Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
  • visibility 250
  • comment 0 komentar

M. Iqbal Dawami

Sebagai orang yang mencintai aktivitas baca-tulis, saya mencoba menularkan “virus” ini kepada keluarga saya. Di tengah masyarakat yang tak punya tradisi literasi ini, bukan hal mudah untuk menerapkannya, karena keluarga yang berbeda dengan kebanyakan di lingkungan bisa dianggap “aneh”, meskipun itu hal yang positif. Termasuk mengenalkan buku kepada tetangga.

Saya coba sedikit demi sedikit mendekatkan buku kepada masyarakat maupun keluarga saya. Untuk masyarakat memang masih jauh dari bayangan, karena harus bersinergi dengan perangkat desa maupun para tokohnya. Untuk mengenalkan secara kultural masih butuh perjuangan. Saya pernah menawarkan kepada para tetangga apabila ada yang mau baca buku-buku koleksi saya yang letaknya di ruang tamu samping (bukan ruang tamu utama).

“Saya baca buku? Haha…” jawab salah satu dari mereka, seolah tak percaya kalau mereka mau baca buku. Karena membaca masih dianggap tabu. 

Sedangkan untuk keluarga, saya bisa mengontrolnya langsung, karena lebih mudah untuk diarahkan, tidak perlu orang luar. Berikut ini yang saya lakukan untuk keluarga, yakni sebuah ikhtiar dalam menghidupkan literasi di keluarga saya.

Perpustakaan Keluarga

Pertama yang saya lakukan adalah membuat perpustakaan keluarga. Saya buat rak buku yang berukuran 4 x 4 meter. Awalnya buat satu, tapi koleksi bukunya bertambah sehingga tidak bisa menampung lagi, maka saya buat satu rak lagi dengan ukuran yang sama. Koleksi buku yang saya kumpulkan sejak tahun 2007 hingga akhir tahun 2018 mencapai asdadva. Saya kira itu cukup untuk perpustakaan keluarga. Temanya juga beragam, termasuk buku anak-anak, sehingga bisa dibaca oleh kedua anak saya.

Kedua rak buku tersebut saya letakkan di ruang tamu bagian utara. Kebetulan ruangan tersebut tidak terlalu luas dan tidak pula terlalu sempit, sehingga cocok untuk aktivitas membaca dan menulis. Ruangan tersebut juga cukup strategis untuk dilihat anggota keluarga sehingga mudah terjangkau apabila ingin membaca buku-buku tersebut.

Selain itu, para tamu juga dapat meliriknya pada saat masuk ke dalam rumah dan duduk di ruangan tamu utama. Setidaknya letaknya yang strategis akan memudahkan siapapun bagi yang ingin melihat-lihat buku dan syukur-syukur mau membacanya. Hal ini lumayan efektif. Banyak tamu yang datang ke rumah kerap mengomentari koleksi buku tersebut yang katanya sangat banyak.

Bagi tamu yang berkomentar saya ajak mereka untuk melihat-lihat buku tersebut dan mempersilakan apabila mau membacanya, baik di tempat maupun dibawa pulang untuk dipinjam. Ada beberapa yang mau meminjamnya. Bahkan, ada yang berkali-kali meminjamnya untuk dibaca di rumahnya. Setelah dikembalikan, dia pinjam buku yang lainnya lagi.  

Istri dan kedua anak saya, setelah ada rak buku di situ, sering mainnya malah di situ. Ini menjadi satu langkah untuk mendekatkan mereka ke dalam dunia buku.

Mengakrabkan dengan Buku

Setelah selesai membuat rak buku dan menyulap ruang tamu mini sebelah utara dijadikan perpustakaan, langkah selanjutnya adalah mengakrabkan istri dan kedua anak saya dengan buku. Saya tata dengan rapi buku-bukunya. Saya ajak mereka untuk menata buku juga dengan memberikan petunjuk buku-buku mana saja yang disimpan di rak-rak bukunya.

Pada saat menata itu mereka sering menatap lama-lama buku yang dirasa menarik, baik judul maupun covernya. Kadang mereka juga sering bertanya soal isi buku yang judulnya menarik. Begitu juga dengan covernya yang menarik, mereka bertanya kepada saya soal isi bukunya, sambil mereka membuka-buka sendiri. Lambat laun mereka tahu buku-buku yang hendak mereka baca.

