Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Makna Transformatif Kelahiran NU

Makna Transformatif Kelahiran NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
  • visibility 7.999
  • comment 0 komentar
Oleh: Jamal Ma’mur Asmani
Dosen IPMAFA Pati, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning Pati
Sabtu, 31 Januari 2026 adalah momentum peringatan 1 abad NU versi Masehi karena NU dilahirkan pada 31 Januari 1926. Dalam momentum 1 abad ini, sudah seharusnya seluruh elemen NU mengingat dan merevitalisasi dimensi spiritualitas transformatif berdirinya NU. Napak tilas sejarah berdirinya NU sudah  dimulai dari Bangkalan sampai Tebuireng pada hari Ahad, 4 Januari 2025 lalu. Maka, napak tilas ini  harus menjadi momentum refleksi, restrospeksi dan proyeksi ke depan supaya NU selalu relevan di tengah tantangan zaman yang terus berjalan secara dinamis dan kompetitif.
Nahdlatul Ulama tidak hanya organisasi yang lahir dari tuntutan sosial dan intelektual, tapi organisasi ini juga lahir dari dimensi spiritual transendental yang sangat kuat dan dalam. Ide pendirian NU sudah sejak tahun 1924 disampaikan KH. Abdul Wahab Hazbullah kepada Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Namun, Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim belum menyetujui ide tersebut sebelum melakukan munajat dan muraqabah kepada Allah untuk mendapat petunjukNya. Ternyata petunjuk yang ditunggu-tunggu datang dari Syaikhana Muhammad Khalil bin Abdul Lathif Bangkalan Madura yang merupakan guru Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hazbullah.
Petunjuk pertama terjadi pada akhir tahun 1924 ketika Syaikhana Muhammad Khalil mengutus santrinya, KH. Raden As’ad Syamsul Arifin untuk mengantar tongkat dan Q.S. Thaha ayat 17-23 kepada Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Petunjuk kedua terjadi pada akhir tahun 1925 ketika Syaikhana Muhammad Khalil mengutus santri yang sama, yaitu KH. Raden As’ad Syamsul Arifin untuk mengantar tasbih dengan bacaan asmaul husna (Yaa Jabbar Yaa Qahhar, Tuhan Yang Maha Perkasa Maha Mengalahkan) kepada Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng.
Ketika sampai di Tebuireng, Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mengambil sendiri tasbih dari leher Kiai As’ad. Setelah itu, Hadlaratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari bertanya kepada Kiai As’ad; “Apa tidak ada pesan lain dari Bangkalan ?”, Kiai As’ad menjawab: Yaa Jabbar Yaa Qahhar yang diulang tiga kali sesuai pesan Syaikhana Muhammad Khalil. Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari lalu berkata: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memperbolehkan kita mendirikan jam’iyah”.
Setelah proses spiritual yang sangat sakral-transendental inilah, Hadlratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari memperkenankan Kiai Wahab Hazbullah membentuk ‘Komite Hijaz’ yang kemudian melahirkan organisasi besar ‘Nahdlatul Ulama’ (Choirul Anam, 2010: 71-73).
Kisah ini menunjukkan dimensi spiritual yang sangat dalam dari berdirinya NU. NU adalah organisasi yang didirikan oleh para ulama yang direstui para auliya’ karena mendapat restu langit. Oleh sebab itu, NU merupakan organisasi diniyyah (keagamaan) yang dalam pemikiran dan gerak langkahnya selalu merujuk kepada landasan keagamaan. Menurut KH. MA. Sahal Mahfudh (1992), NU didirikan ulama pengasuh pesantren yang mempunyai kesamaan wawasan, pandangan, sikap dan tata cara pemahaman, penghayatan dan pengajaran ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah demi izzul Islam wal muslimin.
Makna Transformatif
Dua petunjuk berdirinya NU di atas menarik diungkap makna esensial transformatifnya supaya generasi penerus NU sekarang dan akan datang selalu memahami latar historis berdirinya NU.
Tongkat adalah simbol komando yang harus dioptimalkan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan sebagaimana tujuan utama agama Islam sebagai pembawa kasih sayang (rahmat) bagi seluruh alam. Tongkat adalah simbol koherensi, kepatuhan, dan kolektivitas yang sangat dibutuhkan dalam menggerakkan organisasi demi kemaslahatan umum.
Sedangkan Q.S. Thaha ayat 17-23 adalah sebagai berikut:
