Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Festival Muria Raya 5: Merayakan Panen Kopi dengan Musik Batu

Festival Muria Raya 5: Merayakan Panen Kopi dengan Musik Batu

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 18 Agu 2025
  • visibility 303
  • comment 0 komentar

 

Jepara – Festival Muria Raya ke-5 sukses digelar di Dukuh Duplak, Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Minggu (17/8/2025). Festival ini seolah-olah merayakan panen kopi dengan memainkan musik batu.

Sebuah panggung yang terbuat dari anyaman bambu berdiri indah di Petilasan Mbah Robyong. Beberapa seniman dari berbagai daerah hilir mudik mementaskan karya-karyanya.

Seni tari seperti dari Sanggar Pandu Gabus Pati yang menyuguhkan Tari Mina Tani, seniman dari Desa Menawan Kudus yang menyuguhkan Tari Sendang Widodaren hingga kesenian musik membuat penonton terkesima.

Sejumlah tumpukan batu ditata sedemikian rupa. Beberapa penonton juga tampak membawa batu. Dengan intruksi seseorang konduktor, batu-batu itu dipukul. Terciptalah musik yang indah dan harmonis.

Sejumlah warga dan pengunjung dari berbagai daerah pun tampak asyik menikmati musik itu. Hawa sejuk salah satu desa tertinggi Jepara itu tak terasa dengan suguhan hangat para seniman.

”Asyik bisa melihat berbagai penampilan kesenian berkualitas dengan gratis. Ini juga nostalgia lagu-lagu Jawa untuk anak-anak yang sempat dinyanyikan salah satu penampil. Keren,” kata salah satu pengunjung dari Kabupaten Pati Diyah.

Para pengunjung pun tampak puas. Mereka berharap Festival Muria Raya kembali digelar pada tahun-tahun mendatang.

Ketua Festival Muria Raya, Brian Trinanda K. Adi menjelaskan pihaknya mengusung tema ’Wiwitan Tresno Kawitan’ dalam acara yang digelar sejak Sabtu (16/8/2025) hingga Minggu (17/8/2025). Tema ini diadopsi dari tradisi Wiwitan Kopi atau tradisi awal penen kopi warga Desa Tempur.

”Ini diambil karena untuk merespon tradisi duplak yang punya tradisi Wiwitan Kopi mereka tumpengan dan menyuguhkan kopi gratis,” ujar Brian.

Selain itu, tema ini diambil sebagai penanda bahwa Festival Muria Raya tahun ini menjadi yang pertama kali digelar di luar Pati. Setelah empat kali selalu digelar di wilayah Kabupaten Pati.

”Wiwitan Tresno Kawitan ini juga bermakna munculnya permulaan warna-warna cinta. Agar kita lebih erat lagi berhubungan dengan Jepara maupun Kudus. Semoga nanti tepok gelang tidak hanya dinikmati warga Pati atau Jepara tapi juga Kudus,” tandas dia.

Pada tahun depan, Festival Muria Raya rencananya digelar di Desa Menawan, Kabupaten Kudus. Pihaknya pun bakal berusaha menggelar Festival Muria Raya setiap tahunnya.

”Kemarin Kepala Desa Menawan ikut ke sini membawa kesenian yang terinspirasi Sendang Widodaren. Yang spesial tadi ada kesenian musik batu berkolaborasi dengan Gempor Santosa dari ISBI Bandung, Memen Khoirul Selamat desertasi S3 soal musik batu kamudian In Hoause Composer kita, Mas Agung,” tandas dia

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Lailatulqadar dalam Teori Habituasi

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.621
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Lailatulqadar ( لَيْلَةِ الْقَدْرِ) atau biasa ditulis Lailatul Qadar sudah sering saya tulis. Saya mendata yaitu Lailatul Qadar: Momentum Perubahan (Koran Wawasan, 2013), Membongkar Matematika Lailatul Qadar (Alif.id, 2018), Misteri Lailatul Qadar (Pcnupati.or.id, 2024), Kapan Terjadinya Lailatul Qadar? (2025), Ramadan: Bulan Matematika dan Cinta (Inisnu.ac.id, 2016). Dari tulisan-tulisan ini, sudah banyak perspektif yang saya ketik sejak […]

  • Gus Rozin; Tugas Besar Ma`arif Mencerdasakan Anak Bangsa

    Gus Rozin; Tugas Besar Ma`arif Mencerdasakan Anak Bangsa

    • calendar_month Rab, 23 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Semarang –  Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) memimpin doa dan pemotongan pita sebagai simbol diresmikannya kantor baru Lembaga Pendidikan Ma`arif NU Jawa Tengah yang berlokasi di Jl. Majapahit No.70 Pandean Lamper, Gayamsari Kota Semarang. Peresmian kantor Ma`arif merupakan rangkaian dari perayaan Hari Santri Nasional (HSN) yang diselenggarakan oleh […]

  • PCNU-PATI

    Memahami Konsep Fikih Sosial Kiai Sahal Mahfudh

    • calendar_month Sab, 29 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Secara etimologi, fikih berasal dari kata bahasa Arab faqiha-yafqahu-fikihan, yang berarti mengerti atau memahami. Orang-orang Arab memaknai fikih dalam konteks kebahasaan dengan mā daqqa wa ghamudha, yang artinya: sesuatu yang samar dan sulit untuk dipahami. Berdasarkan pengertian etimologis kata fikih ini, orang-orang Arab mengatakan faqihtu ma’na kalāmika liannahu qad yaduqqu wa yaghmadhu, […]

  • Rosok, Nilai Tambah Bersedekah

    Rosok, Nilai Tambah Bersedekah

    • calendar_month Jum, 17 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Pati. Gunungwungkal, banyak orang yang beranggapan apabila sampah atau barang rongsokan, tidak ada nilainya sehingga di buang begitu saja. Namun siapa sangka, barang sisa-sisa dari olahan rumah tangga dan pertokoan tersebut dapat dijadikan jalan untuk menambah amal dan ibadah seluruh masyarakat. Hal tersebut dilakukan oleh Pemuda Masjid Besar Darussalam Gunungwungkal Pati.             “ Kami yang […]

  • PCNU-PATI Photo by Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa

    Puisi-Puisi Ardhi Ridwansyah

    • calendar_month Ming, 21 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 314
    • 0Komentar

    ELEGI BUKA PUASA Ramah azan menyapa senja Lepas dahaga biar tak usang Ucap syukur termaktub dalam tetes air Yang melintasi kerongkongan; Rekah jiwa di bulan berkah. Ingin lekas hati pulang Namun jalan tak lekas luang Mobil motor berbagi ruang Saling tegur mesin menderu jalang. Ingat opor ayam kepala meriang Dan kurma goda selera menuai bara […]

  • KKN IPMAFA Desa Grogolan Ajak Anak-Anak Garap Kulit Telur

    KKN IPMAFA Desa Grogolan Ajak Anak-Anak Garap Kulit Telur

    • calendar_month Sel, 30 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 325
    • 0Komentar

    Guna membekali anak-anak mengembangkan kreativitasnya, mahasiswa KKN Ipmafa Desa Grogolan berinisiatif untuk melatih anak-anak membuat kerajinan yang mudah dan ekonomis. Maka dipilihlah kolase telur sebagai medianya Aksi anak-anak membuat kolase dari cangkang telur Nur Ami’in, M.Si selaku Dosen Pembimbing Lapangan mengungkapkan jika maksud dan tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan karya seni rupa yg terbuat […]

expand_less