Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » KH. Abdul Kholiq : Ulama Tasawuf, Pendiri Madrasah Abadiyah Gabus

KH. Abdul Kholiq : Ulama Tasawuf, Pendiri Madrasah Abadiyah Gabus

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 21 Jul 2021
  • visibility 1.143
  • comment 0 komentar

Oleh : Agus Salim*

Potret KH. Abdul Kholiq Mojolawaran

KH. Abdul Kholiq merupakan ulama yang  lahir di Pati Jawa Tengah. Sejarah panjang yang menceritakan tentang gigihnya ulama yang satu ini dalam mendampingi masyarakat pedesaan, untuk memperkenalkan agama Islam. Telah termaktub dalam buku yang ditulis oleh Agus Salim yang berjudul “Berkhidmat Mengarungi dan Menyemai Jejak-Jejak Zaman Biografi KH Abdul Kholiq (1914-1998).”

KH. Abdul Kholiq lahir pada tanggal 9 April 1914 dari pasangan H. Abu Bakar dan Hj. Ngasimah. Tepatnya disalah satu desa Angkatan Kidul di daerah Pati bagian selatan. Nama kecil beliau adalah Suyahman. Beliau tumbuh berkembang di daerah pedesaan pada umumnya, sama dengan anak-anak lain di desa biasa orang jawa menyebutnya “Cah Ndeso” (Anak Desa).

Beliau lahir di keluarga yang agamis. Tingkat ketirakatan keagamaan yang ditunjukan keluarganya memang berbeda, mengingat ayahnya selain ditempatkan masyarakat desa sebagai sosok pemuka agama, juga seorang yang menyandang gelar ‘Haji’. Dapat digambarkan pada masa kolonial jika seseorang yang tinggal di desa dan bergelar haji, otomatis ini menempatkan derajat/status sosial keagamaannya menjadi tinggi.

Perjalanan Intelektual 

KH. Abdul Kholiq menjalani masa pendidikannya pada tahun 1926 pada sekolah yang berada pada pemerintahan kolonial Belanda, atau suatu lembaga pendidikan dasar yang disebut Volksschool dalam bahasa Belanda. Dalam bahasa melayu/ bahasa Indonesia nya adalah sekolah rakyat.

Selama tiga tahun sekolah di sana, beliau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu Vervolgschoolen. Karena sifatnya sebagai sambungan, maka kelas yang dijalani oleh murid seperti beliau pada tahun pertama otomatis yang sebelumnya yaitu kelas III Volksschool, untuk itu melanjutkan masuk ke kelas IV Vervolgschoolen.

Setelah menyelesaikan sekolah formal sampai ke jenjang Vervolgschoolen, beliau tidak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi setingkat sekolah menengah umum. Namun lebih memilih pesantren baik rencana pribadi beliau dan ayahnya H. Abu Bakar.

Pendidikan pesantren pertama yang ia kunjungi bersama orang tuanya pesantren yang berada di Wedarijaksa daerah Pati bagian utara. Yang mana pengasuh pesantren tersebut adalah Kyai Hasyim. Kala itu beliau dan orang tuanya menuju ke sana dengan menggunakan kendaraan tradisional seperti kereta yang ditarik oleh kuda yaitu delman.

Di pesantren Kyai Hasyim diajarkan mengaji ilmu-ilmu agama yang diajarkan di pesantren pada umumnya seperti, Nahwu, Shorof, Fikih, Ushul Fiqh, Hadis, Tafsir dan lain sebagainya. Selain mengaji di Kyai Hasyim beliau juga izin dengan kiainya untuk mengaji individual mandiri kepada Kyai Nawawi di Kajen, yang mana daerah Kajen cukup dekat dengan Wedarijaksa jikalau ditempuh dengan menggunakan delman waktu itu. Selama mondok di Kyai Hasyim ia mengganti namanya dari Suyahman menjadi Syahid (Belum diketahui secara valid nama Syahid merupakan pemberian dari Kyai Hasyim atau inisiatif beliau sendiri).

KH. Abdul Kholiq orang yang suka sekali mengembara ilmu dari kyai satu ke kyai lainnya dengan fokus ilmu yang berbeda. Beliau menjalani perjalanan intelektualnya dengan menyusuri pondok pesantren di beberapa wilayah Jawa. Seperti pesantren Bareng di Kudus yang diasuh oleh KH. Iskandar Yasin. Setelah dari KH. Iskandar Yasin beliau ke arah timur kepada KH. Kholil di daerah Kasingan, Rembang.

