Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
  • visibility 1.093
  • comment 0 komentar

Darurat Kasih Sayang diangkat sebagai tema Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 pada Sabtu (21/9) malam kemarin. Tema ini sengaja dipilih sebagai ajakan untuk merenungkan kembali carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan kita.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman menyebut di bulan kelahiran Nabi Muhammad ini, belajar sifat kasih sayang menjadi sesuatu yang penting. Begitu banyak kasih sayang yang dicontohkan oleh  Rasulullah yang dapat dijadikan panutan.

Peneladanan ini menjadi penting karena makin kesini kecenderungan hilangnya kasih sayang terasa semakin menguat. Padahal kasih sayang adalah inti kemanusiaan kita. Bila ini hilang, maka posisi manusia akan terjatuh ke titik terendah yang oleh Al Qur’an disebut lebih buruk dari ternak. Anis menyebut salah satu contoh terburuk hilangnya kemanusiaan adalah tragedi di Palestina.

“Sayangnya, manusia bisa mengarang ribuan bahkan jutaan alasan pembenaran untuk melakukan kejahatan. Padahal jika mau ditanyakan ke hati nurani tentu akan menyadari kesalahan itu. Namun kepekaan itu kini telah banyak yang hilang,” sentilnya membuka diskusi.

Budayawan asal Pati itu kemudian mencoba memetakan faktor utama yang membuat manusia dapat kehilangan sifat dasar kemanusiaannya tersebut.

“Pada dasarnya ada dua kategori manusia, yaitu manusia penetap dan manusia penyinggah. Manusia penetap merasa keberadaannya di bumi ini bersifat tetap dan final. Sementara manusia penyinggah memposisikan dirinya sebagai pejalan, dan memosisikan bumi sekadar sebagai tempat singgah belaka,” ujarnya.

Dua sudut pandang tersebut menurut Anis akan berdampak besar pada penyikapan manusia terhadap dunia. Jika bumi hanya dianggap sebagai tempat singgah, maka manusia tidak akan bersikap gila-gilaan untuk mendapatkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Namun ketika menganggap keberadaannya sebagai penetap, yang muncul pertama kali adalah ego, yang akan menempatkan dirinya sebagai pusat dan pemilik semua yang ada di bumi. Segalanya harus dimiliki. Jika ini tidak terpenuhi maka akan muncul kebencian, permusuhan. Baik dalam ranah individual, sosial, ataupun bernegara,” imbuhnya.

Anis melanjutkan, banyaknya penentangan di era nabi-nabi terdahulu juga dilatari oleh ketakutan akan hilangnya posisi dan pengusaan sosial yang bisa dipastikan muncul dari kesadaran penetap.

Anis lantas memberi contoh saat Nabi Isa mendapat perlawanan dari para pemuka agama Yahudi.

“Mereka (pemuka agama,red) takut, jika menerima nabi Isa maka posisi sosialnya sebagai ulama akan hancur, sehingga mereka meminta pejabat Romawi untuk menghukum nabi Isa. Demikian juga Kanjeng Nabi Muhammad. Beliau ditentang oleh elite Quraisy, termasuk paman-pamannya sendiri, yang khawatir posisi sosialnya akan ambrol jika mempercayai Nabi,” tambahnya.

Anis menegaskan bahwa penentangan tersebut tak menyangkut soal kebenaran atau ajaran yang dibawa oleh Nabi, melainkan lebih pada ego sosialnya. Ego tersebutlah yang menutup kesadaran mereka untuk melihat kemungkinan kebenaran dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.

“Kenyataan bahwa elite Quraisy pernah menawarkan kompromi, sehari menyembah Allah, sehari menyembah berhala; justru menunjukkan bahwa bukan agama dan kebenaran yang mereka anggap penting, tapi mempertahankan ststus quo bagi ego sosialnya,” imbuhnya.

Dalam diskusi yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut, Anis juga menyentil gejala hilangnya kasih sayang yang meruyak bersamaan dengan munculnya media sosial. Orang bisa dikondisikan dan dikendalikan untuk saling membenci dan memusuhi meski tak pernah bertemu.

“Cara paling baik untuk menghindari badai kebencian dan permusuhan ini adalah dengan menghindar sajauh-jauhnya. Kalau kita benar-benar tahu dan yakin akan pengetahuannya lebih baik diam dan tidak usah ikut-ikutan. Jangan sampai menjadi fitnah karena apa pun itu nantinya dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tambahnya.

Anis juga mengungkap keheranannya, bagaimana bisa rakyat Indonesia selama ini dikenal karena keramahannya, bisa tiba-tiba muncul dengan wajah bengis di media sosial.

“Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan kita adalah atas berkat dan rahmat Allah. Rahmat artinya adalah kasih sayang.  Kalau bangsa ini terus berubah menjadi pemarah dan pembenci, artinya rahmat tersebut sudah kita abaikan. Bila ini diteruskan, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi lima hingga sepuluh tahun kedepan?” tambahnya.

Tema itu rupanya mampu mengantarkan ratusan jamaah terlarut dalam diskusi yang digelar secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia serta disiarkan online melalui berbagai media sosial. Iringan Sampak GusUran dan hadrah Syubbanul Muttaqin tampak memeriahkan jalannya diskusi tersebut.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    MWC NU Kec Gabus Mengadakan Shalat Istisqa’

    • calendar_month Rab, 23 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 607
    • 0Komentar

    Warta MWC Gabus. Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Gabus mengadakan sholat Istisqo’ bersama Pagar Nusa, Ansor, Banser,Fatayat. Banser,IPNU-IPPNU. Dan sekolah-sekolah yang berada di Kec Gabus. Senin (21/9). Ribuan warga Nahdliyin  Kec Gabus mengikuti Shalat Istisqo’ yang dilaksanakan di Lapangan Desa Gabus.Hal ini dilakukan agar Tuhan memberikan berkah dan rahmat berupa hujan yang dinantikan kehadirannya. […]

  • PCNU-PATI

    Menag: Pramuka PTKN Harus Adaptif Rawat Keberagaman dan Perdamaian

    • calendar_month Sel, 23 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 496
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas membuka gelaran Pramuka Wirakarya Nasional (PWN) ke-16 tahun 2023. Kegiatan yang diikuti 1.200 Pramuka dari Perguruan Tinggi Keagaman Negeri (PTKN) ini digelar di Bumi Perkemahan Kampus 2 IAIN Sultan Amai Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Adapun tema besar yang diusung pada PWN kali ini bertajuk “Merawat Keberagaman dan Perdamaian dalam […]

  • Hujan Siang, dengan Mendung Pekat. Photo by Lyndon Li on Unsplash.

    Hujan Siang, dengan Mendung Pekat

    • calendar_month Ming, 24 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Oleh : J. Intifada Mendung pekat siang ini. Cuaca panas tak dirasakan lagi. Tiap kali awan pekat datang terkadang hanya sekedar lewat saja. Sedang sungai-sungai telah mengering. Sumur-sumur sudah kehabisan sumbernya. Masyarakat mulai mencari bantuan. Hujan siang ini begitu membawa harapan. Halaman depan rumah dan seluruh kota merasakan kesejukan. Sejuknya seperti lama tak jumpa. Derasnya […]

  • Pengurus LTN PCNU Pati Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi di Cilacap

    Pengurus LTN PCNU Pati Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi di Cilacap

    • calendar_month Ming, 25 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 613
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id. – Pengurus Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) PCNU Pati, turut mengikuti Workshop Jurnalistik Filantropi, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya, Cilacap, pada Jumat-Sabtu, 23-24 Mei 2025. Workshop itu diselenggarakan oleh  NU Online Jawa Tengah yang bekerjasama dengan PCNU Cilacap melalui Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LazisNU). Puluhan kontributor NU Online, perwakilan LTN, aktivis muda NU, […]

  • Jumlah Rekaat Sholat Tarawih

    Jumlah Rekaat Sholat Tarawih

    • calendar_month Sen, 28 Apr 2014
    • account_circle admin
    • visibility 682
    • 0Komentar

    Jumlah Rakaat Shalat Tarawih Bulan Ramadlah adalah bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan umat  Islam memperbanyak amal ibadah. Dalam hadits Abu Hurairah diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda; مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ[1] “Barang siapa melaksanakan ibadah pada bulan Ramadlan dengan […]

  • NU Pati Gelar Istigosah Pada Harlah NU Ke 90

    NU Pati Gelar Istigosah Pada Harlah NU Ke 90

    • calendar_month Sen, 1 Feb 2016
    • account_circle admin
    • visibility 450
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Pati, menggelar tasyakuran sederhana dalam memperingati harlah NU ke-90, Minggu 31 Januari 2016.             “Kami sengaja mengadakan acara dengan penuh kesederhanaan, dengan ramah tamah tapsinan, satu nampan berisi 8 orang, hal tersebut menunjukkan kebersamaan kita sebagai warga Nahdliyin, akan kerukunan dan kebersamaan dalam berbagai hal.” ujar Drs. H. Ali Munfaat, […]

expand_less