Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lihatlah Siapa yang Bertanya

Lihatlah Siapa yang Bertanya

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 17 Okt 2022
  • visibility 372
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Suatu hari, seorang anak muda yang baru menikah mendatangi Abdullah bin Abbas. Anak muda itu mengajukan pertanyaan, “’Wahai sepupu Rasulullah, bolehkah aku mencium istriku saat sedang berpuasa?”

“’Tidak boleh!” jawab Abdullah bin Abbas dengan tegas.

Pemuda itu tampak kecewa, karena jawabannya bukan yang diinginkannya. Ketika hendak bertanya kembali untuk mencari alasan logis dengan maksud agar Ibn Abbas membolehkannya, tiba-tiba ada seorang lelaki tua mendatangi Abdullah bin Abbas pula. Pemuda itu menunggu sejenak. Sang pemuda itu mendengarkan percakapan mereka.

 “’Wahai Ibn Abbas, apakah aku boleh mencium istriku ketika aku sedang berpuasa?” Tanya lelaki tua.

“Boleh,” jawab Abdullah bin Abbas.

Rupanya pertanyaan lelaki tua sama dengan pertanyaan sang pemuda itu. Mendengar jawaban tersebut, si pemuda itu langsung melabrak dan memprotes, “’Wahai sepupu Rasulullah! Bagaimana Anda ini, Anda halalkan buat dia sesuatu yang Anda haramkan buat saya?” Dengan nada kesal dan menahan marah.

Ibn Abbas tersenyum.

“Begini saudaraku, kau masih terlalu muda, nafsu birahimu masih bergejolak. Sedangkan bapak ini sudah tua,” jawab Abdullah bin Abbas sembari tersenyum.

Pemuda itu akhirnya mengerti maksudnya. Dia paham kalau dirinya belum tentu bisa menahan nafsunya tatkala mencium istrinya. Tidak ada jaminan kalau dirinya untuk bisa menahan gejolak keinginan berhubungan dengan istrinya. Dengan hati yang tenang pemuda itu mengucapkan terima kasih kepada Ibn Abbas.

Aduhai, bijak sekali Ibn Abbas memberikan “fatwa”-nya kepada orang yang bertanya. Dia mampu memberikan jawaban cerdas dan bernas tanpa melanggar ketentuan syariat. Dia tidak semena-mena menjawab secara serampangan, halal-haram, atau pun hitam-putih. Ibn Abbas menjawab sesuai dengan konteks dan situasi si penanya. Lihatlah, si pemuda tadi, pada awalnya dia tidak puas dengan jawaban Ibn Abbas, lantaran jawaban Ibn Abbas terkesan “tidak adil” terhadap dirinya, namun pada saat mendapat penjelasan, barulah dia mengerti dan mengakuinya. 

Saya menduga apa yang dilakukan oleh Ibn Abbas itu terinspirasi dari pribadi Rasulullah Saw. sendiri yang seringkali memberikan jawaban sesuai dengan kapasitas para penanya. Oleh karenanya jawaban Nabi seringkali berbeda-beda, padahal pertanyaannya tetap sama. Misalnya, suatu ketika seseorang bertanya, “Wahai Rasul, apa barometer seseorang dikatakan beriman?”

Nabi menjawab, “Orang yang beriman adalah orang yang dapat menahan amarahnya.” Pada kesempatan lain ada pertanyaan yang sama yang diajukan kepada Rasulullah. Namun beliau menjawab sedikit berbeda, “Orang yang beriman adalah yang dapat menjaga tangan dan lisannya.” Pada waktu yang lain juga ada yang bertanya soal iman, dan beliau menjawab, “Belum bisa dikatakan seseorang beriman, sampai dia mencintai saudaranya, sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.”

