Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » INDONESIA BUTUH NU

INDONESIA BUTUH NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Nov 2015
  • visibility 133
  • comment 0 komentar

NU merupakan satu organisasi sosial keagamaan yang—bisa dibilang—unik. Keunikan ini sebenarnya lahir dari berbagai aktivitas keorganisasian yang lebih bersifat kultural. Tradisionalisme yang melekat pada organisasi ini, merupakan satu bagian yang sering menjadi buah bibir khalayak. Secara struktural, organisasi NU telah cukup maju dalam penataan kepengurusannya. Hanya saja, esensi yang ‘duduk’ di dalamnya masih sarat dengan nilai-nilai budaya lokal. Namun justru itulah yang membuat organisasi terbesar di indonesia ini layak menjadi salah satu ikon ‘perdamaian’ bukan hanya antara budaya dengan agama namun juga antara yang tradisional dengan yang modern.
‘Lokasi’ lahir yang berdekatan dengan kebodohan, kekolotan dan kemelaratan bangsa terjajah harus membuat NU mampu menjadi wadah, bukan malah menjadi menara gading yang congkak. Wal hasil tercetuslah NU yang seperti sekarang ini. Akantetapi—seperti dikatakan sebelumnya—meski hadir dengan tema tradisional, modernitas tetap menjadi satu bagian wajib dalam rangka membangun “mitra” dengan roda zaman. Penyelarasan ini sebenarnya telah dideklarasikan secara leteral dalam bentuk kaidah. Pemeliharaan terhadap eksistensi tradisionalitas diseguyubkan dengan pengamalan nilai-nilai modern yang dianggap lebih baik menjadi tolak ukur NU dalam memahami masa depan. Demikianlah yang acap kali didengungkan oleh kyai-kyai NU hingga para guru mulok (muatan lokal) Ke-NU-an di madrasah-madrasah.  
Hemat penulis, dari kaca mata ini terlihat jelas bahwa modernitas dan tradisionalitas merupakan barang yang wajib adanya bagi NU. Ibarat dua mata uang dalam satu koin, dua-duanya adalah suatu yang niscaya untuk diaplikasikan. Hanya saja penyalahartian tentang tradisionalitas yang disamaratakan dengan konvensionalitas masih sering berdengung di kawasan anti NU. Maka wajar jika posisi NU semakin terdesak ditepian zaman ‘modern’. Para hater yang  sejatinya belum terlalu jauh memahami NU, dengan segala kepentingannya mengobrak-abrik asumsi pasar soal kekolotan organisasi bikinan KH. Hasyim Asy’ari ini. Akhirnya, tercetuslah gagasan yang diiyakan secara global bahwa NU disamadengankan tradisional, dan tradisional sama dengan kolot. Dengan rumus singkatnya, kolot sama dengan NU.
Terkait kekurangan dan kelebihan NU sebagai organisasi yang notabenenya ‘hand made’ umat manusia—bukan buatan tuhan seperti agama—memojokkan NU dengan satu alasan logis ini bisa saja dibenarkan. Namun wajah NU yang sedemikian rupa sebenarnya merupakan salah satu cara untuk mewahanai hajat umat Indonesia dalam banyak aspek. Dibalik anggapan miring NU kolot yang berdengung, sejatinya dalam tubuh NU tersimpan pola pemikiran ulama yang begitu maju untuk memajukan Indonesia.
Berangkat dari sebuah kaidah tentang penyelarasan antara tradisionalitas dan modernitas, NU menjadi ikon terpenting yang harus ada. Eksistensi karakter organisasi semacam ini mutlak dimiliki  oleh segala jenis bangsa manusia di dunia. Tanpa penggabungan antara tradisionalitas dan modernitas, mustahil sebuah bangsa bisa menemukan titik ghoyah-nya, memajukan peradaban sekaligus meniadakan penindasan karakter. Begitu banyak bangsa maju di era dunia ke tiga ini, namun tak sedikit pula dari mereka yang kehilangan jati diri karena melewatkan sejarah bangsa dalam modul pembangunan.
Tradisi merupakan bahan baku budaya yang menyejarah, sementara tanpa memahami betul sejarah dan budaya bangsa, maka kemajuan akan terasa pincang sebab kebutaannya terhadap karakter asli bangsa.
Diteropong dari rongga ini, NU dengan segala keunikanya tentu saja bukan organisasi sembarangan. Karakternya telah didesain sedemikian rupa oleh ‘arsitek’ ulung sekelas KH. Hasyim Asy’ari CS sehingga mampu menampung berbagai macam aspirasi baik yang bersifat tradisi ataupun yang kekinian bahkan yang berasal dari masa depan. Kaum intelek menyebutnya dengan istilah yang cukup keren : toleran.
Waktak toleran terhadap kemajuan zamannya serta jadugnya NU dalam mempertahankan tradisi tanpa disadari telah membawa organisasi ini pada sebuah level penyatuan tradisionalitas dan modernitas yang membentuk  satu aliran baru—sebaru-barunya—yakni neo-modernisme. Sebuah istilah untuk menyebut pembaharuan modern.
Kata modern terkadang masih terdengar ‘angkuh’, kekinian, kota dan hal-hal maju lainnya. Namun tanpa sadar, NU yang dianggap kolot telah memodernkan kemodernisasi dengan emblem gagah neomodernisme. Hebatnya lagi, kondisi semacam ini telah diteropong oleh para pendirinya sejak tahun 1926, sekitar sembilan puluh tahun lalu, dan baru sekarang terkuak. Dalam konteks ideologi neomodernisme ini, Indonesia menjadi satu negara yang paling beruntung karena memiliki NU.
KH. Hasyim Asy’ari mafhum betul bahwa Indonesia butuh NU, maka beliau tidak mau sembarangan dalam meracik organisasi ini. Hanya saja,  NU acap kali dianggap sebagai satu hal yang biasa-biasa saja oleh bangsa Indonesia bahkan oleh para kadernya. tanpa disadari bahwa NU adalah masterpiece yang sekaligus menjadi pilar utama peradaban manusia Indonesia. Namun sayang, dengan resep yang telah digodhog hingga benar-benar matang oleh KH. Hasyim Asy’ari CS dalam ‘membuat adonan’ NU yang istimewa, saat ini malah cenderung dipandang sebelah mata. Kekonyolan paradigma khususnya oleh para kader NU terhadap organisasinya sendiri inilah yang kian menggerogoti tubuh NU sendiri secara perlahan. Mereka menganggap NU adalah ‘warisan’ yang biasa-biasa saja ini, wal hasil Indonesiapun turut menjadi negara yang hambar dan biasa-biasa saja. Ketidaksadaran bahwa Indonesia butuh NUatau setidaknya butuh organisasi semacamnya—inilah yang harus dibangunkan dari tidur lamanya.
Neomodernisme menjadi paku bumi mendirikan bangunan negeri yang ingin maju, tak terkecuali Indonesia yang hanya mengekor pada kolonialisme model mutakhir yang berkedok modernisme. Dengan penerapan faham neomodernisme yang diusung NU, Indonesia benar-benar akan menjelma—bukan hanya—sebagai negara maju, namun juga menjadi barang istimewa sebagaimana dicita-citakan hadratusysyaikhSoekarno CS. (Maulana Luthfi Karim Penulis merupakan peneliti di Paradigma Institut, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hismawati PIM Tingkatkan Keterampilan Menulis Demi NKRI