Sedangkan Khaira (pada usia 3 tahun), anak saya yang bungsu belum bisa baca, suka “menata” (tepatnya mengacak-acak) sendiri yang sudah saya tata. Saya tidak melarangnya atau menyuruhnya untuk merapikan kembali setelah dia acak-acak. Saya biarkan saja, dengan maksud agar menata buku ala dirinya adalah sebuah kesenangan baru yang tadinya belum dia dapatkan. Dia bongkar buku-buku yang terjangkau olehnya di rak buku. kemudian dia susun sendiri di lantai layaknya mainan.

Lambat laun seiring waktu, akhirnya mereka akrab sendiri dengan buku-buku tersebut. Terlebih setelah saya membeli dua kursi malas.

Memberi Teladan dalam Membaca

Keteladanan menjadi kunci penting sukses tidaknya menghidupkan literasi di keluarga. Saya menyadari itu. Oleh karena itu, saya tidak menyuruh mereka untuk membaca maupun menulis kepada istri dan anak saya. Saya hanya memberi contoh saja. Dengan memberi contoh, mereka akan memperhatikan apa yang sedang saya lakukan. Jadi, saya tidak perlu capek-capek untuk meneriaki dan menuruti saya agar mau membaca dan menulis.

Pada awalnya saya sering baca buku di ruang kerja saya, yakni di lantai atas. Karena tidak mau ada yang mengganggu saya pada saat membaca maupun menulis. Tapi, setelah ada perpustakaan keluarga, saya coba untuk membaca di situ, apapun keadaannya. Pada saat mereka sedang bermain di situ, saya tetap membaca buku dan kadang main bersama untuk selingan.

Saya juga baca buku sambil leyeh-leyeh di kursi malas. Ketika anak-anak saya sudah jenuh bermain, akhirnya mereka mencari buku di rak. Setelah menemukan yang menarik, mereka membacanya. Maghza yang sudah bisa membaca, dia membaca buku yang dipilihnya dengan bersuara nyaring. Kadang juga dengan suara dalam hati. Sedangkan, Khaira yang belum bisa membaca, dia sekadar membuka-buka buku yang banyak gambarnya. Dia tunjuk-tunjuk gambarnya sambil menyebutkan nama gambar tersebut.

Sedangkan istri saya paling suka membaca di kursi malas tersebut. Untuk membuat kursi malas sendiri memang ide darinya agar rajin baca buku, katanya. Dan dia membuktikannya. Kadang saya dan istri mendamping anak-anak pada saat membaca buku. Kami saling membacakan sebuah cerita yang terdapat dalam buku secara bergantian. Dengan melibatkan secara langsung, tanpa disuruh pun pada akhirnya Maghza sudah mau membaca sebuah buku.

Saya juga kerap membaca di kamar tidur maupun di ruang tamu utama, tepatnya di depan televisi. Saya letakkan begitu saja buku-buku yang saya baca di tempat-tempat tersebut. Biasanya, Maghza maupun istri saya iseng-iseng membuka-buka buku tersebut dan membacanya. Kadang saya mengajak Maghza untuk ke pinggir sawah sambil membawa buku. Di sana kami membaca buku sambil menikmati hawa sejuk dan hamparan sawah yang elok tak terpermanai.

Kini, budaya baca buku menjadi keseharian kami. Maghza sudah punya koleksi bacaannya yang saya beli baik online maupun offline. Kadang dia juga sering titip buku setiap kali saya ke Yogyakarta atau pun Semarang. Dan saya dengan senang hati membelikannya. 

Memberi Teladan dalam Menulis

Tak jauh beda dengan membaca, menulis pun demikian. Saya menulis bisa di mana saja, terutama di ruangan perpustakaan. Pada awalnya saya menulis di lantai atas, sebuah ruangan yang saya jadikan kantor untuk menulis dan membaca. Tapi setelah ada perpustakaan keluarga, saya sering menulis di sana. Apapun keadaannya. Menulis idealnya memang di tempat yang sunyi dan tidak ada suara orang mengobrol, agar bisa menjaga konsentrasi. Tapi di tengah keluarga yang ada anak-anak mencari situasi seperti itu sangat sulit didapatkan. Maka, mau tidak mau harus kompromi dengan keadaan.