Mengapa Nabi memberikan jawaban yang berbeda-beda padahal pertanyaannya sama? Karena Nabi melihat kondisi sang penanya. Nabi menjawab bahwa orang yang beriman adalah yang dapat menahan amarah, karena sang penanya mempunyai tabiat pemarah. Jawaban lainnya bahwa orang yang beriman adalah yang dapat menjaga tangan dan lisannya, karena sang penanya selalu memukul, berkata-kata kotor, menyakiti hati orang, dan segala keburukan lainnya yang berasal dari mulut dan tangannya. Yang terakhir, sang penanya lantaran mempunyai perangai buruk yakni selalu menyakiti saudaranya, baik itu tetangga, teman, maupun yang tidak dikenalnya.

Barangkali Nabi akan menjawab lain manakala sang penanya, misalnya, seorang yang berilmu, katakanlah terpelajar. Mungkin Nabi akan menjawab, “Orang yang beriman adalah orang yang mengamalkan apa yang diketahuinya.” Karena, boleh jadi si terpelajar tidak pernah melakukan apa yang sudah diketahuinya, alias sekadar wacana belaka, tapi tidak pernah dipraktikkannya.    

Begitulah seharusnya kita memberikan respons terhadap keadaan. Kondisi menentukan jawaban. Kita tidak bisa saklek memberikan respons tanpa melihat situasi dan kondisi sekelilingnya. Ada hal yang harus dilihat terlebih dahulu sebelum memberikan jawaban. Dengan kata lain, ada yang harus dipertimbangkan dan dipikirkan matang-matang sebelum kita memberikan wejangan, fatwa, nasihat, masukan, anjuran, dan lain sebagainya.

Mengapa harus dipertimbangkan dan dipikirkan? Tak lain agar kita tidak salah memberikannya. Sebuah teori terkadang tidak bisa diterapkan dalam semua kasus. Ada elemen-elemen yang hanya ditemukan dalam satu tempat dan tidak ditemukan di tempat lainnya. Inilah mengapa teori tidak bisa diberlakukan di sepanjang waktu dan tempat. Bahkan, sebuah teori bisa saja benar dalam satu waktu, tapi tidak ada jaminan teori tersebut bisa berlaku pada waktu lainnya.

Dalam hal ini sangat tepat kita mengambil teladan dari Imam Syafi’i, salah satu imam mazhab besar yang mempunyai banyak pengikut. Dalam fiqih beliau terdapat istilah Qaul Qadim dan Qaul Jadid. Istilah Qaul Qadim adalah pandangan fiqih Imam Asy-Syafi’i versi masa lalu, yakni pada masa beliau tinggal di Baghdad Irak. Sedang Qaul Jadid adalah pandangan fiqih Imam Asy-syafi’i menurut versi yang terbaru setelah beliau tinggal Mesir.

Mengapa Syafi’i mengubah fatwanya pada saat tinggal di Mesir? Karena di sana beliau menemukan banyak hal baru yang belum pernah ditemukannya, baik tambahan jumlah hadits atau pun logika fiqih. Di Mesir itulah beliau melakukan revisi ulang atas pendapat-pendapatnya selama di Irak. Revisinya begitu banyak sesuai dengan perkembangan terakhir ilmu dan informasi yang beliau dapatkan di Mesir, sehingga terkumpul menjadi semacam kumpulan fatwa baru. Beliau merevisi fatwanya sendiri karena tidak relevan untuk diterapkan di Mesir.

Dari situ kita dapat mengambil intisari karakter Imam Syafi’i bahwa beliau begitu fleksibelnya dalam ber-fiqih. Beliau begitu paham bahwa fiqih adalah sebuah produk hukum yang boleh saja penerapannya akan berbeda di dalam masing-masing daerah. Tentu saja, baik Qaul Qadim maupun Qaul Jadid yang dibuatnya keduanya bersumber dari Alquran dan hadis.