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa:”Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang alin padanya”. Allah berfirman:”Lemparkanlah ia, hai Musa!), Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman:”Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaanya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mu’jizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar.
Banyak pelajaran berharga dari ayat ini. Pertama, manusia sempurna adalah orang yang menyatukan aspek rohani dan jasmani, materi dan immateri, sehingga ia tidak seperti malaikat dan binatang. Manusia tidak boleh tenggelam dalam aspek rohani dengan melupakan pijakannya di muka bumi. Kedua, mukjizat disesuaikan dengan konteks masyarakat. Tongkat berubah menjadi ular menyesuaikan era raja Fir’aun yang banyak tukang sihirnya yang mengelabuhi orang dengan ular. Ketiga, kesungguhan dan kekuatan dalam menegakkan kebenaran akan melahirkan kehebatan yang disimbolkan dengan keluarnya putih cemerlang tanpa cacat seperti sinar matahari yang menyilaukan dan menarik perhatian dan menakjubkan bagi yang melihatnya (M. Quraish Shihab, 2021:7:572-576).
Adapun makna Yaa Jabbar adalah Wahai Allah Yang Maha Perkasa yang kehendaknya tidak bisa diingkari siapapun. Allah berkuasa memberikan kekayaan kepada orang miskin, membebaskan orang teraniaya, menyembuhkan orang sakit, dan lain-lain. Makna Jabbar ini banyak sekali dalam kehidupan. Antara lain: menjadi teladan dalam kebaikan dan menggunakan kewenangan dengan benar. Ia tidak hanya melakukan kebaikan, tapi mengajak orang lain melakukan kebaikan. Ia menjadi pelopor kebaikan. Ia juga menggunakan kewenangan secara benar (M. Syafii Antonio, 2013:76-79).
Sedangkan makna Yaa Qahhar adalah Wahai Allah Yang Maha Mengalahkan yang menunjukkan ketinggian dan keperkasaan. Imam Az-Zujaz memaknai al-Qahhar adalah Allah yang menjinakkan penentangNya dengan memaparkan bukti keesaanNya dan menundukkan pembangkangNya dengan kekuasaanNya serta mengalahkan semua makhluk dengan mencabut nyawanya. Dalam konteks kehidupan, makna Al-Qahhar antara lain: menundukkan egoisme dan mengalahkan kecintaan dunia dengan menjadikan dunia sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah (M. Syafii Antonio, 2013:101-104).
Adapun makna tasbih adalah isyarat sifat kesempurnaan keagungan Allah yang meneguhkan bahwa Allah dibersihkan dari segala kekurangan (Muhammad Muhajirin Amsar, 2018:4:402).
Dari semua isyarah yang diberikan Syaikhana Muhammad Khalil kepada Hadlratusyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di atas menunjukkan keistimewaan dan kekuatan besar yang ada pada NU.
Nahdlatul Ulama mempunyai energi transformasi yang sangat dahsyat. Menurut KH. Abdul Wahab Hazbullah, NU adalah meriam yang bisa menghancurkan musuh. Namun para musuh melemahkan mental pengurus dan warga NU dengan mengatakan bahwa NU hanya gelugu yang tidak bermakna. Inilah yang harus disadari seluruh komunitas NU di semua tingkatan. Sejarah membuktikan kebenaran dawuh KH. Abdul Wahab Hazbullah di atas.
Tongkat Nabi Musa pada masanya mampu menghancurkan kemungkaran dan kebatilan di muka bumi. Maka, tongkat Syaikhana Muhammad Khalil yang berwujud organisasi Nahdlatul Ulama mampu menumpas kebatilan dan kemungkaran. Sejak berdirinya sampai sekarang tidak terhitung kekuatan yang ditunjukkan NU untuk memberantas kemungkaran dan kebatilan. Antara lain: menumpas kaum penjajah yang sudah mengeksploitasi bumi Indonesia selama 3.5 abad; mengeluarkan fatwa resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan yang menginspirasi perang besar pada tanggal 10 Nopember 1945 yang dikenal Hari Pahlawan; menumpas aksi PKI yang kejam; menegakkan stabilitas politik nasional dengan memberikan gelar waliyyul amri al-dlaruri bisy-syaukah kepada Presiden Ir. Soekarno; menetapkan Pancasila sebagai dasar bernegara; dan lain-lain.
Napak tilas sejarah berdirinya NU ini menjadi cambuk yang sangat berharga bagi seluruh komunitas NU untuk meneguhkan dimensi spiritualitas dalam organisasi NU dalam rangka menggapai ridlo Allah. Dimensi spiritualitas ini harus menggugah komunitas NU pada momentum 1 abad masehi ini untuk melakukan kontekstualisasi gerakan dakwah amar ma’ruf nahyi mungkar dengan program visioner produktif sehingga kehadiran NU senantiasa menebarkan kasih sayang, keadilan, kemanusiaan dan kemaslahatan lahir batin dari dunia hingga akhirat, amiin
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tulis Dua Artikel Scopus, Dosen Asal Pati Ini Raih Doktor Tanpa Ujian Terbuka