Pada awalnya saya terganggu, nyaris tidak bisa konsentrasi membaca dan menulis di tengah-tengah anak-anak yang sedang bercanda dan bersuara keras. Tapi saya lama kelamaan saya bisa beradaptasi dengan situasi tersebut. Alih-alih melarang mereka berisik, malah saya ajak juga untuk menulis maupun membaca. Saya sediakan kertas dan pulpen buat mereka berdua.

Maghza saya beri saran agar menuliska ceritanya waktu di sekolah maupun di rumah. Sedangkan Khaira hanya mencorat-coret saja, karena memang belum bisa menulis dan membaca. Dengan menulis di hadapan mereka, ternyata membuat mereka terlibat. Mereka ingin juga menulis.

Begitu juga dengan istri saya, saya ajak dia menulis cerita yang kelak bisa dijadikan bahan untuk belajar membaca bagi anak didiknya di sekolah. Istri saya adalah seorang guru SD. Jadi, sekalian belajar menulis, sekalian pula berkarya. Saya berharap dengan aktvitas menulis sebagaimana yang sering lihat saya sedang menulis di dekat mereka, mereka juga turut menulis, dan membuktikannya bahwa menulis itu menyenangkan.

Kini, istri saya sudah menyelesaikan naskah pertamanya. Dan Maghza masih dalam proses penyelesaian untuk buku solonya, sedangkan buku antologinya sudah terbit.

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tuntutan Zaman, Ibda Dorong Guru SD Kuasai Kompetensi Digital

    Tuntutan Zaman, Ibda Dorong Guru SD Kuasai Kompetensi Digital

    • calendar_month Kam, 20 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.407
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Temanggung – SD Negeri 1 Banyuurip Temanggung menggelar kegiatan In House Training (IHT) bertema “Penguatan Literasi dan Digitalisasi” pada Selasa-Rabu, 18-19 November 2025, sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi tuntutan pembelajaran abad 21. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang laboratorium SD Negeri 1 Banyuurip tersebut menghadirkan Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd, Koordinator Bidang Literasi, […]

  • PCNU - PATI

    Nur Khoiriyah, Terpilih Menjadi Ketua KOPRI

    • calendar_month Rab, 6 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Pati. Nur Khoiriyah, terpilih sebagai Ketua KOPRI PC PMII Pati masa khidmah 2022-2023 pada Konferensi Cabang (Konfercab) XIV PMII Pati di aula bertempat di SMA Muria, 2/7 beberapa waktu lalu. Konfercab merupakan forum tertinggi di level kepengurusan cabang PMII yang meliputi penyampaian LPJ kepengurusan sebelumnya, merumuskan organisasi yang nantinya akan dibawa pemilihan ketua yang baru. […]

  • PCNU-PATI Photo by Angèle Kamp

    Puisi-Puisi Eska Mariska

    • calendar_month Ming, 4 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Hembusan Masa Lalu hembusan cerita masa lalu sampai di telinga angin membawanya begitu cepat luka, kecewa, dan patah berulang kembali tak berarah menggiring keputusasaan mendekap kepiluan merusak kepercayaan hadirnya tak lagi menggenggam terganti untuk dilepaskan 26 September 2022 Tentang Kamu Kamu adalah bagian dari masa lalu Sekejap terasa indah dalam ingatan Kemudian terasa sakit untuk […]

  • Presiden Pecinta Sholawat Berikan Sembako ke Dapur Umum NU Peduli Pati

    Presiden Pecinta Sholawat Berikan Sembako ke Dapur Umum NU Peduli Pati

    • calendar_month Ming, 4 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Presiden Pecinta Sholawat, Muh Zen, berikan sembako ke dapur umum NU Peduli Pati, yang berada di kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, Sabtu (3/12/2022) siang. Muh Zen memberikan sembako berupa beras, minyak goreng dan lainnya. Sembako itu ia salurkan untuk membantu para relawan NU Peduli Pati dalam menyupali makanan untuk korban banjir.  […]

