Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
  • visibility 1.130
  • comment 0 komentar

Darurat Kasih Sayang diangkat sebagai tema Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 pada Sabtu (21/9) malam kemarin. Tema ini sengaja dipilih sebagai ajakan untuk merenungkan kembali carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan kita.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman menyebut di bulan kelahiran Nabi Muhammad ini, belajar sifat kasih sayang menjadi sesuatu yang penting. Begitu banyak kasih sayang yang dicontohkan oleh  Rasulullah yang dapat dijadikan panutan.

Peneladanan ini menjadi penting karena makin kesini kecenderungan hilangnya kasih sayang terasa semakin menguat. Padahal kasih sayang adalah inti kemanusiaan kita. Bila ini hilang, maka posisi manusia akan terjatuh ke titik terendah yang oleh Al Qur’an disebut lebih buruk dari ternak. Anis menyebut salah satu contoh terburuk hilangnya kemanusiaan adalah tragedi di Palestina.

“Sayangnya, manusia bisa mengarang ribuan bahkan jutaan alasan pembenaran untuk melakukan kejahatan. Padahal jika mau ditanyakan ke hati nurani tentu akan menyadari kesalahan itu. Namun kepekaan itu kini telah banyak yang hilang,” sentilnya membuka diskusi.

Budayawan asal Pati itu kemudian mencoba memetakan faktor utama yang membuat manusia dapat kehilangan sifat dasar kemanusiaannya tersebut.

“Pada dasarnya ada dua kategori manusia, yaitu manusia penetap dan manusia penyinggah. Manusia penetap merasa keberadaannya di bumi ini bersifat tetap dan final. Sementara manusia penyinggah memposisikan dirinya sebagai pejalan, dan memosisikan bumi sekadar sebagai tempat singgah belaka,” ujarnya.

Dua sudut pandang tersebut menurut Anis akan berdampak besar pada penyikapan manusia terhadap dunia. Jika bumi hanya dianggap sebagai tempat singgah, maka manusia tidak akan bersikap gila-gilaan untuk mendapatkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Namun ketika menganggap keberadaannya sebagai penetap, yang muncul pertama kali adalah ego, yang akan menempatkan dirinya sebagai pusat dan pemilik semua yang ada di bumi. Segalanya harus dimiliki. Jika ini tidak terpenuhi maka akan muncul kebencian, permusuhan. Baik dalam ranah individual, sosial, ataupun bernegara,” imbuhnya.

Anis melanjutkan, banyaknya penentangan di era nabi-nabi terdahulu juga dilatari oleh ketakutan akan hilangnya posisi dan pengusaan sosial yang bisa dipastikan muncul dari kesadaran penetap.

Anis lantas memberi contoh saat Nabi Isa mendapat perlawanan dari para pemuka agama Yahudi.

“Mereka (pemuka agama,red) takut, jika menerima nabi Isa maka posisi sosialnya sebagai ulama akan hancur, sehingga mereka meminta pejabat Romawi untuk menghukum nabi Isa. Demikian juga Kanjeng Nabi Muhammad. Beliau ditentang oleh elite Quraisy, termasuk paman-pamannya sendiri, yang khawatir posisi sosialnya akan ambrol jika mempercayai Nabi,” tambahnya.

Anis menegaskan bahwa penentangan tersebut tak menyangkut soal kebenaran atau ajaran yang dibawa oleh Nabi, melainkan lebih pada ego sosialnya. Ego tersebutlah yang menutup kesadaran mereka untuk melihat kemungkinan kebenaran dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.

“Kenyataan bahwa elite Quraisy pernah menawarkan kompromi, sehari menyembah Allah, sehari menyembah berhala; justru menunjukkan bahwa bukan agama dan kebenaran yang mereka anggap penting, tapi mempertahankan ststus quo bagi ego sosialnya,” imbuhnya.

Dalam diskusi yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut, Anis juga menyentil gejala hilangnya kasih sayang yang meruyak bersamaan dengan munculnya media sosial. Orang bisa dikondisikan dan dikendalikan untuk saling membenci dan memusuhi meski tak pernah bertemu.

“Cara paling baik untuk menghindari badai kebencian dan permusuhan ini adalah dengan menghindar sajauh-jauhnya. Kalau kita benar-benar tahu dan yakin akan pengetahuannya lebih baik diam dan tidak usah ikut-ikutan. Jangan sampai menjadi fitnah karena apa pun itu nantinya dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tambahnya.