    Hismawati PIM Tingkatkan Keterampilan Menulis Demi NKRI

    • calendar_month Jum, 9 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 154
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Himpunan Siswa Mathali’ul Falah Putri (Hismawati) menggelar Pelatihan Jurnalistik untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa putri. Acara yg digelar pada Jumat (9/8) di Aula lantai 2 PIM Lil Banat diprakarsai oleh Sie Majalah Ukhuwah dengan menghadirkan narasumber M. Sofyan Alnashr, dosen IPMAFA Pati. Sofyan Alnashr sedang memaparkan materi tentang jurnalisme di aula lantai 2 PIM Lil […]

  • PKPNU 2025 Tinggal Menghitung Hari, Sekretaris PCNU: Sudah Siap!

    PKPNU 2025 Tinggal Menghitung Hari, Sekretaris PCNU: Sudah Siap!

    • calendar_month Rab, 29 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.167
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Pelaksanaan kegiatan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP-NU) Kabupaten Pati tinggal menghitung hari. Kecamatan Gembong menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan acara tersebut. Rencananya, PKP NU tahun 2025 ini akan diselenggarakan di ponpes Raudlatul Falah dan Pondok Thoriqoh Tanwirul Qulub, Bermi, Gembong Pati mulai 31 Oktober hingga 2 Nopember 2025. Dedi Syarif, Sekretaris […]

  • PCNU-PATI

    Sepuluh Ribuan Warga NU Pati Meriahkan Kirab Hari Santri 2022

    • calendar_month Sab, 22 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 140
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id  – Sepuluh ribuan warga Nahdlatul Ulama di Kabupaten Pati ikuti Kirab Akbar dalam memperingati Hari Santri Nasional 2022.  Kirab itu diikuti oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PNCU) beserta Lembaga dan Badan Otonom (Banom). Selain itu, para santri dari sejumlah Madrasah dan Pesantren juga turut memeriahkan kegiatan ini. Sebelum kirab, para peserta mengikuti apel di […]

  • Qorib dan A'ida Jadi Nahkoda Baru PK IPNU IPPNU IPMAFA

    Qorib dan A’ida Jadi Nahkoda Baru PK IPNU IPPNU IPMAFA

    • calendar_month Sen, 31 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 175
    • 0Komentar

    MARGOYOSO – Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’ (PK IPNU IPPNU) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati sukses menggelar Rapat Anggota Komisariat (RAK) dan Konferensi Komisariat (Konferkom) III, Minggu (30/10/2022). Bertempat di Aula 1 IPMAFA, acara ini bertemakan Menyongsong Regenerasi Kader Menuju Insan Shalih Akrom. Dalam pemilihan tersebut, Abdul Qorib […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Selamat Hari Raya. Photo by Afif Kusuma on Unsplash.

    Selamat Hari Raya

    • calendar_month Rab, 4 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Baru dua hari saya dan Anda melewati hari kemenangan, kembali ke fitri, saling bermaaf maafan, saling mendoakan, muda sowan ke lebih tua. Di hari kemenangan tersebut banyak doa dan harapan yang kita panjatkan. Dan doa doa selamat di dunia akhirat selalu dilantunkan. Begitu terus setiap tahunnya. Menjaga rutinitas, berbuat kesalahan lagi dimaafkan kembali. Semoga ini, […]

  • MWCNU Wedarijaksa Gelar Lailatul Ijtima 94 Tahun NU

    MWCNU Wedarijaksa Gelar Lailatul Ijtima 94 Tahun NU

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 141
    • 0Komentar

    WEDARIJAKSA – MWC NU Kec. Wedarijaksa menggelar Lailatul Ijtima’ sekaligus guna memperingati Hari lahir ke-94 NU Tahun 2020, Jum’at (07/02/2020). Acara dihadiri sedikitnya 40 peserta yang berasal dari pengurus MWC NU Wedarijaksa dan banom-banom yang ada di kecamatan tersebut. Diantaranya dari Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor dan Banser, dan IPNU-IPPNU Wedarijaksa. Acara diselenggarakan di […]

expand_less