Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lihatlah Siapa yang Bertanya

Lihatlah Siapa yang Bertanya

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 17 Okt 2022
  • visibility 425
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Suatu hari, seorang anak muda yang baru menikah mendatangi Abdullah bin Abbas. Anak muda itu mengajukan pertanyaan, “’Wahai sepupu Rasulullah, bolehkah aku mencium istriku saat sedang berpuasa?”

“’Tidak boleh!” jawab Abdullah bin Abbas dengan tegas.

Pemuda itu tampak kecewa, karena jawabannya bukan yang diinginkannya. Ketika hendak bertanya kembali untuk mencari alasan logis dengan maksud agar Ibn Abbas membolehkannya, tiba-tiba ada seorang lelaki tua mendatangi Abdullah bin Abbas pula. Pemuda itu menunggu sejenak. Sang pemuda itu mendengarkan percakapan mereka.

 “’Wahai Ibn Abbas, apakah aku boleh mencium istriku ketika aku sedang berpuasa?” Tanya lelaki tua.

“Boleh,” jawab Abdullah bin Abbas.

Rupanya pertanyaan lelaki tua sama dengan pertanyaan sang pemuda itu. Mendengar jawaban tersebut, si pemuda itu langsung melabrak dan memprotes, “’Wahai sepupu Rasulullah! Bagaimana Anda ini, Anda halalkan buat dia sesuatu yang Anda haramkan buat saya?” Dengan nada kesal dan menahan marah.

Ibn Abbas tersenyum.

“Begini saudaraku, kau masih terlalu muda, nafsu birahimu masih bergejolak. Sedangkan bapak ini sudah tua,” jawab Abdullah bin Abbas sembari tersenyum.

Pemuda itu akhirnya mengerti maksudnya. Dia paham kalau dirinya belum tentu bisa menahan nafsunya tatkala mencium istrinya. Tidak ada jaminan kalau dirinya untuk bisa menahan gejolak keinginan berhubungan dengan istrinya. Dengan hati yang tenang pemuda itu mengucapkan terima kasih kepada Ibn Abbas.

Aduhai, bijak sekali Ibn Abbas memberikan “fatwa”-nya kepada orang yang bertanya. Dia mampu memberikan jawaban cerdas dan bernas tanpa melanggar ketentuan syariat. Dia tidak semena-mena menjawab secara serampangan, halal-haram, atau pun hitam-putih. Ibn Abbas menjawab sesuai dengan konteks dan situasi si penanya. Lihatlah, si pemuda tadi, pada awalnya dia tidak puas dengan jawaban Ibn Abbas, lantaran jawaban Ibn Abbas terkesan “tidak adil” terhadap dirinya, namun pada saat mendapat penjelasan, barulah dia mengerti dan mengakuinya. 

Saya menduga apa yang dilakukan oleh Ibn Abbas itu terinspirasi dari pribadi Rasulullah Saw. sendiri yang seringkali memberikan jawaban sesuai dengan kapasitas para penanya. Oleh karenanya jawaban Nabi seringkali berbeda-beda, padahal pertanyaannya tetap sama. Misalnya, suatu ketika seseorang bertanya, “Wahai Rasul, apa barometer seseorang dikatakan beriman?”

Nabi menjawab, “Orang yang beriman adalah orang yang dapat menahan amarahnya.” Pada kesempatan lain ada pertanyaan yang sama yang diajukan kepada Rasulullah. Namun beliau menjawab sedikit berbeda, “Orang yang beriman adalah yang dapat menjaga tangan dan lisannya.” Pada waktu yang lain juga ada yang bertanya soal iman, dan beliau menjawab, “Belum bisa dikatakan seseorang beriman, sampai dia mencintai saudaranya, sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”