    Tulis Dua Artikel Scopus, Dosen Asal Pati Ini Raih Doktor Tanpa Ujian Terbuka

    • calendar_month Jum, 16 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 251
    • 0Komentar

      Yogyakarta – Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda, resmi menjadi doktor pendidikan dasar setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Guru Sekolah Dasar Profesional dalam Pembelajaran berbasis Digital” di hadapan dewan penguji Ujian Hasil Disertasi (Ujian Tertutup) pada Jumat (16/2/2024). Dewan Penguji dalam […]

  • Photo by Harmoni Widiya

    Dari Balik Jendela Kaca

    • calendar_month Ming, 21 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 194
    • 0Komentar

    Oleh : J. Intifada Ben, junior di kampus yang sekarang satu perusahaan denganku. Cowo flamboyan yang suka dikelilingi karyawan-karyawan perempuan di kantorku. Sikapnya yang ramah, baik dan suka membantu membuat para teman kantor menyukainya. Bahkan tanpa aku sadari sudah satu tahun saat kami bekerja, dia sudah beberapa kali membuat cewek-cewek magang terbawa perasaannya. “Kamu kenapa […]

  • LP Ma’arif Bersyukur atas Penutupan LI, Ini Alasannya

    LP Ma’arif Bersyukur atas Penutupan LI, Ini Alasannya

    • calendar_month Sen, 14 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 258
    • 0Komentar

    Adib al Arif, ketua LP Ma’arif NU Kabupaten Pati PATI – Terkait dengan penutupan tempat maksiat Lorok Indah (LI) yang ada di Kecamatan Margorejo Kabupaten Pati, LP Ma’arif NU Kabuoaten Pati merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Pemerintah Kab. Pati dan seluruh jajarannya. Hal itu disampaikan langsung oleg Ketua LP Ma’arif Pati, Ahmad Adib Al […]

  • PCNU-PATI

    Tradisi Ruwahan Sebagai Tradisi Local Wisdom Masyarakat

    • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Setiap memasuki bulan Sya’ban masyarakat desa pada umumnya melanggengkan tradisi kirim doa yang ditujukan kepada para leluruh dan kerabat yang sudah meninggal. Tradisi ini sudah berjalan dari dulu sampai sekarang. Tradisi ruwahan ini juga biasanya dilakukan baik di masjid, mushola dan makam. Hal ini dilakukan masyarakat tidak lain adalah karena adanya […]

  • PCNU-PATI Photo by Fadhila Nurhakim

    Malam yang Aneh

    • calendar_month Sen, 15 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Pukul sembilan malam aku keluar dari kamar hotel. Aku bergegas menuju kafe Sunny Story yang tak jauh dari alun-alun. Sesampainya di kafe, kucari tempat duduk di pojok yang agak sepi di halaman kafe. Hanya beberapa orang saja yang ada di situ, berpasang-pasangan, di mejanya masing-masing. Hanya aku yang sendirian. Jika […]

  • Tingkat Profesionalitas Pengurus UPZIS, MWC NU Tambakromo Gelar Madrasah Amil

    Tingkat Profesionalitas Pengurus UPZIS, MWC NU Tambakromo Gelar Madrasah Amil

    • calendar_month Rab, 29 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 287
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Dalam rangka meningkatkan profesionalitas dan integritas kader pengelola Unit Pengumpulan Zakat, Infaq dan Shadaqah (UPZIS), Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Tambakromo menggelar madrasah amil pada Rabu, (29/1/2025). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Haji Desa Karangmulyo Kecamatan Tambakromo tersebut, dihadiri langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pati, Yusuf Hasyim dan Ketua […]

expand_less