Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kiai Sahal, Pesantren, dan Mitigasi Bencana

Kiai Sahal, Pesantren, dan Mitigasi Bencana

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 15 Jul 2022
  • visibility 108
  • comment 0 komentar

KH. Sahal Mahfudh, ulama karismatik asal Kajen Pati ini pada akhir tahun 80an pernah menulis sebuah makalah yang dengan eksplisit menunjuk pesantren sebagai tempat membina (mengajar dan mendidik) para santri agar peduli terhadap lingkungan. Kiai Sahal optimis pesantren dapat melakukan pembinaan lingkungan hidup agar tidak menyulitkan generasi masa depan.

Saat ini, bencana alam yang melanda di berbagai daerah terjadi secara tiba-tiba bahkan tidak sesuai musimnya. Yang terbaru tentu saja bencana banjir yang melanda Kabupaten Pati di musim kemarau. Ketidaksiapan masyarakat menghadapi bencana alam menjadi bukti bahwa kita masih tidak mampu memahami alam dengan baik, padahal ketergantungan kita terhadap alam sangat tinggi. Dibutuhkan langkah nyata dalam mengelola alam dan lingkungan dengan baik dan tidak sekadar mengeksploitasinya demi keuntungan manusia semata.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan Kiai Sahal dalam mengelola lingkungan hidup di pesantren ialah pendekatan motivasi. Pendekatan motivasi dilakukan melalui pengajaran dan pendidikan lingkungan hidup, yakni proses internalisasi hingga transformasi nilai kelestarian lingkungan. Pendekatan motivasi ini –dijelaskan Kiai Sahal- walaupun akan memerlukan waktu relatif panjang, akan berdampak lebih positif karena pihak sasaran secara berangsur akan mau mengubah sikap dan perilaku secara persuasif. Pendekatan yang demikian itu dapat disebut sebagai mitigasi bencana, yakni upaya pengurangan risiko bencana melalui pesantren.

Pemikiran Ekologis Kiai Sahal

Dalam buku Nuansa Fiqh Sosial (2012, cet. 11), Kiai Sahal menjelaskan bahwa perhatian terhadap kelestarian alam merupakan bagian dari jalan mencapai tujuan utama dalam hidup umat manusia yaitu sa’adatuddarain (bahagia dunia dan akhirat). Agar tujuan tersebut dapat dicapai, manusia harus menjalankan dua fungsi pokok, yaitu ibadatullah (ibadah kepada Allah) dan imaratul ardli (mengelola dan memelihara bumi). Dua fungsi ini dapat dengan jelas dibedakan namun tidak dapat dipisahkan. Misalnya bagaimana mungkin seorang muslim dapat beribadah dengan nyaman apabila bumi tempat berpijak dalam keadaan bencana? Contohnya apabila sholat hukumnya wajib, maka keberadaan tempat sholat yang suci dan aman menjadi wajib pula.

Mengenai kerusakan alam, menurut Kiai Sahal disebabkan salah satunya perilaku dan sikap acuh tak acuh pada lingkungan hidup. Seperti kita ketahui bersama, pembangunan yang dilakukan manusia hanya untuk kepentingan diri sendiri. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, tidak dibarengi dengan pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup. Akibatnya terjadi apa yang disebut Kiai Sahal sebagai pergeseran keseimbangan dan keserasian dalam kehidupan.

Keseimbangan dan keserasian sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sikap rasional manusia yang berorientasi pada kemaslahatan makhluk. Sayangnya, kemaslahatan tersebut lebih cenderung bahkan dominan pada keinginan dan kepuasan manusia sendiri. Sebagai ulama Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja), Kiai Sahal mendorong pengikutnya melakukan aktualisasi nilai-nilai aswaja dalam pelestarian lingkungan hidup agar mampu bergaul dengan sesamanya dan alam sekitarnya untuk saling memanusiawikan.

Mitigasi Bencana di Pesantren

Model dakwah Kiai Sahal kita kenal dengan model dakwah bil haal yaitu dakwah dengan tindakan nyata. Pemikiran fiqh beliau yang kontekstual (fiqh sosial) menjangkau seluruh bidang kehidupan, baik ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan, budaya, hingga lingkungan hidup. Di tangan Kiai Sahal fiqh tidak lagi kaku, hitam atau putih, halal atau haram, namun kontekstual sehingga mampu menjawab permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat. Dalam dakwahnya, pesantren selalu dijadikan semacam laboratorium sosial agar mampu berkiprah dalam masyarakat, selain menjadi tempat menuntut ilmu agama Islam tentunya.

Pesantren dalam konteks mitigasi bencana sangat potensial dijadikan tempat menyemai dan menumbuhkan mitigasi bencana. Karena selain sebagai lembaga pendidikan, pesantren sekaligus berperan sebagai lembaga sosial yang memiliki peran sosial dan bisa menggerakkan swadaya dan swakarsa masyarakat. Di Jawa Tengah terdapat 5.850 pesantren dengan jumlah santri mencapai 500 ribu lebih (BPS, 2015) dan merupakan propinsi dengan jumlah pesantren terbanyak ketiga di Indonesia. Maka pendidikan mitigasi bencana melalui pesantren akan berdampak signifikan karena pesantren ada di tiap kabupaten di Jawa Tengah.