Pengetahuan sejatinya harus disertai sikap bijak. Kita sering mendengar perkataan bahwa bijak itu maqam (tingkatan)-nya di atas ilmu. agaknya tidak berlebihan, karena orang yang bijak itu adalah orang yang bisa memahami keadaan, dimana kemudian bagaimana ia harus bersikap, berpikir, dan bertindak sesuai dengan pengetahuannya.[] 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Photo by Clay Banks

    Menikah; Dibatasi Musim

    • calendar_month Jum, 3 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Bulan Syawal sebentar lagi usai. Euforia lebaran kemarin berganti dengan kegembiraan dua sejoli maupun dua keluarga dalam acara pernikahan. Bulan Syawal diyakini masyarakat Jawa sebagai bulan baik untuk menunaikan sebuah hajat. Salah satunya pernikahan. Menikah di bulan Syawal diyakini akan mendatangkan keberkahan dan senantiasa dilimpahi kebahagiaan. Maka tak heran terhitung mulai […]

  • PCNU-PATI

    Teknik Menulis Artikel Tembus Scopus dengan Artikel SLR

    • calendar_month Sab, 15 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Temanggung – Banyak teknik, cara atau metode menulis artikel ilmiah untuk tembus di databased Scopus, salah satunya melalui artikel dengan teknik Systematic Literature Review (SLR). Hal itu diungkapkan dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda, Jumat sore (14/4/2023). Kegiatan tersebut dilaksanakan […]

  • PCNU-PATI

    (Ber) Money Politik

    • calendar_month Jum, 7 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 366
    • 0Komentar

    Oleh: Inayatun Najikah Pada suatu hari saya pernah mengikuti seminar dengan mengambil tema besar yaitu tentang pentingnya melek politik untuk kaum muda. Dan rentetan apa yang disampaikan narasumber seakan kaum mudalah yang di tuntut untuk memahami dan mencegah money politik dan melek perpolitikan. Apakah yang selain muda tak perlu? Maka saya tak setuju dengan apa […]

  • Traning Jurnalistik Bersama Kataba Group

    Traning Jurnalistik Bersama Kataba Group

    • calendar_month Sel, 24 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 372
    • 0Komentar

    Pati: Jajaran Pengurus Kominfo-HSM Perguruan Islam Mathali’ul Falah mengadakan pelatihan jurnalistik dengan mendatangkan Team Kataba Group terdiri dari Andi Syarqowi, Taufiq Zubaidi dan Niam At-Majha, pelatihan tersebut bertempat di Gedung Lil Banat Mathali’ul Falah Kajen Pati, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari yaitu 16-18 Oktober 2017 “Salah satu media berproses terpenting di Mathale’ yang membentuk […]

  • PCNU Pati Tegaskan 11 Organisasi Ini Bukan Bagian dari Perangkat Perkumpulan NU

    PCNU Pati Tegaskan 11 Organisasi Ini Bukan Bagian dari Perangkat Perkumpulan NU

    • calendar_month Sel, 11 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 571
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id -Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, KH. Yusuf Hasyim, mengungkapkan bahwa belakangan ini banyak organisasi yang mengaku sebagai bagian dari NU. Namun, ia menegaskan bahwa terdapat 11 organisasi yang tidak termasuk dalam struktur atau perangkat Perkumpulan NU, berdasarkan Surat Edaran (SE) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Nomor: 3391/PB.01/A.II.10.44/99/01/2025 pada 7 Januari […]

  • Islam itu Memudahkan Tidak Mempersulit

    Islam itu Memudahkan Tidak Mempersulit

    • calendar_month Ming, 21 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 556
    • 0Komentar

    Islam itu memudahkan, bukannya malah mempersulit dan merepotkan. Karena pada prinsipnya Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, sehingga tidak akan terasa sulit apalagi merepotkan manusia itu sendiri. Namun seiring perkembangan zaman, tidak sedikit pihak yang justru mempraktekkan hal sebaliknya. Terkait dengan hal ini, KH. Bahauddin Nursalim, salah satu kyai muda ahli tafsir Indonesia, […]

expand_less