Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Apologi Non-Muslim untuk Merumat Persatuan

Apologi Non-Muslim untuk Merumat Persatuan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 1 Des 2021
  • visibility 178
  • comment 0 komentar

Oleh : Maulana Luthfi Karim*

1624432014-1472589
Foto : NU Online

Craig Considine, pendeta Nasrani berkebangsaan Amerika sempat berprasangka negatif terhadap islam. Bagaimanapun, citra islam terbentuk dari media massa yang menggiring opini publik untuk melakukan penilaian sepihak, terorisme.

Di barat, kecenderungan islamophobia telah berhasil mengintegrasi atau setidaknya menyejajarkan antara islam dengan ISIS, islam dengan Bin Leiden, dan islam dengan terorisme. Kamera media plus artikel-artikel yang mendukung asumsi ini bak penyedap rasa untuk kian meyakinkan masyarakat non muslim kontradiktif terhadap islam. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang benar adanya sekelompok golongan internal islam yang ‘sukses’ mencitrakan islam sebagai agama yang sangar, penuh kebencian dan non islam sama dengan halal darahnya. Redaksi-redaksi semacam ini menjadi pemicu kebencian barat terhadap islam. Apalagi, Amerika dan Eropa telah menjadi sasaran empuk bagi kalangan yang belakangan dikenal sebagai islam radikal ini untuk melakukan klaim kafir dan halal dibunuh. 

Craig, awalnya juga berfikir demikian, sebelum akhirnya ia menemukan secercah cahaya saat ia menjadi mahasiswa Prof. Akbar Ahmed di American University. Pandangan lamanya terhadap islam kian luntur seiring perkenalannya dengan sang profesor. 

Ia semakin tersadar bahwa keyakinannya selama ini hanyalah permukaan. Sementara, ada yang lebih dalam dari itu. 

Melalui proses ‘perkenalan’ yang panjang, pada akhirnya ia berani mendeklarasikan bahwa Muhammad adalah nabi cinta, dan golongan internal islam yang berdakwah dengan senjata hanyalah dampak dari kesalahfahaman tafsir. Lebih jauh, jika penulis boleh menambahkan, mereka adalah korban politisasi agama. 

Demi mengubah cara pandang barat terhadap islam, Craig merelakan dirinya menjadi tumbal kebenaran. Ketika ia memproklamirkan gerakan apologi islam, dua kubu sekaligus menghantam dirinya. 

Tak sedikit agamawan nasrani dan bangsa Eropa-Amerika lain yang menghujat Craig akibat langkah berani ini. Ia dinilai telah terlalu jauh membela islam. Sementara di mata muslim, statusnya sebagai seorang pendeta pun dipermasalahkan. Jika cinta dengan nabi, kenapa tak masuk islam saja? Namun Craig tetap bertahan. (Untuk mengetahui argumentasi Craig, silakan cari di buku Muhammad Nabi Cinta karya Craig Considine).

Kembali pada apologis islam. Craig menilai bahwa apologia mempunyai makna pembelaan. Artinya, gerakan yang sedang ia garap bukan hanya sebuah demo, namun kerja nyata. Melalui beragam karya, ia telah banyak menyadarkan sarjana barat untuk hijrah dari pandangan sempit terhadap islam, agama minoritas di Eropa dan Amerika. 

Membaca karya-karya Craig, penulis merasa semakin berdosa jika tidak melakukan hal serupa dalam konteks Indonesia. Apologis non muslim, misalnya. 

Penulis tidak sedang menuju perjalanan murtad, namun, pembelaan yang penulis maksud (sama halnya yang digagas oleh Craig), adalah pembelaan hak-hak non islam sebagai warga negara dan minoritas. 

Aqidah, secara paten mengajarkan tentang kebenaran mutlaq islam. Namun kita mungkin belum sempat membayangkan bahwa di agama lain juga mengimani ajaran serupa, sehingga kita sebagai mayoritas sering kelewatan dalam ‘menikmati’ hak beragama. 

Perobohan tempat ibdadah, diskriminasi agama, ujaran kebencian terhadap etnis atau pemeluk agama lain telah menjadi makanan sehari-hari yang dihidangkan secara uncontrolled di media sosial. 

Hal ini justru menjauhkan misi islam rahmatan lil alamin yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Semakin dihina dan dicaci orang akan semakin kabur dari kita.

Bukan sekadar kabur, namun metode dakwah semacam ini tentu akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Maka, dalan situasi genting ini, penulis berkeinginan untuk memotong mata rantai kebencian terhadap agama lain. 

Meminjam, istilah Gus Yaqut, kita memiliki hak beragama, namun hak kita juga dibatasi oleh hak orang lain. Dengan redaksi yang lebih konkret, sudah selayaknya kita tidak hanya menghargai hak orang lain, namun juga membela hak-hak mereka.