Upaya mitigasi bencana di pesantren dalam tulisan Kiai Sahal bisa dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu pendekatan proyek, pendekatan motivasi, dan pendekatan kolaboratif antara proyek dan motivasi. Saat bencana telah datang dan menimbulkan kerusakan, maka pendekatan proyek paling tepat. Meskipun idealnya pendekatan ini digunakan sebagai langkah antisipasi sebelum bencana terjadi. Misalnya proyek naturalisasi sungai, pembuatan waduk, sumur resapan, tanggul, reboisasi, atau proyek lainnya. Pemerintah dapat menggandeng dan bekerja bersama pesantren sesuai dengan kondisi geografisnya.

Pendekatan motivasi seperti dijelaskan sebelumnya adalah langkah mitigasi bencana melalui pengajaran dan pendidikan. Jika dimungkinkan, pesantren dalam peran mitigasi bencana bisa dengan pendekatan motivasi dan proyek sekaligus. Berbagai pengetahuan tentang lingkungan dan mitigasi bencana diajarkan dengan terintegrasi dalam kurikulum pesantren. Kemudian ditindaklanjuti dengan proyek yang dikerjakan bersama pesantren untuk melestarikan alam dan mitigasi bencana.

Pada bagian akhir, Kiai Sahal menjelaskan kemungkinan proyeksi pesantren pada pembinaan lingkungan hidup itu perlu perumusan matang –agar memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi-. Apakah pesantren bertindak sebagai penunjang atau pelengkap, ataukah sebagai motivator, dinamisator, dan fasilitator? Semua disesuaikan dengan ketersiapan pesantren dan kondisi geografis di mana pesantren itu berada. Demikianlah Kiai Sahal, pemikirannya visioner melebihi zamannya. (M. Sofyan Alnashr, Ketua LPPM IPMAFA Pati)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU PATI - Ilustrasi Menulis Kegiatan Menyenangkan.. Photo by lilartsy on Unsplash.

    Menulis, Kegiatan mengasyikkan

    • calendar_month Jum, 3 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Saya sedang menjajaki dunia tulis menulis. Menulis kisah dan cerita yang  familiar terjadi disekitar kita. Meski terlihat lucu dan aneh. Namun tak apa, saya berusaha menuangkan apa yang terlintas dipikiran. Apa yang terdengar dan terlihat; supaya tak mengganjal dalam akal. Meskipun sederhana dan alakadarnya. Saya sangat menyadari karena memang tak ada basic disitu awalnya. Bisa […]

  • KH. Aniq Muhammadun: Pentingnya Kerjasama Umara Ulama

    KH. Aniq Muhammadun: Pentingnya Kerjasama Umara Ulama

    • calendar_month Sel, 3 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 109
    • 0Komentar

    PATI – Dalam membina masyarakat perlu adanya kerjasama yang baik antara umara dan ulama. Demikian disampaikan oleh Rois Syuriah PCNU Kabupaten Pati, KH. M. Aniq Muhammadun, saat memberikan tausyiah dalam acara Gema Pati Bersholawat 2019. Acara Gema Pati Bersholawat 2019 Bersama Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf sendiri digelar di komplek Alun-Alun Pati pada Selasa malam, […]

  • MTs Banin Gelar Beragam Acara untuk Peringati HUT

    MTs Banin Gelar Beragam Acara untuk Peringati HUT

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 181
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-60 MTs Tarbiyatul Banin Madrasah Tahfidz & Sains Boarding School Pekalongan Winong Pati, menggelar ajang kompetisi bergengsi Banin Olympiad of Science and Sholawat tingkat nasional. Acara ini ditujukan untuk siswa SD/MI di berbagai belahan wilayah se-Indonesia. Selain itu, Geliat Harlah ke-60 MTs Tarbiyatul Banin ini bertujuan […]

  • Generasi Horeg, Bikin Cemas Untuk Indonesia Emas

    Generasi Horeg, Bikin Cemas Untuk Indonesia Emas

    • calendar_month Jum, 7 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 193
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Ditengah perkembangan teknologi yang berujung pada modernisasi, seharusnya jadi era yang baik bagi kehidupan suatu bangsa. Merespon perubahan yang kian pesat pun semestinya jadi momen perkembangan ke arah maju bagi negara. Hal tersebut, semestinya juga selaras dengan tujuan negara Indonesia menjadi Indonesia Emas di tahun 2025 mendatang. Menengok pergaulan remaja yang bahkan […]

  • INISNU Perkuat Kerjasama Internasional dengan Maahad Tahfiz Vokasional Aman Bistari Malaysia

    INISNU Perkuat Kerjasama Internasional dengan Maahad Tahfiz Vokasional Aman Bistari Malaysia

    • calendar_month Jum, 29 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 148
    • 0Komentar

      Malaysia – Dalam rangkaian Pancadharma Internasional, Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung melaksanakan MoU, MoA, riset, PkM, dan lawatan silaturahmi pada Rabu (27/8/2025) di Maahad Tahfiz Vokasional Aman Bistari Selangor, Malaysia yang sering disebut MTAVB tepatnya di Kampung Seri Aman Luar, 47100 Puchong, Selangor. Kedatangan rombongan diterima langsung oleh pimpinan Maahad Tahfiz Vokasional Aman […]

  • Peserta Lomba Pidato Terjebak Khotbah

    Peserta Lomba Pidato Terjebak Khotbah

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Semarang – Dalam perlombaan Pidato Bahasa Indonesia MI/SD dan MTs/SMP Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah di Kabupaten Semarang, juri berkomentar peserta masih terjebak ke dalam khotbah daripada pidato. Hal itu diungkapkan Dr. S. Prasetyo Utomo juri Lomba Pidato Bahasa Indonesia MI/SD dan MTs/SMP di sela-sela lomba. […]

expand_less