  • PCNUPati.or.id, Pati – Gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan menghantam hingga area Masjid Agung Baitunnur Pati saat demo 13 Agustus 2025, kemarin. LPBHNU Pati pun menyayangkan tindakan represif aparat. Beredar video, gas air mata ditembakkan hingga halaman Masjid Agung. Sejumlah warga pun menjadi korban. Naasnya, bukan hanya massa demo yang terkana imbas. Warga yang hendak jemaah pun menjadi korban. Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Pati Ahmad Shofwan angkat bicara. Menurutnya demo merupakan hak masyarakat. ”Menanggapi tindakan represif tindakan aparat yang sampai mengejar ke masjid agung. Yang pertama, demo itu hak dan sudah diatur dalam undang-undang, bahwa menyampaikan pendapat di muka umum itu boleh. Kemarin demo itu memang legal dan berizin masih batas waktu yang diperbolehkan,” ujar Shofwan, Kamis (14/8/2025). Ia pun menyayangkan tindakan kepolisian yang dinilai terlalu represif. Apalagi pihak kepolisian sampai menembakkan gas air mata ke halaman Masjid Agung Pati. ”Sementara tindakan aparat polisi mengejar para demonstran sampai masjid sangat disayangkan. Karena masjid itu tempat ibadah. Tidak boleh aparat itu represif sampai ke sana. Karena di sana bukan para pendemo. Ada masyarakat yang ingin ibadah,” tutur dia. Tindakan aparat ini membuat sejumlah masyarakat menjadi korban. Bahkan banyak masyarakat yang hendak jamaah, ibu-ibu dan anak-anak terkena imbasnya. ”Apalagi gas air mata itu memang diarahkan ke halaman parkir mobil (masjid) dan juga ke tempat wudlu. Itu saya sayang kan,” ungkap dia. Tak hanya itu, tindakan aparat juga dinilai terlalu berlebihan lantaran juga menembakkan gas air mata di gang-gang permukiman warga.Ia pun berharap kejadian semacam ini tak terjadi lagi. ”Pak Kapolda, Kapolres harus mengevaluasi dan berbenah kejadian tidak terulang lagi. Di gang sampai masyarakat kena. itu tidak boleh. Kalau menangkap pendemo yang rusuh silahkan. Saya pastikan pendemo yang rusuh itu didatangkan dari luar sengaja membikin rusuh. Bukan orang Pati. Orang Pati tidak seperti itu,” tandas dia. Sementara itu, Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto mengaku pihaknya sudah sesuai SOP. Meskipun, banyak ibu hingga anak yang menjadi korban. ”Oke, tentunya protap SOP yang dilakukan oleh pihak kepolisian sudah sesuai. Karena kita dari awal pada saat aksi unjuk rasa yang damai Itu berjalan dengan lancar dan kita menjamin keamanan dari para demonstran,” pungkasnya.

    Gas Air Mata Hantam Area Masjid Agung, LPBHNU Pati: Aparat Jangan Represif

    • calendar_month Kam, 14 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 329
    • 0Komentar

      PCNUPati.or.id, Pati – Gas air mata yang ditembakkan aparat keamanan menghantam hingga area Masjid Agung Baitunnur Pati saat demo 13 Agustus 2025, kemarin. LPBHNU Pati pun menyayangkan tindakan represif aparat. Beredar video, gas air mata ditembakkan hingga halaman Masjid Agung. Sejumlah warga pun menjadi korban. Naasnya, bukan hanya massa demo yang terkana imbas. Warga […]

  • Trio Muslimat, Ansor dan Fatayat Batangan Dilantik

    Trio Muslimat, Ansor dan Fatayat Batangan Dilantik

    • calendar_month Sab, 26 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 278
    • 0Komentar

    BATANGAN-Puluhan pengurus Muslimat, Ansor dan Fatayat Anank Cabang Batangan resmi dilantik Jumat (25/10) siang di YPI Khoiriyah, Dukuh Dagel, Desa Kedalon, Batangan. Acara pelantikan ini sengaja dilakukan bersama-sama demi efektifitas. Pelantikan PAC Muslimat NU, Fatayat dan Ansor Batangan serta pembukaan PKD PAC Ansor Batangan di YPI Khoiriyah, Sabtu (26/10) Beberapa tokoh penting juga hadir dalam […]

expand_less