Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
  • visibility 998
  • comment 0 komentar

Darurat Kasih Sayang diangkat sebagai tema Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 pada Sabtu (21/9) malam kemarin. Tema ini sengaja dipilih sebagai ajakan untuk merenungkan kembali carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan kita.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman menyebut di bulan kelahiran Nabi Muhammad ini, belajar sifat kasih sayang menjadi sesuatu yang penting. Begitu banyak kasih sayang yang dicontohkan oleh  Rasulullah yang dapat dijadikan panutan.

Peneladanan ini menjadi penting karena makin kesini kecenderungan hilangnya kasih sayang terasa semakin menguat. Padahal kasih sayang adalah inti kemanusiaan kita. Bila ini hilang, maka posisi manusia akan terjatuh ke titik terendah yang oleh Al Qur’an disebut lebih buruk dari ternak. Anis menyebut salah satu contoh terburuk hilangnya kemanusiaan adalah tragedi di Palestina.

“Sayangnya, manusia bisa mengarang ribuan bahkan jutaan alasan pembenaran untuk melakukan kejahatan. Padahal jika mau ditanyakan ke hati nurani tentu akan menyadari kesalahan itu. Namun kepekaan itu kini telah banyak yang hilang,” sentilnya membuka diskusi.

Budayawan asal Pati itu kemudian mencoba memetakan faktor utama yang membuat manusia dapat kehilangan sifat dasar kemanusiaannya tersebut.

“Pada dasarnya ada dua kategori manusia, yaitu manusia penetap dan manusia penyinggah. Manusia penetap merasa keberadaannya di bumi ini bersifat tetap dan final. Sementara manusia penyinggah memposisikan dirinya sebagai pejalan, dan memosisikan bumi sekadar sebagai tempat singgah belaka,” ujarnya.

Dua sudut pandang tersebut menurut Anis akan berdampak besar pada penyikapan manusia terhadap dunia. Jika bumi hanya dianggap sebagai tempat singgah, maka manusia tidak akan bersikap gila-gilaan untuk mendapatkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Namun ketika menganggap keberadaannya sebagai penetap, yang muncul pertama kali adalah ego, yang akan menempatkan dirinya sebagai pusat dan pemilik semua yang ada di bumi. Segalanya harus dimiliki. Jika ini tidak terpenuhi maka akan muncul kebencian, permusuhan. Baik dalam ranah individual, sosial, ataupun bernegara,” imbuhnya.

Anis melanjutkan, banyaknya penentangan di era nabi-nabi terdahulu juga dilatari oleh ketakutan akan hilangnya posisi dan pengusaan sosial yang bisa dipastikan muncul dari kesadaran penetap.

Anis lantas memberi contoh saat Nabi Isa mendapat perlawanan dari para pemuka agama Yahudi.

“Mereka (pemuka agama,red) takut, jika menerima nabi Isa maka posisi sosialnya sebagai ulama akan hancur, sehingga mereka meminta pejabat Romawi untuk menghukum nabi Isa. Demikian juga Kanjeng Nabi Muhammad. Beliau ditentang oleh elite Quraisy, termasuk paman-pamannya sendiri, yang khawatir posisi sosialnya akan ambrol jika mempercayai Nabi,” tambahnya.

Anis menegaskan bahwa penentangan tersebut tak menyangkut soal kebenaran atau ajaran yang dibawa oleh Nabi, melainkan lebih pada ego sosialnya. Ego tersebutlah yang menutup kesadaran mereka untuk melihat kemungkinan kebenaran dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.

“Kenyataan bahwa elite Quraisy pernah menawarkan kompromi, sehari menyembah Allah, sehari menyembah berhala; justru menunjukkan bahwa bukan agama dan kebenaran yang mereka anggap penting, tapi mempertahankan ststus quo bagi ego sosialnya,” imbuhnya.

Dalam diskusi yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut, Anis juga menyentil gejala hilangnya kasih sayang yang meruyak bersamaan dengan munculnya media sosial. Orang bisa dikondisikan dan dikendalikan untuk saling membenci dan memusuhi meski tak pernah bertemu.

“Cara paling baik untuk menghindari badai kebencian dan permusuhan ini adalah dengan menghindar sajauh-jauhnya. Kalau kita benar-benar tahu dan yakin akan pengetahuannya lebih baik diam dan tidak usah ikut-ikutan. Jangan sampai menjadi fitnah karena apa pun itu nantinya dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tambahnya.

Anis juga mengungkap keheranannya, bagaimana bisa rakyat Indonesia selama ini dikenal karena keramahannya, bisa tiba-tiba muncul dengan wajah bengis di media sosial.

“Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan kita adalah atas berkat dan rahmat Allah. Rahmat artinya adalah kasih sayang.  Kalau bangsa ini terus berubah menjadi pemarah dan pembenci, artinya rahmat tersebut sudah kita abaikan. Bila ini diteruskan, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi lima hingga sepuluh tahun kedepan?” tambahnya.

Tema itu rupanya mampu mengantarkan ratusan jamaah terlarut dalam diskusi yang digelar secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia serta disiarkan online melalui berbagai media sosial. Iringan Sampak GusUran dan hadrah Syubbanul Muttaqin tampak memeriahkan jalannya diskusi tersebut.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IPMAFA Terjunkan 264 Mahasiswa untuk Mengabdi di Masyarakat

    IPMAFA Terjunkan 264 Mahasiswa untuk Mengabdi di Masyarakat

    • calendar_month Sel, 10 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 428
    • 0Komentar

      Ruang zoom meeting penerjunan 264 Mahasiswa IPMAFA peserta KKN MDR tahun 2021 MARGOYOSO-Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menerjunkan 264 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Mandiri Dari Rumah (KKN MDR) tahun 2021. Acara penerjunan dilakukan secara daring dipimpin langsung oleh Rektor IPMAFA, KH. Abdul Ghofarrozin, M. Ed pada Senin (9/8) pagi. Turut hadir […]

  • 2 Tokoh Masuk 50 Besar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

    2 Tokoh NU Masuk 50 Besar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia

    • calendar_month Sel, 1 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    JAKARTA – Dua nama besar dalam Nahdlatul Ulama masuk dalam 50 besar World’s 500 Most Influential Muslim 2023. Ke dua nama tersebut adalah Habib Luthfi bin Yahyah, Ketua Idaroh Aliyah Jama’ah Thoriqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (JATMAN) dan KH. Yahya Cholil Staquf, Ketua PBNU saat ini. Masing-masing tokoh tersebut menduduki peringkat ke-30 dan 19 dalam […]

  • Katib Syuriyah NU Gembong Sebut Kriteria Aswaja

    Katib Syuriyah NU Gembong Sebut Kriteria Aswaja

    • calendar_month Rab, 5 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 534
    • 0Komentar

    GEMBONG – pcnupati.or.id – Safari Ramadhan Tarawih Keliling (Tarling) MWC-NU Gembong memasuki putaran ke tiga, Rabu (5/4) malam. Tarling kali ini dilaksanakan di Masjid Rohmatul Ummah, Desa Ketanggan. Dalam kesempatan tersebut, Katib Syuriyah MWC-NU Gembong, KH. Muzakki, menyampaikan beberapa ciri ahlus sunnah wal jama’ah. “Ada sepuluh kriteria Aswaja, tapi saya sampaikan salah satunya saja,” ungkap […]

  • Nahdlatul Ulama: Menjaga Keberagaman dan Membangun Toleransi di Indonesia

    Nahdlatul Ulama: Menjaga Keberagaman dan Membangun Toleransi di Indonesia

    • calendar_month Sab, 25 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.257
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Nahdlatul Ulama (NU) selama ini yang kita kenal merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan yang konsen dalam dalam merangkul semua elemen masyarakat tanpa memandang strata sosial masyarakat. Pendekatan inklusif ini telah menjadikannya sebagai salah satu kekuatan utama dalam membangun solidaritas dan kerukunan di Indonesia. Sejak berdirinya, NU mengedepankan prinsip-prinsip toleransi, moderasi, dan […]

  • MA Abadiyah Gabus Raih Juara

    MA Abadiyah Gabus Raih Juara

    • calendar_month Sel, 9 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 564
    • 0Komentar

    Pati. Madrasah Aliyah Abadiyah Gabus  menyabet Medali Perunggu dalam ajang Kompetisi Matematika Nalaria Realistik (KMNR) Se Indonesia Ke 12 Di Bogor di wakili oleh Septiana Rohmawati siswi Kelas X.             Madrasah tentu bisa bersaing dengan sekolah-sekolah umum, tinggal kita sebagai guru pendidik mampu mengenali potensi dan bakat terhadap anak didik kita.             “Saya sebagai guru […]

  • LPBA Kajen Gelar Bazar untuk Sambut Haul Syeikh Mutamakkin

    LPBA Kajen Gelar Bazar untuk Sambut Haul Syeikh Mutamakkin

    • calendar_month Ming, 1 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 613
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Dalam rangka menyongsong Haul Syeikh Ahmad Mutamakkin, Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) Kajen menggelar bazar buku. Bazar ini dilakukan di gedung LPBA yang berada di sebelah timur makam. “LPBA memang menggelar kegiatan ini untuk menyambut haul Syeikh Mutamakkin Kajen” kata Siswanto, panitia penyelenggara saat ditemui pcnupati.or.id Minggu (1/9). Para santri sedang memilah dan memilih buku […]

expand_less