Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

Manusia Penetap dan Manusia Penyinggah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 24 Sep 2024
  • visibility 1.002
  • comment 0 komentar

Darurat Kasih Sayang diangkat sebagai tema Ngaji NgAllah Suluk Maleman edisi ke-153 pada Sabtu (21/9) malam kemarin. Tema ini sengaja dipilih sebagai ajakan untuk merenungkan kembali carut marut yang semakin menggejala dalam kehidupan kebangsaan kita.

Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman menyebut di bulan kelahiran Nabi Muhammad ini, belajar sifat kasih sayang menjadi sesuatu yang penting. Begitu banyak kasih sayang yang dicontohkan oleh  Rasulullah yang dapat dijadikan panutan.

Peneladanan ini menjadi penting karena makin kesini kecenderungan hilangnya kasih sayang terasa semakin menguat. Padahal kasih sayang adalah inti kemanusiaan kita. Bila ini hilang, maka posisi manusia akan terjatuh ke titik terendah yang oleh Al Qur’an disebut lebih buruk dari ternak. Anis menyebut salah satu contoh terburuk hilangnya kemanusiaan adalah tragedi di Palestina.

“Sayangnya, manusia bisa mengarang ribuan bahkan jutaan alasan pembenaran untuk melakukan kejahatan. Padahal jika mau ditanyakan ke hati nurani tentu akan menyadari kesalahan itu. Namun kepekaan itu kini telah banyak yang hilang,” sentilnya membuka diskusi.

Budayawan asal Pati itu kemudian mencoba memetakan faktor utama yang membuat manusia dapat kehilangan sifat dasar kemanusiaannya tersebut.

“Pada dasarnya ada dua kategori manusia, yaitu manusia penetap dan manusia penyinggah. Manusia penetap merasa keberadaannya di bumi ini bersifat tetap dan final. Sementara manusia penyinggah memposisikan dirinya sebagai pejalan, dan memosisikan bumi sekadar sebagai tempat singgah belaka,” ujarnya.

Dua sudut pandang tersebut menurut Anis akan berdampak besar pada penyikapan manusia terhadap dunia. Jika bumi hanya dianggap sebagai tempat singgah, maka manusia tidak akan bersikap gila-gilaan untuk mendapatkan segala sesuatu yang bersifat duniawi.

“Namun ketika menganggap keberadaannya sebagai penetap, yang muncul pertama kali adalah ego, yang akan menempatkan dirinya sebagai pusat dan pemilik semua yang ada di bumi. Segalanya harus dimiliki. Jika ini tidak terpenuhi maka akan muncul kebencian, permusuhan. Baik dalam ranah individual, sosial, ataupun bernegara,” imbuhnya.

Anis melanjutkan, banyaknya penentangan di era nabi-nabi terdahulu juga dilatari oleh ketakutan akan hilangnya posisi dan pengusaan sosial yang bisa dipastikan muncul dari kesadaran penetap.

Anis lantas memberi contoh saat Nabi Isa mendapat perlawanan dari para pemuka agama Yahudi.

“Mereka (pemuka agama,red) takut, jika menerima nabi Isa maka posisi sosialnya sebagai ulama akan hancur, sehingga mereka meminta pejabat Romawi untuk menghukum nabi Isa. Demikian juga Kanjeng Nabi Muhammad. Beliau ditentang oleh elite Quraisy, termasuk paman-pamannya sendiri, yang khawatir posisi sosialnya akan ambrol jika mempercayai Nabi,” tambahnya.

Anis menegaskan bahwa penentangan tersebut tak menyangkut soal kebenaran atau ajaran yang dibawa oleh Nabi, melainkan lebih pada ego sosialnya. Ego tersebutlah yang menutup kesadaran mereka untuk melihat kemungkinan kebenaran dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.

“Kenyataan bahwa elite Quraisy pernah menawarkan kompromi, sehari menyembah Allah, sehari menyembah berhala; justru menunjukkan bahwa bukan agama dan kebenaran yang mereka anggap penting, tapi mempertahankan ststus quo bagi ego sosialnya,” imbuhnya.

Dalam diskusi yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia tersebut, Anis juga menyentil gejala hilangnya kasih sayang yang meruyak bersamaan dengan munculnya media sosial. Orang bisa dikondisikan dan dikendalikan untuk saling membenci dan memusuhi meski tak pernah bertemu.

“Cara paling baik untuk menghindari badai kebencian dan permusuhan ini adalah dengan menghindar sajauh-jauhnya. Kalau kita benar-benar tahu dan yakin akan pengetahuannya lebih baik diam dan tidak usah ikut-ikutan. Jangan sampai menjadi fitnah karena apa pun itu nantinya dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tambahnya.

Anis juga mengungkap keheranannya, bagaimana bisa rakyat Indonesia selama ini dikenal karena keramahannya, bisa tiba-tiba muncul dengan wajah bengis di media sosial.

“Pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa kemerdekaan kita adalah atas berkat dan rahmat Allah. Rahmat artinya adalah kasih sayang.  Kalau bangsa ini terus berubah menjadi pemarah dan pembenci, artinya rahmat tersebut sudah kita abaikan. Bila ini diteruskan, kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi lima hingga sepuluh tahun kedepan?” tambahnya.

Tema itu rupanya mampu mengantarkan ratusan jamaah terlarut dalam diskusi yang digelar secara langsung di Rumah Adab Indonesia Mulia serta disiarkan online melalui berbagai media sosial. Iringan Sampak GusUran dan hadrah Syubbanul Muttaqin tampak memeriahkan jalannya diskusi tersebut.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suluk Maleman Kali Ini; Asal Allah Tak Murka

    Suluk Maleman Kali Ini; Asal Allah Tak Murka

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 19.796
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id Kisah di balik doa Rasulullah di Thaif memberi pelajaran penting bagi umat muslim. Selain mengajarkan kasih sayang, juga agar tidak mudah terpengaruh omongan orang. Kisah tersebut menjadi salah satu bahan refleksi yang diangkat dalam gelaran Suluk Maleman pada Sabtu (19/9). Anis Sholeh Ba’asyin mengungkapkan ada cerita penuh makna dibalik doa itu. Dia menceritakan saat […]

  • Mantapkan Kepengurusan, PC IPNU IPPNU Pati Selenggara Orientasi

    Mantapkan Kepengurusan, PC IPNU IPPNU Pati Selenggara Orientasi

    • calendar_month Ming, 10 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 576
    • 0Komentar

    Suasana organisasi pengurus PC IPNU IPPNU di SMK NU Pati PATI – PC IPNU IPPNU Kabupaten Pati menggelar orientasi bagi semua pengurus di SMK NU Margorejo, Sabtu-Minggu (9-10/10).  Ahmad Khoirul Anam, Ketua Panitia Orientasi mengatakan, terdapat tiga tema yang dibahas dalam orientasi kali ini. Diantaranya, penguatan kemistri, penguatan organisasi, dan tantangan IPNU IPPNU saat ini. […]

  • Duet Mahasiswa IAIN Kudus Dan IPNU/IPPNU Juwana Sukses Gelar Training of Journalistic

    Duet Mahasiswa IAIN Kudus Dan IPNU/IPPNU Juwana Sukses Gelar Training of Journalistic

    • calendar_month Sen, 4 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Salah satu pemantik sedang menyampaikan  materi dalam acara Trainning of Jurnalistic yang diselenggarakan oleh Tim KKN IAIN Kudus dan IPNU IPPNU Juwana JUWANA – PAC IPNU IPPNU Kecamatan Juwana sukses menggelar Training of Journalistic di Balai Desa Growong Lor, Minggu (3/10). Mengusung tema “Mencetak Tim Jurnalis  yang Berdedikasi dan Humanis”, kegiatan ini dapat terlaksana atas […]

  • Photo by Ismi Fitri Hodijah

    Gerimis Malam Minggu

    • calendar_month Ming, 11 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 569
    • 0Komentar

    Oleh : J. Intifada Uwes syahdu durung. Ngeyup ning ngarep alun-alun, ngombe es beng-beng mbi nyemil maklor. Ngemper ngarep ruko mbi bakul cilok, bakul pentol, bakul kopi. Nikmat tiada tara. Mbayangke janjian mbi awakmu malam mingguan. Muteri alun-alun sambil ngobrol ngalur ngidul. Ahh yuw ora bakal. Wong kowe uwes gonne wong liyo. Opo meneh kok […]

  • Rosok, Nilai Tambah Bersedekah

    Rosok, Nilai Tambah Bersedekah

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Pati. Gunungwungkal, banyak orang yang beranggapan apabila sampah atau barang rongsokan, tidak ada nilainya sehingga di buang begitu saja. Namun siapa sangka, barang sisa-sisa dari olahan rumah tangga dan pertokoan tersebut dapat dijadikan jalan untuk menambah amal dan ibadah seluruh masyarakat. Hal tersebut dilakukan oleh Pemuda Masjid Besar Darussalam Gunungwungkal Pati.             “ Kami yang […]

  • ​Perkuat Tata Kelola, RMI PCNU Pati Ajak Pesantren Bangun Sistem Administrasi Tertib

    ​Perkuat Tata Kelola, RMI PCNU Pati Ajak Pesantren Bangun Sistem Administrasi Tertib

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.446
    • 0Komentar

      ​PATI – Semangat kolaborasi dan penguatan tata kelola pesantren menjadi sorotan utama dalam acara Halalbihalal dan Rapat Koordinasi yang diselenggarakan oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Pati bersama Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Pati. ​Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (24/04/2026) di Komplek II Pondok Pesantren Mansajul Ulum, Cebolek Kidul, Margoyoso ini dihadiri oleh […]

expand_less