Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
  • visibility 961
  • comment 0 komentar

Darurat Kasih Sayang diangkat sebagai tema Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 pada Sabtu (21/9) malam kemarin. Tema ini sengaja dipilih sebagai ajakan untuk merenungkan kembali carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan kita.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman menyebut di bulan kelahiran Nabi Muhammad ini, belajar sifat kasih sayang menjadi sesuatu yang penting. Begitu banyak kasih sayang yang dicontohkan oleh  Rasulullah yang dapat dijadikan panutan.

Peneladanan ini menjadi penting karena makin kesini kecenderungan hilangnya kasih sayang terasa semakin menguat. Padahal kasih sayang adalah inti kemanusiaan kita. Bila ini hilang, maka posisi manusia akan terjatuh ke titik terendah yang oleh Al Qur’an disebut lebih buruk dari ternak. Anis menyebut salah satu contoh terburuk hilangnya kemanusiaan adalah tragedi di Palestina.

“Sayangnya, manusia bisa mengarang ribuan bahkan jutaan alasan pembenaran untuk melakukan kejahatan. Padahal jika mau ditanyakan ke hati nurani tentu akan menyadari kesalahan itu. Namun kepekaan itu kini telah banyak yang hilang,” sentilnya membuka diskusi.

Budayawan asal Pati itu kemudian mencoba memetakan faktor utama yang membuat manusia dapat kehilangan sifat dasar kemanusiaannya tersebut.

“Pada dasarnya ada dua kategori manusia, yaitu manusia penetap dan manusia penyinggah. Manusia penetap merasa keberadaannya di bumi ini bersifat tetap dan final. Sementara manusia penyinggah memposisikan dirinya sebagai pejalan, dan memosisikan bumi sekadar sebagai tempat singgah belaka,” ujarnya.

Dua sudut pandang tersebut menurut Anis akan berdampak besar pada penyikapan manusia terhadap dunia. Jika bumi hanya dianggap sebagai tempat singgah, maka manusia tidak akan bersikap gila-gilaan untuk mendapatkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Namun ketika menganggap keberadaannya sebagai penetap, yang muncul pertama kali adalah ego, yang akan menempatkan dirinya sebagai pusat dan pemilik semua yang ada di bumi. Segalanya harus dimiliki. Jika ini tidak terpenuhi maka akan muncul kebencian, permusuhan. Baik dalam ranah individual, sosial, ataupun bernegara,” imbuhnya.

Anis melanjutkan, banyaknya penentangan di era nabi-nabi terdahulu juga dilatari oleh ketakutan akan hilangnya posisi dan pengusaan sosial yang bisa dipastikan muncul dari kesadaran penetap.

Anis lantas memberi contoh saat Nabi Isa mendapat perlawanan dari para pemuka agama Yahudi.

“Mereka (pemuka agama,red) takut, jika menerima nabi Isa maka posisi sosialnya sebagai ulama akan hancur, sehingga mereka meminta pejabat Romawi untuk menghukum nabi Isa. Demikian juga Kanjeng Nabi Muhammad. Beliau ditentang oleh elite Quraisy, termasuk paman-pamannya sendiri, yang khawatir posisi sosialnya akan ambrol jika mempercayai Nabi,” tambahnya.

Anis menegaskan bahwa penentangan tersebut tak menyangkut soal kebenaran atau ajaran yang dibawa oleh Nabi, melainkan lebih pada ego sosialnya. Ego tersebutlah yang menutup kesadaran mereka untuk melihat kemungkinan kebenaran dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.

“Kenyataan bahwa elite Quraisy pernah menawarkan kompromi, sehari menyembah Allah, sehari menyembah berhala; justru menunjukkan bahwa bukan agama dan kebenaran yang mereka anggap penting, tapi mempertahankan ststus quo bagi ego sosialnya,” imbuhnya.

Dalam diskusi yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut, Anis juga menyentil gejala hilangnya kasih sayang yang meruyak bersamaan dengan munculnya media sosial. Orang bisa dikondisikan dan dikendalikan untuk saling membenci dan memusuhi meski tak pernah bertemu.

“Cara paling baik untuk menghindari badai kebencian dan permusuhan ini adalah dengan menghindar sajauh-jauhnya. Kalau kita benar-benar tahu dan yakin akan pengetahuannya lebih baik diam dan tidak usah ikut-ikutan. Jangan sampai menjadi fitnah karena apa pun itu nantinya dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tambahnya.