Mengapa Nabi memberikan jawaban yang berbeda-beda padahal pertanyaannya sama? Karena Nabi melihat kondisi sang penanya. Nabi menjawab bahwa orang yang beriman adalah yang dapat menahan amarah, karena sang penanya mempunyai tabiat pemarah. Jawaban lainnya bahwa orang yang beriman adalah yang dapat menjaga tangan dan lisannya, karena sang penanya selalu memukul, berkata-kata kotor, menyakiti hati orang, dan segala keburukan lainnya yang berasal dari mulut dan tangannya. Yang terakhir, sang penanya lantaran mempunyai perangai buruk yakni selalu menyakiti saudaranya, baik itu tetangga, teman, maupun yang tidak dikenalnya.

Barangkali Nabi akan menjawab lain manakala sang penanya, misalnya, seorang yang berilmu, katakanlah terpelajar. Mungkin Nabi akan menjawab, “Orang yang beriman adalah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya.” Karena, boleh jadi si terpelajar tidak pernah melakukan apa yang sudah diketahuinya, alias sekadar wacana belaka, tapi tidak pernah dipraktikkannya.    

Begitulah seharusnya kita memberikan respons terhadap keadaan. Kondisi menentukan jawaban. Kita tidak bisa saklek memberikan respons tanpa melihat situasi dan kondisi sekelilingnya. Ada hal yang harus dilihat terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. Dengan kata lain, ada yang harus dipertimbangkan dan dipikirkan matang-matang sebelum kita memberikan wejangan, fatwa, nasihat, masukan, anjuran, dan lain sebagainya.

Mengapa harus dipertimbangkan dan dipikirkan? Tak lain agar kita tidak salah memberikannya. Sebuah teori terkadang tidak bisa diterapkan dalam semua kasus. Ada elemen-elemen yang hanya ditemukan dalam satu tempat dan tidak ditemukan di tempat lainnya. Inilah mengapa teori tidak bisa diberlakukan di sepanjang waktu dan tempat. Bahkan, sebuah teori bisa saja benar dalam satu waktu, tapi tidak ada jaminan teori tersebut bisa berlaku pada waktu lainnya.

Dalam hal ini sangat tepat kita mengambil teladan dari Imam Syafi’i, salah satu imam mazhab besar yang mempunyai banyak pengikut. Dalam fiqih beliau terdapat istilah Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Istilah Qaul Qadim adalah pandangan fiqih Imam Asy-Syafi’i versi masa lalu, yakni pada masa beliau tinggal di Baghdad Irak. Sedang Qaul Jadid adalah pandangan fiqih Imam Asy-syafi’i menurut versi yang terbaru setelah beliau tinggal Mesir.

Mengapa Syafi’i mengubah fatwanya pada saat tinggal di Mesir? Karena di sana beliau menemukan banyak hal baru yang belum pernah ditemukannya, baik tambahan jumlah hadits atau pun logika fiqih. Di Mesir itulah beliau melakukan revisi ulang atas pendapat-pendapatnya selama di Irak. Revisinya begitu banyak sesuai dengan perkembangan terakhir ilmu dan informasi yang beliau dapatkan di Mesir, sehingga terkumpul menjadi semacam kumpulan fatwa baru. Beliau merevisi fatwanya sendiri karena tidak relevan untuk diterapkan di Mesir.

Dari situ kita dapat mengambil intisari karakter Imam Syafi’i bahwa beliau begitu fleksibelnya dalam ber-fiqih. Beliau begitu paham bahwa fiqih adalah sebuah produk hukum yang boleh saja penerapannya akan berbeda di dalam masing-masing daerah. Tentu saja, baik Qaul Qadim maupun Qaul Jadid yang dibuatnya keduanya bersumber dari Alquran dan hadis.