Hingga akhirnya beliau mengaji hingga ke Jawa Timur yaitu di Pesantren Termas Pacitan dan mengaji kepada KH. Dimyati. Belum puas dengan pengembaraannya, setelah dari Pacitan beliau kembali ke Utara di daerah Kajen Pati kepada KH. Salam dan KH. Munji. Setelah itu memutuskan untuk berguru di Jombang Jawa Timur yaitu di Pesantren Tebuireng. Karena beliau berfikir bahwa Jombang kala itu merupakan jantungnya Pesantren, karena pendiri Nahdhlatul Ulama KH. Hasyim Asy’ari berada di Jombang.

Merintis Thoriqoh 

Setelah mendalami ilmu agama, beliau kembali ke desanya di Angkatan Kidul untuk mengabdi dan mengajarkan ilmunya kepada warga setempat. Dan akhirnya menikah dengan seorang perempuan penduduk Desa Mojolawaran Gabus Pati. Anak dari seorang Kyai alim penduduk setempat, yaitu H. Abu Hasan. Beliau dijodohkan dengan putrinya Hj. Siti Rohmah.

H. Abu Hasan memiliki Pesantren Al Hasan dan Madrasah Diniyyah Tarbiyatussibyan. KH. Abdul Kholiq akhirnya di beri amanah untuk melanjutkan estafet pengelolaan dan pengasuhan pondok tersebut. Beliau juga memberangkatkan menantunya untuk pergi haji ke tanah suci Makkah Al-Mukarromah. Sepulangnya dari Makkah, beliau mengganti namanya menjadi Abdul Kholiq, hingga sekarang terkenal lah beliau dengan nama KH. Abdul Kholiq Mojolawaran Gabus Pati.

Beliau juga mendalami ngaji Thariqah setelah menikah dengan Hj. Siti Rohmah ke salah satu podok Thariqah di Pondowan Tayu Pati yang diasuh oleh KH. Muhammadun. Dan, kepada KH. Muhammad Mansyur Popongan suatu daerah perbatasan Surakarta dan Klaten.

Hingga akhirnya pada tahun 1972 KH. Abdul Kholiq merintis dan mengembangkan jamaah dan Pesantren Thariqah di Mojolawaran Gabus Pati. Thariqah yang dirintisnya tersebut diberi nama Thariqah Naqsabandiyah Mujadaddiyah Kholidiyyah.

Kiprah beliau pada dunia pendidikan pun sangat luar biasa, yang mana beliau pengasuh serta sekaligus mengelola dua lembaga pendidikan sekaligus yaitu pondok Al Hasan dan Madrasah Tarbiyatussbyan.

Berdirinya MTs Abadiyah

Suatu ketika ada sebuah keresahan muncul dalam benak KH. Abdul Kholiq. Beliau merasakan adanya dikotomi antara pengajaran ilmu umum dan ilmu agama menjadi permasalahan baru. Dimana ketika halnya sistem pendidikan sejak masa Hindia Belanda hingga masa kemerdekaan, seakan adanya sebuah sekat diantara ilmu umum yang menjadi klaim di sekolah umum serta ilmu agama yang hanya diajarkan di madrasah dan pesantren.

Hingga akhirnya beliau diskusikan dengan Musyawarah Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Gabus. Yang mana berencana untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan berbasis akhlakul karimah yang didasari pada penerapan nilai, pandangan dan sikap islami berdasarkan konsep Ahlusunnah wal Jamaah. Serta menerapkan kedua ilmu tadi, ilmu umum dan ilmu agama. Melalui musyawarah panjang para jajaran MWC NU Gabus. Maka berdirilah Madrasah Tsanawiyah (MTs) dibawah naungan Nahdlatul Ulama yaitu MTs Abadiyah. Hingga sekarang MTs tersebut berkembang pesat dengan dirintisnya Madrasah Aliyah (MA) juga dan memiliki peserta didik berjumlah ribuan hingga sekarang.

