Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
  • visibility 1.086
  • comment 0 komentar

Darurat Kasih Sayang diangkat sebagai tema Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 pada Sabtu (21/9) malam kemarin. Tema ini sengaja dipilih sebagai ajakan untuk merenungkan kembali carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan kita.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman menyebut di bulan kelahiran Nabi Muhammad ini, belajar sifat kasih sayang menjadi sesuatu yang penting. Begitu banyak kasih sayang yang dicontohkan oleh  Rasulullah yang dapat dijadikan panutan.

Peneladanan ini menjadi penting karena makin kesini kecenderungan hilangnya kasih sayang terasa semakin menguat. Padahal kasih sayang adalah inti kemanusiaan kita. Bila ini hilang, maka posisi manusia akan terjatuh ke titik terendah yang oleh Al Qur’an disebut lebih buruk dari ternak. Anis menyebut salah satu contoh terburuk hilangnya kemanusiaan adalah tragedi di Palestina.

“Sayangnya, manusia bisa mengarang ribuan bahkan jutaan alasan pembenaran untuk melakukan kejahatan. Padahal jika mau ditanyakan ke hati nurani tentu akan menyadari kesalahan itu. Namun kepekaan itu kini telah banyak yang hilang,” sentilnya membuka diskusi.

Budayawan asal Pati itu kemudian mencoba memetakan faktor utama yang membuat manusia dapat kehilangan sifat dasar kemanusiaannya tersebut.

“Pada dasarnya ada dua kategori manusia, yaitu manusia penetap dan manusia penyinggah. Manusia penetap merasa keberadaannya di bumi ini bersifat tetap dan final. Sementara manusia penyinggah memposisikan dirinya sebagai pejalan, dan memosisikan bumi sekadar sebagai tempat singgah belaka,” ujarnya.

Dua sudut pandang tersebut menurut Anis akan berdampak besar pada penyikapan manusia terhadap dunia. Jika bumi hanya dianggap sebagai tempat singgah, maka manusia tidak akan bersikap gila-gilaan untuk mendapatkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Namun ketika menganggap keberadaannya sebagai penetap, yang muncul pertama kali adalah ego, yang akan menempatkan dirinya sebagai pusat dan pemilik semua yang ada di bumi. Segalanya harus dimiliki. Jika ini tidak terpenuhi maka akan muncul kebencian, permusuhan. Baik dalam ranah individual, sosial, ataupun bernegara,” imbuhnya.

Anis melanjutkan, banyaknya penentangan di era nabi-nabi terdahulu juga dilatari oleh ketakutan akan hilangnya posisi dan pengusaan sosial yang bisa dipastikan muncul dari kesadaran penetap.

Anis lantas memberi contoh saat Nabi Isa mendapat perlawanan dari para pemuka agama Yahudi.

“Mereka (pemuka agama,red) takut, jika menerima nabi Isa maka posisi sosialnya sebagai ulama akan hancur, sehingga mereka meminta pejabat Romawi untuk menghukum nabi Isa. Demikian juga Kanjeng Nabi Muhammad. Beliau ditentang oleh elite Quraisy, termasuk paman-pamannya sendiri, yang khawatir posisi sosialnya akan ambrol jika mempercayai Nabi,” tambahnya.

Anis menegaskan bahwa penentangan tersebut tak menyangkut soal kebenaran atau ajaran yang dibawa oleh Nabi, melainkan lebih pada ego sosialnya. Ego tersebutlah yang menutup kesadaran mereka untuk melihat kemungkinan kebenaran dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.

“Kenyataan bahwa elite Quraisy pernah menawarkan kompromi, sehari menyembah Allah, sehari menyembah berhala; justru menunjukkan bahwa bukan agama dan kebenaran yang mereka anggap penting, tapi mempertahankan ststus quo bagi ego sosialnya,” imbuhnya.

Dalam diskusi yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut, Anis juga menyentil gejala hilangnya kasih sayang yang meruyak bersamaan dengan munculnya media sosial. Orang bisa dikondisikan dan dikendalikan untuk saling membenci dan memusuhi meski tak pernah bertemu.

“Cara paling baik untuk menghindari badai kebencian dan permusuhan ini adalah dengan menghindar sajauh-jauhnya. Kalau kita benar-benar tahu dan yakin akan pengetahuannya lebih baik diam dan tidak usah ikut-ikutan. Jangan sampai menjadi fitnah karena apa pun itu nantinya dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tambahnya.

Anis juga mengungkap keheranannya, bagaimana bisa rakyat Indonesia selama ini dikenal karena keramahannya, bisa tiba-tiba muncul dengan wajah bengis di media sosial.

“Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan kita adalah atas berkat dan rahmat Allah. Rahmat artinya adalah kasih sayang.  Kalau bangsa ini terus berubah menjadi pemarah dan pembenci, artinya rahmat tersebut sudah kita abaikan. Bila ini diteruskan, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi lima hingga sepuluh tahun kedepan?” tambahnya.

Tema itu rupanya mampu mengantarkan ratusan jamaah terlarut dalam diskusi yang digelar secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia serta disiarkan online melalui berbagai media sosial. Iringan Sampak GusUran dan hadrah Syubbanul Muttaqin tampak memeriahkan jalannya diskusi tersebut.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ma’arif NU Jateng Apresiasi Pola Perekrutan Guru Ma’arif Cabang Kendal

    Ma’arif NU Jateng Apresiasi Pola Perekrutan Guru Ma’arif Cabang Kendal

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 572
    • 0Komentar

    Semarang – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP. Ma’arif NU) PWNU Jawa Tengah mengapresiasi pola perekrutan Guru dan Tenaga Kependidikan yang dilakukan LP. Ma’arif NU PCNU Kabupaten Kendal. Hal itu disampaikan Wakil Ketua LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani, Senin (10/7/2023). “Pola perekrutan berbasis kompetensi sangat bagus yang dilakukan LP. Ma’arif NU PCNU […]

  • Fatayat NU Kayen Kaji Kesetaraan Gender

    Fatayat NU Kayen Kaji Kesetaraan Gender

    • calendar_month Rab, 28 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 594
    • 0Komentar

    KAYEN-PAC Fatayat NU Kecamatan Kayen menggelar kajian yang tak biasa. Rabu (28/8) pukul 13.00 WIB para Pengurus Ranting Fatayat NU ke Kecamatan Kayen memadati rumah Laili Sulanjari di Desa Sumbersari. Penyampaian materi tentang Kesetaraan dan Keadilan Gender di depan puluhan Pengurus Ranting Fatayat NU se-Kecamatan Kayen Kehadiran para pemudi NU ini dalam rangka mengikuti perkumpulan […]

  • Menuju Amil Lazisnu yang Profesional dan Kreatif

    Menuju Amil Lazisnu yang Profesional dan Kreatif

    • calendar_month Ming, 1 Nov 2020
    • account_circle admin
    • visibility 398
    • 0Komentar

      KH MA Sahal Mahfudh (Mbah Sahal) dikenal berhasil dalam mengembangkan zakat, infaq serta sedekah yang berhasil membangun ekonomi warga Kajen, Pati dan sekitarnya. Hal itu menjadi salah satu alasan dari Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Pati, Jawa Tengah untuk menyelenggarakan pelatihan Madrasah Amil pada Ahad (1/11).     “Keberhasilan Mbah […]

  • PCNU-PATI

    Ang Lee

    • calendar_month Sen, 16 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Enam tahun dia dalam ketidakpastian. Perjuangannya belum menghasilkan apa-apa, kecuali rasa lelah dan dihantui putus asa. Mimpinya tidak akan terwujud, batin lelaki itu. Selama enam tahun ia menjadi asisten editor, alias tukang angkat alat-alat per-film-an. Selama itu pula ia mengirim skenario film  ke puluhan rumah produksi, dan yang diterima adalah […]

  • Gandeng UPZIS MWCNU Pucakwangi, Paguyuban Sopir Pati Salurkan Air Bersih

    Gandeng UPZIS MWCNU Pucakwangi, Paguyuban Sopir Pati Salurkan Air Bersih

    • calendar_month Sab, 19 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19.787
    • 0Komentar

    PATI— Paguyuban Sopir Pati (PSP) berkolaborasi dengan Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) MWCNU Pucakwangi merespons krisis air bersih yang melanda sebagian warga di Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Sabtu (19/9/2026). ​Ketua PSP, Muhammad Syahidul Anam, mengatakan bahwa penyaluran air bersih ini didanai secara swadaya oleh para anggota PSP. Melalui aksi ini, PSP membuktikan komitmennya […]

  • PCNU - PATI Photo by Pexels

    Salam Via Hand Phone

    • calendar_month Rab, 29 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 1.040
    • 0Komentar

    HP adalah barang elektronik yang sangat praktis. Dengan menggunakan HP orang dapat berhubungan dengan siapa saja,kapan saja dan dimana saja. Pertanyaan: Bagaimana hukumnya salam kepada orang yang bukan mahrom baik itu Via SMS/call? Jawaban : Hukumnya sebagaimana asalnya Catatan : bagi perempuan hukumnya haram memulai salam kepada laki-laki lain dan mejawab salam nya. bagi laki-laki […]

expand_less