Pengetahuan sejatinya harus disertai sikap bijak. Kita sering mendengar perkataan bahwa bijak itu maqam (tingkatan)-nya di atas ilmu. agaknya tidak berlebihan, karena orang yang bijak itu adalah orang yang bisa memahami keadaan, dimana kemudian bagaimana ia harus bersikap, berpikir, dan bertindak sesuai dengan pengetahuannya.[] 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puluhan Murid MTs Tarbiyatul Banin Winong Pati Mendapat Paket Bantuan dari YBM BRILiaN

    Puluhan Murid MTs Tarbiyatul Banin Winong Pati Mendapat Paket Bantuan dari YBM BRILiaN

    • calendar_month Kam, 31 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 566
    • 0Komentar

      Pcnupati.or id – Yayasan Baitul Maal Brilian (YBM BRILiaN) melalui BRI Branch Office Pati menyalurkan bantuan paket pendidikan kepada anak didik Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tarbiyatul Banin, Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Rabu (17/7/2025). Ada sebanyak 30 paket yang dibagikan kepada para siswa. Supervisor Penunjang Operasional (SPO) BRI Pati, Agus Sumartono, mengatakan bahwa kegiatan […]

  • a woman holding a bouquet of flowers in her hands

    Merayakan IWD (International Women’s Day)

    • calendar_month Jum, 8 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 446
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Pagi ini setelah saya bersih-bersih rumah, seperti biasa saya pasti membuka handphone untuk sekadar berseluncur di media sosial. Entah untuk membuka Whatsapp memastikan apakah ada yang mengirimi saya sebuah pesan selamat pagi, selamat berbahagia hari ini. Selain membuka Whatsapp yang nyatanya memang tak ada ucapan tersebut disana, saya kemudian beralih ke […]

  • Direktur GTK Madrasah Apresiasi 97 Tahun Kiprah LP Ma’arif NU dalam Pendidikan Islam

    Direktur GTK Madrasah Apresiasi 97 Tahun Kiprah LP Ma’arif NU dalam Pendidikan Islam

    • calendar_month Sab, 26 Sep 2026
    • account_circle admin
    • visibility 20.036
    • 0Komentar

    Semarang, 26 September 2026 — Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama, Dr. H. Fesal Musaad, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas perjalanan 97 tahun LP Ma’arif NU yang dinilai telah memberikan kontribusi penting dalam membangun dan mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia. Apresiasi tersebut disampaikan Fesal saat menjadi narasumber dalam Seminar Pendidikan Harlah ke-97 LP […]

  • PCNU-PATI Photo by NEOM

    Konvergensi

    • calendar_month Sen, 9 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 593
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami “Konvergensi adalah perpotongan antara sesuatu yang Anda sangat suka atau mahir lakukan dan apa yang juga menjadi ketertarikan orang lain. Cara termudah untuk memahami konvergensi adalah dengan membayangkannya sebagai titik percampuran antara apa yang Anda cinta dan apa yang orang lain mau beli,” ujar Chris Guillebeau. Saya suka dengan istilah […]

  • PCNU-PATI Photo by Gabor Kozmon

    Ketika Ernest Hemingway “Berpuasa”

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 513
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Setiap tahun kaum muslim melakukan ibadah puasa wajib satu bulan penuh di bulan ramadhan. Bulan ramadhan memang bulan yang istimewa, bulan yang suasananya begitu berbeda. Kebersamaan dalam keluarga, kebersamaan dalam masyarakat begitu melekat. Misalnya, buka puasa bersama, tarawih bersama, dan sahur bersama. Dan, bulan puasa juga diawali dengan rame-rame hiruk-pikuk […]

  • PCNU-PATI

    Ketika Cinta Bertasbih 2

    • calendar_month Kam, 10 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan nuansanya takpernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat yangbaru. Ada keindahan baru. Keindahan yang berbeda darifajar hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada sastrawanyang mampu mendetilkan keindahan panorama itu denganbahasa pena. Tak ada pelukis yang mampu melukiskankeindahan itu dalam kanvasnya. Tak ada! Keindahan itu bisadirasakan, dinikmati dan […]

expand_less