Sekali lagi, apologis non-muslim yang penulis gagas semata-mata untuk membela hak non islam, yang juga membela amanat UUD 1945, bukan membenarkan akidah mereka. Toh, dengan dakwah yang halus, bisa mengikis prahara diversitas religi diantara kita. Ahirul kalam, lakum diinukum waliya diin, wallahu a’lam bish showaab.

*Aktivis muda NU, owner AyamAyam

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada Nama Perempuan di Daftar Pengurus Besar NU, Ini Susunan Lengkapnya

    Ada Nama Perempuan di Daftar Pengurus Besar NU, Ini Susunan Lengkapnya

    • calendar_month Rab, 12 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 294
    • 0Komentar

    Kantor PBNU, tempat bernaung para pengurus NU di tingkat Nasional JAKARTA – Muktamar PBNU NU yang telah dilaksanakan 21 sampai 25 Desember 2021 lalu melahirkan pemimpin baru untuk NU luma tahun ke depan.  KH. Yahya Cholil Staquf, terpilih sebagai Ketua Umum PBNU menggantikan KH. Said Aqil Siradj. Sementara, posisi Ro’is Aam masih diduduki oleh KH. […]

  • Ratusan Siswa Banin Datangi Makam Pepunden

    Ratusan Siswa Banin Datangi Makam Pepunden

    • calendar_month Jum, 19 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 196
    • 0Komentar

    WINONG-Ratusan peserta didik Yayasan Tarbiyatul Banin memadati komplek pemakaman Desa Pekalongan, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati. Pemandangan ini selalu terjadi setiap kali menjelang peringatan sedekah bumi dan Haul Ki Ageng Rante Kencono Wulung yang diselenggarakan setiap bulan Dzulqo’dah dalam kalender hijriyah. Para peserta didik sedang berkumpul di Makam Ki Ageng Rante Kencono Wulung Hadirnya rombongan peserta […]

  • NU, Aku Jatuh Hati Padamu

    NU, Aku Jatuh Hati Padamu

    • calendar_month Rab, 1 Feb 2017
    • account_circle admin
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Saya selalu senang dengan sikap NU. NU itu seperti organisasi Hezbullah di Lebanon. Hezbullah meski sebagai organisasi besar dan kuat di Lebanon, tidak mau mencampuri urusan dalam negeri Lebanon. Lebanon itu negara demokratis parlementer. Sesudah perang saudara 15 tahun, mereka membangun sistem khusus di negaranya yang bernama konfesionalisme untuk menghindari kembali terjadinya perang sektarian. Disana, […]

  • Diklatama CBP dan KPP, Kaderisasi Perdana IPNU-IPPNU Periode Ini

    Diklatama CBP dan KPP, Kaderisasi Perdana IPNU-IPPNU Periode Ini

    • calendar_month Ming, 24 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 213
    • 0Komentar

    PATI-Dewan Koordinasi Cabang Corp Brigade Pembangunan (DKC-CBP) dan Korp Pelajar Putri (KPP) IPNU-IPPNU Pati menyelenggarakan kegiatan Diklatama (Pendidikan dan Latihan pertama). Pelatihan ini  berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yakni pada tanggal 22 hingga 24 November 2019 Foto bersama para peserta Diklatama dengan Dr. Jamal Makmur, salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut. Tujuan kegiatan ini adalah […]

  • Lazisnu Ranting Klakah, Door to Door Santuni Yatim

    Lazisnu Ranting Klakah, Door to Door Santuni Yatim

    • calendar_month Jum, 20 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Penyaluran santunan ke rumah salah satu yatim oleh Para Pengurus Ranting Lazisnu Klakahkasihan, Gembong, Kamis (19/8) GEMBONG – Pengurus Ranting Lazisnu Klakahkasihan, Kecamatan Gembong berkeliling desa Kamis (19/8) kemarin. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyantuni anak-yatim yang berasa di desa ini.  “Karena luasnya desa, jadi kami cicil. Santunan yatama ini merupakan gelombang ke dua,” terang […]

  • Memecah Kebisuan

    Memecah Kebisuan

    • calendar_month Rab, 20 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 186
    • 0Komentar

    Tulisan berikut ini merupakan liputan hasil kegiatan bedah buku karya Dr. Nur Rofi’ah yang berjudul “Memecah Kebisuan (Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan): Respon NU” (2010). Buku yang memaparkan suara-suara perempuan yang mengalami kekerasan ini menghadirkan narasumber Dr. Nur Rofiah, pembahas Maman Abdurrahman, dan dimoderatori oleh Ulfah Mutiah Hizma. Dalam kegiatan kali ini, […]

expand_less