Hari Duka

Abdul Kholiq menapaki usia tua, sekitar tahun 1992. Ada firasat yang disampaikan beliau sebelum wafat. Beliau pernah berkata _“Aku wis entuk keterangan. Aku cerakno karo Kiai Gusti.” (Aku sudah mendapat kejelasan. Aku dekatkan dengan Kiai Gusti (Allah SWT)._ Hal ini ditafsirkan santri dan keluarga beliau mengandung arti tiga hal:

1. Jika wafat agar di dekatkan dengan makam orang saleh.

2. Dekatkan dengan pondok Thariqah.

3. Dekatkan dengan Madrasah Abadiyah.

Hingga kemudian beliau wafat pada tanggal 7 April 1998 yang bertepatan dengan tanggal 11 Dzulhijjah 1419. KH. Abdul Kholiq berpulang ke Rahmatullah dalam usia 84 tahun. Sesuai keinginan beliau, jenazahnya di makamkan di komplek pemakaman Kalangan Tempel, Kuryokalangan. Dekat dengan Madrasah Abadiyah dan Pondok Thariqah.

*Dewan guru di MTs Abadiyah

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rakerdin, Ketua PWNU Gus Rozin Sebut SDM Guru Ma’arif Harus Berkualitas

    Rakerdin, Ketua PWNU Gus Rozin Sebut SDM Guru Ma’arif Harus Berkualitas

    • calendar_month Sen, 20 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 457
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Kudus – Lembaga Pendidikan Ma`arif NU PWNU Jawa Tengah pada Minggu (19/1/2025) menggelar kegiatan Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Zona 1 di Kabupaten Kudus. Rakerdin dihadiri 557 Kepala satuan pendidikan Ma`arif NU dari Cabang Kudus dan Jepara. Hadir dalam kegiatan tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Abu Rohmad, Wakil Sekretaris LP Ma’arif NU PBNU, […]

  • IPNU IPPNU Jateng Ajak Anggota Jadi Enterpreneur Muda

    IPNU IPPNU Jateng Ajak Anggota Jadi Enterpreneur Muda

    • calendar_month Rab, 24 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 386
    • 0Komentar

      Suasana Economy Creative Student Expo (ECSE) yang diselenggarakan oleh PW IPNU & IPPNU Jawa Tengah, Rabu (24/11).  Dalam rangka meningkatkan kemandirian organisasi Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah ajak anggota untuk jadi enterpreneurship muda.  Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua PW IPNU Jawa […]

  • MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

    MENUNGGU GEBRAKAN NU DALAM MENGHADAPI MEA

    • calendar_month Sen, 1 Jun 2015
    • account_circle admin
    • visibility 590
    • 0Komentar

    Oleh: Faiz Aminuddin*                                                                                 Warga di kawasan Asia Tenggara sebentar lagi akan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean yang akan dimulai pada tanggal […]

  • PCNU-PATI Photo by Kristaps Ungurs

    Menunggu Panen

    • calendar_month Ming, 18 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 454
    • 0Komentar

    Oleh : Ramli Lahaping Seiring waktu, Romi makin gandrung mengulang kebiasaannya. Setiap kali berada di waktu senggang, ia akan duduk di teras depan rumah punggunggnya untuk memandang-mandangi sepohon durian montong yang berada di sebelah kanan halamannya. Ia akan memperhatikan buah-buah pohon itu, sembari mengkhayalkan kenikmatan saat nanti ia menyantapnya.  Kebiasaan Romi itu tambah menjadi-jadi belakangan […]

  • PCNU-PATI Photo by geralt

    Celeng, Babi, dan Anjir

    • calendar_month Sel, 25 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 693
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Tiga bentuk umpatan di atas sengaja saya jadikan judul pada artikel ini. Mengingat, ragam bahasa yang digunakan anak-anak dan remaja kita, sekarang ini memprihatinkan. Di semua level. Entah pra sekolah, SD/MI hingga SMA/SMK/MA. Di kota dan desa sama. Meski bentuk umpatannya berbeda. Umpatan ditinjau dari bentuknya pun beragam. Pertama, nama binatang seperti […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Sayman & Kartinah. Photo by Mayur Deshpande on Unsplash.

    Sayman & Kartinah

    • calendar_month Rab, 20 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 368
    • 0Komentar

    Sudah lama terlintas di kepala saya, dengan polah pilah kehidupan teman satu komplek di perumahan. Saat bulan April tiba selalu ada saja yang diributkan. Baik tentang penampilan dengan Kebaya terbaru, desain unik dan ciamuk, serta tusuk konde, mengunakan model pipih atau lonjong, dengan pahan logam, atau perak bercampur dengan emas tembaga. Kartina selalu saja ribet […]

expand_less