Anis juga mengungkap keheranannya, bagaimana bisa rakyat Indonesia selama ini dikenal karena keramahannya, bisa tiba-tiba muncul dengan wajah bengis di media sosial.

“Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan kita adalah atas berkat dan rahmat Allah. Rahmat artinya adalah kasih sayang.  Kalau bangsa ini terus berubah menjadi pemarah dan pembenci, artinya rahmat tersebut sudah kita abaikan. Bila ini diteruskan, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi lima hingga sepuluh tahun kedepan?” tambahnya.

Tema itu rupanya mampu mengantarkan ratusan jamaah terlarut dalam diskusi yang digelar secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia serta disiarkan online melalui berbagai media sosial. Iringan Sampak GusUran dan hadrah Syubbanul Muttaqin tampak memeriahkan jalannya diskusi tersebut.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Pemuda Jateng Diajak Cegah Radikalisme

    • calendar_month Sab, 25 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 464
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id –  Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah adakan Festival Aksi Musik Anak Bangsa (ASIK BANG), Rabu (22/11/2023) malam. Kegiatan ini dilaksanakan di Atap Langit Cofee n Eatery Tembalang Semarang, dan dibuka oleh Ketua FKPT Jawa Tengah Prof. Dr. Syamsul Ma’arif. “Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak generasi muda terlibat […]

  • PCNU-PATI Photo by vihaels

    Pohon

    • calendar_month Rab, 21 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Air, tanah, angin dan pohon adalah satu dari kesatuan. Mereka komponen saling mengisi satu dengan lainnya. Jika salah satunya ada yang lebih dominan atau pun ada ketimpangan, maka kondisi alam menjadi tak stabil. Saat angin puting beliung hadir, menunjukkan keeksistensinnya; maka pohon menjadi pemecah angin tersebut agar tak bergerombol. Dengan […]

  • Sambutan Ketua PCNU: Dari Tali Tambang Sampai Klinik Pratama

    Sambutan Ketua PCNU: Dari Tali Tambang Sampai Klinik Pratama

    • calendar_month Sab, 19 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – KH. Yusuf Hasyim memberikan beberapa wejangan dalam acara Halal bi Halal MWCNU Gembong di Dukuh Mijen, Desa Wonosekar, Kecamatan Gembong. Acara ini berlangsung pada Sabtu (19/4) siang. Dalam sambutannya, Kiai Yusuf sempat menyinggung beberapa hal terkait ke-NU-an. Di antaranya, dirinya memaparkan makna tali tambang yang melingkari bumi. “Ini berarti warga NU harus […]

  • PCNU - PATI

    Ansor Banser Pati Lakukan Bersih Lingkungan Terdampak Banjir

    • calendar_month Sen, 18 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

    Pati. Pada rabu malam hujan deras, (13/7/2022) mengakibatkan jebolnya tanggul Sungai dan menyebabkan banjir bandang di dua desa Kecamatan Margoyoso. Dua desa itu adalah Bulumanis Kidul dan Tunjungrejo. Berdasarkan laporan di lapangan, total ada 22 rumah warga yang hanyut terbawa banjir dengan rincian 12 rumah di Bulumanis Kidul dan 10 sisanya di Tunjungrejo. Tidak hanya […]

  • PCNU-PATI

    Ngaji Posonan di PAC Gunungwungkal

    • calendar_month Sen, 27 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 520
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- GUNUNGWUNGKAL – PAC Fatayat NU Gunungwungkal mengadakan kegiatan ngaji posonan yang dilaksanakan setiap hari Jumat, Ahad, dan Selasa selama bulan Ramadhan. “Kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota Fatayat NU kecamatan Gunungwungkal, baik pengurus maupun anggota ranting. Ngaji posonan tersebut bertempat di masjid Daarul Muttaqin Desa Ngetuk” jelas Hariati Ketua PAC Fatayat Gunungwungkal Kegiatan ini […]

  • Koin Kemandirian NU

    Koin Kemandirian NU

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2018
    • account_circle admin
    • visibility 465
    • 0Komentar

    RABU, 31 Januari 2018, Nahdlatul Ulama memeringati Hari Lahir (Harlah) ke-92. Berdiri sejak 31 Januari 1926, kontribusi NU pada bangsa tidak terhitung jumlahnya, baik dalam konteks pembinaan moral, peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, serta internalisasi nasionalisme dan patriotisme. NU berdiri dari tiga embiro gerakan, yaitu Nahdlatul Wathan yang bergerak di bidang nasionalisme (1916), Tashwirul […]

expand_less