Anis juga mengungkap keheranannya, bagaimana bisa rakyat Indonesia selama ini dikenal karena keramahannya, bisa tiba-tiba muncul dengan wajah bengis di media sosial.

“Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan kita adalah atas berkat dan rahmat Allah. Rahmat artinya adalah kasih sayang.  Kalau bangsa ini terus berubah menjadi pemarah dan pembenci, artinya rahmat tersebut sudah kita abaikan. Bila ini diteruskan, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi lima hingga sepuluh tahun kedepan?” tambahnya.

Tema itu rupanya mampu mengantarkan ratusan jamaah terlarut dalam diskusi yang digelar secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia serta disiarkan online melalui berbagai media sosial. Iringan Sampak GusUran dan hadrah Syubbanul Muttaqin tampak memeriahkan jalannya diskusi tersebut.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking. Photo by Yudha Aprilian on Unsplash.

    Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking

    • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 548
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Dari bacaan yang ada, orang jawa memiliki khazanah yang tak lazim. Kalau kita telusur di literasi-literasi tentang masuknya islam di pulau jawa, tentu kita temukan fakta bahwa, ‘merayu’ orang jawa untuk masuk islam—atau setidaknya ramah terhadap islam—bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan skill marketing tingkat dewa untuk bisa menembus rapatnya dinding kepercayaan yang […]

  • Final Voli Putra Porsema XIII, Kudus Vs Kota Semarang Memanas

    Final Voli Putra Porsema XIII, Kudus Vs Kota Semarang Memanas

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 455
    • 0Komentar

    WONOSOBO – Ajang Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XIII LP Ma’arif NU Jawa Tengah XIII di hari kedua makin memanas. Pada cabang olahraga voli, tim putri asal Kudus lebih dulu meraih medali emas setelah menumbangkan wakil tuan rumah, Wonosobo, Jumat (12/9/2025) di MAN 1 Wonosobo. Tak berhenti di situ, tim voli putra Kudus dari […]

  • PCNU-PATI

    NU Banyak Berkontribusi untuk NKRI

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Pcnupati.ori.id- Temanggung – Momentum upacara apel peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Temanggung dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Selasa (31/1/2023). Apel sendiri diikuti sekira sebanyak 15 ribu Nahdliyin, ynag memenuhi Alun-alun Kota Tembakau itu. Dalam sambutannya Ganjar Pranowo menyampaikan tentang peran penting NU terhadap bangsa. “Kontribusi NU sangat banyak, baik […]

  • Malamatiyyah; Sebuah Pencarian Ridho Ilahi

    Malamatiyyah; Sebuah Pencarian Ridho Ilahi

    • calendar_month Kam, 27 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

    Pati. Perpustakaan Mutamakkin mengadakan bedah buku Malamatiyyah karya Sahal Japara dengan mendatangkan penulisnya dan sebagai pembanding Mohammad Aniq pemerhati sastra pesantren, Minggu kemarin malam di aula Perpustakaan Mutamakin Kajen Pati.  Ganu Yahya selaku Ketua Perpustakaan menjelaskan, bahwa acara bedah buku kumpulan cerpen ini  diselenggarakan dengan tujuan memberikan apresiasi sekaligus motivasi kepada santri-santri  agar lebih giat […]

  • PCNU-PATI

    Tim Farmasi UGM Datangi Perkumpulan Emak-Emak, Ada Apa? 

    • calendar_month Sen, 9 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 589
    • 0Komentar

    pcnupati.or.od. Rutinan Fatayat NU Kabupaten Pati bulan ini sukses diselenggarakan di Balai Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Ahad (8/10). Kehadiran 40 delegasi dari 20 PAC Fatayat NU Se-Kabupaten Pati menjadi indikator solidnya kaum pemudi NU ini. Bukan hanya itu, tuan rumah, PAC Jakenan juga mengirimkan 20 pengurusnya untuk hadir dalam agenda itu.  Jajaran tokoh masyarakat, baik […]

  • a living room with a chair and a painting on the wall

    Makna Transformatif Kelahiran NU

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.482
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Dosen IPMAFA Pati, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning Pati Sabtu, 31 Januari 2026 adalah momentum peringatan 1 abad NU versi Masehi karena NU dilahirkan pada 31 Januari 1926. Dalam momentum 1 abad ini, sudah seharusnya seluruh elemen NU mengingat dan merevitalisasi dimensi spiritualitas transformatif berdirinya NU. Napak tilas sejarah berdirinya NU […]

expand_less