hari, Mbah Hasyim ada hajat untuk menghadiri undangan dari Kiai Romli di Peterongan, Jombang. Lalu, Mbah Hasyim memanggil santri yang tak terlalu pintar bernama Thohir itu. Mbah Hasyim memintanya untuk menggantikan beliau mengajar kitab Bulughul Maram (kitab kumpulan hadis yang sangat populer di seluruh dunia Islam).
Tentu saja Thohir muda kaget bukan main dan sekaligus panik. Dia merasa sebagai santri yang bodoh. Dia bahkan merasa belum mampu baca kitab berbahasa Arab. Tetapi dia, tentu saja, tak mungkin menolak perintah guru.
Akhirnya, dengan keringat dingin yang bercucuran, Thohir muda memaksa diri mengajar kitab Bulughul Maram. Yang membuat Thohir muda kaget, ternyata Mbah Hasyim tidak “tindakan” (pergi) mendatangi undangan, malah ikut menunggui dia mengajar.
Di luar dugaan, Thohir muda, dengan ditunggui Mbah Hasyim, mampu mengajarkan kitab itu dengan lancar. Tentu dia sendiri kaget. Setelah itu, Mbah Hasyim meminta santri Thohir untuk mengajarkan kitab Bulughul Maram.
Kocap kacarita, singkat cerita, Thohir muda menjadi salah satu murid kesayangan Mbah Hasyim.
Saat boyongan ke Kajen, Mbah Hasyim ikut mengantar Kiai Thohir sampai ke rumahnya. Mbah Hasyim, saat itu, ingin “iras-irus” (sekalian) bertemu dengan Mbah Salam, kakak dari Mbah Nawawi. Mbah Nawawi adalah ayahanda Kiai Thohir. Sementara Mbah Salam adalah ayahanda dari Mbah Abdullah Salam, kiai yang sangat dihormati dan dikenal sebagai wali di Jawa Tengah.
Mbah Hasyim tidak sekedar mengantar Kiai Thohir sampai ke rumahnya di Kajen. Tetapi juga memberikan “suvenir” atau kenang-kenangan berupa tiga kitab hadis besar-besar.
Tiga kitab itu ialah Sahih Bukhari, Syarah Qasthallani (salah satu komentar [syarah] yang terkenal atas Sahih Bukhari) dan Muwatta’ (kumpulan hadis karya Imam Malik, pendiri mazhab Maliki).
Ketiga kitab ini dihadiahkan oleh Mbah Hasyim kepada santrinya yang baru boyongan itu sebagai semacam apresiasi intelektual atas kemampuan Thohir muda.
Mbah Hasyim tidak sekedar menghadiahkan tiga kitab itu, tetapi juga membubuhkan autograf atau tanda tangan disertai sebuah ucapan.
Mendengar kisah Kia Muadz ini, saya langsung menyergah, “Boleh saya melihat tiga kitab itu, Pak Muadz? Saya ingin sekali melihat tulisan tangan dan tanda tangan Mbah Hasyim.”
Sayang sekali kitab itu tidak disimpan di rumah Kiai Muadz. Melainkan di rumah kakaknya, alm. Kiai Muzammil.
Dalam hati saya berkata: Suatu saat saya pasti akan mendatangi putera Kiai Muzammil dan melihat sendiri “suvenir” yang dihadiahkan oleh Mbah Hasyim itu.
Ada kisah lain yang dituturkan oleh Kiai Muadz tentang kunjungan Mbah Hasyim ke Kajen itu.
Seperti saya tuturkan sebelumnya, selain ingin mengantar santrinya boyongan ke dusunnya, Mbah Hasyim “karonto-ronto” (bersusah-payah) datang ke Kajen juga untuk bertemu dengan Mbah Salam, paman dari Kiai Thohir.
Usai sowan ke Mbah Salam, dalam perjalanan pulang ke rumah Kiai Thohir, Mbah Hasyim menangis “sesenggukan”. Mbah Nawawi, ayahanda Kiai Thohir, yang menemani Mbah Hasyim sowan ke “ndalem” (rumah) Mbah Salam, bertanya:
“Kenapa njenengan menangis, Yai?”
Jawab Mbah Hasyim: Ada satu hal yang tak pernah berhasil saya lakukan tetapi dikerjakan oleh Mbah Salam. Aku iri.
“Apa itu, Yai?” tanya Mbah Nawawi.
“Mbah Salam masih sempat mengajar anak-anak kecil. Padahal beliau itu kiai besar. Sementara saya yang ilmunya tak seperti Mbah Salam tak sempat mengajar anak-anak.”
Saat sowan ke rumah Mbah Salam, Mbah Hasyim memang melihat beliau mengajar anak-anak kecil. “Mu’allim al-sibyan,” mengutip kata-kata Kiai Muadz.
Saat mengisahkan kisah ini kepada saya, Kiai Muadz menambahkan komentar kecil yang sarat sindiran dan secara ironis bernada “self-mocking”. Kata Kiai Muadz, “Sementara kita-kita ini sekarang gengsi jika ngajar anak-anak.”
Mendengar komentar itu, saya tertawa getir. Dalam hati saya berbisik, “Sekarang ini kita memang cenderung jaim!”
Di ujung kisah itu, saya berteriak kepada Kiai Muadz:
“JADI, KIAI MUADZ, MBAH HASYIM PERNAH MENJEJAKKAN KAKINYA DI RUMAH YANG NJENENGAN TINGGALI INI?”
“Ya,” jawab Kiai Muadz lirih.
Saya langsung menengok ke belakang, dan melihat foto Kiai Thohir tergantung di kamar tamu Kiai Muadz. Dengan bergegas saya langsung minta izin pada Kiai Muadz untuk mengabadikannya di hp saya.
Jepret. Jepret. Jepret.
“Ini,” kata Kiai Muadz, “adalah foto yang diambil saat ayah saya menjadi pegawai KUA. Tapi ayah saya tak tahan jadi pegawai. Beliau cuma bertahan selama tiga bulan saja.”
Memang “trah” Kiai Thohir adalah trah kiai. Tak cocok menjadi pegawai negeri.
Mari kita hadiahkan Fatehah untuk Mbah Hasyim, Mbah Salam, Mbah Nawawi, Kiai Thohir dan Mbah Dullah Salam.(Repro Fb. Ulil Abhsor Abdala)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pakaian Terbaik Era 4.0

    Pakaian Terbaik Era 4.0

    • calendar_month Rab, 4 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

     Oleh : Maulana Karim Shalihin* Tren busana muslim di Indonesia akhir akhir ini memang sedang hangat-hangatnya. Khusus  dalam urusan pakaian muslimah, peminatnya membludak hebat. Menurut asumsi Penulis, demam baju muslim ini bukan hanya urusan menjalankan syariat, tapi juga fesyen dan gaya hidup. Saking hebohnya jagat per-fesyen-an muslimah saat ini, hampir seluruh Ibu muda Nusantara memiliki […]

  • Mahasiswa Jogja Adakan Sarasehan Bahas Tasawuf Weton

    Mahasiswa Jogja Adakan Sarasehan Bahas Tasawuf Weton

    • calendar_month Sen, 13 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Gus Luthfi Mustofa (paling kiri) semangat memberikan materi ‘Tasawuf Weton’ dibawah bendera Matan. YOGYAKARTA – Mahasiswa Ahlut Thariqoh Al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (MATAN) Yogyakarta menggelar Rotiban dan sarasehan di Selasar Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga Yigyakarta, Sabtu (11/12) lalu.  Acaara bertajuk ‘Majelis Lidz-Dzikr Rotib al Haddad dan Sinau Bareng’ tersebut merupakan agenda rutin Matan. Tema […]

  • Naharul Ijtima” PCNU dan LTMNU Kab. Pati

    Naharul Ijtima” PCNU dan LTMNU Kab. Pati

    • calendar_month Sab, 17 Mei 2014
    • account_circle admin
    • visibility 632
    • 0Komentar

    Naharul Ijtima’ merupakan forum silaturahmi, koordinasi dan konsolidasi antara pengurus dan jama’ah Nahdlatul ‘Ulama yang dilaksanakan setiapsebulan sekali. Nahar artinya siang, sedangkan Ijtima’ artinya pertemuan. Pertemuan ini dilaksanakan pada waktu siang hari, biasanya waktunya ba’dal jum’at.  Kegiatan Naharul Ijtima’ ini sebagai pengganti tradisi Lailatul Ijtima’ yang dilaksanakan pada malam hari. Awalnya ini adalah kebiasaan para kiai […]

  • Traninning Keuangan Lazisnu, PWNU Targetkan Kedaulatan Ummat

    Traninning Keuangan Lazisnu, PWNU Targetkan Kedaulatan Ummat

    • calendar_month Ming, 12 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 600
    • 0Komentar

    Trainning manajemen Keuangan berbasi Nucos di Hotel Kledung Pass Temanggung TEMANGGUNG –  PC Lazisnu Pati kirim dua delegasi untuk Training Manajemen Keuangan berbasis NUCOS (Nahdlatul Ulama Operating System) yang diselenggarakan oleh PW Lazisnu Jawa Tengah.  Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 10-11 Desember 2021 ini mengambil tema Akuntabilitas Keuangan Menuju Amil Profesional. Digelar di Hotel Kledung […]

  • Pengajian Maulidur Rosul

    Pengajian Maulidur Rosul

    • calendar_month Rab, 1 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Pati. Darul Hadlanah melalui kepanitiaan Maulidiyah menggelar pengajian dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad, yang merupakan kegiatan yang diselenggarakan setiap tahunnya, dengan pembicara Ibu Mu’amaroh, beberapa waktu lalu.             Sebelumnya ada banyak serangkain acara untuk ikut memeriyahkan maulidur rosul, diantaranya lomba pidato Bahasa Arab, Bahasa Ingris, dan Bahasa Jawa serta khitobah hal ini mempersiapkan mental […]

  • Siapkan Kader Desa, PC PMII Gelar Sekolah Kader Pemerdayaan Desa

    Siapkan Kader Desa, PC PMII Gelar Sekolah Kader Pemerdayaan Desa

    • calendar_month Sab, 9 Jan 2021
    • account_circle admin
    • visibility 395
    • 0Komentar

    PATI – Bertempat di SMK NU Pati, PC MII Kabupaten Pati menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Desa yang dilaksanakan mulai hari ini sampai besok pagi  (09 -10/01/2021). Ketua PC PMII Pati, Shoimul Mubarok mengatakan dengan digelarnya kegiatan tersebut diharapkan melahirkan orang-orang yang mampu menggerakkan pembangunan didesa. “Meski outputnya besar, tapi untuk peserta kami batasi. Kami […]

expand_less